Menjemput Masa Depan

—In Memoriam Ustadz Muhammad Abdul Salam B

 

Kala prajurit Berigade Infantri (Brigif) Manasa XX Gorontalo sedang beraksi memperagakan beladiri khas militer Indonesia yang masyhur itu, aku menyaksikannya dengan takzim dan takjub. Haru biru menyambangi hatiku. Aku bangga memiliki Tentara Nasional Indonesia yang tangkas dan lihai memainkan beladiri dan perlatan tempur lainnya. Aku merasa aman dan terpekur sejenak dan berdoa dalam hati, semoga anak-anak muda ini diberi kesehatan jiwa dan fisik untuk menjaga negeriku yang sama kami cintai. Di sela-sela hati yang masih takjub itu tiba-tiba berita duka terkabar menyambangiku via WhatsApp (WA) “Innalillahi wa innailaihi roji’un. Guru kita, ustadz Abdul Salam B, telah meninggalkan kita. Kalimat-kalimat yang tertera di layar hp-ku tak kulanjutkan membacanya, air mataku spontan mengalir deras dengan suara tangis yang kutahan dengan kuat di tengah kerumunan para petinggi militer yang sedang menghadiri Sertijab (serah terima jabatan) komanadan Brigif XX Manasa Gorontalo.

Aku berjalan lesu ke kamar kecil terdekat untuk menumpahkan semua rasa sedihku. Di kamar kecil itu aku menangis sejadi-jadinya. Almarhum adalah, guru, sahabat, dan teman diskusi yang hangat walaupun kerap “menjengkelkan.” Diskusi terakhir kami yang cukup panas, kala mendiskusikan strategi dakwah yang ramah di kediamanku bersama komunitas yang menghendaki hubungan antar mazhab dalam agama Islam berjalan baik secara khusus dan lintas iman secara umum. Mungkin karena keinginannya keras dengan ilmu yang mumpuni yang dimilikinya sehingga kerap terkesan menggurui dan menganggap remeh lawan diskusinya, hingga suatu waktu yang belum terlampau lama, aku melakukan protes keras padanya yang tidak diresponnya hingga ajal menjemputnya. Padahal, jelang ramadan ini telah kuniatkan, seperti biasanya bila aku berada di kotaku aku menandanginya di kediamannya silaturrahim dan saling memaafkan ataukah bila tak sempat sebelum ramadan tiba, aku dan keluarga kecilku mengunjunginya di hari lebaran, sebagai guru dan sahabat yang kami hormati dan cintai.

Kematiannya seolah menjemput masa depan yang cerlang. Ia sedang mengajar dan berdoa di malam jumat dengan murid-muridnya yang masih aktif, tiba-tiba terserang stroke dengan pendarahan di otak, lalu murid-muridnya melarikannya ke rumah sakit terdekat. Malam jumat dan menjemput hari jumat yang berkah di akhir bulan Sya’ ban jelang ramadan. Sedang berbagi ilmu di waktu-waktu munajat yang makbul. Ia seolah merekayasa kematiannya menjemput masa depan nan bahagia. Muridnya banyak dalam kurun waktu yang panjang.

Aku mengenalnya di pertengahan tahun delapan puluhan di sebuah sekretariat organisasi kemahasiswaan tempat kami menempa diri, walau dirinya bukan anggota dari organisasi tersebut tapi kawan-kawan kami mendaulatnya sebagai “anggota luar biasa.” Keinginan belajar dan megajarnya sangat luar biasa. Pernah belajar di sebuah pesantren di Jawa Timur dalam durasi yang cukup panjang. Kemudian persentuhannya di komunitas kami mengantarnya belajar secara otodidak dan kepada orang-orang yang kavabel dalam berbagai ilmu termasuk filsafat yang ditekuninya akhir-akhir ini. Beliau termasuk orang yang tak pernah puas dengan ilmu yang dimamahnya di hari-hari panjang dan terus belajar seolah tak ada jeda. Beliaulah yang mengajariku mengenal huruf-huruf hijaiyah dan tajwid yang sangat ketat. Memperkanalkanku sejenak metode tafsir Al-Qur’an dan mengajari kami hadis-hadis dalam kumpulan Kutubussitta dalam waktu yang tak terlalu lama, dengan metode mangkul seperti cara ia belajar di pesantren dulu. Sejak tahun delapan puluhan muridnya silih berganti hingga kini. Cara mengajar dan pembawaannya menurutku unik, sebab tak jarang murid-murid yang pernah diajarnya kembali mendebatnya.

Sekolah pembelajaran yang dibangun dalam kurun waktu yang panjang tidaklah dalam pengertian sekolah permanen fisikal yang formal, tapi sekolah terbuka di mana saja dan kapan saja proses belajar mengajar bisa dilangsungkan. Yang menentukan tempat dan waktu belajar adalah para murid-muridnya. Inilah mungkin yang disinyalir oleh, Stephen R. Covey, bahwa memenej waktu menuju masa depan yang baik, kuncinya terletak bukan pada bagaimana Anda menghabiskan waktu, namun dalam menginfestasikan waktu Anda. Menginvestasikan waktu tidak melulu terkait dengan sesuatu yang bersifat material akan tetapi juga pada investasi yang bersifat masa depan jauh setelah kehidupan ini. Pun pesan Nabi Muhammad SAW berkenaan dengan kualitas manusia dalam menjemput masa depan, bahwa manusia yang paling baik di antara kamu adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi sesamanya dalam kehidupan ini. Pekerjaan apalagi yang paling mulia selain belajar dan mengajar ?

Aku belum beranjak dari tempat dudukku menyaksikan berbagai pertunjukan atraksi beladiri dari prajurit-prajurit Brigif di hari Sertijab (serah terima jabatan) komandan Brigif XX Manasa Gorontalo itu, aku kembali dikejutkan oleh berita yang sama di WA, berita kematian di kampung halamanku. Ayah dari seorang sahabatku telah mangkat dengan selang waktu yang tak terlampau jauh dari mangkatnya guruku sekaligus sahabatku. Innalillahi wa innailaihi roji’un, sesungguhnya kita berasal dariNya dan akan kembali padaNya. Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian (Qs. Ali Imran 285). Bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti.

Soal kematian atawa terpisahnya ruh dari jasad adalah sebuah kejadian yang semua manusia meyakininya dan akan menyambanginya pada suatu waktu yang telah ditentukan olehNya dan tidak  bisa ditolak oleh siapapun, termasuk orang-orang yang tidak setuju dengan adanya kehidupan setelah kematian di alam fana ini, orang-orang yang tidak setuju dengan keberadaan Tuhan yang mutlak kekuasaanNya di semesta ini. Tinggallah mempersiapkan kematian yang indah, menjemput masa depan abadi nan bahagia.

Aku beranjak pulang kekediamanku setelah berpamitan pada Komandan Brigif XX Manasa Gorontalo, yang baru dilantik oleh Pangdam (Panglima Daerah Militer) XIII Merdeka-SulutGo. Kehadiranku di Sertijab  ini bagian dari tugas-tugasku sebagai Humas di kantor, sebagai penanggung jawab terjalinnya hubungan baik dengan semua stakeholders yang ada di wilayah kerjaku. Dalam perjalanan menempuh waktu yang cukup panjang, renungku jauh mengembara dalam memaknai hidup ini, seperti kata para bijak, bahwa perjalanan hidup ini adalah perjalanan mengalir menujuNya. Dia adalah keindahan dan cinta itu sendiri. Mengalirlah bersama keindahan dan cinta menuju masa depan nan indan penuh cinta. Selamat jalan, guru dan sahabatku. Berbahagialah menemui kekasih para pejalan cinta.

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *