Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-2)

Ma’rifatunnafs-Ma’rifatullah: Tujuan Penciptaan Manusia dan Misi Hidup

Bayangkan seseorang yang memiliki kemuliaan hati, pemurah, penolong, penyabar, pemaaf, pemberani dan banyak sifat mulia lainnya, akan tetapi dia tinggal seorang diri dalam sebuah gua besar. Tak pernah ada yang mengetahui kemuliaan orang tersebut, tak pernah ‘kekayaan’ yang dimilikinya tersebut terungkap kecuali hingga datang seseorang yang lain, dan interaksi di antara keduanya akan dapat membantu mengeluarkan segenap sifat-sifat mulia dari lelaki penghuni gua tersebut. Dan apabila semakin banyak orang yang datang kepada lelaki tersebut maka akan semakin banyak pula ‘kekayaan’-nya yang terungkapkan, yang diuraikan, yang dimanifestasikan karena kehadiran orang-orang tersebut. Begitu pula Allah, ketika pada awalnya belum ada sesuatu apa pun, hanya Dia Ta’ala sendiri yang menyimpan segenap Kekayaan-Nya, maka sebagaimana tertuang dalam sebuah hadits qudsi: “Aku adalah khazanah tersembunyi (kanzun makhfiy), kemudian Aku cinta untuk dikenal, maka Aku ciptakan makhluk dan Aku membuat diri-Ku dikenal oleh mereka, sehingga mereka datang untuk mengenal-Ku.”

Dalam Al-Quran ditegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia itu untuk mengenal dan menjadi saksi Allah yang haqq (benar), dan juga khalifah (wakil) Allah serta pemakmur bumi. Seseorang yang telah ma‘rifatullah berarti telah menjadi saksi Allah yang haqq karena telah menjadi tempat pengurai asma (nama)-Nya atau citra Ilahi. Tak ubahnya seperti lensa segitiga yang mendeviasikan cahaya monokromatik (putih) menjadi cahaya polikromatik. Dalam hadits qudsi pun dinyatakan bahwa Allah menciptakan Adam atas citra Ar-Rahman. Bahwa manusia memiliki mata itu melambangkan Allah Maha Melihat; manusia memiliki telinga itu melambangkan bahwa Allah Maha Mendengar; manusia memiliki lisan itu melambangkan Allah Maha Berkata-kata, dan demikian seterusnya. Namun, mesti diingat dengan baik bahwa Ar-Rahman—yang manusia diciptakan atas citra Ar-Rahman tersebut—adalah asma Allah yang merupakan aspek dzahir-nya Dia Ta’ala, dan sama sekali bukan aspek batin-Nya yang sama sekali tak tersentuh, bahkan oleh angan dan pikiran manusia. Hal tersebut tergambarkan dengan sangat luar biasa dalam dua hadits berikut:

Kami menengok bersama-sama dengan Nabi Saw dan beliau menengok ke bulan—yakni bulan empat belas. Maka beliau Saw bersabda “Sesungguhnya kamu semua akan melihat Rabb-mu sebagaimana kamu melihat bulan ini. Kamu tidak akan berdesak-desak melihat-Nya, jika kamu sanggup tidak pernah kalah mengerjakan shalat Shubuh sebelum matahari terbit, dan shalat ‘Ashar sebelum matahari terbenam. Maka hendaklah kamu laksanakan. Kemudian beliau Saw membaca ayat “…dan bertasbihlah sambil memuji Rabb-mu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam-(nya)” (QS Qaaf [50]: 39). (HR Bukhari)

Orang-orang berkata: “Ya Rasulullah, apakah kami dapat melihat Rabb kami di hari qiyamat?” Jawab Nabi Saw: “Apakah kamu membantah akan dapat melihat bulan purnama pada malam empat belas yang tidak berawan?” Jawab mereka: “Tidak, Ya Rasulullah.” Nabi Saw bertanya: “Apakah kamu membantah tentang dapatnya kamu melihat matahari di tengah hari yang tidak berawan?” Jawab mereka: “Tidak ya Rasulullah.” Maka sabda Nabi Saw: “Demikianlah, kalian akan dapat melihat-Nya [fa’innakum taraunahu kadzalik]. Pada hari kiamat itu akan dikumpulkan seluruh manusia. (HR Bukhari)

Bulan memiliki sisi terang yang senantiasa menghadap ke bumi. Selain berputar mengelilingi bumi, bulan juga memiliki sumbu putar pada dirinya sendiri namun perputaran tersebut terjadi sedemikian rupa sehingga yang menghadap ke bumi selalu hanyalah sisi bulan yang sama. Inilah yang mengakibatkan seakan-akan bulan senantiasa memiliki sisi gelap yang tak pernah menghadap ke bumi, dan diistilahkan sebagai synchronous rotation atau tidal locking dalam ilmu Astronomi.

image2

Itulah yang Rasulullah Saw maksudkan dengan “melihat Rabbmu sebagaimana kamu melihat bulan.” Sisi bulan yang terang dan senantiasa menghadap ke bumi itu melambangkan sisi Dzahir Dia Ta’ala, yaitu asma-Nya, af’al-Nya, shifaat-. Itulah jabatan dan peran-Nya di alam semesta ini yang dapat dikenali oleh makhluk-Nya yang Ia kehendaki. Sedangkan sisi bulan yang gelap, yang tak pernah menghadapkan wajahnya ke bumi itu melambangkan sisi bathin Dia Ta’ala. Itulah Dzaat-Nya. Mudahnya, itu adalah sesuatu yang tak mungkin dikenali ataupun dipikirkan oleh makhluk, sesuatu yang gelap tak tersentuh, sebagaimana dinyatakan dalam hadits “Janganlah mentafakuri Dzaat-Nya, tapi tafakurilah Asma-Nya dan nikmat-Nya.”

Perbedaan antara aspek dzahir dan bathin ini dapat pula diamati dalam penggunaan kata ganti orang pertama, kedua dan ketiga yang dinisbatkan kepada Allah di dalam ayat-ayat Al-Quran. Seumpamanya ada dua orang, dan hanya ada dua orang, sedang berbicara sambil berhadap-hadapan, maka dalam percakapannya biasanya digunakan kata ganti diri “Aku” dan “Engkau”. Kata ganti “Aku” dan “Engkau” yang dipergunakan dalam percakapan tersebut bisa merujuk kepada masing-masing dari kedua orang tersebut yang hadir dan tampak, dzahir dan teraba. Itulah yang menunjuk kepada sisi dzahir Allah, wajah bulan yang senantiasa menghadap ke bumi. Di sinilah Dia berperan sebagai Ilah, Malik atau Rabb dan lain sebagainya. Namun ketika muncul kata “Dia”, maka kata ganti tersebut tidaklah merujuk kepada salah satu dari kedua orang tersebut, namun merujuk kepada “Orang Ketiga” yang dibicarakan namun tidak tampak, tidak teraba. Itulah yang menunjuk kepada sisi bathin dari Dia Ta’ala, wajah bulan yang senantiasa membelakangi bumi. Itulah Dzaat Dia Ta’ala yang tidak mungkin manusia kenali dan lihat (‘Uluhiyyah).

Dalam kaitannya dengan proses penciptaan apa pun yang ada di alam semesta ini, kesemuanya menjiplak Asma Allah semampu yang bisa dijiplaknya. Tak ada sesuatu pun di alam semesta ini yang tidak menjiplak dan mencerminkan Asma Allah SWT, sebagaimana tidak ada satu pun karya manusia yang terlahirkan tanpa memiliki atau merujuk kepada sesuatu yang pernah ada di dunia ini. Namun dari semua yang tercipta di alam semesta ini, adalah manusia yang mampu untuk menjiplak kesemua Asma’ul Husna. Namun pada kenyataannya tidak semua manusia dapat menguraikan kembali dan mengejawantahkan Asma’ul Husna, yang diajari dengan Al-Qalaam.

Kaitan antara Asma-Asma Allah dengan alam semesta dapat diumpamakan seperti kaitan antara rumus fisika dan asosiasinya. Melihat rumus itu tak ubahnya melihat hakikat, ketika rumus-rumus lenyap maka yang tampil adalah alam semesta. Sebagaimana telah umum diketahui bahwa ayat-ayat Allah itu terbagi menjadi dua, yaitu ayat Kauniyyah dan ayat Qur’aniyyah, dan Asma-Asma Allah (rumus-rumus Ilahiyyah) merupakan wasilah untuk menuju dan membuka tabir tentang Wajah-Nya. Yang dimaksud dengan mengenal Asma-Nya di sini bukanlah sekadar mengenal tanda-tandanya, rumusnya, tetapi melihat apa yang ada di balik tanda-tanda itu, yaitu alam semesta. Namun kebanyakan manusia ternyata terjebak atau terhijab pada rumus-rumusnya saja. Pendek kata, Asma-Asma tersebut merupakan kemungkinan-kemungkinan dari sifat Ilahi yang terkandung atau tersimpan di dalam alam semesta, sedangkan alam semesta merupakan tajali Ilahiyyah atau rumus-rumus yang menggambarkan tentang kanzun makhfiy. Itulah titik di bawah huruf Ba, alam semesta, “ayat-ayat di segenap ufuk” yang seharusnya dapat manusia uraikan dan manifestasikan; namun pada kenyataannya sangat sedikit manusia yang bisa mencapai hal tersebut.

Maka kembali lagi kepada permasalahan ma’rifat bahwasanya “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu” merupakan hukumnya. Ma’rifatunnafs merupakan aspek tertinggi dan kesempurnaan dari Al-Insan, sedangkan Rubbubiyyah merupakan martabat terendah dari aspek dzahir Dia Ta’ala yang dapat dikenal oleh Al-Insan. Dengan ma’rifatunnafs-lah maka Al-Insan dapat menjadi saksi Allah yang benar (syuhada), mengerti dan menjalankan tujuan penciptaan dirinya; atau secara singkatnya adalah menemukan misi hidupnya.

Dalam QS Al-Baqarah [2]: 30 dinyatakan bahwa Allah hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Istilah ‘khalifah’ dimaknai sebagai ‘wakil’ atau ‘pengganti’ tapi tidak semata-mata pengganti, namun sebagai wakil Allah di muka bumi yang tentu saja harus bisa mewakili Allah. Jadi, secara simbolik, yang disebut sebagai khalifah itu adalah sesuatu yang mewakili; semakin ia mewakili maka semakin ia mirip dengan atribut Ilahiyyah, dan pada prinispnya semakin tinggi derajat khalifah itu. Khalifah seharusnya menjadi citra Ar-Rahman, dan sebaik-baik khalifah itu adalah yang merupakan bayangan Allah. Dan, sebagai khalifah Allah, manusia sebagai individu semuanya diberi-Nya amanah sebagaimana tertuang dalam QS Al-Ahzab [33]: 72 “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada segenap petala langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh Al-Insan. Sesungguhnya mereka itu amat zalim dan amat bodoh.” Setiap manusia itu pada dasarnya memikul amanah dan membawa amr masing-masing di muka bumi ini, namun dikarenakan kebodohannya mengenai dirinya sendiri (nafsnya) yang berarti juga kebodohan mengenai Rabbnya maka sangat sedikit sekali Al-Insaan yang berhasil memikul kembali amanah tersebut. Ihwal amanah tersebut dijelaskan lebih jauh dalam hadits berikut:

Pada suatu ketika Nabi saw sedang berbicara dengan orang banyak, tiba-tiba datang seorang Arab dusun menanyakan kepada beliau: “Bilakah datangnya sa’at?” Rasulullah tidak langsung menjawab, tetapi beliau meneruskan pembicaraannya dengan orang banyak. Karena sikap Rasulullah yang demikian itu, sementara orang mengatakan Rasulullah mendengar pertanyaan itu tetapi beliau tidak menyukainya. Dan setengah lagi mengatakan beliau tidak mendengarnya.

Setelah Rasulullah selesai berbicara beliau bertanya, “Di mana orang yang bertanya perkara sa’at tadi?” Orang itu menyahut, “Saya ya, Rasulullah!” Rasulullah bersabda “Apabila amanah telah disia-siakan orang, maka waspadalah terhadap datangnya sa’at.” Tanya orang itu, “Bagaimanakah cara disia-siakannya amanah?” Jawab Rasulullah, “Apabila suatu amr diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka waspadalah terhadap datangnya sa’at.”(HR Bukhari)

Terlihat bahwa perkara amanah dalam QS Al-Ahzab [33]: 72 dijelaskan dalam hadis memiliki keterkaitan dengan amr, ada pun perkara amr itu sendiri dalam Al-Qur‘an seringkali dikaitkan dengan ruh. Bahkan Al-Ghazali sendiri mengatakan bahwa “Ihwal QS Al-Isra’: 85 bahwa arti amri rabbi itu ialah termasuk rahasia ilmu mukasyafah dan tidaklah mudah melahirkannya. Karena tidak dilahirkan oleh Rasulullah Saw.”1—ini akan dijelaskan berikutnya. Perkara amr dan Ruh Al-Quds inilah yang nanti penting untuk memahami ma‘rifatunnafs dan akhirnya ma‘rifatullah. Ihwal misi hidup yang diamanahkan pada diri setiap individu tersebut dijelaskan juga dalam ayat Al-Quran dan hadits berikut:

“Sesungguhnya usaha kamu berbeda-beda. Ada pun orang yang berderma dan bertaqwa, dan membenarkan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang mudah. Ada pun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan kebaikan, maka Kami menyiapkan baginya jalan yang sukar, dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa.” (QS Al-Lail [92]: 4-11)

Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, adakah telah dikenal para penduduk surga dan para penduduk neraka?” Jawab Rasulullah Saw, “Ya!” Kemudian kembali ditanyakan, “Kalau begitu apalah gunanya lagi amal-amal orang yang beramal?” Beliau menjawab: “Masing-masing bekerja sesuai dengan untuk apa dia diciptakan atau menurut apa yang dimudahkan kepadanya.” (HR Bukhari)

Seseorang bertanya: “Ya Rasulullah, apa dasarnya kerja orang yang bekerja?”. Beliau Saw menjawab, “Setiap orang dimudahkan mengerjakan apa yang Dia telah ciptakan untuk itu.” (HR. Bukhari)

Al-Ghazali menyatakan “Ketahuilah, bahwa manusia tidak diciptakan secara main-main atau sembarangan. Ia diciptakan dengan sebaik-baiknya dan demi suatu tujuan agung.” Simak ilustrasi berikut. Misalkan ada sebuah benih yang ditanam di tanah subur, disirami, diberi pupuk, dipelihara hingga akhirnya tumbuh menjadi pohon. Setelah akarnya tertanam kuat, batangnya cukup besar, dan daunnya pun lebat, maka pohon tersebut kemudian berbuah ranum dan manis. Manusia pun dapat memetik buahnya dan memakannya, dan dinamailah pohon tersebut dengan nama buahnya. Apabila pohon tersebut berbuah mangga, tentunya tidak akan terpikir bahwa sebenarnya benih yang ditanam dulu adalah benih pohon nangka; demikian pula sebaliknya. Alam memperlihatkan serta mengajari ihwal kepatuhannya terhadap tujuan penciptaan yang telah Allah amrkan. Tidak pernah seekor anak ikan kemudian tumbuh menjadi burung, dan demikian pula sebaliknya. Namun, bagi manusia, hal tersebut sangat mungkin terjadi; tak ubahnya gelas yang tidak digunakan sebagai alat untuk minum melainkan menjadi asbak, suatu malfunction. Dalam kehidupan di dunia ini, manusia tak ubahnya seperti Jason Bourne (diperankan Matt Damon) dalam film Bourne Identity. Film tersebut berkisah tentang agen CIA yang menderita amnesia akut, dan berjuang untuk menemukan kembali ingatannya. Bourne tahu bahwa ia begitu cekatan bermain pisau, memiliki pengetahuan komplit soal senjata, jago berkelahi, tangkas kebut-kebutan, pandai bicara berbagai bahasa—yang bagi Marie (Franka Potente) dianggap sebagai skill-set yang “tidak wajar”—namun Bourne sadar ihwal satu hal penting yang tak ia ketahui, yaitu, siapa dirinya, identitas dirinya. Bourne pun berkata kepada Marie: “Now, Marie, how could I know all that and not know who I am?” Dan ketika akhirnya dia bertemu kembali dengan atasannya, dia pun bertanya “Who am I?” yang dijawab oleh atasannya “You’re U.S. Government property. You’re a malfunctioning-thirty-million-dollar-weapon.”

Gagasan ihwal misi hidup ini memang mudah diterima; bahwa setiap orang punya minat dan bakat spesifik, pijakan paling efektif dan efisien dalam rangka aktualisasi potensi dirinya seutuhnya. Gagasan yang bahkan terlalu sederhana dan biasa, mudah diterima dalam pikiran, namun mudah juga diabaikan dalam tindakan. Mudah diterima, karena gagasan ini indah—manusia terlahir dengan misi hidup tertentu dan dibekali bakat spesifik terkait misinya. Mudah juga diabaikan, karena diam-diam ternyata kita lebih percaya ilusi modernitas tentang kebebasan manusia, sehingga tak rela hidup terbelenggu determinasi innate disposition apa pun, termasuk minat dan bakat. “Aku bisa menjadi apa pun yang aku mau,” itulah konon esensi spirit kemanusiaan: perjuangan menolak pasrah pada kungkungan kadar diri. Salah satu gambaran (imagery) terindah gagasan tentang misi hidup—yakni tentang adanya satu (dan hanya satu) jalan hidup paling optimal—diperoleh dari salah satu prinsip alam semesta yang dikenal dalam bidang fisika teoretik sebagai prinsip aksi terkecil (the principle of least action).2 Dalam penjelasan Richard Feynman:

Ketika SMA, guru fisika saya—Mr. Bader—suatu hari seusai jam pelajaran memanggil saya, “Kamu kelihatan bosan; aku ingin mengajarimu sesuatu yang menarik.” Yang lantas dia ajarkan memang sangat menarik, dan sejak saat itu, selalu saya dapati sebagai hal yang senantiasa menarik […] Yang dia ajarkan adalah prinsip aksi terkecil. Mr. Bader bilang pada saya, “Misalkan kamu punya benda dalam pengaruh gravitasi yang bergerak bebas dari satu titik ke titik lain—kamu lempar, melambung sebentar, lantas jatuh bebas (Gambar 1). Benda itu bergerak dari titik awal (here) ke titik akhir (there) dalam waktu tertentu. Nah, sekarang kamu andaikan benda itu bergerak dalam lintasan gerak yang berbeda, dari titik awal (here) tiba di titik akhir (there) dalam waktu yang sama (Gambar 2).” Kemudian Mr. Bader mengatakan: “Jika kita hitung energi kinetik dikurang energi potensial pada setiap momen dalam lintasan gerak itu kemudian diambil integralnya terhadap waktu di sepanjang lintasan itu, maka akan kita dapati hasil yang selalu lebih besar ketimbang lintasan gerak yang sebenarnya ditempuh. Dengan kata lain, hukum Newton bisa dinyatakan tidak dalam bentuk F = ma, tapi dalam bentuk: integral selisih antara energi kinetik dengan energi potensial terkecil untuk lintasan gerak benda dari satu titik ke titik lain.”3

image3

Kenapa apel jatuh lurus menimpa kepala Isaac Newton—dan bukannya bergerak zig-zag kiri dan kanan lantas menghantam bagian samping wajahnya—dapat dinyatakan bukan saja karena ada gaya gravitasi yang menariknya tegak lurus ke bawah, namun juga karena apel itu memilih untuk menempuh lintasan dengan aksi (integral selisih energi kinetik dengan energi potensial) terkecil—kemungkinan lintasan lainnya selalu memiliki aksi lebih besar (fakta yang rasanya sudah jelas terang-benderang bagi sebagian besar kita, namun untungnya ada sebagian kecil di antara kita—yakni, para ilmuwan—yang dianugerahi kepekaan untuk memandang takjub pada fenomena ajaib ini). Ihwal misi hidup ini akan lebih jelas dipahami apabila dikaitkan juga dengan konsepsi struktur insan.

Bersambung…..

Catatan Kaki:

  1. Al-Ghazali, Ihya Al-Ghazali, Jilid 5, diterjemahkan oleh Prof. Tk. H. Ismai Yakub, SH, MA., C.V. Faizan: Jakarta Selatan, cetakan ketiga, 1983, hlm. 261.
  2. Untuk alasan generalisasi, prinsip ini lebih tepat disebut prinsip aksi stasioner, atau dalam bidang matematika juga biasa disebut prinsip Hamilton (karena ternyata solusi stasioner tidak selalu menghasilkan nilai minimum). Istilah prinsip aksi terkecil muncul pada abad ke-18 di kalangan ilmuwan dan matematikawan yang meyakini adanya semacam prinsip “ekonomis” yang mengatur alam semesta. Istilah ini populer kembali pada abad ke-20, khususnya melalui kuliah-kuliah fisika dasar Richard Feynman yang fenomenal.
  3. Richard P. Feynman, The Feynman Lectures on Physics: Volume 2: Mainly Electromagnetics and Matter, Basic Books: London, 1964, bab 19, hlm. 19-1 s.d. 19-2.
The following two tabs change content below.

Alfathri Adlin

Lahir di Padang Panjang, 4 Oktober 1973. Sekarang bekerja sebagai Manajer Redaksi Pustaka Matahari. Pernah menjadi Editor Pelaksana Penerbit Jalasutra. Telah menerbitkan beberapa buku di antaranya: Antologi FSK ITB “Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multiperspektif”, penerbit Jalasutra 2006. Antologi FSK “Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas”, penerbit Jalasutra, 2007. Antologi FSK “Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer”, penerbit Jalasutra, 2007.

2 thoughts on “Mata Air Agama-agama: Pluralisme Sufi dan Mencari Titik Temu dalam Perbedaan (Bag-2)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *