Les Bleus: Ayam Jantan itu, Tetap Indah Bulunya

 

“Harmoni adalah jiwa dari kesebelasan Perancis”  (Didier Deschamps}

Sekali waktu, seorang kisanak menyata di mukim saya. Hari masih pagi. Saat saya memberi makan pada beberapa ekor ayam peliharaan. Seekor jantan dan betinanya. Pun beberapa ekor anaknya. Bertanyalah kisanak, “Apakah saya penyuka ayam?”  “Pastilah”, jawab saya. Saya memang memelihara ayam kampung, karena dua hal. Bulunya dan dagingnya. Saya merasa memandang keindahan wajah Tuhan pada mozaik warna-warni bulu ayam.  Sementara, dagingnya, alamak, nikmat sekali. Jadi, bagi saya, ayam kampung, amat elok dipandang, sangat nikmat disantap.

Perkara suka pada ayam kampung, terutama ayam jantan, sependek ingatan saya, sudah muncul sejak kanak-kanak. Pasalnya, di rumah saya, warga mukim memelihara beberapa ekor ayam kampung. Tapi kelihatannya, bukan itu saja. Belakangan, tatkala mulai menjadi anak sekolahan, oleh guru diperkenalkanlah nama seorang pahlawan nasional, Sultan Hasanuddin, Raja Gowa, yang bergelar Ayam Jantan dari Timur. Dan,namanya kemudian diabadikan pada nama universitas terdepan di kawasan timur Indonesia, Universitas Hasanuddin (Unhas)

Ketika mulai membaca karya sastra, bersualah saya dengan buku La Galaigo. Kisah yang diceritakan dalam buku itu, tokoh Sawerigading, merupakan sosok yang suka menyabung ayam. Tentulah ayam jantan sebagai ayam aduan. Sebagai orang yang lahir dalam budaya Bugis-Makassar, soal mengadu ayam pernah saya lakukan di masa silam. Kini, kebiasaan itu tidak lagi. Dulu, memelihara ayam Bangkok untuk disabung, sekarang beternak ayam mangkok buat lambung.

***

Perlagaan Piala Dunia, 14 Juni-15 Juli  2018 di Rusia, usai sudah.  Timnas Perancis  menjadi juara. Sejak lama, saya sudah mendukung Perancis. Apatah lagi, ketika memenangkan Piala Dunia 1998 di Perancis. Waima Perancis tidak juara, bahkan tersingkir lebih awal di babak penyisihan, seperti yang pernah dialaminya, saya tetap mendukungnya. Cukup fanatik. Terkadang, kalau Perancis ikut Piala Dunia dan Piala Eropa, lalu Perancis tersingkir, saya pun langsung menganggap perhelatan bola itu sudah berakhir.

Latar apa yang serius, sehingga kefanatikan itu hadir? Adakah karena julukan Timnas Perancis salah satunya adalah Ayam Jantan? Selain gelaran lain, Les Bleus, Si Biru? Soal kesamaan pada lema Ayam Jantan, mungkin jawabannya: Ya. Saya penyuka ayam jantan karena bulu dan dagingnya, sementara Perancis bergelar Ayam Jantan.  Akar sejarah julukan ayam jantan bagi Perancis, punya latar jauh di masa lalu.

Saya nukilkan saja penjelasannya yang bersumber dari berbagai situs di media daring. Bahwasanya, Secara historis, ayam jantan adalah sebutan bangsa Romawi, terhadap bangsa Gaulois (salah satu kaum nenek moyang bangsa Perancis), yang mendiami daerah Gaulle, pada masa penjajahan Romawi di wilayah tersebut. Mereka terbiasa memanggil mereka dengan sebutan Les coqs (bentuk jamak untuk ayam jantan). Alasannya, karena Gaulle dalam bahasa latin (bahasa bangsa Romawi) adalah Galus. Nah, kata Galus jika ditambahkan satu konsonan « l » yaitu menjadi Gallus, dalam bahasa latin artinya ayam jantan.

***

Jadi, salah satu pasal utamanya, saya jatuh hati pada Timnas Perancis, karena julukan Ayam Jantan ini. Seriuskah? Bukankah saya sudah nyatakan, bahwa saya amat takjub pada keindahan bulu ayam? Bagi saya, warna-warni bulu ayam jantan, meruapakan representasi keindahan keragaman.Beragamnya warna pada bulu ayam, menyemburkan harmoni keindahan warna. Jika warna bulu ayam itu seragam, semisal putih saja pada ayam potong, atau warna coklat pada ayam petelur, betapa tidak indahnya. Gunanya ayam itu  cuma satu; dimakan.

Analogi keindahan bulu ayam ini, terpatri pada kesebelasan Timnas Perancis. Dari sekian timnas  Piala Dunia yang berlaga, Perancislah yang paling beragam latar pemainnya. Dari segi warna kulit, ras, agama, asal klub, dan usia, sungguh beragam.  Dari 23 pemain yang dipanggil, 15 diantaranya adalah warga keturunan (Guniea, Kamerun, Aljazair, Maroko, Senegal, Kongo, Mali, Mauritania, Togo, Zaire, dan Nigeria). Ada 7 orang pemain muslim. 17 klub, dan rentang usia pemain antara 19-33. Hebatnya lagi, semua pemain adalah pemain bintang yang lagi moncer bersama klubnya. Karenanya, CIES Football Observatory, mendapuk Timnas Perancis sebagai tim yang paling mahal nilai pemainnya. 1.410 Miliar Euro.  Ini adalah harmoni. Persis harmonisnya keindahan bulu ayam jantan.

Harmoni Timnas Perancis tercermin pula pada warna bendera kebangsaan. Sering disebut Tri Color. Biru, Merah, dan Putih. Sebutan warna bendera ini, Tri Color, kemudian diadaptasi dengan pemahaman baru, khususnya dalam tim sepak bola, menjadi : Black (Hitam), Blanc (Putih), dan Beur (Arab). Sebab, dalam timnas tersebut, unsur warna kulit berdasarkan keturunan, memperkuat Timnas Perancis. Harmoni timnas ini bukan berarti sepi dari kritikan.

Tersebutlah seorang politisi Perancis dari sayap Ultra Nasionalis, Le Pen, sangat tidak respek dengan tim ini. Bahkan, keragaman ini, dijadikan sebagai isu politik, akan kelemahan kebangsaan Perancis. Padahal, realitasnya, justru bergabungnya warga keturunan dalam  Timnas Perancis, kesebelasan ini menjadi lebih kuat, hingga menjadi juara dua kali Piala Dunia dan dua kalii Piala Eropa. Kini, mestinya skuad Perancis  dipahami bukan lagi sebagai tri color, melainkan multi color.

***

Beruntunglah kesebelan Perancis punya pelatih sekaliber Didier Deschamps. Ia berhasil meramu seluruh potensi disharmoni berdasar ras, agama,klub, dan usia, menjadi satu energi kolektif,mewujudlah harmoni. Inilah pula yang ditabalkan oleh Shindunata, seorang penulis, dalam tulisannya di harian Kompas, bahwa disharmoni adalah godaan skuad Perancis. Mereka kaya dengan pemain bintang.

Lebih tegas Shindunata bilang, oleh karena disharmoni mereka bisa kececeran, Deschamps menggunakan kriteria KO bagi pemain yang tak bisa menjaga harmoni. Ia membangun skuad Perancis  dengan tekad energie coolective et qualite individuelle, energi kolektif dan kualitas individual.  Dan, benar saja adanya, energi kolektif, yang ditopang oleh kualitas individual pemain, dalam sebuah harmoni, mengantarkan Perancis pada juara dunia yang kedua kalinya. Pelajaran terpenting, mengolah keragaman sebagai kekayaan, akan menghasilkan keindahan dan kejayaan. Sebaliknya, bila keragaman dipandang sebagai beban, maka kejelekan dan keterpurukan menanti.

Sebagai penyuka ayam jantan, baik untuk dipandangi elok bulunya dan dinikmati dagingnya, maupun sebentuk julukan kesebelasan Perancis, yang juara sepak bola piala dunia, di kekinian dan kedisinian, saya tetap jatuh hati pada ayam jantan. Saya amat terpesona pada para persona skuad Perancis, manakala mencetak bola, lalu seluruh pemain, dengan latar belakang yang berbeda, serupa keragaman, saling tumpuk menumpuk, berpelukan dalam keriangan. Persis indahnya warna-warni bulu ayam. Ah, Ayam Jantan itu tetap indah bulunya.

 

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *