Kelabu Kesayangan Ibu

Kelabu sangat penyendiri dan kesepian. Ia seperti sesuatu yang lain dari segalanya di rumah ini. Tetapi Ibu menyayanginya, amat sangat. Ia punya kamar sendiri dan tempat makan sendiri-makannya selalu teratur. Tidak pernah terlambat walau sedetik.

Aneh. Dengan seluruh keistimewaan yang diberikan Ibu padanya, Kelabu justru terkesan tidak begitu mengacuhkan. Ia meninggalkan makanannya di tempat khusus itu, lantas memilih mencari di dapur atau mengorek sisa makanan di meja makan kami. Ia makan sendirian, tanpa suara, tanpa ambil pusing dengan keributan dari ruang sebelah  tempat Ibu meletakkan makanan khusus untuknya.

Kelabu juga selalu bermain sendiri. Kegemarannya adalah berkeliling di halaman rumah, mengamati apa saja. Tumpukan batu yang diam, pot bunga warna-warni milik Ibu, atau sekedar berjalan-jalan di atas rumput sambil memandangi kakinya yang tidak pernah beralas. Kalau sedang hujan, ia akan duduk diam di kursi teras. Mengamati hujan lamat-lamat, matanya seolah dapat menyibak bilah-bilah hujan. Kelabu akan terus seperti itu hingga hujan reda.

Aku menyayangi Kelabu-walaupun tidak sesayang Ibu. Aku senang memperhatikannya diam-diam sembari menebak-nebak gerangan apa yang sedang terlintas di kepala kecilnya. Mengamati Kelabu sibuk sendiri, seperti melihat seseorang yang sedang mencari bagian yang hilang dalam dirinya.

Namun, sayangku berangsur-angsur berubah seiring kelabu tumbuh semakin besar. Dia menjadi kurang ajar. Seenaknya saja memasuki daerah pribadi kami tanpa permisi, mengotori lantai dengan bekas-bekas lumpur yang menempel di kakinya. Kami semua anak-anak Ibu mengeluh, tapi Ibu malah makin sayang padanya.

Saban kali kakinya hendak melewati pintu, aku dan saudara-saudaraku sigap mengusirnya. Kami membentaknya agar segera keluar dan kembali ke tempatnya sendiri. Aku tidak mau jejak kakinya mengotori lantai. Lalu Ibu selalu datang bak malaikat bagi Kelabu. Dibujuknya Kelabu pelan-pelan, dan diantarkannya Ia ke tempatnya.

Semakin hari Ibu semakin protektif pada kelabu. Tidak boleh ada yang menyentuhnya kecuali Ibu. Bapak pun tidak, sebab tangan Bapak adalah api yang memusnahkan segala yang hidup. Sedang Ibu adalah Bumi tempat tumbuh segala yang hidup.

Aku masih senang memperhatikan Kelabu diam-diam. Tidak tahulah, aku selalu penasaran dengan isi kepalanya. Bagaimana ia memandang kami anak-anak Ibu? Seperti apa Bapak baginya? Atau apa yang ada di benaknya mengenai Ibu?

Kelabu adalah segala sesuatu yang tidak pernah terucap dalam keluarga kami. Dia mengakrabi sunyi, diam adalah napasnya, dan kesendirian adalah jejak kakinya. Dia adalah Kelabu, anak ayam kesayangan Ibu yang beliau pelihara sejak masih dalam telur dan tidak pernah tahu siapa Bapaknya.

 

sumber gambar: junkhost.com

The following two tabs change content below.

Fatmawati Liliasari

Fatmawati Liliasari lahir pada 11 Juni 1995. Menulis baginya adalah sebuah kebutuhan, seperti bernapas, sebab setiap kali ia melakukannya rasanya seperti pulang ke rumah. Ia juga menjadikan menulis sebagai sarana baginya menebar kebaikan, bermanfaat bagi sesama. Selain membaca dan menulis, gadis yang menyukai tantangan ini juga senang sekali bertualang. Mengunjungi tempat-tempat jauh, bertemu orang-orang baru, cara hidup tak biasa, nilai-nilai hidup yang baru, juga bahan untuk menulis lagi. Di samping itu ia juga sering sekali melamun. Ia sangat terilhami pada salah satu kalimat Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi, bahwa hidup tentang memberi sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya. Bukunya yang pernah terbit ialah kumpulan puisi Dari Galesong Kepada Indonesia (2016). Ia bisa dihubungi lewat email fatmalilia5@gmail.com atau nomor ponsel 085146373850.

Latest posts by Fatmawati Liliasari (see all)

One thought on “Kelabu Kesayangan Ibu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *