Kisah Liyan Sawerigading Datang Dari Laut 

Tidak bisa dimungkiri buku kumcer Faisal Oddang Sawerigading Datang dari Laut, sudah memikat sejak dari covernya. Kombinasi warna merah-biru malam membentuk karikatur ombak bergelombang  dengan siluet seseorang sedang berjalan di atas air, menjadi daya tarik tersendiri memancing saya untuk segera memilikinya. Ketika melihat penulisnya dan tertera nama Faisal Oddang, menambah keyakinan saya agar segera membayarnya di meja kasir.

Sebagai orang Sulawesi Selatan, Sawerigading Datang dari Laut adalah judul yang provokatif. Sebab, seperti sudah diketahui sebelumnya, cerita Sawerigading selalu diasosiasikan dengan nenek moyang orang Sulawesi yang berasal dari “Dunia Atas”.

Keyakinan ini mengklaim bahwa “Dunia Atas” adalah dunia metafisikal yang secara ontologis berbeda dari dunia sehari-hari yang material dan mewaktu. Bahkan, dalam konteks politik, setiap raja-raja di Sulawesi Selatan menarik asal usul dirinya sebagai keturunan langsung “orang-orang langit” untuk melegitimasi kekuasaannya secara magis-religius.

Itulah sebabnya, judul buku ini bisa menjadi nada kontras dan cenderung interogatif untuk mempertanyakan ulang narasi kebudayaan dan asal-usul orang-orang Sulawesi yang terlanjur menjadi keyakinan.

Buku kumpulan  cerpen Faisal Oddang ini sebagian besar telah terlebih dahulu terbit di pelbagai media cetak nasional.  Paling lawas adalah Di Tubuh Tarra,  Dalam Rahim Pohon terbit di tahun 2014 –yang berhasil meraih penghargaan Cerpen Terbaik Kompas tahun 2014—dan yang paling baru tulisan yang terbit di Majalah MAJAS tahun 2018 berjudul Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini?.

Selama 4 tahun itu, walaupun ditulis dalam waktu berbeda, cerita-cerita Fai, begitu ia akrab disapa, konsisten menaruh perhatian kepada tiga hal yang menjadi ciri khas cerita-ceritanya: sejarah di Sulawesi Selatan, tradisi lokal, dan kelompok marginal.

Mari kita lihat. Cerpen pertama: Mengapa Mereka Berdoa Kepada Pohon?. Bagi orang Sulawesi Selatan, terutama bagi pembaca yang berasal dari Sidenreng Rappang, akan mengira dari judulnya cerpen ini berlatar belakang masyarakat Tolotang yang melihat pohon sebagai benda fetis dan mengandung nilai religius. Padahal cerpen ini menyandarkan kisahnya kepada peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Sulawesi Selatan 71 tahun lalu.

Di cerpen ini walaupun dibuka dan ditutup dengan pohon sebagai pusat ceritanya, Fai justru menyelipkan beberapa daerah di Makassar dan Pare-Pare, yang menjadi saksi sejarah kekejaman Belanda.

Di lokasi-lokasi itu, ketika Belanda melakukan agresi militer di tangan Reymond Paul Pierre Westerling, bukan saja para pejuang Tanah Air yang mendapatkan perlakuan semena-mena, melainkan juga warga setempat yang dituduh melindungi pejuang dari incaran pihak sekutu.

Untuk mengenang kebiadaban serdadu Belanda atas pembantaian tanpa perlawanan itu, didirikan monumen 40.000 jiwa yang berlokasi di kecamatan Tallo, Makassar, sekaligus menandai lokasi penguburan massal bagi peristiwa mengerikan itu.

Perhatian Fai terhadap peristiwa sejarah juga terekam dalam Orang-orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu. Fai, mengekspos perlakuan tidak adil negara dan gerilyawan kepada tokoh Isuri dan Uwak, penghayat kepercayaan lokal di Sulawesi Selatan.

Dalam kaca mata negara dan pihak gerilyawan, Tolotang tidak layak disebut agama. Cara pandang monolitik ini membuat posisi masyarakat Tolotang senantiasa mendapatkan persekusi dari kedua kubu.

Keberpihakan terhadap kelompok marginal diangkat dalam Jangan Tanyakan Tentang Mereka yang Memotong Lidahku. Mengetengahkan pandangan sepihak negara tentang agama, di cerpen ini mengekspos satu kelompok khas yang ada di Sulawes Selatan: Bissu.

Bissu merupakan gender ke-5 yang berposisi unik dalam kosmologi kebudayaan Sulawesi Selatan. Di masa lalu Bissu berperan penting secara mistis-religius di hari-hari besar perayaan Sulawesi Selatan.

Dalam konteks kerajaan Sulawesi Selatan, kaum Bissu mampu mengakses tanda-tanda langit karena memiliki kemampuan berhubungan  dengan dunia metafisis. Namun ketika Indonesia merdeka kaum Bissu alih-alih menjadi kaum marginal.

“Kampung ini aman… Tapi, kecuali Bissu, mereka orang-merah, menistakan Tuhan.” (hal.43)

Bissu, pasca kemerdekaan dianggap sebagai kaum penista Tuhan. Mereka lantas digolongkan sebagai orang komunis karena kepercayaannya yang tidak sejalan dengan negara. Secara sosial, mereka juga didiskriminasi karena berkeperawakan serupa kaum LGBTQ.

Dalam suatu wawancara di situs Jurnal Ruang, Faisal Oddang tidak terburu-buru memetakan kecenderungan lokalitas dan bukan lokalitas kepenulisan sastra. Ia mengungkapkan lokalitas dan bukan lokalitas hanya soal sudut pandang belaka. Sebagai pemuda yang tumbuh dalam masyarakat Bugis-Makassar, ia mengatakan hal ini yang menjadi sebab utama banyak unsur lokalitas dalam cerpen-cerpennya.

Di Tubuh Tarra,  Dalam Rahim Pohon serta Sebelum Berangkat ke Surga saya rasa adalah cerita yang paling berkesan mengenai hal di atas. Dua cerpen ini sama-sama mengangkat kepercayaan sekaligus kearifan lokal masyarakat Sulawesi Selatan, terutama Suku Toraja.

Bagi yang pernah ke Toraja, terutama ke situs Kambira Baby Grave, yakni tempat para bayi-bayi dimakamkan di dalam pohon, akan sangat mengenal latar belakang cerita yang membawa nama Faisal Oddang melejit ke tingkat nasional.

Ketika pertama kali terbit, banyak yang belum tahu, cerpen yang secara surealis menceritakan kisah dua bayi yang “hidup” di dalam pohon Tarra ini menyimpan kritik terhadap perdagangan tulang belulang makam bayi yang sering terjadi di Toraja.

Sementara kisah Sebelum Berangkat ke Surga mengetengahkan dilema yang kompleks antara upacara adat pemakaman yang membutuhkan biaya besar dengan kisah percintaan tokohnya.

Seperti beberapa cerita yang memadukan unsur percintaan, dalam kisah ini juga melakukan hal yang sama walaupun tetap mengandalkan unsur tradisi lokal sebagai kekuatan utama ceritanya. Bahkan, di kisah ini, terjadi peluruhan adat istiadat pada diri Allu demi cintanya kepada Malia kekasihnya.

Kepiawaian Faisal Oddang mengolah bahan-bahan sejarah patut diacungi jempol. Bahkan, mitos Sawerigading dalam Sawerigading Datang dari Laut diformulasikan sedemikian rupa menyerupai Rapunzel, dongeng klasik Jerman karangan Grimm Bersaudara.

Walaupun demikian, semua itu bukan tanpa kritik, terutama pada beberapa bagian cerita yang seolah-olah memaksakan sekelumit informasi sejarah biar terkesan informatif  agar pembaca paham betul dengan konteks ceritanya.

Contoh dalam Peluru Siapa yang Kami Temukan Ini?, terdapat penggalan dialog lumayan panjang untuk menjelaskan suatu peristiwa sejarah berkaitan dengan penangkapan pimpinan DI/TII Kartosoewirjo di Jawa Barat.

Contoh lain misalnya lima cerpen berlatar sejarah yang memasukkan penanggalan berkaitan suatu peristiwa sejarah tanah air. Terlepas tanggal-tanggal itu memiliki arti historis atau tidak, seolah-olah setiap cerita mesti benar-benar memiliki basis historis yang pernah faktual.

Nampaknya, Faisal Oddang masih terjebak kepada harapan agar cerpennya terlihat benar-benar berlandaskan sejarah. Padahal jika mengingat cerpen adalah genre fiksi, hal-hal seperti ini bukan soal apakah ia benar-benar punya basis sejarah atau tidak. Semuanya sah dalam arti sejauh ia bukan karangan ilmiah.

Judul                         : Sawerigading Datang dari Laut

Penulis                     : Faisal Oddang

Penerbit                   : DIVA Press

Edisi                         : Pertama, Januari 2019

Tebal                        : 192 hal

ISBN                        : 9786023916658

 

The following two tabs change content below.
Blogger yang nyambi jadi dosen partikelir

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *