Jangan Terlalu Cinta Membaca

Sewaktu hujan sedang melepas rindu dengan bumi. Saya masih sibuk bertatap muka dengan butirnya. Membasuhi separuh tubuhku di jalan. Di tengah derasnya hujan, saya masih memaksa motor tua yang tak bisa dipaksakan lagi itu, menebas rintik-rintik hujan bermata peluru – Seperti itulah kira-kira penggambaran singkatnya – ditemani tubuhku yang kecil dan kurus.

Sepuluh menit di jalan. Tapi tidak dengan isi kepalaku. Sudah gentayangan di tempat berteduh. Bagian depan kemeja biru dan celana cokelat serta sepatuku jadi basah. Buatku geram. Semakin ingin cepat sampai. Sementara baju dan celana bagian belakang, untungnya hanya kena cipratan air sedikit saja. Begitupun tas hitam tipis, yang bisa dibilang tidak terlalu parah, sehingga harus membasahi seperangkat alat tulis dan laptop di dalamnya.

Sore itu saat keluar dari gedung Perpustakaan Kota Jogja. Sebenarnya, Bola mataku sudah menangkap langit berwarna abu-abu, tapi kupikir mungkin tidak akan terjadi apa-apa. Maka kuputuskan untuk bergegas pergi. Sialnya! Di tengah perjalanan saya baru ingat satu hal. Sore selalu mengundang macet di kota. Maka jadilah setelah kuingat-ingat akan hal itu, motor tua yang kukenakan harus rela berjalan pelan. Laksana senja di sore hari. Walaupun sejujurnya, motor itu pun harusnya memang harus jadi senja, tidak lagi jadi masa remaja yang liar dan kebut-kebutan di jalan.

Tiga menit di antara tumpahan mobil dan motor. Hujan lalu turun tanpa permisi. Hanya menggerutu yang bisa saya lakukan. Lalu saya teringat dengan ucapan kawanku. Ia bilang begini, “Ketika hujan turun, ada rahmat tuhan yang terselip. Ketika mengeluh, tidak jadi rahmat, malah bisa jadi bencana.” Bisa disimpulkan, banjir dan bencana lainnya yang disebabkan oleh hujan terjadi dikarenakan banyak yang mengeluh. Mengingat-ingat itu membuatku ngeri sendiri, saya jadi cepat-cepat bersyukur akan turunnya hujan ini, lantas membayangkan yang tidak-tidak.

Bagaimana jadinya kalau hanya saya seorang yang terseret banjir misalnya karena yang kulakukan adalah mengeluh sepanjang perjalanan, sementara saya berada di tengah kemacetan, headline beritanya besok pagi pasti akan konyol sekali. “Azab Bagi Orang yang Suka Berkeluh Pada Saat Macet, Tubuhnya Akan diseret Banjir Sendirian”. Hal itu membuat saya semakin ngeri memikirnya dan ambigu antara keduanya, antara harus bersyukur karena hujan turun, tapi harus menggerutu dalam hati karena muak dengan macet yang melanda ditambah cuaca yang tidak bersahabat. Apakah tuhan akan kirim banjir dan rahmat sekaligus ketika saya terjebak diantara mobil dan hujan?

Akhirnya lelah bertengkar dengan diri sendiri dan ketakutan-ketakutan. Maka sepanjang perjalanan saya memutuskan untuk pasrah saja. Tidak berat sebelah. Sehingga saya jadi paham, Tuhan lebih menyayangi hamba yang pasrah daripada yang menggurutu sepanjang jalan.

Pasrah adalah tingkat yang paling tinggi antara keduanya. Saat tak ada pilihan. Tuhan akan kirimkan keajaiban. Alhasil tidak ada banjir di kota hari itu – walaupun sejujurnya memang tidak pernah ada – sebelum akhirnya kutemui sebuah mini market yang cukup sepi dan cocoklah untuk menepi.

Saya membeli sebotol air mineral dan sebungkus cemilan. Setelah mengucap terima kasih kepada mbak kasir yang menyambutku tiba, saya menuju kursi di pelataran mini market. Sepi, hanya saya dan seorang laki-laki tua betopi pet abu-abu di belakangku, serta perempuan belia yang mengenakan kerudung kuning kecokelat-cokelatan di sampingku. Terpisah dua langkah. Sedang duduk juga menanti hujan reda sembari memainkan ponsel pintarnya.

Daripada bosan, pikirku. Lebih baik kukeluarkan buku karya Kahlil Gibran dari tasku. Buku yang sudah diterjemahkan oleh Ruslan itu.

Lalu kubaca larik-larik puitis roman biografinya “Sang Nabi Abadi Dari Lebanon” dengan hikmat, yang terangkai di buku “Sayap-sayap Patah”.

Buku yang baru kemarin sore kubeli dari toko buku ternama. Adalah media sosial yang mengantarku bertemu dengan karya laki-laki kelahiran Bsharre itu. Ketertarikanku bermula ketika sebuah akun media sosial mengulasnya. Saat pertama kali membaca ulasan buku-bukunya Kahlil Gibran, saya seolah menemukan sebongkah berlian yang telah lama terpendam di dasar bumi dan dengan sinar ajaibnya yang menyala-nyala, buku-buku Kahlil Gibran itu mencuri pandangku, sinarnya tak seterang buku-buku baru, tapi mampu memikat.

Kutemukan buku-bukunya itu di deretan buku tua dan muda di linimasa media sosial. Tak pikir panjang, setelah terkesima dengan sinopsisnya yang syahdu, yang kata teman kampusku sampulnya mirip buku-buku religi, beberapa hari setelah membaca ulasannya di media sosial, saya pergi ke toko buku ternama dan memutuskan untuk beli dua buah buku yang kuanggap menarik, di antaranya bersampul biru dan warna merah jambu.

Waktu terus mengalir, membentuk muara lalu menuju ke laut dan ketika kubaca bagian pendahuluan. Di sela-sela itu juga, sesekali kutatap sekitar – juga sesekali kutatap diam-diam perempuan yang ada di sampingku. Masih sedang sibuk mainkan ponsel pintarnya. Jikalau boleh diandaikan, ia semacam perempuan bernama Selma Karamy, perempuan yang menghiasi kesendirian Gibran menjadi saat-saat membahagiakan, lantas saat ini perannya digantikan olehku dan perempuan itu. Saya jadi Gibran, perempuan itu Selma – tapi tak lama habis itu kulanjut lagi membaca. Karena membaca membuat orang jatuh cinta, sehingga bisa-bisa lupa dengan keadaan sekitar. Apalagi membaca buku Kahlil Gibran ini. Sungguh nikmat rasanya.

Terlalu banyak bahasa yang menggugah jiwa dan raga. Buat khayalku melayang dan terbang. Sehingga kadang-kadang memilih diam terkesima, tapi tiap kali lanjut saya seolah tidak bisa berhenti terpukau dengan kalimat puitis yang baru saja kubaca, sehingga saya mengulangnya lagi dan berhenti lagi. Seolah-olah ingin cepat-cepat kuhapal bagian penting kalimat puitis itu, mana tahu bisa dijadikan bahan merayu perempuan-perempuan di luar sana atau menjadikannya status di media sosial guna menggaet perhatian warganet.

Seperti salah satu kalimat puitisnya yang ini: menyentuh jiwaku untuk pertama kalinya dengan jari-jemarinya yang membara. Entah semacam ada sebuah pertunjukkan yang menarik di depanku saat itu juga. Kalimat itu tidak hanya menawarkan titisan-titisan puitis, tapi di dalamnya ada proses, lakon, dan drama yang menjadi epik ketika diperagakan sembari diucapkannya untuk kemudian dipersembahkan bagi penonton setia.

Namun sayang, di tengah membaca larik manis puitis Gibran itu. Saya harus terhenti membaca sejenak. Dan tersadar akan satu hal. Seorang laki-laki datang dan menjemput perempuan yang ada di sampingku itu. Seperti ada yang hilang. Bagian-bagian puitis yang seolah menggenapi kalimat puitis Gibran yang kubaca barusan. Ada yang ganjil. Tak lengkap rasanya. Tokoh bernama Selma Karamy seolah lenyap. Semacam ada rasa. Padahal kasihnya saja tak sampai, saling tatap saja tak pernah, apalagi hati kami saling bercumbu.

Tepatnya, laki-laki itu datang saat membaca bagian: Namun apa yang terjadi terhadap Adam pun terjadi pula padaku, dan pedang membara yang mengusir Adam dari surga mirip pedang yang menakut-nakuti aku dengan ujungnya yang mengilau, dan memaksaku menjauhi surga cintaku…

Tapi tidak lama saya larut. Selepas mereka pergi, saya kembali tenggelam dalam dunia kepuitisan Gibran. Cepat-cepat menganggap ketiadaan sosok Selma Karamy yang tadi masih di sampingku sebagai sebuah keindahan kini menjadi suatu realitas, bahwa mau tidak mau harus saya terima, ketika cinta itu rasanya manis, ia sebenarnya juga menyimpankanmu rasa pahit yang tiada tara, maka ketika memahami keculasan dan keindahan hidup ini sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan, semua akan jadi baik-baik saja di antara kepahitan dan kemanisan hidup.

Sementara hujan semakin deras adanya, kilat dan guntur mungkin tak datang menghampiri, tapi ricik hujan yang mengenai aspal dan atap pelataran mini market, sudah cukup meributkan suasana. Para pengendara motor dan jas-jas hujannya lewat sesekali, sayangnya saya tidak punya. Pikirku. Gerombolan mobil berhulu-hilir santai mengibas hujan. Angin tak kencang, tapi daun-daun pohon di pinggir jalan tetap saja gerak oleh tiupan angin kecil kibasan pengendara yang lewat disertai ricik-ricik hujan.

Di depanku, tepatnya di seberang jalan beraspal, ada tembok putih yang menjulang tinggi. Kalau saya tidak salah ingat isi bangunan tersebut adalah lapas. Mungkin benar yang kubaca tempo hari di gerbang bangunannya, tak jauh dari saya duduk, atau bisa jadi sekadar bangunan tua yang digunakan oleh pemerintah buat keperluan sejarah atau yang lainnya. Benteng peninggalan Belanda mungkin? Entahlah.

Kata orang, ketidakmengertian membuat orang hampa, dan kehampaan membuat orang tak peduli. Saya baru saja membaca petikan kalimat itu ketika seorang laki-laki berkepala nyaris botak, rambutnya pendek dan tipis. Ekspresinya bergelora. Marah. Berteriak tidak jelas di depan pintu masuk mini market.

“Edan! Moso’ lampu hargane larang tenan!” Artinya, “Gila! masa’ lampu harganya mahal banget!” ujarnya seperti mengumpat kepada mbak kasir yang seolah tidak peduli. Tetap melanjutkan proses pembayaran dengan pelanggan yang lain.

Pikirku, daripada terlibat masalah dengan dia, saya lebih memilih diam, melihatnya, mengabaikan lalu lanjut membaca buku sayap-sayap patah itu sembari menikmati cemilan dan air mineral yang kubeli tadi.

Tak sampai di situ, di tengah-tengah membaca buku, laki-laki yang tadi marah-marah sendiri bin tidak jelas itu, berdiri di tengah-tengah hujan, mengumpat yang entah apa kepada setiap pengendara dan orang-orang yang memerhatikannya. Mondar-mandir di depan mini market, tak dipedulikannya lagi bajunya yang basah.

Saya malah jadi berkahayal. Dia seperti melakukan seleberasi atas kemarahannya itu, berteriak sambil menengadahkan kepalanya ke atas, mengepalkan kedua tangannya di bawah, sembari berteriak, “Arrrgggghhhhh”.

Sekilas kutangkap dia juga mengajak orang-orang yang menatapnya untuk melakukan hal yang sama dengan dirinya. Dengan melambaikan tangannya yang diayunkan ke atas, telapak tangannya terbuka, semacam menyemangati orang-orang dan berkata, “Ayo! Ayo! Ayo!”.

Semakin ke sini saya jadi paham kenapa mbak kasir mini market itu jadi tampak tak peduli dan biasa saja. Mungkin karena sudah terbiasa melihatnya. Melihat laki-laki itu berlagak seorang aktivis yang sedang mendemo harga lampu yang mahal di depan mini market, bedanya tanpa massa, atribut dan pengeras suara.

Saya pun tertawa kecil, menggelengkan kepala dan kembali membaca sisa halaman di bab yang berjudul, “Duka yang Bisu”. Sesekali kukunyah lagi cemilan, juga kutenggak air mineral. Waktu bergulir, menggelinding. Setelah melihat jam di ponsel pintar, ternyata sudah setengah jam duduk di sini, menanti hujan reda, tapi tak reda-reda juga. Sepertinya musim hujan begitu rindu kepada bumi, sehingga di awal pertemuannya, dia menangis haru sejadi-jadinya.

Walaupun demikian, hujannya tidak lagi parah dibandingkan yang sebelumnya, hanya tersisa rintik-rintik kecil, tapi kupikir akan basah juga jika memaksakan diri untuk beranjak sekarang. Saya pun dilema, antara pulang atau tetap tinggal, sementara malam sebentar lagi akan memenuhi sudut kota. lampu-lampu jalan mulai dihidupkan. Cahanya menerangi rintik hujan bagaikan paku tanpa payung yang berjatuhan. Bebas. Menerkam siapa saja di bawahnya.

Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja, tak kupedulikan lagi jarak mini market ke kosku yang cukup jauh, yang bisa membuatku basah lagi. Saya lalu bergegas, menghabiskan sisa-sisa cemilan dan air mineral. Meletakkan sampahnya di atas meja, malas bergerak ke tempat sampah, lanjut saja saya lalu mengemas buku ke dalam tas dengan nada buru-buru. Karena efek untuk cepat-cepat meninggalkan mini market sebelum hujan kembali deras.

Selanjutnya kutatap dan kuberi senyum ke laki-laki tua bertopi pet di belakangku yang lama-lama kupikir mirip Eyang Sapardi Djoko Damono. Ternyata dia masih di belakangku sejak tadi, menunggu hujan reda juga. Tak tahu apa yang dilakukannya sejak tadi. Mungkin menatap hujan atau mungkin ikut membaca buku yang kubaca tadi, lamun tak mungkin, orang seperti dia kan butuh kacamata apalagi dengan jarak antara kami terlampau sekitar satu setengah langkah, pikirku.

Selepas kutinggalkan senyum untuknya, dan kulangkahkan kaki kananku, laki-laki tua itu tiba-tiba mendehem dengan intonasi yang ditekan di ujungnya yang membuatku berbalik lagi menatapnya.

Lalu berbeda dengan yang sebelumnya, tatapannya kini menunjukkan kekecewaan, kemudian menggelengkan kepala, tanda tidak terjadi apa-apa.

Lalu kutanyakan maksudnya, tetapi selanjutnya dia hanya menggeleng lagi sambil tersenyum tanggung, semakin membuatku lagi tidak mengerti, lantas membuatku jadi bodo amat dan tidak peduli, malas untuk bertanya.

Tetapi di jalan, saya justru jadi mengira-ngira maksud laki-laki tua itu, dan berusaha memahami. Tapi tak kutemukan apa maksudnya. Sampai matahari menjadi senja dan motorku berbelok ke kanan. Saya masih bertanya-tanya ada apa maksud gerangan laki-laki tua itu? Apa tadi dia minta tolong tapi tak terdengar suaranya atau apa?

Di atas motor yang melaju, pikiranku ke mana-mana. Tidak fokus ke jalan. Hampir saja kutabrak tukang becak yang tiba-tiba melambat di perempatan jalan. Saya berkeluh. Tidak terima. Di sela itu juga pikirku. Andai kata saya memilih tinggal sejenak dan menanyakan maksudnya laki-laki tua itu. Mungkin saya akan paham. Tapi saya tidak bisa menunggu lama untuk mendengarkan ucapannya. Takut hujan menderas lagi. Dan pada akhirnya saya hanya bisa kembali pasrah. Mencoba melupakannya. Dan tidak mempedulikannya.

“Kata orang, ketidakmengertian membuat orang hampa,
dan kehampaan membuat orang tak peduli”
– Kahlil Gibran. Sayap-sayap Patah –

“Kata orang, membaca membuka jendela dunia,
Dan jendela dunia membuka kepekaan kita pada dunia,
Tapi terlalu jatuh cinta pada membaca, akan menutup jendela dunia,
Karena dunia tak kau peduli, justru kepada bacaan kau peduli,
bijaklah dalam membaca”
-Ahmad Mursyid Amri-

Sumber gambar: www.deviantart.com

The following two tabs change content below.

Ahmad Mursyid Amri

Termasuk penulis yang lahir dari generasi terakhir 90-an, yaitu tanggal 10-10-1999, lahir dan dibesarkan di kabupaten Bantaeng, pada tahun 2011 beliau memutuskan untuk merantau hanya sebentar, rentang waktu 2011-2014 karena alasan bersekolah di Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta, di sekolahnya satu cerpennya pernah dipublish oleh majalah yang sangat populer di kalangan pelajar sekolahnya, Majalah Sinar Kaum Muhammadiyah, yang berjudul Punya Maksud (2014), lanjut 2014-2017 kembali ke kampung halaman dan mengenyam pendidikan di SMA Negeri 1 Bantaeng, pada masa putih abu-abu itulah juga lahir buku pertamanya berjudul Tacin (2015), dan 2017-sekarang ia memutuskan untuk mengenyam pendidikan di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta jurusan Ilmu Komunikasi.

Latest posts by Ahmad Mursyid Amri (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *