Ketika Saya Seusia Dilan

Pada saat saya seusia Dilan, saya merindukan menjadi mahasiswa. Tapi kini saya tahu bukan rindu yang berat, melainkan menjadi “mahasiswa”. Pasalnya, mahasiswa didapuk sebagai kaum intelektual. Insan cendekia. Agent of change. Moral of force. Pembela kaum tertindas. Suara-suara rakyat. Parlemen jalanan. Dan mahasiswa berada pada maqam keempat dalam dunia kesiswaan karena berlabel “maha”, sedikit lebih di atas dari mahabarata. Andaikata seperti kaum sufistik, “mahasiswa” sudah tingkatan hakikat.

Keperkasaan mahasiswa menyuarakan aspirasi rakyat sering saya lihat di televisi. Walaupun sesekali diwacanakan bentrok dengan masyarakat. Tapi, dengan keyakinan penuh saya menampik realitas yang disajikan media. Karena faktanya, beberapa media pandai bermain kata demi merengkuh perhatian publik dan mendongkrak ratingnya.

Mahasiswa memang terkadang dimarginalkan dalam pemberitaan. Mahasiswa dikonstruk sebagai kelompok yang anarkis, banal, dan kriminal dalam melakukan setiap aksi demonstrasi. Proses pemberitaan yang berulang, pada akhirnya membakukan stigma buruk terhadap mahasiswa di mata masyarakat.

Saya ingat kala itu, dalam pikiran kanak-kanak dengan gaya ala mahasiswa kritis, pisau analisis sok tajam, saya menduga-duga ada perselingkuhan sistematis, rapi, apik, dan romantis antara penguasa dan pemilik media. Terdapat kongkalikong antara para pejabat-pejabat pemerintah mulai dari senayan, sentul, pasar segar, hingga kantor-kantor desa. Terus merengsek masuk di kolong-kolong rumah pak dusun dan pak RT/RW. Semua itu mungkin terjadi demi melanggengkan status quo dan memapankan diri di balik kursi parlemen. Ya, negeri ini butuh revolusi! Sebab reformasi telah gagal.

Eriyanto ternyata mengaminkan pikiran kanak-kanak saya dalam buku anggitannya, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Media. Eriyanto mengatakan “media melalui proses yang kompleks, melalui pendefinisian dan penandaan telah berhasil membentuk kesadaran masyarakat. Sehingga ketika ada kelompok yang buruk dalam pemberitaan, itu direpresentasikan sebagai sesuatu yang wajar, alami, dan memang begitu kenyataannya”. Selain itu, media kerap menjadi alat penguasa dalam dan mengontrol dan menanamkan pengaruhnya.

***

Waktu seusia Dilan, saya fans dengan Mahbud Junaedi dan Soe Hok Gie. Bahkan puisi-puisinya saya tempel sebagai sampul buku pelajaran Bahasa Indonesia. Kekaguman terhadap mahasiswa juga dipantik oleh saudara saya.

Melihat bagaimana ia begitu getol membaca buku. Mengoleksi buku-buku. Bersuka ria dalam kegiatan diskusi dan kaderisasi. Serta mengalakkan beragam pelatihan-pelatihan. Menjadikan saya yang belum puber, ingin cepat-cepat menjadi mahasiswa.

Ketika tiba waktunya saya terdaftar disebuah perguruan tinggi. Mengikuti semester berjalan dan membayar SPP. Saya mengenakan jas almamater dengan bangganya. Apalagi mahasiswa baru tahun itu disambut dengan kata-kata heroik dari senior yang menyebut diri aktivis. Dengan toa, ia menebar kata-kata dengan semangat yang – dalam kacamata seorang maba – luar biasa. “Kalian adalah angkatan ganjil. Angkatan yang selalu melahirkan mahasiswa-mahasiswa revolusioner,” tuduhnya.

Mengapa saya mengatakan itu tuduhan? Karena hingga memasuki usia senja sebagai mahasiswa, saya hanya melihat putra putri almamater. Termasuk saya tentunya. Saya tidak bisa bergeming dan menampik realitas itu.  Sekilas terlihat dunia kemahasiswaan tersudut di lorong-lorong sunyi peradaban. Seperti daun berguguran, begitulah bayang-bayang saya tentang idealisme mahasiswa luruh menciumi tanah berlumpur.

Kebanyakan dari kita mencari aman dan nyaman saja. Enggan menyisihkan keringat. Berjubel dengan buku-buku. Malas terjun di gelanggang-gelanggang diskusi atau ikut organisasi-organisasi. Kita lebih memilih terjun bebas dalam kolam air susu yang melenakan. Kolam yang dijangkiti virus amoral, apatis, hedonis, kriminal, pragmatis, dan culas.

Degradasi kader menghantui setiap organisasi. Tak ada lagi riak-riak suara gemuruh pada malam pengaderan. Sunyi. Senyap. Sebab para putra putri almamater bergeming ketika mendapat ajakan berbau organisasi dan diskusi. Tidak banyak dalih yang bisa ditemukan. Semisal “saya ada janji diskusi disini kak”. “Saya sedang bakti sosial dipanti senior.” “Saya ikut pengaderan di organisasi yang lain daeng.” Dan alasan-alasan terhormat lain yang serupa. Hanya ada satu alasan sederhana yang banyak kita temukan, “maaf senior, saya punya banyak tugas”.

Walaupun memang tidak bisa dinafikan bahwa di ruang-ruang kelas, mulut-mulut kita disumpal dengan tugas-tugas kuliah yang menjemukan. Tidak berkualitas. Kurang mengasah potensi nalar kritis. Seperi gayung bersambut, banyak mahasiswa yang memilih bersikap sami’na wa atha’na, taat dan patuh.

Walhasil, para senior yang barangkali telah lelah, galau, memilih menyingkir dari kampus yang telah kehilangan aroma pengetahuan. Maka begitulah saya mendapati suasana kampus yang lengang dari aktivitas-aktivitas diskusi, membaca buku, dan aktivitas intelektual lainnya.

***

Ketika saya seusia Dilan, saya bertekad menjadi pendemo.  Tetapi, saya bohong ketika saya mengatakan saya tidak kecewa. Saya seperti berbulu mata melihat kenyataan merosotnya kualitas aksi demonstrasi. Banyak aksi yang hanya mempertontonkan banalitas mahasiswa.

Tetapi hal berbeda saya lihat dari aksi mahasiswa teknik Universitas Muhammadiyah  Kendari. Ratusan mahasiswa melakukan aksi solidaritas long march dan pengunduran diri sebagai mahasiswa. Aksi yang damai, tapi membuat saya terenyuh sekaligus menyulut semangat saya.

Dan baru-baru ini jagad maya juga dihebohkan dengan aksi simbolik ketua BEM UI, Zaadit, yang memberikan kartu kuning kepada presiden. Khalayak menganggap aksi ini tak ubahnya seperti nafas baru gerakan mahasiswa. Tetapi saya melihat kartu kuning presiden oleh mahasiswa UIT, juga dialamatkan kepada para mahasiswa.

Mahasiswa harus lebih kreatif dalam melakukan aksi dan advokasi. Tidak melulu menggunakan pendekatan yang konservatif dalam mengaspirasikan pendapat. Kartu kuning kepada para mahasiswa, sebab mahasiswa tidak lagi bisa melakukan manuver-manuver yang lebih berbobot dalam melancarkan kritik. Kalaupun ada hanya sebagian kecil saja.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu berbenah diri. Melakukan refleksi dan merekonstruksi gerakan-gerakan kemahasiswaan. Agar mahasiswa bisa memenuhi peranan, tanggung jawab, dan fungsinya sebagai mercusuar, bukan sebagai menara gading, apalagi menara air. Mahasiswa sejatinya harus menerangi peradaban bangsa kita. Mengawal pertumbuhan-pertumbuhan generasi-generasi bangsa di masa yang akan datang.

 


sumber gambar: sindonews.com

 

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *