Mimpi-mimpi Aneh Vegetarian

Pernahkah anda mencoba melampaui batas? Sebuah obsesi atau sesuatu yang kerap berwujud selayak hantu yang terus membayang? Keinginan keras menghasilkan karya luar biasa, menaklukkan batas-batas imajinasi? Mencoba mencicipi dosa? Bercinta dengan perempuan atau lelaki asing?

Obsesi, serupa perpaduan hasrat melampaui batas dengan mimpi-mimpi traumatik, hadir serupa taman labirin yang menjebak namun menantang untuk dimasuki.

Novel Vegetarian karya Han Kang adalah kisah obsesi seorang perempuan berpantang makan daging. Dalam perjalanannya, ia terkurung dalam drama, obsesi, lalu dihantui trauma dan penglihatan-penglihatan aneh. Kekerasan dan kepolosan, tantangan dan petualangan terjalin epik dalam kisah yang berlatar budaya Korea ini.

“… Inilah gambaran penyatuan kejam yang paling buruk, sekaligus paling indah.”(hal.139) Kalimat yang menggambarkan sebuah peristiwa-hubungan yang terobesesi oleh karya seni bebas berlatar bisikan mimpi-mimpi traumatik, namun betatapun ia adalah hasil karya terindah, tetap saja harus berhadapan dengan norma. Novel ini, seperti pendapat British Council Literature, adalah gabungan indah antara kekerasan dan kepolosan.

Novel ini disetting dengan plot rumit, tidak sekadar maju mundur. Penulis menyelipkan narasi-narasi pengalaman mimpi yang irasional-imajinatif, dengan kalimat-kalimat puitis nan dramatik. Mimpi-mimpi dihadirkan seakan memandu jalinan cerita yang memaksa pembaca menyusun rangkaian tafsir.

Penulis memulai ceritanya dengan menempatkan suami dari Si Vegetarian sebagai orang pertama. Istri yang biasa-biasa saja. Tidak cantik, tidak menarik, tidak emosional, tidak cerdas, dan pendiam, mungkin hanya lelaki kurang jauh bergaul bisa terpikat dengan perempuan seperti itu. Setidaknya, kalimat ini mewakili bagian awal dari novel, dari sudut pandang lelaki, suami Young Hye.

Perempuan biasa, jauh dari predikat posesif, tak pernah cemburu, lebih banyak diam. Hidup tanpa kejuta dan tuntutan. Sebenarnya, baginya, ini anugerah sekaligus petaka.

Tentu saja ia, suami Si Vegetarian, menikmatinya, tak diganggu oleh telepon berkali-kali seperti yang dialami oleh teman-teman kantornya. Ia juga merasa bersyukur, tak pernah terlibat perkelahian berkala di rumah. Hanya soal no bra, yang membuatnya kerap tersadar bahwa istrinya memang lain dari perempuan dewasa lainnya.

Tapi tokoh rekaan dalam kisah Vegetarian itu melengkapi deritanya, kala harus bertahan hidup dengan istri yang memutuskan tak lagi makan daging. Mungkin yang paling prinsipil bagi lelaki dewasa normal adalah ketika si istri tak lagi bergairah untuk berhubungan badan.

Dalihnya, ia tak suka daging. Bahkan suaminya pun dituduhnya bau daging, aromanya ia baui keluar dari pori-porinya. Pernah ia mencoba memaksa berhubungan badan, namun istri seperti kehilangan gairah. Meski akhirnya ia berhasil setelah percobaan ketiga. Tapi, hanya kehampaan. Si istri hanya menatap lamat-lamat, dengan tatapan kosong menembus langit-langit. Ia menyadari satu hal yang ganjil juga menyedihkan, ia telah memperkosa istrinya.

Si istri, setelah sekian kali didesak mengapa ia jadi vegetarian, jawabannya karena berawal dari mimpi. Mimpi yang menyudutkan, enigmatik, namun sekaligus menyeramkan.

Apakah vegetarian sebegitu menyeramkan? Bahkan secara naluriah, manusia adalah pemakan daging. Daging adalah sumber protein, sumber kekuatan. Tentu pengecualian jika perspektif vegetarian dilihat sebagai dorongan untuk mempercantik tubuh, diet. Karena, jika vegetarian dilihat sebagai bagian dari kampanye ‘naturalisasi’, upaya membangun-mempertahankan keseimbangan alam, justru lebih terdengar utopis ketimbang melihatnya sebagai sebuah niat baik idealisme.

Tentu saja, kekuatan novel ini bukan muncul dari ide vegetarian dan kampanye back to nature. Novel ini layak dibicarakan oleh karena kemampuannya menyajikan cerita rumit, dengan menghadirkan perspektif orang pertama dari banyak tokoh, secara bergantian.

Tak ada tokoh yang secara tegas selaku protagonist juga antagonis. Pembaca bisa memilih sendiri kepada siapa mereka ingin bersimpatik atau menaruh dendam. Tapi, justru novel ini menjadi lebih manusiawi. Pembaca yang berharap menemukan sosok ideal, pahlawan, ataupun panutan, jelas tak akan menemukannya di dalam lembaran-lembaran ini.

Sekuel kedua diberi judul ‘Tanda Lahir Kebiruan’ adalah lompatan cerita, sekaligus menjadi kekuatan penulis. Orang pertama beralih ke suami kakak ipar -dari orang pertama di sekuel pertama. Di bagian ini menjadi tantangan penulis untuk menghadirkan kisah dari perspektif yang berbeda.

‘Tanda Lahir Kebiruan’ adalah kisah dunia dari seorang seniman pelukis surealis. Dengan pilihan ini, penulis berhasil membuat kisah perselingkuhan menjadi tak biasa. Ada jiwa merdeka dan bangunan keberanian yang diciptakan oleh penulis dalam sosok sang pelukis, yang akhirnya membawanya mampu melampaui batas.

Ia masuk ke dalam labirin imajinasinya sendiri, dan mungkin tak akan kembali lagi… “Semuanya berakhir seperti itu. Sejak hari itu hidup mereka tidak bisa kembali seperti sebelumnya.” (hal.166)

Si pelukis tanpa kendala berarti berhasil menelanjangi sang adik ipar untuk kemudian dijadikan sebagai obyek lukisan bunga. Tapi, lagi-lagi karena dorongan mimpi, lukisan-lukisan tubuh pada akhirnya menjadi medium untuk mengantar si pelukis memenuhi obsesinya merengkuh Tanda Lahir Kebiruan.

Tapi si istri, In Hye, kakak si Vegetarian, tak paham seni. Bahkan dalam keseharian, ia adalah istri yang terlalu sempurna bagi seorang suami yang lebih sering pulang larut karena proyek yang tak kunjung selesai. Tak mungkin In Hye memaklumi perselingkuhan. Alih-alih membiarkan diri larut dalam kutukan takdir , ia memilih untuk segera bertindak taktis, menghukum para pelanggar moral, mengantar keduanya (dua orang yang dekat dan dikasihinya) ke rumah sakit jiwa.

Mengapa si pelukis nekat melampaui batas. “Ia menyukai semua hal dalam diri adik iparnya, mulai dari matanya yang tidak berkelopak, suara kaku dan canggung yang tak bernada manja dan sengau seperti suara istrinya, gaya berpakaian sederhana, bahkan sampai tulang pipinya yang menonjol.” (hal.75) Sebuah gambaran yang kontras dengan apa yang dipersepsikan oleh suami dari adik iparnya.

Jadi, definisi cantik tidak pernah identik, atau sama sekali tak bersifat universal.

Si pelukis, oleh Han Kang dihadirkan sebagai pelukis obsesif lebih dari sekadar idealis, yang untuk kelangsungan hidup rumah tangganya lebih banyak bergantung dari usaha istrinya. Han Kang dengan jujur menggambarkan betapa seniman idealis akan selalu terancam untuk hidup miskin, hehe.

Bagian ketiga diberi titel Pohon Kembang Api. Lebih banyak membahas soal penderita schizophrenia. Tak ada lagi drama, mungkin lebih tepat jika bagian ini berjudul karma. Pilihan menjadi vegetarian membuat Young Hye makin kehilangan tubuhnya. Ia divonis menderita anoreksia.

Novel ini berhasil menghadirkan kisah epik campuran drama-horor. Indah sekaligus menegangkan. Mungkin yang kurang adalah bagian akhir yang dibiarkan melayang dan tokoh yang dibuang begitu saja.

Bagaimanapun, berkat Vegetarian, Han Kang didaulat sebagai Man Booker International Prize, sebuah predikat untuk karya sastra bagi guru besar di Jurusan Penulisan Kreatif, Institut Seni Seoul.

Tentang buku:

Judul: Vegetarian

Penulis: Han Kang

Penerbit: Changbi Publisher, Inc – PT Bentara Aksara Cahaya, 2017 – 222 halaman

The following two tabs change content below.

Subarman Salim

Penulis adalah peminum kopi, yang selalu berharap menemukan surga di setiap buku. Selain menulis, kadang ikut jadi peneliti, pernah mencoba jadi blogger tapi gagal. Pernah kuliah di Universitas Negeri Makassar jurusan Pendidikan Sejarah dan Universitas Hasanuddin jurusan Antropologi.

Latest posts by Subarman Salim (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *