KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata peribahasa klasik. Harapan terwujudnya masyarakat berbudaya literasi tentu bukan hal mustahil terwujud. Asalkan ada segelintir—dalam bahasa Arnold Toynbee—creative minority yang siap bergerak mewujudkan harapan itu. Buktinya, hanya berawal dari sebaran pamflet sederhana di media sosial. Ajakan berliterasi bisa memantik niat segelintir orang untuk bergabung membenahi diri. 37 anak muda ini akhirnya terpanggil untuk belajar.

Bisa dibayangkan. Jika kegiatan literasi dilakoni secara intensif oleh banyaknya komunitas yang tersebar di berbagai penjuru. Bukan tak mungkin, harapan terwujudnya Makassar menuju kota Literasi, atau Indonesia menuju negara literasi bisa menjadi nyata. Mulanya budaya literasi itu ditanamkan dari individu ke individu melalui ruang diskusi. Seperti biasanya, hanya segelintir saja yang berhasil terprovokasi.

Di antara segelintir ini, ada secuil subjek yang bersedia menanamkan semangat literasi di lingkungan sosialnya. Seterusnya demikian. Perlahan tapi pasti. Mungkin hasilnya belum bisa dipetik pada generasi saat ini. Namun di generasi selanjutnya—entah di generasi ke berapa—budaya literasi bisa saja terwujud secara masif melalui benih-benih dari generasi sebelumnya.

Apa salahnya bermimpi, Bung. Mumpung masih gratis. Lagi pula, mimpi-mimpi kebangkitan masyarakat literasi ini bukan semacam utopia yang tak memiliki referensi di dunia nyata. Dia lebih riil di banding utopia akan tatanan masyarakat tanpa kelas ala Marxisme, atau negara ideal ala Platon, misalnya.

Sebab fenomena kebudayaan literasi itu benar-benar ada. Hanya belum merata. Agar bisa meluas di ranah kehidupan masyarakat, budaya literasi ini tentu perlu diperjuangkan. Memperjuangkan mimpi ini setidaknya lebih bermanfaat daripada terus berkelahi demi mendukung salah satu kandidat presiden, yang belum tentu memikirkan nasib kita.

Tentu KLPI hadir bukan sebagai ruang bertemunya pahlawan sok jago yang ingin memperjuangkan tatanan dunia baru. Dan TBPI bukan sejenis markas Power Ranger. KLPI sadar diri hanya sebagai entitas kecil dari kosmologi literasi. Tapi KLPI punya tekad yang besar menyumbangkan sumbangsi bagi perjuangan tatanan masyarakat literasi meski sejumput saja. Relawan KLPI hanya tahu, literasi itu penting dan memperjuangkannya adalah sebuah kebaikan bernilai berpahala.

Bahkan, relawan dan peserta kadang mencuri sedikit waktu untuk ketawa-ketiwi ketika proses belajar di kelas berlangsung. Karena memang KLPI tak punya tampang untuk bisa disebut sebagai ruang pertemuan para pejuang yang hendak membahas cita-cita revolusi secara serius. KLPI hanya ingin memperjuangkan satu elemen penting dalam masyarakat: literasi. Perjuangan yang tentunya dijalani dengan gembira, banyak bercanda, sambil menikmati hangatnya kopi hitam dan pisang goreng buatan Yunda Mauliah Mulkin.

KLPI telah memasuki angkatan ke-5. Tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Kadang semangat melanjutkan kelas ini meredup. Kemudian menyala lagi. Redup lagi. Menyala lagi. Seterusnya demikian. Namun, relawan KLPI kadang tidak tega, jika orang-orang bertanya: “kapan kelas dibuka lagi?”, “Kak Hajir, kabarika kalau mau buka kelas lagi nah!”.

Relawan KLPI merasa bersalah jika tidak menjemput antusiasme orang-orang yang memilih KLPI sebagai ruang membenahi tradisi literasinya. Para relawan tentu bersyukur, jika KLPI dipercayai sebagai—ibarat kawah candradimuka— ruang membenahi diri. Itu artinya, orang-orang mulai melihat KLPI sebagai salah satu gerakan bagi masa depan kemajuan literasi masyarakat.

Selamat bergabung, peserta KLPI Angkatan ke-5. Mari menjadi bagian dari sejarah.

The following two tabs change content below.

Muhajir MA

Kesehariannya bekerja sebagai jurnalis. Ikut mengasuh kalaliterasi.com dengan posisi sebagai redaktur. Menyukai kopi dan buku. Saat ini bercita-cita untuk berhenti merokok, saat menyadari menjadi Ksatria Baja Hitam itu mustahil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *