Ironi Kesadaran 2018

Banyak teman saya yang bertanya, ‘kira-kira bagaimana tahun 2018?’ Saya hanya menjawab, mungkin akan lebih baik jika pertanyaannya diubah menjadi pertanyaan yang lebih memprihatinkan, ‘kira-kira apa yang lebih mengkhawatirkan di tahun 2018?’ Bukankah kita melewati tahun 2017 ini dengan ketegangan-ketegangan sosial dan menyisakan keretakan identitas kita sendiri? Dan menurut saya tahun 2018 tentu lebih mengkhawatirkan karena ketegangan-ketegangan sosial tersebut sudah menemukan polanya di tahun ini.

Tak ada yang perlu disalahkan sebab kita semua berkontribusi dalam ketegangan yang hanya menyisakan keretakan tersebut. Hampir kita semua tak bisa menahan diri atau tak tahu menahan diri. Bahkan tak paham apa yang mesti diposting di medsos dan apa yang harus kita bagikan di medsos. Apakah maslahat atau tidak maslahat, sudah tidak menjadi pertimbangan dalam memposting atau merespon sesuatu di sosmed. Seolah tugas kita hanya mengalahkan dan selanjutnya menertawakan orang-orang yang berseberangan pandangan dengan kita.

Ironi kesadaran salah satu tantangan terbesar kita dan bahkan ancaman besar atas budaya dan peradaban manusia di masa depan. Kecendrungan yang serba instan manusia kini akhirnya mampu menurunkan derajat kesadaran masyarakat hanya pada level medsos. Kepuasan dalam membaca dan menganalisa hanya dipermukaan saja. Minat membaca buku-buku di perpustakaan semakin menurun sebab apa yang orang-orang cari sudah tersedia di internet. Orang-orang lebih senang membaca bacaan ringkas dan sederhana dan akan lebih mengasyikkan jika disertai dengan hujatan.

Yang paling ironi karena manusia kini telah lupa membedakan informasi dan kesadaran. Kemajuan teknologi informasi membuat batas-batas ruang dan waktu semakin tidak terasa. Kita bisa tahu dan bahkan menyaksikan secara ‘live’ suatu kejadian di belahan dunia sana. Bahkan kejadian yang sangat sederhana sekali pun sangat mudah untuk diketahui, seperti memancing ikan di daerah kutub. Namun manusia kini sudah tak paham bagaimana mengubah informasi menjadi sebuah kesadaran.

Mengelola informasi menjadi suatu kesadaran sangat bergantung kepada pengalaman dan bentuk-bentuk informasi yang ada di benak kita sebelumnya. Semakin kaya pengalaman dan informasi yang kita miliki, respon kita atas informasi tersebut semakin cepat dan bahkan boleh jadi kita mampu memberikan solusi jika ditemukan suatu persoalan. Tentu tidak seluruh informasi mampu kita ubah menjadi suatu kesadaran di dalam diri sebab sangat bergantung pada batas pengalaman dan informasi yang kita miliki.

Semisal suatu ketika anda melihat foto orang faqir yang sedang makan di atas tempat sampah. Keesokan harinya anda menyaksikan foto anak seorang buruh yang sedang memikul beban berat membantu ayahnya. Kemudian di hari selanjutnya anda menyaksikan sebuah berita proses belajar mengajar yang sangat tidak memadai di tempat terpencil. Besoknya lagi anda mendengarkan berita tentang seseorang yang harus menjual ginjalnya demi membiayai perkuliahan adiknya.

Berita-berita tersebut yang anda dengarkan dan saksikan –hari demi hari- tentu akan mempengaruhi kondisi kejiwaan. Hari pertama akan menyentuh perasaan. Hari kedua mulai menyayat hati dan anda mencoba untuk membantunya. Hari ketiga anda mulai mengutuknya dan sudah mulai menyalahkan. Hingga suatu saat kita akan terbiasa dengan kondisi kemiskinan dan kefaqiran dan menerima keniscayaan keberadaan seorang faqir.

Dalam kondisi tersebut, seseorang  akan mencoba memberikan alasan-alasan atas fenomena yang ada di balik kemiskinan. Sebagian mengatakan karena korupsi masih terjadi dimana-mana. Analisis lainnya akan mengatakan sebagai ujian Tuhan kepada hamba-hambaNya. Sebagian lagi akan mengatakan, kemiskinan itu karena faktor kemalasan saja karena setiap orang memiliki potensi yang unik.

Namun seperti apakah hakikat kemiskinan itu? Pertanyaan ini tidak akan terjawab di medsos. Perlu penelusuran lebih jauh agar kita bisa berada di dalam kesadaran dalam memahaminya sehingga tidak hanya sekedar menerima informasi. Membaca buku akan memperkaya penelusuran kita tentang kemiskinan. Membaca roman Oliver Twist akan menambah khazanah kita tentang kemiskinan.

Dunia saat ini dipenuhi dengan informasi dan tak ada batasnya. Justru wadah manusia yang terbatas dalam menerima informasi. Dan hanya dengan menelaah dan penelusuran yang mendalam manusia akan memperoleh kesadaran. Memutuskan diri dari buku berarti kita tidak akan tahu proses nikmatnya menelaah suata persoalan.

Maulana Rumi menggambarkan manusia kini dalam meraih hakikat seperti orang-orang yang ingin memahami gajah di malam hari yang gelap gulita. Proses yang bisa dilakukan dalam memahami gajah di malam hari yang gelap gulita adalah dengan proses meraba. Ilustrasi ini mampu menggambarkan manusia kini yang tak mampu lagi membedakan antara kesadaran dan informasi.

The following two tabs change content below.

Muhammad Nur Jabir

Muhammad Nur Jabir, lahir di Makassar, 21 April 1975 Pendidikan terakhir: S2 ICAS - PARAMADINA. Jabatan saat ini: Direktur Rumi Institute Jakarta. Telah menulis buku berjudul, Wahdah Al-Wujud Ibn 'Arabi dan Filsafat Wujud Mulla Shadra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *