Kita Memang Perlu Bersedih Ditinggalkan Habibie

Beberapa hari lalu, Habibie tutup usia. Setiap dari kita bersedih. Saya melewati lorong-lorong di salah satu sudut Makassar dan saya melihat para warga yang rumahnya di lorong-lorong kumuh juga bahkan memasang bendera setengah tiang. Tiangnya dari bambu. Kesedihan menjadi milik kita semua.

Kita memang perlu bersedih, tak semata-mata karena beliau seorang mantan presiden. Juga bukan semata-mata karena ia seorang muslim jenius yang diakui dunia di bidang teknologi kelas tinggi, pesawat terbang. Kita memang sebaiknya bersedih sebab kita hidup dalam budaya yang makin hari makin jauh dari cara berpikirnya beliau. Cara berpikir yang berkemajuan dan bebas.

Habibie berhasil menunjukkan pada kita bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) juga iman dan takwa (imtak) dapat berjalan dan bahkan menyempurnakan satu dan lainnya. Iptek adalah kunci kemajuan peradaban manusia dan imtak menjadi nafas perjuangannya sehingga tidak salah arah. Habibie menggunakan rasionalitasnya untuk berpikir maju.

Di hari-hari terakhir dan ketika akhirnya beliau menyerah, tersebar selentingan postingan di sosial media atau di grup-grup WhatsApp tentang Habibie yang konon katanya jika diberi pilihan ilmu teknologi atau ilmu agama, Habibie akan lebih memilih ilmu agama sebab lebih banyak manfaatnya. Kesannya adalah ilmu teknologi (pengetahuan) bukan dari ilmu agama. Dan hanya ilmu agama yang mungkin dimaknai dengan penghafal dan pendakwah yang memiliki manfaat kepada umat manusia.

Di tengah masyarakat yang makin malas menggunakan nalar dan rasionalitasnya, namun berharap menjadi seperti Habibie, sungguh berita seperti ini akan dilumat begitu saja. Barangkali dengan senang hati, seolah Habibie selama ini tidak menyadari kesalahannya dengan ilmu pesawat terbangnya itu. Seperti seorang keluarga saya yang pendidikannya doktor itu ternyata percaya dan memang semakin hari semakin lebih sibuk ikut pengajian, lalu dengan mudah menuding haram dan bidah daripada menggunakan keilmuannya untuk hajat orang banyak. Dan makin hari semakin banyak orang seperti ini, memahami agama sesempit pemahamannya, namun tentu merasa dirinya benar.

Habibie dipuja-puji dan disanjung-sanjung sebagai seorang ilmuwan muslim jenius yang diakui dunia. Penemuannya diakui. Dan kita umat Islam yang seringkali selalu merasa korban, tertinggal, dan payah dalam ilmu teknologi modern membanggakan Habibie sebagai sebuah pembuktian bahwa muslim tidak kalah hebatnya.

Namun, di tengah ketertinggalan dan kepayahan ini, semakin menguat tren demi menjadi seorang muslim yang saleh dan berguna bagi agama hanya diartikan sempit dengan menjadi penghafal atau pendakwah seperti ustaz ini dan itu. Saya terlalu sering mendengar ini dari ibu-ibu, terutama yang merasa dirinya sudah hijrah, alih-alih berharap anaknya seperti Habibie seperti ibu-ibu dulu (yang ternyata berharap dari dulu pun ternyata sampai hari ini belum ada di antara anak-anak itu bisa seperti Habibie, termasuk seperti saya ini).

Tidak ada yang salah dengan ini, tentu saja. Tetapi memahami untuk menjadi seorang yang bermanfaat bagi agama hanya dengan mempelajari ilmu agama saja seperti semuanya pada ingin anaknya jadi penghafal atau pendakwah adalah satu bentuk kekeliruan memahami dimensi manifestasi agama. Ilmu pengetahuan adalah jantung dari ilmu agama. Ilmu agama menjadi landasan dan menafasi ilmu pengatahuan. Keduanya bukan dikotomi yang harus dipisahkan, dibandingkan, lalu diisolasi.

Sebaliknya, ilmu agama dan ilmu pengatahuan adalah dua hal yang saling tunjang-menunjang. Bahkan dengan ilmu pengetahuan, ia bisa menyentuh lebih banyak dan lebih luas perwujudan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin. Habibie telah mencontohkan. Dengan ilmu presisi untuk mengetahui sumber awal keretakan sayap pesawat, beliau telah menyelamatkan ribuan bahkan jutaan banyak orang. Bukan hanya umat Islam tetapi seluruh umat manusia tanpa sekat SARA. Sungguh Habibie telah menjadi rahmatan lil alamin. Ini belum termasuk dengan penemuan-penemuan lainnya yang dipatenkan.

Toh, pada akhirnya, Habibie tidak pernah benar-benar memisahkan keduanya. Benar Habibie bersyukur dan berkata akan lebih memilih ilmu agama jika harus memilih, namun kemudian, beliau juga menyambung kalau bisa ia ingin dianugerahi kedua ilmu itu, ilmu agama dan ilmu teknologi. Keduanya bukan dua hal yang dipertentangkan. Keduanya adalah jalan kebaikan.

Jadi kita memang perlu bersedih ditinggalkan Habibie. Sebab jangankan mengikuti jejak kemampuannya menghitung secara akurat keretakan pesawat, lah, memastikan sumber informasi di sosial media saja kita tidak becus. Tentu, Habibie menemukan dan mengembangkan teori-teorinya berdasarkan referensi dan sumber-sumber terpercaya dan valid. Bukan mendengar dari kabar-kabar burung yang hanya berasal dari katanya dan katanya.

Tak heran jika kemudian Habibie bisa tampil percaya diri meski tubuhnya jauh lebih pendek dibandingkan orang-orang Barat sana. Orang-orang yang peduli dengan isi kepala dan hatimu dibandingkan kita yang lebih sibuk menilai (kalau perlu meledek orang) karena fisik atau posturnya.

Beliau percaya diri mengalahkan orang-orang Barat sana dengan kemampuan otaknya, bukan dengan kemampuan ototnya. Bukan dengan mengumpulkan massa lalu dengan kemampuan emosinya hanya bisa teriak-teriak, kalau perlu berkali-kali, berjilid-jilid, lalu menjadi buku bahkan film. Dan pada titik tertentu jika kehendak tak dituruti, emosi yang tumpah-tumpah itu dijadikan alat untuk merendahkan manusia yang lain dan kalau perlu sambil merusak properti.

Kita perlu bersedih ditinggalkan Habibie sebab kita kehilangan sesosok manusia yang tidak gila kekuasaan meski kewenangan untuk berbuat sewenang-wenang ada di kedua tangannya. Satu hal yang mungkin hilang saat ini ketika kita semakin haus kekuasaan dengan berbagai cara dan upaya.

Kita perlu bersedih kehilangan sosok seorang pecinta sejati yang tetap setia pada satu hati hingga akhir hayatnya ketika sebagian dari kita sibuk mempromosikan poligami, lengkap dengan ayat-ayat agama yang dinukilkan dan ditafsirkan menurut kepentingannya.

Kita perlu bersedih sebab kehilangan sesosok anak muda di zamannya yang lebih memilih menyemplungkan diri dalam belantara ilmu pengetahuan hingga menempuh doktornya daripada memilih menikah muda, ketika kini ustaz-ustaz muda dan genit itu sibuk mengkampanyekan nikah muda, tentu dengan dalih agama.

Kita akan kehilangan banyak hal darinya dan kian sulit mencari penggantinya di tengah budaya kita yang makin hari makin jauh dari cara-cara berpikir beliau. Kita menginginkan kemajuan tetapi cara berpikir kita justru menjauhinya. Padahal, beliau telah memberi contoh mengamalkan ilmu agama dalam ilmu pengetahuan pada seluas-luasnya manfaat.

Kini, beliau telah lepas landas menuju Tuhannya dan bersiap menikmati seluruh pahalanya, sementara kita barangkali juga sedang bersiap lepas landas menyambut dosa-dosa yang diperbuat dengan mengatasnamakan agama.

 

Ilustrasi: https://www.deviantart.com/aureile/art/BJ-Habibie-in-WPAP-812918626

The following two tabs change content below.

Arief Balla

Penulis (biasa). Pernah menempuh studi master pada TESOL and Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat.

Latest posts by Arief Balla (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *