Kepingan Lupa Gadis Kecil dan Seekor Kelinci

Apa yang pertama kali kau ingat ketika seseorang memintamu menceritakan masa kecilmu?

Kepolosan, kebebasan, dan segudang imajinasi akan menjadi pilihan jawaban saya. Polosnya seorang anak yang hanya ingin bermain sepanjang hari, hingga tenggelam dalam dunianya sendiri. Terkadang, jika saya melihat seorang anak sedang bermain dengan mainan sederhananya, luapan emosi pada masa kecil akan menghampiri, kepingan-kepingan memori kala itu berlomba-lomba untuk diingat kembali.

Saya suka anak kecil. Melihat mereka bermain dan menciptakan dunianya sendiri terkadang membuat saya tersenyum. Tak jarang saya bisa menatapnya begitu lama. Sungguh penasaran apa yang akan dilakukan berikutnya. Memerhatikan setiap gerak-geriknya. Begitu indah. Begitu elok. Mereka tak menyadari keelokannya, namun itulah yang membuat mereka elok. Dikarenakan sebuah kepolosan.

Bagi mereka, orang dewasa merupakan sosok yang sangat sempurna dalam fase kehidupan, begitu sibuk, dan rumit. Saya setuju dengan hal ini. Terkadang, saya berpikir bahwa menjadi orang dewasa sangat membosankan. Melakukan rutinitas itu-itu saja. Itulah mengapa jika seseorang bertanya kepada saya mengenai pekerjaan apa yang kelak menjadi pilihan saya, saya akan menjawab, “Yang penting bukan PNS, pekerjaan yang lebih banyak di lapangan kalau bisa,” Belum menjadi PNS saja sudah membuat pening. Meski kata mereka menjadi PNS akan menjanjikan. Namun, percayalah, kebahagiaan tak dapat diukur dengan status PNS kita.

Meski saya masih berada di fase dewasa awal, saya sudah merasakan yang namanya memilah-milih perilaku. Namun, tentu saja ada beberapa hal yang tidak saya setujui. Selama apa yang saya lakukan tidak menyinggung orang lain, dan tidak melenceng dalam tata krama, saya akan melakukan hal tersebut. Meski akan disebut kekanak-kanakan, masa kecil kurang bahagia, dan sebagainya. Bukan karena masa kecil kurang bahagia, lantas kita tidak boleh melakukan sesuatu hal yang menurut orang lain kurang pantas dilakukan oleh seorang dewasa awal. Justru karena saya begitu menikmati masa kecil saya yang penuh dengan imajinasi, dan kebebasan, sehingga masa kecil saya tak akan tenggelam begitu saja.

Saya kembali mengingat masa kecil saya ketika membaca buku berjudul But I Still Love You. Buku But I Still Love You merupakan buku ilustrasi mengenai seorang gadis kecil berpipi tembam, dengan kepang duanya yang begitu khas, serta bulu mata lentik, dan selalu ditemani oleh kelinci gemuk untuk berpetualang di dalam dunianya, yaitu dunia yang hanya bisa dinikmati pada masa kecil. Buku ini penuh dengan ilustrasi yang begitu indah, menggambarkan setiap kepingan masa kecil begitu detail dan menarik. Di setiap lembarnya akan diisi oleh sebuah ilustrasi dan sepenggal kalimat mengenai ilsutrasi tersebut. Kalimatnya begitu sederhana, layaknya seorang anak kecil dengan segudang kepolosannya.

Buku ini ditulis oleh Coniglio. Dalam bahasa Italia, Coniglio berarti kelinci. Entah mengapa dia tak menuliskan nama aslinya. Namun, saya suka dengan namanya. Coniglio. Sungguh misterius. Hal ini mengingatkan saya dengan buku Harry Potter. Bukankah awalnya J.K Rowling tidak menggunakan nama aslinya? Mungkin Coniglio terinspirasi olehnya. Mungkin.

Coniglio merupakan seorang seniman yang menyampaikan kebahagiaan melalui gambar gadis berpipi tembam, dan kelinci gemuk. Mungkin akan ada dua pertanyaan yang timbul ketika membaca buku ini. Pertama, mengapa wajah gadis kecil ini, sama sekali tidak diperlihatkan? Bahkan kelincinya pun! Yang tampak hanya bulu mata lentiknya. Begitu juga dengan semua orang dalam buku ini. Tak pernah menampakkan wajah mereka.

Kedua, mengapa seorang gadis kecil dan kelinci? Baiklah, mungkin karena Coniglio seorang perempuan, maka gambarnya pun seorang anak perempuan. Atau bisa jadi, gadis tersebut merupakan perwujudan dari Coniglio sewaktu kecil. Persoalan kelinci, mungkin karena nama samarannya kelinci sehingga ia pun memilih kelinci. Atau bisa jadi, karena ia memilih kelinci sebagai teman dari gadis kecil itu, maka dia memilih nama Coniglio. Mengapa? Entah. Coniglio tak pernah menceritakannya. Baik dalam buku maupun artikel di internet. Itu sudah jadi ciri khasnya. Dan itu juga yang menjadi bumbu penyedap dari ilustrasinya. Sebuah kemisteriusan.

Selain itu, gambar-gambar Coniglio telah dinikmati oleh sekitar 10.000.000 kali oleh pengguna Naver Grafolio, kemudian gambarnya tersebut diterbitkan ke dalam satu buku, yaitu buku ini. Naver Grafolio merupakan sebuah situs yang memuat banyak ilustrasi dari banyak ilustrator. Lebih mirip Pinterest, tetapi Naver Grafolio seperti versi koreanya. Untuk mengunduh gambar di Naver Grafolio ini, kita mesti mempunyai akun Naver, Weibo, ataupun facebook.

Buku yang diterbitkan oleh Naura Books dengan jumlah halaman 218, akan membuat pembacanya mengingat-ngingat kembali sepenggal masa kecilnya yang tenggelam begitu dalam, gambar yang menarik akan mengilustrasikan betapa seorang gadis kecil begitu menikmati dunianya, dengan segala macam emosi di setiap kisahnya. Bahagia, haru, sedih, takut, dan segala macam emosi akan ditampilkan di setiap lembarnya, membuat saya sebagai pembaca begitu menikmatinya.

Ketika melihat buku ini, saya begitu tertarik dengan sampulnya. Berwarna biru muda dengan gambar seorang gadis kecil berkepang dua, berpipi tembam, dan bulu mata lentik yang sedang bergandengan dengan seekor kelinci gemuk, sederhana namun begitu menarik. Menurut saya, sampul buku merupakan pandangan pertama pembaca mengenai buku tersebut. Semakin menarik sampul buku, maka akan menarik pandangan pertama pembaca untuk membaca buku tersebut.

Awalnya, saya mengira buku ini adalah sebuah novel, melihat dari kalimat pada judul buku yang tak jarang ditemuai pada sebuah novel. Ketika membuka selembar demi selembar, jujur saya sedikit kecewa. Hal ini dikarenakan saya tak begitu menyukai kalimat puitis. Ketika melihat isi buku ini yang berisi sepenggal kalimat, membuat saya mengira bahwa buku ini merupakan buku yang berisi puisi-puisi pendek.

Namun, saya keliru. Selain gambar yang begitu indah, kalimat yang ada di dalam buku ini begitu sederhana. Lalu saya mencoba membaca selembar-dua lembar. Kemudian, saya membaca ‘Prolog’, dan saat itulah saya mengetahui bahwa buku ini merupakan gambaran masa kecil dari sekian banyak orang. Dituangkan dalam sebuah gambar yang begitu detail, dengan tambahan gambar imajinasi sang gadis yang begitu liar.

Tanpa sadar, saya membuka lembar-lembar tersebut hingga pada halaman terakhir. Waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan buku ini sangat singkat. Namun, saya kembali membuka lembaran-lembarannya. Menikmati kembali tiap ilustrasi yang disajikan oleh penulis, dan kembali jatuh ke dalam imajinasi seorang gadis dan kelincinya. Meski kalimat yang ada di dalam buku ini sangat pendek, namun ilustrasi yang diberikan begitu menarik. Sehingga kita hanya perlu memerhatikan setiap ilustrasinya. Seolah gambar-gambar tersebut bercerita mengenai segudang kepingan memori masa kecil. Sebuah cerita yang tak cukup bila hanya dituangkan ke dalam kata-kata.

 

Judul Buku        : But I Still Love You

Penulis               : Coniglio

Penerjemah        : Listya Ayunita Wardadie

Penerbit             : Noura Books, Agustus 2019

Tebal                  : 218 Halaman

 

 

The following two tabs change content below.

Saffana Mustafani

Saffana Mustafani, mahasiswa Psikologi UNM.

Latest posts by Saffana Mustafani (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *