Kesalehan Ekologis

Maksiat ekologi kini tak terkendali dan secara pasti telah menusia rasakan dampaknya hingga sekarang. Ironisnya, kejadian itu ada di tengah maraknya manusia mencari kesalehan sosial yang dianggap menyempurnakan kesalehan pribadi. Gerakan filantrofi marak dikerjakan. Gerakan yang mengandung prinsip etis kesatuan umat manusia dalam suatu perasaan dan kepentingan yang sama. Setiap orang yang tampil dengan kepedualian prima atas manusia lainnya maka segera bercitra “saleh sosial”.

Paradigma kesalehan sosial mengasumsikan kepentingan spesies manusia lebih utama dibanding dengan spesies lain. Memang lebih maju daripada paradigma kesalehan pribadi mengasumsikan kepentingan diri sendiri lebih utama daripada kepentingan orang lain. Meski demikian, dalam wacana keberlanjutan kehidupan, kesalehan sosial saja tak memadai untuk menjawab ancaman besar punahnya kehidupan di bumi.

Kepedulian terhadap sesama manusia itu cerminan suatu cara pandang yang menempatkan manusia sebagai makhluk sosial, bukan hanya makhluk pribadi. Kepentingan bersama harus lebih utama daripada kepentingan diri sendiri. Cara pandang ini akan berimplikasi pada cara manusia menyikapi kehidupan dan tempat hidupnya. Unsur manusia masih tetap menempati urutan prioritas tertinggi dibandingkan makhluk hidup lain dan unsur abiotik dalam konsep ekologi. Akibatnya, eksploitasi tetap dilakukan tanpa berhasil membaca semacam “kontrak alam dengan manusia” berupa daya dukung dan daya tampungnya.

Paradigma industri belum tergoyahkan. Kepedulian kadang hanya sebagai “permen” penenang kritik massa atas sikap industrialisme yang eksploitatif. Data memperlihatkan bahwa tiap-tiap perusahaan sudah mengerahkan bantuan lewat program Corporate Social Responsibility (CSR). Kepedulian sosial diangkat ke permukaan, namun di endapannya ada berlipat-lipat kali kegiatan eksploitatif yang menakutkan.

Memperluas cara pandang tentang diri dan kehidupan, dengan demikian, sangat penting dan mendesak. Manusia tidak hanya hidup di tengah manusia lainnya, melainkan hidup di tengah makhluk hidup lainnya. Kesadaran yang dinamakan etika biosentrisme ini sudah lebih maju. Penghargaan terhadap makhluk hidup menjadi panduan moral. Sayangnya, amuk lingkungan masih menghantui manusia, bahkan ketika panduan itu dikembangkan menjadi etika ekosentrisme, yang melihat makhluk hidup termasuk manusia itu hidup di tengah makhluk tak hidup di sekelilingnya.

Kesatuan sosial sudah diarahkan untuk beranjak menjadi kesatuan ekologis. Bagaimana dengan amuk lingkungan? Tetap saja muncul. Itu lantaran paradigma industri tetap dominan dalam pengambilan keputusan tentang pemanfaatan sumber daya alam.

Konsep lingkungan yang lebih besar perlu diangkat sebagai diskursus pemikiran lingkungan hidup. Asumsinya, konsep kesatuan ekologis yang hanya bersandar pada paradigma keplanetan sebagai definisi tempat hidup sepertinya kurang sanggup mewadahi cakupan perilaku manusia dan akibat-akibat masa depannya. Planet bumi adalah tempat berprosesnya kehidupan manusia menuju kesempurnaannya. Perilaku manusia di bumi sangat menentukan kehidupannya pasca bumi. Ini berarti, prinsip etik tidak hanya memperhitungkan terpeliharanya daya dukung bumi semata-mata, melainkan nasib manusia pasca bumi.

Penjelasan ekosentrisme nampaknya kurang memadai untuk memberitahukan dan menumbuhkan kesadaran baru ini. Diperlukan perubahan paradigmatik berupa pandangan dunia yang melihat manusia dan bumi berada dalam semesta kehidupan yang maha luas dan abadi.

Perlu semacam pandangan dunia (world view) yang memberikan keyakinan bahwa nilai kemuliaan manusia bukan pada perilaku individual dan kemasyarakatnnya belaka, namun pada perilaku kesemestaannya. Mungkin dapat disebut sebagai etika kosmosentrisme, sebuah perspektif yang menempatkan manusia dalam kesadaran kosmos yang melampaui alam fisik sebab kesadaran yang berbasis ekosentrisme saja masih termanipulasi dalam sebentuk penipuan-penipuan berkedok sadar lingkungan.

Itu sebabnya, pesatnya pertumbuhan kegiatan sadar lingkungan tetap sama pesatnya dengan ancaman kerusakan bumi yang disebabkan eksploitasi tak terkendali. Tuhan tidak hanya menuntut tanggung jawab manusia atas manusia lain sebagai bagian dari keyakinan keagamaan, namun juga tanggung jawab ekologisnya.

Maka seharusnya, di tiap-tiap momentum hari Lingkungan Hidup se-dunia hendaknya menjadi titik tolak kesadaran tiap-tiap individu akan tanggung jawab ekologisnya. Manusia harus berhasil meninggalkan maksiat pribadi, seperti yang diajarkan dalam prinsip-prinsip paling purba yang difirmankan Tuhan melalui kitab suci-Nya. The ten commandment yang datang kepada umat Israel dan umat manusia setelahnya adalah etika pribadi yang perlu dipatuhi. Demikian juga, manusia harus mampu meninggalkan maksiat sosial semacam korupsi, pernganiayaan dan pelanggaran HAM, dan sebagainya.Tidak cukup demikian, manusia harus meninggalkan maksiat ekologisnya seperti eksploitasi tanpa kendali.

Gambar dicomot dari: http://endofpollution.weebly.com/peoples-amazing-drawings-of-pollution.html

The following two tabs change content below.

Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), Anak Tentara Melawan Orba (2015), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit).

Latest posts by Syafinuddin Al-Mandari (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *