Mahasiswa, Demokrasi dan Perspektif Terhadapnya

Sungguh kehormatan bagi saya, sebagai penulis awam dan pemula tentu menuai bahagia dan rasa puas jika tulisan saya dibaca oleh yang lain. Apalagi jika ada yang dengan bersungguh-sungguh menanggapi dan memberikan kritik. Hemat saya ini langkah maju bagi aktivitas menulis khususnya bagi saya. Menurut Karl Popper, pengetahuan yang baik adalah ia yang punya tingkat presisi yang tajam. Bukan tanpa kritik melainkan ia yang terbuka untuk dikritik. Olehnya itu saya menganggap ini sebagai proses dialektika yang perlu untuk direspon baik.

Sebelum saya menanggapi artikel Kakanda Muhammad Ferdhiyadi (MF), Menakar Nalar Demokrasi Rakyat dan Mahasiswa, sebagai tanggapan terhadap tulisan saya, perkenaan menghaturkan rasa terimakasih yang penuh hormat pada saudaraku, .

Bismillahi Rahmani Rahim.

Tanggapan pertama dalam tulisan saya berkenaan dengan pernyataan “rakyat masih gagap dan mentalitasnya rentan dengan berbagai penyimpangan politik”. Pernyataan di atas dianggap akan menggeneralisasi kondisi masyarakat seperti itu adanya. Yah tentu secara konseptual relasi politik yang ideal ketika politisi berhasil mengakomodasi problem masyarakat untuk diberikan jalan keluarnya. Sedangkan kondisi masyarakat kebanyakan justru membangun komunikasi dengan politisi dengan kepentingan jangka pendek yang pragmatik.

Saya tidak perlu tajam menanggapi ini karena dalam beberapa bagian justru Kakanda MF mengiyakan kondisi tersebut sebagai realitas di tengah masyarakat. Pertama dalam tulisannya, justru beliau yang lebih berani menyebut masyarakat sebagai objek pasif bahkan pelengkap dalam sebuah demokrasi. Justru beliau sendiri yang menegasi maksud kritiknya terhadap tulisan saya. Bukan hanya itu. Dia juga membenarkan bahwa masih ada masyarakat yang memanfaatkan nasibnya pada momentum Pemilu. Teks menggantukan saya ganti memanfaatkan karena terminologi itu justru lebih parah dari yang saya gambarkan.

Pada paragraf ketiga saya belum menemukan kritik yang tajam yang mengarah pada pernyataan saya. Malahan beliau memberikan penguatan pada kondisi masyarakat yang demikian. Saya juga menemukan pernyataan yang cukup pesimis dari Kakanda MF, bahwa Pemilu bukanlah sesuatu yang sakral dan bisa mengubah sendi-sendi kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Pernyataan beliau justru memperlemah kebermaknaan Pemilu dalam negara yang melaksanakan prsoses demokrasi. Hemat saya justru pernyataan seperti ini perlu diperjelas apalagi kita hidup di negara demokrasi dan Pemilu tak lama lagi.

Pada paragraf ke empat saya tidak menanggapi karena memang saya sulit menemukan irisan yang kuat atas tanggapan pernyataan. Bagian itu tak lebih dari penguatan beliau meskipun saya anggap tidak terlalu berkorelasi, yang kontradiktif dengan pernyataan saya yang dikritik. Saya tidak ingin menyatakan keliru namun itu bukan prioritas saya dalam kesempatan ini. Nah, pada bagian selanjutnya, tepatnya paragraf kelima saat beliau menjelaskan tentang perilaku politik masyarakat Tallo, justru itu adalah satu di antara banyaknya kondisi yang ada di tengah masyarakat yang saya anggap “gagap”. Mengapa? Karena masyarakat menganggap Pemilu adalah salah satu cara untuk memperoleh uang. Lucunya lagi bahwa itu dinilai hal yang lumrah oleh Kakanda MF dan seakan tidak pragmatis. Asumsinya bahwa itu cara bertahan hidup dan strategi. Sepertinya cara pandang semacam ini yang perlu didiskusikan lebih panjang.

Sekali lagi saya sepertinya tidak mendapatkan kritik tajam terhadap pernyataan yang ditanggapi beliau. Mengapa? Karena Bukannya Kakanda MF memberikan fenomena yang menguatkan argumentasinya dalam mengeritik tulisan saya malahan beliau balik membuktikan fakta yang ia minta sendiri. Untuk itu tentu saya terimakasih karena tidak bersusah-payah mencari-cari faktanya.

Oh, iya, maaf jika saya langkahi paragraf enam karena hemat awam, saya tidak terlalu pas dan tak terlalu berhubungan. Sedangkan pada paragraf ketujuh saya hanya menanggapi perihal kesadaran masyarakat. Hemat saya itulah pentingnya masyarakat sadar agar proses perjumpaannya dengan politisi tidak terdustai berkali-kali dan ini saya juga sempat uraikan pada tulisan yang ditanggapi. Hanya saja kesadaran itu diperlukan terintrupsi dari berbagai jaringan termasuk di dalamnya mahasiswa.

Nah, pada paragraf kedelapan saya menemukan satu tanggapan perihal tulisan saya “mahasiswa harus hadir menambal kegagapan politik masyarakat awam”. Yah tentu. Bagi saya apapun bentuk kebocoran harus ditambal. Pernyataan ini yah miriplah dengan teriakan salah satu capres, bocor…bocor..bocor… hehe. Pernyataan menambal berarti ada bagian tertentu di mana masyarakat melakukan penyimpangan politik misalnya saja money politic dan sahabat-sahabatnya. Ini artinya saya tidak menjustifikasi secara umum bahwa masyarakat semuanya demikian. Makanya sedari awal kata masyarakat saya lekatkan awam untuk menghidari ‘over generalisasi’.

Adapula tanggapan mengenai mahasiswa yang harus hadir di antara masyarakat dan politisi. Yah tentu yang penulis maksud di situ terminologi ke-MAHA-an dari mahasiswa. Penulis menyebutnya sebagai segmentasi rasional. Mana mungkin penulis menempatkan konsep itu bukan pada makna idealnya. Jika bukan konsep idealnya maka akan merusak struktur dan pesan tulisan.

Kalaupun ada problem yang melanda mahasiswa, saya kira itu menjadi catatan bagi mahasiswanya agar bisa kembali pada jalan yang lurus. Hehe…kok gitu sih. Maksudnya kembali pada identitas yang MAHA dan RAKUS (rasional, analitis, kritis, universal, sistematis). Adapun satu metodologi yang disampaikan oleh Kakanda MF perihal mahasiwa penting untuk hadir tengah problem masyarakat tentu saya bersepakat dan hal tersebut sudah sering saya sampaikan beberapa tempat. Olehnya itu yang lebih penting lagi adalah mengakselerasi penyelesaian problem mahasiswa agar bisa secepatnya terlibat berkonstribusi di tengah masyarakat termasuk dalam perbaikan fenomena politik. Memang mahasiswa bukan satu-satunya segmentasi rasional namun yang rasional itu paling tidak pernah jadi mahasiswa. Toh pembeda mahasiswa dengan masyarakat awam bukan hak suaranya di TPS melainkan upaya untuk cerdas dan mencerdaskan termasuk dalam proses politik.

Demikian tanggapan balik saya atas respon positif dari pembaca kakanda MF. Semoga tetap berkenaan memberikan kritik pada setiap tulisan awam saya. Salam hangat.

 

Sumber gambar: https://blogs.iadb.org/ideas-matter/en/a-unique-database-charts-latin-americas-deepening-democracy/

The following two tabs change content below.

Sopian Tamrin

Pengajar Sosiologi di FIS UNM, aktif di KNPI Sulssl, MASIKA Orda Makassar dan Pegiat Literasi Edu Corner.

Latest posts by Sopian Tamrin (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *