Kata-kata Tumpah dan Sampah dan Puisi-puisi Lainnya

Kata-kata Tumpah dan Sampah

Kata-kata tumpah
Kadang di bibirmu yang rekah
Kata-kata Tumpah
Kadang di mulutmu yang basah

Kata-kata tumpah
Kadang di narasimu yang absah
Kata-kata tumpah
Kadang di puisimu yang resah

Kata-katamu tumpah dan sah
Menjadi milikmu, luas dan cakah
Kata-katamu tumpah dan sah
Yang terkadang cecah dan penuh gairah

Kata-katamu tumpah dan sampah
Orang mulia dan doanya kamu fitnah
Kata-katamu tumpah dan sampah
Aksaramu hadir, isinya sumpah serapah

Kata-katamu tumpah dan sampah
Sajakmu tak damai, letupkan amarah
Kata-katamu tumpah dan sampah
Puisi diammu, hanya cipta gundah

Kata-katamu tumpah dan sampah
Di puisimu, kuasa Tuhan telah kau jarah
Sepanjang jazirah puisimu hanya ada pongah

Kata-katamu tumpah dan sampah
Jatuh di pangkuanku yang gelisah

(Mungkajang-Palopo, 23 Februari 2019)

 

Tuhan dalam Sepotong Puisi

Aku memulai menulis puisi dengan istighfar
Bukan basmalah atau selaksa puji kupapar
Pun dalam seling, istighfarku ternanar
Hingga sampai jadi, puisiku penuh istighfar

Tuhan…
Aku memanggil-Mu dalam sepotong puisiku

Aku menyebut nama-Mu sebagai wujud rindu
Tertata dan lebih sering tertatih di sering waktu
Jelas dan lebih sering lirih di tengah surau

Aku pinta banyak hal dan kusebut satu satu
Dalam doaku setelah aku tunai taat, aku abdu
Bahkan doaku tak kenal malu tanpa amabakdu

Di depan mega dan megahnya Diri-Mu, aku fana
Aku tanpa daya, hanya hidupku penuh durjana
Aku pun paham, aku tak layak di surga-Mu sana

Tuhan…
Aku memanggil-Mu dalam sepotong puisiku

Aku yakinkan diri bahwa rezeki itu sudah diatur
Dari orang mulia hingga diriku penuh lantur
Doa dan ijabahnya tak pernah tertukar dan ajur

Aku tak akan memaksa untuk segala hasrat
Pun ancam ketika tidak terijabah, aku khianat
Sampai berlari-lari menyebut orang lain sesat
Sampai berhari-hari tuduh orang lain bangsat
Sampai berdalih-dalih sebut orang lain laknat
Sampai mati, aku dalam doaku tanpa siasat

Tuhan…
Aku memanggil-Mu dalam sepotong puisiku

Aku memohon ampunan-Mu yang tak bertepi
Ijabah harapku yang kutulis di puisi yang sepi

(Mungkajang, 24/02/2019)

 

Pagi, Capres dan Caleg

Pagi ini, aku ringkuk depan rumah tetangga
Menikmati layanan wifi gratis miliknya
Pun kuusili ayam yang makan, yang dia punya
Tetangga memang lebih berada dan beraga
Segala rupa dan hal, selalu lebih siaga
Aku tak mencemburuinya, justru bahagia
Internet gratis, kadang ada kue yang diulurnya

Pagi ini kurasa diriku lebih mesum dan porno
Bukan karena situs porno atau cerita porno
Aku terinspirasi cerita Kasino, Indro dan Dono
Pun pejabat negeri ini yang berkarakter durno

Pemilihan Capres bak arena kasino
Nomor urut dilotre dan cipta efek domino
Kemudian janji dan bual dijual bak guano
Lalu, para calon diarak di atas perahu kano

Setelah Capres terpilih jadi korano
Janjinya dulu jadi barang kuno
Rakyat dan harapannya ditinggal mono

Lalu calon legislatif bagaimana pula?

Setelah duduk di dewan, pura-pura jadi muno
Lupa janji, lebih sering main piano
Di rumah pelacur atau mungkin di kasino?
Janji dan tekad yang mereka tulis di plano
Dia lupa, saat mereka adakan pleno

Prilaku mereka kadang sembrono
Kala mereka ditaguh janji, jadilah ia sano

(Mungkajang, 24/02/2019)

 

Sumber gambar: https://www.thedailybeast.com/calling-out-hate-speech-too-often-invites-censorship

The following two tabs change content below.

Abdul Zahir

Ujung Pandang, 13 MARET 1986. Tinggal di Palopo.

Latest posts by Abdul Zahir (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *