Kenangan Nenek Hafsah

Terik mentari pagi menyengat kulit ari, Rabiah yang bermandi peluh di sawah ayahnya. Ia  sedang memanen padi walau sawah mereka tak menghasilkan hasil yang maksimal untuk tahun ini. Sebab, musim kering yang cukup panjang sedang sungai mengalirkan air tak sederas dulu.

Padinya tak sekuning pada panen waktu-waktu lampau ya, kataku singkat pada, Rabiah.

Iya, Daeng, sembari tersenyum. Banyak hal yang mungkin ikut mempengaruhi, anomali cuaca. Hutan yang tergerus habis, juga memengarahi debit air sungai, dan lain-lain.

Mungkin hasilnya hanya berkisar setengah dari biasanya. Tahun ini sangat kering nyaris tak ada hujan, sedang air sungai yang kami andalkan seperti tahun-tahun lampau pun tak seramah biasanya. Ada beberapa tetangga dan kerabat yang memasang pompa untuk air tanah, namun tak mampu juga menjangkau semuanya, sebab kapasitas pompa terpasang dengan luasan sawah tak sebanding.

Aku membatin pasrah, mengenang, Mahatma Gandi “Sesungguhnya Tuhan memberi Alam dan isinya untuk manusia cukup, tapi tidak cukup untuk seorang serakah”

Di kampung Makarring nun jauh di pedalaman kabupaten yang berjuluk Pa’rasangang Malabbiri. Kampung ini memang dikenal sebagai salah satu pemasok beras dari kota terdekat. Kampung ini dulunya dialiri sungai yang cukup luas dan berair deras, sehingga alurnya juga dijadikan sebagai alur transportasi menuju kampung-kampung tetangga, sebab kala itu jalan darat untuk jenis kendaraan apapun belum tersedia. Dari jalan poros kabupaten berjalan kaki ke kampung ini ditempuh dengan waktu sekira dua hingga tiga jam lamanya.

Setelah berpuluh tahun kemudian barulah kendaraan dengan berbagai jenis tipe dapat melenggang di kampung ini. Bersamaan dengan itu air sungai pun pergi jauh entah ke mana, pun, kala bukit-bukit karst yang mengelilinginya hancur dengan  berdatangannya investor menyulapnya menjadi marmer yang diimpor ke berbagai negeri dan setelah jadi dikembalikan lagi ke negeri ini dengan harga berpuluh kali  lipat.

Masa kanakku kala berkunjung ke kampung ini, bukit-bukit karst yang dikelilingi sawah berjumbai padi menguning adalah sebuah pemandangan yang tak bisa hengkang dari ingatanku. Sebab, nuansanya sangat eksotis. Menumbuhkan rasa teduh dan nyaman dalam rentang waktu yang panjang. Namun, kini sudah mulai sirna dari pandangan. Yang tersisa hanyalah bongkahan-bongkahan yang tak beraturan membuat sesak jiwa para pemandangnya.

“Eeeee.. kenapaki melamun, Daeng Beddu?”

“Tidak, hanya mengenang masa kecil saya di tanah ini. kala itu keindahan kampung ini tak tertandingi. Tapi, sekarang hancur semua.”

“Iya sih..”

Kemudian, Rabiah melanjutkan tuturnya, menurut ayahku, tahun ini kampung ini memang lagi apes. Pembangunan nyaris tak menjamahnya. Kepala desa tak acuh dengan program-program di desanya. Pun, pemerintah kabupaten demikian pula. Mereka kompak melampiaskan kekesalannya sebab pada pemilihan bupati dan wakilnya setahun lampau, mayoritas warga di kampung ini tak memilihnya dan kalah telak setelah kotak suara dihitung di kantor kecamatan.

“Makanya, jalan di depan rumah tak digarap sedikit pun padahal hanya tersisa sekitar satu setengah kilometer antaranya, jarak dari kampung sebelah. Saluran air tak di renovasi sedikitpun, bahkan penyuluh pertanian nyaris tak pernah berkunjung di kampung ini padahal mereka bermukim di kampung sebelah yang tak terlampau jauh dari sini,” Rabiah menjelaskan dengan berapi-api.

Paman Ruslan, yang baru saja bergabung di rumah sawah tempat kami berbincang dengan, Rabiah, tersenyum simpul mendengar perbincangan kami.

“Iya nak.. tahun ini memang tahun apes untuk warga kampung ini. Namun, nampaknya mereka tegar-tegar saja dan maklum dengan hasil pilihannya.”

“Sebagian besar warga di kampung ini sudah mulai melek politik, nak. Jadi, mereka tidak gampang dibeli. Dan mereka juga telah tahu konsekuensi dari sebuah pilihan politik, walau pun warga di kampung ini hanya rata-rata berpendidikan sekolah menengah pertama dan menengah atas.”

“Kami pun memahami bila kondisi air sungai yang mengering akibat dari penebangan pohon-pohon di hutan di mana ruang-ruang di hulu dari berbagai sungai di kampung-kampung ini . penebangan yang berlangsung tak terencana dengan baik karena dilingkupi persekongkolan antara para pemegang amanah dan para investor. Akibatnya mengeringlah sungai, biota-biota yang pernah eksis di pojok-pojok dan di lekuk-lekuk sungai sepanjang alirnya tak tersisa lagi tergerus kekuasaan dan modal yang yang memangsa apa saja yang bisa di mangsa dalam priode kuasanya, aji mumpung yang melanda para politisi negeri ini secara akut.”Jelas om Ruslan agak panjang.

Dari jauh nampak, nenek Hafsah berjalan tertatih di pematang yang sempit dan licin menuju rumah-rumah sawah yang sedari tadi kami tempati berbincang dengan, Rabiah yang juga sedang sibuk memanen padi bersama kerabat lainnya.

Nenek Hafsah ibu dari ayahku yang telah berumur mendekati tujuh puluh tahun, namun masih kuat kesana-kemari membantu urusan pamanku di sawah.

“Sudah lapar ya.. nak Beddu,” sapa nenek Hafsah.

“Maaf, agak terlambat kami membawa penganan hari ini soalnya ibunya, Rabiah ada keperluan di kampung sebelah. Jadi, semuanya saya sendiri yang kerjakan, maklum nenek sudah tua.” Ujarnya sembari tersenyum dengan gigi yang mulai hampir punah.

“Ya.. baru  lapar sedikit nek, belum terlalu laparnya, jadi masih  bisa tahan sekitar satu jam kedepan,” gurauku.

Semua ikut tersenyum girang menyambut kehadiran, nenek kami yang baik hati itu.

Dengan tangkas, nenek Hafsah mengatur hidangan yang dibawanya dari rumah untuk bersantap siang bersama di rumah-tumah sawah yang dikelilingi jumbai padi menguning, yang sebentar lagi selesai dipanen.

“Mari nak.. kita menikmati penganan hasil racikan dan olahan nenek.”

Semua penganan ini tidak memakai vetsin tapi dengan terasi dan rempah lainnya sebagai penyedap rasa, ujarnya, seolah menyindir kami yang dari kota yang tak bisa hidup tanpa penyedap rasa instan.

Inilah mungkin yang membuat nenekku awet dan kuat, pikirku. Sebab semua masakan diolahnya dengan racikan tradisional.

Menikmati penganan dengan olahan tradisional di tengah-tengah sawah membawa rindu pada kampung halaman masa silam, melanglang mengangkasa jauh melampaui bintang-bintang. Rindu akan ayah yang telah kembali pada penciptaNya, mengalahkan semua rindu pada mahlukNya yang lain, sebab rindu itu bermuara cinta. Cinta akan kebajikan dan kebijakan yang ia pernah jejakkan di kampung halamannya ini. Cinta yang bermuara pada ke indahan cintaNya.

“Kampung ini sudah tidak seperti dulu, nak, kala kamu masih kanak yang kerap dibawa ayahmu berlibur ke sini. Tak ada lagi air bening mengaliri sungai di belakang rumah nenek. Burung-burung yang hinggap di dangau-dangau sembari bernyanyi riang mengusik dan dan menikmati bulir-bulir padi menguning yang sedang ranum siap untuk dipanen. Bukit-bukit karst yang indah di tengah-tengah sawah memperindah panorama ciptaanNya yang tiada tara.”

Panen raya pun tak diraya lagi oleh ketukan dan bunyi lesung dalam pesta panen meriahi kampung ini. semua itu telah raib bersamaan dengan gerus sumber-sumber alam yang melimpah. Demikian, nenek Hafsah berceloteh. Di matanya ada rindu yang terpendam tentang hal-hal yang Ia ceritakan ke kami sembari menikmati penganan dan ke ndahan yang tersisa.

Bersamaan dengan itu, pesta politik dan kuasa menggerus segala keindahan dan sumber daya yang melimpah di kampung kampung seluruh negeri. pertikaian di ranah politik mengorbankan warga negeri dan khususnya di kampung ini mengalami bengkalai pembangunan di berbagai sektor. Karena ulah para politisi. Bangsa besar ini menjadi kecil dan kerdil. Tertidur panjang dan nampaknya belum ada tanda untuk bangkit dan menjadi bangsa besar seperti cita para founding fathers negeri ini, gerutuku dalam hati yang meradang.

Peluhku melimpahi wajah dan mengaliri seluruh tubuhku menikmati penganan hasil racikan, nenek Hafsa.

Di kejauhan nampak gugusan bukit karst seakan melempar-lempar senyum membawa hembusan angin meneduhi dan menyejukkan peluhku yang simbah.

Batinku tak hentinya mengulang-ulang doa untuk kebaikan warga dan kampung moyangku, sebab walaupun sedikit saja masih tersisa keindahan yang dapat digumuli di hamparannya.

Setelahnya doa kulekatkan mengabadi melalui hembusan angin yang sepertinya tak hendak urung mengunjungi kampung ini. tetaplah berhembus sejukkan kampung ini, pintaku dalam hati.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *