Lamaran Kedua

Tak seorang pun mengerti jalan pikiranku, termasuk ayah, ibu, bahkan sahabat-sahabatku. Seorang gadis yang baru lulus SMA menikah dengan lelaki yang umurnya lebih dari kepala empat. Lelaki yang bisa dikatakan lebih pantas menjadi seorang ayah ketimbang menjadi seorang suami.

***

Kamarku yang biasa sejuk kini begitu gerah, lantaran sahabat-sahabatku menjejali setiap sudut kamarku. Mereka serempak menyerangku dengan berbagai tanya, tentang keputusanku menerima pinangan Mas Alan Darma Saputra, lelaki berusia 46 tahun.

“Dia lebih pantas menjadi ayahmu ketimbang suamimu!” seru Laila Latifa yang disambung pula oleh Tiara.

“Iya! Laila benar, Om Alan tuh nggak cocok jadi suami lo?! Dia tuh cocoknya jadi Bapak lo! Gue heran deh? Lo kok bisa sih kepincut sama Om Alan?!”

“Gue bingung aja?! Cewek secantik loh mau aja dijadiin bini sama Om Alan? Atau jangan-jangan udah serela lo suka sama Om-Om?!” Radita berkacak pinggang sembari menatapku.

Sahabat-saabatku itu menunjukkan kekhawatirannya atas apa yang kupilih. Mereka serempak menatap tajam, tatapannya seperti bedil yang siap ditembakkan ke arah jantungku.

“Tapi saya cinta dengan dia!” Seruku kepadanya, seolah tak kubiarkan mereka mengintimidasiku.

***

Kuperkenalkan saja kepadamu, namanya Alan Darma Saputra, umurnya 46 tahun seumuran dengan ayahku, lelaki berwajah oriental dengan dua lesung pipit yang sering mengembang bersama senyumannya. Tingginya sekitar 178 cm, bodynya lumayan atletis.

Pertama kali bertemu dengannya ketika sekolahku mengadakan acara perpisahan di hotel, istilah bekennya prome night. Yah you know lah apa yang kami buat di acara prome night. Sekadar menghamburkan uang dengan jalan makan-makan, minum-minum, dan tentunya party sembari dengar hentakan musik DJ. Prome night juga dirangkaikan dengan memilih para  siswa “tercantik”, “tergagah”, “tergokil”, “ter-queen”, “ter-king”, hingga “best couple”. Saya sendiri kala itu terpilih sebagai tercantik, adapun tergagah jatuh pada Shafwan, kekasihku. Sedangkan kategori tergokil diraih oleh Arsy Khaezah. Adapun best couple diraih oleh kawanku dari kelas 12 IPS 2 Muh. Rafli dengan kekasihnya, si manis Andi Tiara Nikita.

Rangkaian prome night baru usai setelah tengah malam, saat itu beberapa temanku ada yang memutuskan pulang, ada pula yang memutuskan untuk BK (buka kamar) Hotel. Saya pun demikian, sudah terlalu larut untuk pulang saat itu.

Saya masih ingat, sekitar pukul 01.15 saya berpapasan dengan Mas Alan di lift hotel, kala itu ia mengulas senyuman kepadaku, dan kubalas dengan senyuman pula. Tak ada yang spesial dari pertemuan pertama kami. Keesokan harinya saya kembali bertemu dengan Mas Alan. Kali ini di pinggir kolam. Untuk ukuran pria berumur 40 tahun lebih, body Mas Alan terbilang perfect, dada bidang, bahu yang kokoh serta perutnya yang six pac. Di pinggir kolam itu, kulihat Mas Alan sempat melirik ke arahku, mungkin ia sedikit terpesona dengan bentuk tubuhku, maklum saat itu saya mengenakan pakaian renang two piece dan lekukan tubuhku nampak sekali, yang tentunya menggoda mata lelaki untuk menikmatinya.

Ada satu perasaan bangga ketika para lelaki melirikku, tapi entah mengapa perasaan itu cukup lain jika kulihat Mas Alan mencuri-curi pandang kepadaku. Selepas acara renang itu, saya kemudian kembali ke kamarku, dan bergegas merapikan pakaian dan barang bawaanku, hal tersebut dikarenakan sudah saatnya untuk chek out. Namun naas, kartu kredit yang diberikan Ayahku untuk membayar hotel ternyata udah limit. Saat itu saya kelimpungan?! Teman-temanku tentunya tak bisa diminta pertolongannya, mengingat hampir dari kesemuanya telah habis-habisan untuk ikut acara prome. Tapi untunglah, seperti sebuah suratan takdir, Mas Alan saat itu datang di waktu yang tepat, ia pun menawarkan diri untuk memberikan bantuan. Dari situlah awal keakrabanku dengan Mas Alan

***

Namaku Alan Darma Saputra, umur sudah 46 tahun. Sehari-hari mengelola usaha di bidang perhotelan dan restoran. Usahaku dari tahun ke tahun semakin berjaya, omsetnya sudah mencapai milliaran rupiah. Kini di umur yang terlalu matang ini, saya akan menikahi seorang perempuan cantik. Ia baru lulus SMA. Jika diperhatikan perbedaan umur kami teramat jauh. Saya 46 tahun sedangkan kekasihku baru 18 tahun. Mungkin tepat dikatakan kalau gadis itu lebih cocok menjadi anak angkatku ketimbang istriku kelak, namun apa mau dikata?! C I N T A telah menyatukan dua hati dan jiwa yang teramat jauh usianya.

***

Bukan hanya sahabatku, teman-temanku, hingga ayah dan bunda pun bingung atas keputusanku untuk menikah dengan Mas Alan, tapi apa mau dikata, cintaku padanya semakin membuncah. Seperti sebuah lirik lagu “entah apa yang merasukiku” hingga saya merelakan masa mudaku untuk dipinang oleh lelaki yang usianya teramat jauh dariku.

“Kamu yakin, Nak mau menikahi Mas Alan?” tanya Ayahku—Abdurrashhad.

“Iya Ayah,” sahutku mantap.

Ayahku hanya menghela nafas panjang, raut wajahnya dipenuhi pertimbangan-pertimbangan. Begitu jelas kegelisahan terpancar, antara ingin melepaskan anak satu-satunya atau tetap memertahankan buah hati semata wayangnya.

“Coba pikirkan baik-baik pilihanmu, Nak?”

“Tidak Ayah, saya sudah mantap untuk menjadi istri dari Mas Alan.”

Ayahku menghela nafas untuk kesekian kalinya, ia sejenak membawa bundaku ke luar rumah, meninggalkanku bersama Mas Alan di ruang tamu. Sekembalinya mereka pun kemudian menggenggam jemariku dan jemari Mas Alan.

“Baiklah, kalau itu memang yang terbaik untuk putriku. Kuharap kamu, Mas Alan bisa menjadi suami yang baik.”

***

Tidak butuh lama untuk meluluhkan hati kedua calon mertuaku, lamaranku akhirnya diterima. Waktu pernikahan telah ditentukan, upacara tukaran cincin pun sudah terlaksana. Selama proses menunggu hari pernikahan, selama itu pula usaha perhotelanku menggeliat! Hal itu dikarenakan event-event berskala regional, nasional dan internasional dilaksanakan di kotaku, maka pilihan untuk menginap bagi tamu undangan serta para handai tauladannya dialamatkan pada hotelku. Olehnya itu, pasti dan selalu pasti hotelku fullbooking.

Saya meyakini karena rezki bagi seorang yang akan menikah mengalir begitu derasnya, dan tentunya karena saran dan anjuran dari guru spritualku, Mbah Raden Mas Algiand untuk memperistri anak gadis perawan, katanya akan menarik cuan atau keberuntungan. “Kamu akan kaya raya jika menikahi anak gadis perawan! Karena ia seperti penglaris, menarik rezeki dari empat penjuru mata angin,”

***

“Hingga kini saya masih bingung? Mengapa ia mau menerima pinangan Om Alan, pengusaha hotel yang katanya doyan pesugihan?! Konon katanya, usaha hotelnya bisa maju karena ia bersekutu dengan Jin dan Syetan.”

“Lo jangan suudzon deh! Nuduh orang macam-macam, emang ada bukti Om Alan ikut pesugihan? Nggak ada kan?!”. Seru kawanku yang satu ini, Al Gazaly memang suka nyerocos, bacotnya kadang nggak ketulungan. Ia kemudian merangkulku sekadar untuk menghiburku.

“Sudahlah, Shafwan. Relakan saja kepergian gadis itu ke pelukan Om Alan, toh bukan hanya dia yang ada di dunia ini? masih banyak kok gadis lain yang lebih menarik?! Salah satunya, yah gadis di sana. Tuh lihat Jeje, cantik kan? Udah lupain dia, ada yang lebih nyata di hadapan lo, sayang kalau dianggurin”.

***

Pesta pernikahan kami begitu meriah, saya begitu cantik dengan gaun pengantin yang dibuatkan khusus untukku, sedangkan Mas Alan tampak gagah dengan setelan jas-nya, tak ada yang mengira bahwa lelaki di sampingku ini telah berumur 46 tahun. Aura ketampanan dan aura mudanya seolah menutupi kenyataan bahwa Mas Alan adalah lelaki yang berumur. Semua tamu undangan satu persatu menyalami kami, teman-teman sekolahku, termasuk Shafwan, mantan kekasihku. Cukup lama ia menggenggam jemariku, hingga Al Gazali kemudian menariknya.

***

Al Gazaly mengajakku ke basement hotel, di sana telah terparkir mobil Honda Brio bewarna merah, kami berdua naik ke mobil tersebut, di dalamnya sudah ada empat botol Anggur Merah. Entah sejak kapan Al Gazaly membeli anggur merah tersebut?

“Sudahlah Shafwan, relakan saja kepergiannya. Sekarang lo minum aja tuh Anggur Merah. Shafwan, lo harus realistis, yang berjuang, yang tampan, pada akhirnya akan kalah dengan mereka yang mapan. Apalagi dengan ukuran Om Alan, sudah tampan, mapan lagi!”

Al Gazaly kemudian mencecokiku dengan minuman beralkohol tersebut, sesaat kemudian mobil melaju, meninggalkan hotel bersama dengan perasaan sakit hati yang tergores. Sungguh ia begitu jahat terhadapku, meninggalkanku demi lelaki lain. Lelaki yang lebih pantas menjadi ayahnya ketimbang suaminya.

“Sudahlah Shafwan, mari kita lupakan apa yang telah berlalu,” sahut Al Gazaly di balik kemudi mobil. Saya hanya mengangguk lalu menenggak minuman beralkohol itu.

***

Pesta pernikahan telah berakhir, arloji melingkar di tangan telah menunjukkan pukul 03.50. Di sampingku, tubuh yang binal sedang terbaring, malam pertama kami sungguh penuh gairah.

Kini kuberanjak dari tempat tidur dan menyibak tirai jendela kamarku, kutengadah menatap rembulan malam yang bersinar terang. Di tanganku kini tergenggam gawai. Kuperhatikan gawai itu dengan seksama, pesan masuk begitu beruntun. Seseorang di ujung sana sedang menanyakan sebuah kabar.

“Dari tadi saya hubungi telponnya Mas nggak aktif?!”

“Mas Alan sibuk yah?”

“Mas…. Mas Alan kapan pulangnya?! Anakmu ini loh rindu sama Ayahnya….”

 


Sumber gambar: Redantblack.com

 

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Lulusan S1 Pendidikan Sejarah UNM dan S2 Program Pascasarjana UNM pada Prodi IPS Konsentrasi Pendidikan Sejarah. Pernah mengajar di SMAN 1 GOWA dan kini sebagai seorang pengajar di SMAN 3 MAKASSAR

Latest posts by Ilyas Ibrahim Husain (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *