Intelektual Muda yang Redup

Pada masa-masa awal perintisan bangsa Indonesia, pemuda menjadi bagian integral narasi perjuangan kemerdekaan. Elan vital intelektual muda yang menyala-nyala dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan, menerangi Nusantara yang telah lama berkubang dalam kegelapan. Suara mereka menggema di pelosok desa dan pesisir pantai terjajah. Membangkitkan semangat juang para petani untuk mengangkat senjata merebut tanah yang telah dirampas. Membakar api semangat para nelayan mengusir perompak dari bumi pertiwi. Dan momentum Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, merupakan wujud kristalisasi semangat kemerdekaan tersebut. Semangat yang didorong rasa senasib dan sepenanggungan, sebagai bangsa yang telah disakiti dan dikebiri hak-haknya.

“Anak-anak haram” politik etis kolonialisme – seperti sang proklamator Soekarno, sang gerilyawan Tan Malaka, atau tokoh sumpah pemuda seperti Muhammad Yamin, Sie Kong Liong, dan sebagainya – akhirnya dapat membuktikan, bahwa mereka adalah permata bangsa Indonesia. Mereka tidak sekonyong-konyong menjadi “mesias”, tetapi telah ditempa dan menempa diri hingga berdarah-darah dengan beragam proses. Soekarno dan Tan Malaka misalnya, sahabat seperguruan itu mengorbankan masa muda semadi di padepokan H.O.S Cokroaminoto. Selama di padepokan mereka belajar banyak hal dari sang guru, membaca buku-buku, dan berdiskusi. Di samping itu, baik Tan Malaka ataupun Soekarno sering menuliskan gagasan-gagasan mereka. Karena bagi mereka menulis bukan sekadar alat perlawanan semata, tetapi sudah menjadi kebutuhan. Alhasil, karya-karya mereka hingga kini masih sering dibaca oleh khalayak. Benarlah pendakuan Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah kerja-kerja keabadian.

Sedangkan generasi intelektual muda pasca kemerdekaan seperti Gus Dur, Cak Nur, Jalaluddin Rakhmat, Dawam Rahardjo, dan sebagainya, tak jauh beda dengan pendahulunya. Merekalah tunas harapan bangsa yang berhasil tumbuh dan berkembang dari tanah beton resim Orde Baru. Intelektual muda yang adekuat menjadi arsenal sekaligus mercusuar Indonesia, dalam menyongsong datangnya era Reformasi. Gagasan-gagasan mereka – misal Gus Dur dengan Pribumisasi Islam – ternyata mampu mengubah weltanschauung masyarakat Indonesia, bahkan dunia. Tentunya, pelbagai gagasan tersebut merupakan sintesis aktivitas membaca buku, diskusi, dan pengalaman hidup yang mereka lakoni. Mereka mampu menerobos ruang dan waktu karena laku sederhana, yakni membaca dan menulis. Budaya yang kiwari ini dikenal sebagai literasi. Boleh dikata mereka juga berada pada maqam literasi ketiga. Yakni kelompok manusia yang menjadikan literasi sebagai kebutuhan jiwa.

Akan tetapi, yang dialami intelektual muda kiwari ini sangat kontras dengan kaum intelektual muda sebelumnya. Geliat budaya literasi intelektual muda milenial memasuki usia senja, di mana pendar cahaya kehidupannya kian redup. Alih-alih mencetuskan pemikiran cemerlang kebangsaan dan keislaman, malah terjerembab dalam lorong sunyi peradaban. Kini mereka asyik dengan dirinya sendiri. Tenggelam dalam kenikmatan bergumul dengan fantasi dan imajinasi media daring, yang menggiring mereka terjebak pada hiperrealitas.

Menurut Radhar Panca Dahana, dalam bukunya Politik dan Kebudayaan, bahwa yang terjadi di negeri ini tiga dekade terakhir, adalah diserangnya pertahanan kultural (agama, adat, etika, dan hukum) oleh tiga gelombang tsunami kebudayaan – tsunami logos atau logika, tsunami logosentrisme ala Renaissance dan Aufklarung, dan tsunami psikologi spiritual – yang membonceng atau diboncengkan pada arus besar globalisasi. Tapi globalisasi dan modernisasi, tidak bisa sekonyong-konyong dipandang sebagai faktor determinan pergeseran budaya kaum muda. Tetapi mesti melihat aspek-aspek lain sebagai sinyalemen, bahwa yang terjadi merupakan konstruksi kaum kapital global yang melakukan kolonialisasi gaya baru. Penjajahan yang lebih canggih lewat normalisasi dan pendisiplinan.

Proses hegemoni kekuasaan dan kapitalisme yang bekerja secara halus melalui berbagai macam instrumennya, menjadikan kita tidak berkutik dan serba sibuk. Perlahan tapi pasti tradisi-tradisi literasi yang diteladankan para pendahulu kian susut. Buku sebagai sahabat sejati kaum intelektual tempo hari, telah terlepas dari genggaman dan dekapan kita. Yang ada dalam genggaman kita sekarang adalah gawai dengan segala kecanggihan yang membutakan mata nalar dan jiwa kita. Kalau dulu Soekarno mengatakan “aku tidur dengan buku-buku dan majalah”, maka generasi milenial bilang “kami tidur dan ditidurkan dengan gadget”. Inilah masa di mana kaum intelektual hanya sibuk berjejaring di dunia maya, asyik membaca status ataupun kecanduan game online. Bukannya membangun jaringan kelompok diskusi, guna mencari solusi dari masalah-masalah yang menimpa bangsa kita. Maka hubungan “intim” tidak sehat – karena tidak disikapi secara bajik dan bijak – antara kaum intelektual dengan modernisme, hanya akan melahirkan intelektual muda pesakitan.

Jadi, wahai kaum intelektual muda, sadarlah. Iqra! Iqra! Bacalah teks dan konteks hari ini, jika menghendaki the golden civilization (peradaban emas). Berhentilah menunggu wahyu yang sama yang diilhamkan kepada Rasulullah SAW, mulailah bekerja. “Bekerjalah demi tegaknya peradaban. Kerja-kerja peradaban tidaklah selalu menuntut kemegahan. Kerja sederhana sekalipun, yang penting berdimensi peradaban. Mendorong semangat literasi adalah pintu masuk dari kerja-kerja peradaban. Amat janggal bicara peradaban bila tanpa tradisi literasi di dalamnya. Kerja-kerja lierasi adalah kerja-kerja kenabian,” tutur Sang Guru kepada Han, dalam buku Tutur Jiwa anggitan Sulhan Yusuf.

Oleh karena itu, dengan menjadikan tradisi literasi sebagai mortir, maka seharusnya rahim peradaban ibu pertiwi, mampu melahirkan kembali intelektual muda Indonesia yang adekuat menjadi mercusuar dunia sebagaimana Soekarno dan Gus Dur. Bukan kaum intelektual muda epigon. Sekumpulan pemuda yang hanya mampu mengikuti jejak pemikir pendahulunya, karena ketidakmampuan mereka melahirkan gagasan-gagasan baru. Maka menjadi penting memahami bahwa literasi – membaca dan menulis – adalah kata kerja. Jadi kerjakanlah!

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *