Malam yang Panjang di Kedai Kopi

Di dalam kedai kopi ini saya sedang asyik menunggu seseorang. Tidak hanya menunggu, sebenarnya saya sedang mencoba membunuh sebuah kenangan yang pernah bersemi di dalam hati. Saya harus membunuh kenangan itu, agar kehidupan yang akan kujalani berjalan seperti biasanya, berjalan tanpa dihantui kenangan masa lalu.

***

Arloji yang melingkar di tanganku telah menunjukkan pukul 20.00. Itu berarti sudah setengah jam lebih saya menunggu kedatangan seorang lelaki, Riki namanya. Lelaki itu adalah seseorang yang pernah mengisi hatiku. Dahulu, di kala masih remaja, saya dan Riki menjalin kasih, tapi bukan jalinan kasih seperti biasanya, yang tiap malam minggu bisa mengadakan janji tuk merenda kasih di taman atau berkencan di bioskop. Jalinan kasih yang kulalui bersama lelaki itu ialah long distance realationsip atau hubungan jarak jauh. Yah jarak jauh! Saya berada di Sungguminasa sedang kekasihku itu berada di Bandung, the city of Paris van Java.

Kalau diingat-ingat, perkenalanku dengan Riki bisa dikatakan ‘iseng-iseng berhadiah’. Kala itu saya sedang asyik melihat-lihat story Instagram (IG) followers-ku. Karena suntuk, saya coba mengetik sebuah nama di bilah pencari. Nama yang kuketik ialah ‘Riki’. Yap, lelaki yang kelak menjadi kekasihku itu.

“Oke juga nih,” sahutku kemudian mencoba melihat dengan seksama story-story Instagram serta time-line IG-nya, kulihat Riki nampaknya gandrung akan sastra dan alam. Ia sangat senang membuat caption tentang senja, hujan, hutan, lembah, dan kesemuanya dimuarakan pada satu kata “cinta”. Salah satu caption IG-nya yang menurutku begitu menyentuh ialah sebuah pemandangan lembah yang diselimuti guyuran hujan. Di situ, ia menuliskan caption seperti ini : aku ingin menjadi hujan, agar jatuh di hatimu dan kau tak bisa mengelak.

Dari situlah saya mulai mem-follow IG Riki dan memerhatikan setiap captionnya. Oh iya, bicara permasalahan wajah?! Riki boleh dikata punya rupa yang lumayan, mengingatkanku pada artis Korea, kalau tak salah namanya Jimin, salah seorang pentolan Bangtangboys.

Seperti kata pepatah Jawa waitingtresno jalane soko kulino yang artinya cinta datang karena terbiasa. Perasaan itu mulai bertambat di hatiku kala saya terbiasa melihat-lihat hasil jepretan dan caption yang wau di IG-nya. Olehnya itulah kuberanikan diri untuk mengirimkan pesan via chat-IG.

“Hai, perkenalkan, nama saya Faradiba. Saya suka dengan foto dan caption di IG-mu.”

Begitulah chat pembukaku padanya, seperti gayung bersambut, Riki membalas pesanku

“Oh iya. Salam kenal, namaku Riki dan terimakasih atas apresiasinya.”

Hanya mendapat balasan dari Riki entah kenapa saya menjadi senang. Mungkin di luar nalar saya bisa jatuh hati dengannya—hanya lantaran caption dan jepretan—tapi begitulah kenyataannya. Lalu saya dan Riki mulai intens saling bertukar kabar, mulai dari sekadar “say hello” , “udah makan belum?”, hingga menjerumus ke hal-hal yang cukup pribadi. Tak puas dengan berkirim pesan, kami pun mulai saling teleponan via Whatsapp (WA), lalu mengobrol lewat video call di WA. Bahkan, pernah di beranda rumahku kutemukan tergeletak kartu pos bergambarkan pemandangan Kota Bandung di subuh hari, tentunya sebuah untaian kata indah tersematkan di balik kartu pos itu. Hingga pada satu hari, melalui pesan WA, dia menanyakan alamat rumahku.

“Faradiba, kalau berkenan, boleh nggak aku minta alamat rumahmu?!” Tanya Riki melalui pesan WA.

“Untuk apa?!” tanyaku seolah jual mahal, padahal senangnya bukan kepalang.

“Ada deh….!” Jawabnya singkat. Dan saya pun mengirimkan alamat rumahku.

Yah tanpa dinaya, Riki datang mengunjungiku, langsung dari Bandung. Di Bandara Internasional Hasanuddin ia mengabari kedatangannya, seolah tak percaya saya hanya menimpali dengan kata, “kalau Riki benar di Makassar, coba nampakkan batang hidungmu di depan rumahku? Bukankah pernah kukirimkan alamat kepadamu?!.

Yah seperti sinema di teve ia sungguh datang ke rumahku. Saya masih ingat kala itu rembulan telah mendekap malam, mungkin sekitar pukul 20.00 pintu rumahku diketuk kemudian disusul ucapan salam beberapa menit setelahnya.

Waalaikumsalam, ya tunggu,” sahutku singkat. Kemudian pintu kubuka dan nampaklah sesosok pria dengan tinggi 177 sentimeter mengenakan blazer biru gelap dan celana cino hitam, wajahnya putih cerah, lelaki itu mengulas senyuman sembari berkata “Faradiba yah?! Saya Riki….”

***

Malam semakin larut, kedai kopi yang kukunjungi semakin ramai. Beberapa pemuda-pemudi sedang asyik bercengkramah satu sama lain. Yah sekira duabelas pasang lah. Wah ramai juga yah. Mungkin karena malam ini malam minggu.

Oh iya, saya lupa memberitahukan kepadamu. Saat Riki datang kala itu sontak saja, saya menutup mulutku dengan kedua tangan, seolah tak percaya bahwa lelaki di depanku adalah Riki, lelaki yang diam-diam kukagumi dan you know-lah what I mean. Dan kamu mungkin tak percaya, bahwa ia lebih tampan tinimbang di foto-foto IG-nya. Singkat kata hubungan kami saat itu semakin akrab dan hangat. Ia juga menyatakan perasaannya padaku. Tentu saja perasaan itu kuterima dengan hati berbunga-bunga. Kurang lebih ia seminggu berada di Makassar dan selama itu pula tercipta kenangan yang begitu manis. Setelah itu? Yah seperti yang telah kujelaskan kepadamu, long distance realionsip. Hubungan itu berlangsung hingga setahun lebih.

“Sudah lama menunggu?” sahut seorang lelaki yang membuyarkan lamunanku. Sontak saya menoleh ke sumber suara. Rupanya ialah Riki, lelaki yang kuceritakan kepadamu.

“Oh Riki?!” sahutku kemudian berdiri menjabat tangannya.

Lelaki itu kemudian mengambil posisi duduk di hadapnku. Wajahnya masih seperti yang dulu, tetap memesona. Kulihat Riki hanya mengulas senyuman mendengarkan penuturanku, sesekali sepasang bola matanya menuding pada sebuah undangan pernikahan, yah undangan perniakahan yang kita alamatkan kepadanya……

Sunggguminasa, di Kantin Sekolah 13 Oktober 2018

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/drawrepulser/art/Afternoon-Cafe-748905730

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *