Memaknai Hari Pahlawan Melalui Memperkaya Wawasan Sejarah

 

Di saat memperingati hari pahlawan, kita selalu disuguhi dengan kisa-kisah heroik perjuangan para pahlawan kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama masa kolonial sejak berdirinya VOC, pemerintahan Hindia-Belanda hingga pendudukan Jepang, bangsa kita memang sudah mengalami begitu banyak perjuangan fisik yang memakan ribuan korban jiwa. Dimulai sejak perjuangan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berujuang membebaskan diri dari praktik culas VOC dalam memonopoli perdagangan, ketimpangan sosial di masa Hindia-Belanda, kekejaman Romusha di masa pendudukan Jepang, serta perjuangan berdarah-darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di perjuangan yang terakhir inilah, di perjuangan mempertahankan kemerdekaan, bisa dicatat sebagai perjuangan revolusi fisik yang paling menguras banyak tenaga, dana hingga nyawa. Banyak di antara kita yang tidak terlalu intens dalam membaca literatur-literatur sejarah malah kadang berfikir bahwa istilah-stilah atau peristiwa bersejarah seperti Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa hingga peristiwa-peristiwa sejarah di kampung kelahiran kita seperti Korban 40.000 Jiwa dan nama-nama besar di dalamnya seperti Wolter Monginsidi dan Emy Saelan adalah bagian dari perjuangan merebut kemerdekaan sebelum 17 Agustus 1945. Nyatanya, perjuangan terberat dan paling mematikan justru terjadi di masa-masa setelah proklamasi kemerdekaan kita. Jangan membayangkan sebuah kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan setelah kita memproklamasikan kemerdekaan kita dari penjajahan.

Dimulai dari masa VOC. VOC yang didirikan pada 20 Maret 1602 pada dasarnya hanyalah organisasi dagang Belanda, namun melalui hak istimewa yang dimiliki VOC yang disebut Hak Octroi, di mana VOC memiliki hak untuk memiliki pasukan, membuat mata uang sendiri dan menyatakan perang dan perdamaian dengan kerajaan-kerajaan membuat VOC sudah dapat dikatakan bahwa mereka telah menjalankan praktik penjajahan. Suksesnya VOC dalam menguasai banyak kerajaan di Nusantara dan memenangkan banyak bentrok besar dengan kerajaan di Nusantara seperti Kerajaan Gowa dan kerajaan besar lainnya akhirnya dijadikan penanda dimulainya masa kolonial atau penjajahan Belanda di Nusantara. Dihitung sejak masa VOC di tahun 1602 inilah sehingga banyak di antara kita yang familiar dengan istilah “kita dijajah oleh Belanda selama 350 tahun atau 3 setengah abad”

Perilaku korup pejabat VOC dan banyaknya biaya yang harus mereka keluarkan untuk membiayai perang di seluruh wilayah nusantara serta utang yang menumpuk hingga 136,7 juta gulden menjadi penyebab runtuhnya kejayaan VOC pada tanggal 31 Desember 1799. Setelah VOC dinyatakan bubar, pihak kerajaan Belanda langsung merespon dengan mengambil alih semua aset VOC berupa kantor dagang, gudang, benteng dan wilayah kekuasaan yang membentang luas dan kemudian mendirikan pemerintahan kolonial di Nusantara. Belanda mengirimkan para Gubernur jenderal kepercayaannya ke Indonesia, yang saat itu mereka sebut sebagai Hindia-belanda. Di masa Hindia-Belanda inilah muncul nama-nama dan istilah yang agak akrab dengan kita di bangku sekolah seperti sistem tanam paksa atau cultuur stelsel yang diprakarsai gubernur jenderal Van den Bosch atau pembangunan jalan raya dari ujung barat hingga ujung timur pulau jawa (Anyer di Jawa Barat hingga Panarukan di Jawa Timur) sepanjang 1000 kilometer yang digagas oleh Herman Willem Deandels yang hingga kini jalan raya atau jalur tersebut sagat akrab dengan orang-orang Jawa bahkan bagi kita orang Sulawesi. Jalan raya itulah yang kini dinamakan jalur pantura. Selain sebagai jalur mudik andalan, jalur pantura ini telah ikut bertransformasi menjadi aliran dangdut tersendiri, dangdut pantura dengan langgam dan pola musik yang cenderung nge-beat dan interaktif. Di masa pemerintahan Hindia-Belanda ini bukannya tanpa konflik. Bila kita mendegar perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh Pattimura, Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Pegeran Dipenogoro, Tuanku Imam Bonjol hingga si Pitung, maka inilah perlawanan yang muncul di masa pemerintahan kolonial Hindia-Belanda. Hampir sebagian besar konfik ini dipicu oleh konflik agraria, seperti murkanya Pageran Dipenogoro ketika makam dan tanah leluhurnya digusur secara sepihak dan akan dijadikan jalanan oleh pemerintah kolonial Hindia-Belanda.

Di masa penjajahan VOC hingga Hindia-Belanda ini, sebenarnya pada tahun 1811-1816 sempat terselip masa pemerintahan Inggris. Di bawah peemerintahan Sir Thomas Stanford Raffles, ada beberapa hal penting yang perlu kita ketahui. Sebut saja penamaan bunga bangkai yang dinamai Raflesia Arnoldi yang merupakan gabungan dua nama yakni Raffles dan Arnold. Atau penemuan dua candi besar yang kita kenal hingga sekarang yakni Candi Prambanan dan Candi Borobudur yang ditemukan di saat Raffles menggagas ekspedisi Britanica. Kekuasaan inggris di pulau jawa harus diakhiri dengan disepakatinya Rekapitulasi Tuntang yang menandai berakhirnya kekuasaan Inggris di Nusantara. Mereka membagi wilayah dengan kerajaan Belanda sehingga Inggris mundur ke wilayah yang sekarang dikenal dengan negara Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam.

Masa kekuasaan Belanda di Indonesia harus berakhir pada tahun 1942. Saat itu ratusan kapal selam dan pesawat kamikaze jepang yang membawa bom-bom besar menghantam kapal-kapal sekutu (Amerika, Inggris dan negara-negara lainnya) yang sedang bersandar di pangkalan militer terbesar mereka di Asia pasifik, yakni di Pearl Harbour, Hawai. Pihak sekutu tidak pernah menyangka Jepang akan melakukan hal ini karena sebelumnya telah dilaksanakan begitu banyak dialog dan pertemuan antara petinggi militer sekutu dan jepang yang menandakan perjanjian damai dan tidak saling menyerang. Serangan tiba-tiba Jepang ini meruntuhkan kekuatan sekutu di kawasan Asia pasifik, tak terkecuali wilayah Indonesia yang harus jatuh ke tangan Jepang. Di sinilah dimulai masa pendudukan Jepang.

Banyak yang mengeluhkan masa pendudukan Jepang ini. Meskipun datang dengan iming-iming gerakan 3A, jepang nyatanya menjalankan politik beringas yang berusaha memobilisasi seluruh sumber daya yang dimiliki Indonesia untuk membantu mereka dalam perang dunia kedua. Janji kemerdekaan melalui pembentukan BPUPKI dan PPKI adalah madu penyemangat yang dijanjikan oleh Jepang kepada para pejuang Indonesia. Tapi kedigdayaan Jepang ini tak berlangsung lama, hantaman dua bom atom yang diberi nama Little Boy dan Fat Man di dua kota industri dan markas militernya, Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 dan 9 Agustus yang memakan puluhan ribu korban jiwa menjadikan jepang harus menyerah tanpa syarat pada sekutu pada tanggal 14 Agustus 1945.

Kekalahan ini membuat Jepang harus menarik pasukannya dari Indonesia. Otomatis, saat itu terjadi kekosongan kekuasaan. Jepang yang saat itu menjajah Indonesia telah menyerah tanpa syarat pada sekutu, namun sekutu yang menjadi pemenang belum mendarat untuk mengambil alih kekuasaan di Indonesia. Alhasil para pemuda digawangi oleh Sukarni dan Syahrir pada tanggal 16 Agustus 1945 mengamankan Soekarno ke sebuah tempat yg dinamakan Rengasdengklok. Di tempat ini, Soekarno diminta oleh para pemuda untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Meski terjadi perdebatan alot karena Soekarno masih menunggu jepang melunasi janji kemerdekaannya, naun akhirnya Soekarno setuju, dan esoknya, 17 Agustus 1945, atas nama Bagsa Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, maka dimulailah babak sejarah baru negara kita. Dimulailah masa revolusi fisik yang berdarah-darah dan menguras seluruh air mata warga negara Indonesia. Di masa inilah terjadi banyak peristiwa yang hingga kini dikalim Indonesia sebagai kejahatan perang seperti pembantaian Rawagede di Jawa dan pembantaian 40.000 jiwa oleh Raymond Westerling di Sulawesi Selatan. Di masa ini pulalah muncul istilah-istilah dan nama tokoh yang anda sering dengar di bangku sekolah atau di televisi seperti Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa, Perjanjian linggarjati, Konfrensi Meja Bundar hingga nama-nama seperti Jendral Sudirman, Bung Tomo, I Gusti Ngurah Rai, Wolter Monginsidi, Emmy Saelan, dan masih banyak lagi.

Terkhusus perang Surabaya, yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan, semuanya bermula pada tanggal 31 Agustus 1945, di mana saat itu Soekarno menyerukan agar bendera merah putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Berbeda dengan para pemimpin di Jakata yang cenderung moderat dan diplomatif, arek-arek suroboyo pada 19 september 1945 yang memang terkenal pemberani malah mendatangi Hotel Yamato yang saat itu merupakan markas sementara bagi pasukan sekutu. Tak butuh waktu lama, terjadilah kericuhan di Hotel Yamato, beberapa pemuda memanjat naik ke gedung hotel dan menurunkan bendera Belanda, namun karena tidak ada yang membawa bendera merah putih, maka mereka merobek bagian biru dari bendera Belanda dan mengibarkannya kembali seebagai bendera merah putih. Insiden tersebut meluas menjadi konflik bersenjata yang baru bisa diselesaikan melalui perjanjian damai pada 29 Oktober 1945. Perjanjian damai ini berumur pendek, besoknya pada 30 oktober 1945, sebuah granat menghantam mobil yang ditumpangi oleh Jenderal Mallaby, Jenderal Inggris yang merupakan pimpinan pasukan sekutu. Alhasil pihak Inggris dan sekutu menjadi murka, Jenderal Mansergh yang menggantikan posisi Mallaby hendak menuntut balas. Dikeluarkannyalah ultimatum pada arek-arek suroboyo untuk menyerah tanpa syarat pada sekutu dengan menyerahkan semua senjata mereka. Ultimatum itu tidak dipenuhi, alhasil, Inggris dengan kekuatan dua divisi dari angkatan darat, udara dan laut serta nama besar Batalyon Infanteri Maratha dan Batalyon Rajputna dengan persenjataan lengkap yang sangat terkenal dengan pasukan Gurkha dan keahlian perang kotanya menggempur kota Surabaya. Total 30.000 pasukan sekutu berhadapan head to head dengan pasukan republik di Surabaya yang berkekuatan 120.000 pasukan yang sayangnya hanya diisi dengan 20.000 tentara dengan skill militer seadanya dan 100.000 pasukan yang terdiri atas anggota laskar dan kemudian kesemuanya hanya dibekali oleh 50.000 pucuk senjata dan sisanya menggunakan peralatan tradisional seperti belati dan bambu runcing. Pertempuran mematikan itu berlangsung selama 3 minggu, meski secara kuantitas kita lebih banyak, namun kualitas persenjataanlah yang menentukan semuanya. Alhasil pada akhir November, Surabaya dikuasai oleh pasukan Inggris dengan jumlah korban di pihak mereka hanya 600 pasukan, sementara pada pihak republik mencapai 6000 pasukan. Secara garis besar kita kalah, namun di satu sisi pihak Inggris pun akhirnya malah terkejut dengan ketahanan pasukan republik yang sanggup betahan lama menghadapi gempuran senjata modern milik mereka, bahkan tercatat, dua orang perwira tinggi setingkat jenderal, 15 orang perwira menengah dan tujuh pesawat tempur Inggris berhasil dilibas dan dirontokkan oleh pasukan republik. Bila di analogikan, pertempuran ini ibarat pertandingan sepakbola antara klub FC Barcelona melawan Tim Sepakbola kampung di Kota Bantaeng yang berkesudahan skor 3-1 bagi Barcelona. Kemenangan bagi Barcelona, namun di satu sisi rasa malu yang sangat besar.

Beberapa tahun ke depan, terjadi pula beberapa peperangan besar, sebut saja perang Ambarawa yang dikomandoi oleh Jenderal Sudirman. Berkaca dari perang Surabaya yang minim kordinasi di pihak pasukan Republik, ketiadaan komando tunggal, dan situasi perang kota yang sebenarnya sangat dikuasai oleh pasukan sekutu, menjadikan Jenderal Sudirman lebih mematangkan konsep komando pasukan, tekhnik gerilya dan serangan yang lebih sistematis menjadikan pasukan sekutu harus kehilangan muka di Ambarawa. Tak seperti di Surabaya, mereka harus dipaksa menyerah dan mundur jauh ke Semarang karena ketidakmampuan menahan gempuran pasukan Republik. Setelah ambarawa ini, akan masih banyak lagi pertempuran yang menanti di depan. Sebut saja agresi miiter Belanda satu dan kedua yang lagi-lagi berhasil dipatahkan oleh serangan umum 1 Maret oleh Jenderal Sudirman.

Setelah perjuangan berdarah-berdarah selama bertahun-tahun, akhirnya atas berkat dan Rahmat Allah SWT dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, pada 23 Agustus mengakui kedaulatan Republik Indonesia seluruhnya dengan status negara serikat. Hasil ini sudah jauh lebih maju dibandingkan perundingan Linggarjati bebeapa tahun sebelumnya yang hanya mengakui wilayah Jawa, Sumatera dan Madura sebagai wilayah Republik Indonesia. KMB menjadi awal baru Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan diakui keberadaannya.

Ilustrasi: https://www.merdeka.com/peristiwa/4-pemuda-paling-berpengaruh-selama-perang-kemerdekaan-indonesia.html

 

The following two tabs change content below.

Ade Sulmi Indrajat

Pria kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini adalah alumnus dari UIN Alauddin Makassar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini salah satu kesibukan utamanya adalah sebagai ASN di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantaeng. Juga sebagai Direktur Ranu Prima College cabang Bantaeng dan inisiator Ikatan Guru Indonesia ( IGI ).Bantaeng. Dan, bergiat di komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menerbitkan buku Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (2019) dan Mengikat Rindu di Ranting Rapuh (2019).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *