Menulis untuk Hidup dan Hidup untuk Menulis

 

Mereka adalah sekaum anak muda, mahasiswa, dan pelajar. Para pewaris ideologis Tjokroaminoto, Sang Guru Bangsa. Guru dari Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen. Kelak ketiga murid ini, bertarung menawarkan pikirannya untuk bangsa, bentuk negara buat bangsa Indonesia. Soekarno menyodorkan Nasionalisme Indonesia, Republik Indonesia. Kartosoewrjo mengemukakan Islamisme, Negara Islam Indonesia (NII). Dan, Semaoen mengedepankan Komunisme bagi Indonesia.

Tapi, pewaris yang saya hadapi kali ini, bukanlah titisan Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen. Melainkan, sekaum cicit ideologis dari Tjokroaminoto yang tergabung dalam Pergerakan Pemuda Syarikat Islam Indonesia, terdiri dari Serikat Pelajar Muslimin Indonesia {SEPMI), Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI), dan Pemuda Muslimin Indonesia (PEMUDA MUSLIM). Mereka menyelenggarakan Intermediate Training Nasional, dengan tema: “Membangun Ideologi Progresif dalam Bingkai Gerakan Revolusioner Menuju Kemerdekaan Sejati”, 28 April – 6 Mei 2018, bertempat di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Saya diundang untuk ikut menabuh gendang pemikiran training ini. Tabuhan gendang saya bertajuk, “Falsafah Menulis”. Arti penting materi ini dijadikan salah satu topik bahasan, saya coba raba, dari alam pikiran penghelat, karena soal menulis adalah soal terdepan dalam kejuangan Tjokroaminoto dan segenap muridnya. Sosok Tjokroaminoto adalah sosok penulis. Buah pikirannya, lewat tulisan-tulisan dan bukunya, masih bisa dibaca hingga kini. Tradisi literasi Tjokroaminoto sangat kuat. Pun, makin dikuatkan oleh para pengikutnya. Mereka menjadikan tulisan sebagai senjata perjuangan. Dan, saya pun memulai menggendang pikiran para peserta dengan pantikan dari tradisi literasi pendiri dan generasi awal Syarikat Islam.

Selanjutnya, saya pun mulai menggebuk pikiran peserta. Pertanyaan dan sekaligus jawaban  saya ajukan guna merangsang birahi ingin tahu mereka. Bahwasanya, tatkala kita bicara falsafah menulis, sesungguhnya kita tiba pada, paling tidak, tiga subjek fundamental, yakni: Apa hakikat menulis? Bagaimana menulis? Dan, tujuan menulis? Pertanyaan-pertanyaan itu, merupakan pertanyaan filosofis dari kegiatan menulis.

Hakikat menulis adalah mengeluarkan olahan jiwa. Agar hasil kerja ruhani ini memadai adanya, maka terlebih dahulu mestilah membaca sebanyak mungkin. Sebab, penulis yang baik, pastilah dia seorang pembaca yang rakus. Membaca, ibaratnya memberi asupan gizi pada jiwa. Dan, gizi bacaan ini, diolah oleh perangkat intelektualitas, menjadi energi ruhani, yang salah satu bentuknya berupa tulisan. Makin bergizi asupan bacaan, makin berenergi pula suatu tulisan. Jika bacaannya kurang bergizi, bahkan mengandung racun, semisal hoaks, akan merusak jiwa. Dengan begitu, tulisan yang dihasilkan pun tak berenergi, malah menyebarkan racun buat jiwa orang lain.

Lalu, bagaimana caranya menulis? Memulai menulis bergantung pada kapasitas awal yang dimiliki seseorang. Ada penegasan yang saya ajukan sebagai langkah yang paling mula, bagi seorang yang kesulitan menulis. Menulislah diary, serupa catatan harian tentang apa saja yang mampu dituliskan. Tujuan menulis ala catatan harian ini, amat berguna untuk melatih otot-otot kepenulisan. Membiasakan diri menulis setiap saatnya, akan mempermahir diri. Ala bisa karena biasa, begitu kata pepatah. Dan, dari kebiasaan ini, sudah memungkinkan  jadi modal untuk melakukan aktivitas lanjutan dalam menulis dengan cara menulis bebas, free writing.

Saya pun harus merekomendasikan satu buku bergizi tinggi untuk keperluan ini, sebuah buku anggitan dari Hernowo Hasim, Free Writing, selain buku lainnya, Quantum Reading, dan Quantum Writing, serta Mengikat Makna. Sesungguhnya, masih banyak buku karangan Hernowo yang dapat membantu untuk meningkatkan kemampuan membaca dan menulis. Pun, jangan lupa buku lainnya, yang cukup melimpah ruah, dan amat mudah mendapatkannya.

Berikutnya, tujuan menulis. Buat apa menulis? Setidaknya, ada dua tujuan menulis. Ada tujuan individual dan sosial. Sebagai tujuan individual, aktivitas menulis itu dapat dijadikan terapi bagi jiwa. Boleh pula sebagai sarana untuk mendapatkan nafkah. Menjadi penulis professional. Sedangkan tujuan sosialnya, bergantung pada posisi seorang penulis, sebab ada penulis sekadar ingin memasarkan gagasannya, buat berkontribusi pada perubahan sosial. Namun, tidak sedikit pula tulisan-tulisan itu dihadirkan untuk mendinamisir keinginan masyarakat. Jadi, ada yang menulis karena kebutuhan jiwa, ada pula yang menulis sebab keinginan masyarakat

Pada penghujung persamuhan, seorang peserta minta penjelasan tentang pernyataan yang ia pernah dengar. Begini kalimatnya, “menulis hidup untuk dan hidup menulis untuk ”. Saya pun memberikan penjelasan ringkas, bahwa maksud dari kalimat itu, “menulis  untuk hidup”, bahwasanya, seseorang melakukan kegiatan menulis sebagai upaya mencari nafkah. Menjadi penulis professional. Memilih jalan kepenulisan agar bisa bertahan hidup. Tidak sedikit penulis yang hidup sejahtera karena tulisan-tulisannya.

Adapun kalimat, “hidup untuk menulis”, adalah orang-orang yang menjadikan aktifitas menulis sebagai jalan untuk berbakti buat sesama. Menulis adalah jalan juang. Apa yang dicontohkan oleh Tjokroaminoto, dan ketiga muridnya, Soekarno, Kartosoewirjo, dan Semaoen adalah insan-insan yang menjadikan kepenulisan sebagai jalan perjuangannya. Berusaha berkontribusi bagi orang lain, dengan menawarkan pikiran-pikirannya. Kesemua buah pikiran mereka untuk kepentingan bangsa. Bukankah tulisan-tulisan mereka, hingga diwaktu kiwari ini masih disantap, sebagai bacaan bergizi bagi anak bangsa yang ingin memahami perjalanan kebangsaan kita?

Di sisa waktu yang tersedia, saya mengunci pernyataan saya dihadapan cicit ideologis Tjokroaminoto itu, bahwa, “menulis untuk hidup” adalah sah adanya sebagai bekal melata di atas bumi ini. Pun, demikian dengan pilihan, “hidup untuk menulis”, merupakan kualitas diri yang dinubuatkan buat berguna bagi kehayatan di semesta. Para professional, menulislah untuk hidup. Kaum muda di pergerakan, hiduplah untuk menulis.

 

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *