La Tahzan

Saudaraku,  pernahkah kau berjumpa dengan pipi yang tak pernah basah oleh airmata?

Juga rumah yang tak pernah ada duka di dalamnya?

Pernahkah kau berjumpa dengan seseorang yang tak pernah marah?

Juga hari yang tak Nampak cahaya matahari di dalamnya?

Dan telah nyata bagimu bagaimana Kami berbuat terhadap mereka dan telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan” (QS Ibrahim: 45)

 

Anehnya,  bagaimanapun besarnya hal yang menimpa kita, tak akan ada yang setega itu menyalahkan Tuhan. Tak ada yang benar-benar berani menghujat,  meraung-raung mempertanyakan  mengapa ‘ini harus terjadi’,  atau juga ‘mengapa harus kami’. Semua hal  besar yang terjadi dan mengambil harta,  nyawa, serta kekuatan kita pada akhirnya,  akan dipersalahkan kepada tangan-tangan manusia. Karena rumput yang bergoyang pun tak ingin menjawab,  maka kenyataan ini mungkin benar.

Manusia,  kapankah akan datang sejahteranya? Justru aneh kalau kita tanyakan kapannya karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Bumi adalah tempat kita mengais-ngais rejeki, sambil menikmati ujian dan cobaan yang berganti. Suka diganti duka,  naik diganti turun,  kanan diganti kiri,  miskin diganti kaya,  sehat diganti sakit dan macam-macam pergantian lainnya.

Berapa banyak orang kaya yang kehilangan uangnya dalam satu kedipan mata?

Berapa banyak orangtua yang merana karena dibunuh anaknya?

Berapa banyak manusia yang marah karena dipenjara?

Berapa banyak manusia yang mengeluh kesakitan karena tak bisa bicara?

Banyak.

Jangankan mereka,  cerminlah pada diri sendiri. berapa banyak yang bahagia hatinya 2 jam yang lalu,  dan kemudian menjadi berduka-duka di 2 jam setelahnya. Berapa banyak yang marahnya setengah mati,  lalu berganti menjadi tertawa berikutnya. Memang dunia ini bulat adanya,  dan sifatnya pun demikian. Terbolak-balik juga kita yang hidup didalamnya.

Syahdan,  mengenai hal ini telah jauh-jauh hari Allah menjaminkan bahwa tidak ada sedih yang kekal,  juga tidak ada bahagia yang tetap tinggal. Yang fana adalah rasa dan yang kekal hanyalah Dia.

Apapun hal yang dicipta olehNya,  suatu hari pada hari yang kembar akan pergi jua. Tua,  lapuk,  usang dan mati. Apapun hal yang dicipta olehNya,  suatu hari akan merasakan kesulitan yang tiada tara hingga ia kembali kepada Tuhan dengan keadaan bersih dari dosa-dosanya. Perniagaan yang menguntungkan bukan?

Namun bagi kita yang telah silau dengan hias-hiasan dunia,  tentu mendengar kalimat tersebut justru tidak melegakan. Hati masih saja waspada dan senantiasa diliputi sedih. Kita masih urung percaya dengan perniagaan ini. ‘Rela, sabar dan ikhlas di beri cobaan di dunia,  hingga pulang ke kampung akhirat dalam keadaan bersih dari dosa-dosa masa lalu’,  adakah yang benar-benar mau?

Masih banyak yang tak rela rumahnya di sapu Tsunami. Masih banyak yang tak sabar anaknya tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan. Masih banyak yang tak mau badannya  memakai pakaian yang biasa-biasa. Masih banyak yang dilema di dalam hati akankah Tuhan benar-benar ganti?. Akankah Tuhan benar-benar ganti? Akankah saya benar-benar ikhlas dan Nrimo?

Padalah sudah jelas kita berjanji bahwa saya hanya akan menjadikan Dia sebagai satu-satunya Ilah,  disaksikan oleh  langit bumi beserta segala isinya.

Dengan menyatakan itu,  serta merta pula raga dan jiwa sangat siap dengan yang namanya kehilangan,  karena semua hanya milikNya dan kapan-kapan jika ia mau ambil itu terserah Dia.  Dengan menyatakan itu,  serta merta kita berjanji akan tetap percaya dan setia menyembahNya walau diri berdarah-darah kelaparan. Dengan mengambil janji seperti itu,  manusia telah bersikukuh dan wajib hukumnya untuk tunduk dan patuh hanya kepada satu hal yang paling Akbar kekuasaan dan kebaikannya,  yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Sakit? Tentu. Penulis sendiri mungkin orang yang paling pertama melanggar janji. Tidak sabar dan berduka jika mengalami kehilangan.

Takut? Mesti. Penulis sendiri tak pernah mau membayangkan jika suatu saat nanti harus hidup di tengah-tengah orang yang sedang perang sana-sini.

Lapar? Ya. Penulis sendiri tidak pernah membayangkan bagaimana harus menanggung pedihnya lapar dahaga dan hanya  rumput yang bisa dimakan.

‘dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin’ (QS Luqman : 20)

‘maka nikmat Rabb yang manakah yang kamu dustakan?’ (QS Rahman : 13)

Diri kita benar-benar berada pada kehinaan di saat tidak pernah bersyukur karena diberikan kaki yang bisa berjalan sendiri,  dimana banyak sekali manusia yang meraung-raung minta di beri kesembuhan pada kakinya yang lumpuh

Tahukan kita bahwa tak pernah ada  manusia yang paling rendah dari dia yang tidak pernah mensyukuri amannya Negara sendiri dari serangan makhluk-makhluk perusak bumi lainnya,  di saat Palestine hanya tinggal sisa-sisa.

Anak-anaknya terkapar kelaparan

Bapaknya merana kehilangan kaki dan tangan

Wanita-wanitanya tak punya lagi kehormatan

Dan apa yang mereka-mereka teriakkan?

barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji olehNya’ (Al-Hadits)

Juga mereka melanjutkan

‘dan cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi Petunjuk dan Penolong’ (QS Furqan : 31)

Bisakah kita melapangkan hati seluas itu untuk sabar terhadap ujian?

Meskipun itu beruntun dan seperti saling berkejaran,  bisakah kita ikhlas melepas kehilangan?

Bisakah kita menyiapkan hati untuk senantiasa bertubat dan bersyukur untuk hari ini? Melupakan masa lalu yang mungkin sangat pedih untuk diingat dan menatap hari yang masih sangat berpeluang untuk kita goreskan kebaikan di dalamnya? Bisakah kita hanya percaya kepada Allah dan menyerahkan semua diri dan jiwa hanya kepadaNya,  tunduk dan patuh pada perintahnya, ridha dengan segala ketetapanNya dan juga berbaik sangka kepadaNya?

Bahwa kesabaran Nabi Ibrahim dapat mengubah panasnya api menjadi dingin dan sejuk. Apalagi jika hanya meluluhlantakkan kekasaran hati?

Bahwa berprasangka yang baik kepadaNya hanya akan melahirkan jiwa yang terus terisi dengan kebaikan-kebaikan. Apalagi jika itu hanya mengembalikan harta melimpah?

Bahwa bertawakkal kepadaNya dapat memberikan perasaan untuk selalu merasa cukup akan kehadiranNya. Alapagi jika itu hanya menyembuhkan dari bencana?

Saudaraku,  Hari esok itu belum terjadi dan mari membuatnya lebih baik. Hingga Dia..

‘lalu,  menurunkan ketenangan atas mereka’ (QS Al-Fath : 18)

 

The following two tabs change content below.

Wahyu Hardiani

Asal Tana Toraja. Masih berusaha menyelesaikan segalanya di Universitas Negeri Makassar. Menulis, kuanggap sebagai sarana pengungkapan cinta

Latest posts by Wahyu Hardiani (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *