Minum Air Minum Air Minum

Pertama, kau bisa bertengkar di mana saja. Kedua, kau bisa melihat apa pun. Bukan hanya di dunia non-virtual, tetapi juga di dunia virtual. Ragam dampak dari pertengkaran bisa menghasilkan berita kriminal di media massa. Tetapi, bukan itu yang dimaksudkan. Pertengkaran yang lebih bisa menghasilkan sintesa-sintesa baru di ruang publik.

Di akun sosial media milik saya, twitter tepatnya. Sebuah twitt saya ditanggapi oleh seorang kawan. Saya masih ingat twitt itu berbunyi seperti ini. Twitt ini bermula saat seorang kawan memposting di instagram sebuah buku yang mempermasalahkan cara minum yang terbaik adalah minum air sambil duduk.

Janggal sekali ada anak kedokteran yang membaca tentang minum air sambil berdiri. Ditulis airnya bisa langsung jatuh ke lambung secara tiba-tiba. Gimana yah. Mau rasa ketawa. Kasihan saja sama Lauralee Sherwood sama Guyton. Rasa sia-sia meneliti fisiologi manusia.

Lauralee Sherwood dan Guyton adalah dua orang yang mempelajari tubuh manusia dari segi ilmu fisiologi. Keduanya berasal dari USA. Keduanya melihat keberfungsian tubuh manusia bekerja seperti mesin.

Makan dan minum adalah kegiatan kita untuk memperoleh tenaga. Kebanyakan dari kita berpikir menelan adalah proses memasukkan makanan dari kerongkongan ke perut. Berpikir sederhana seringkali terjadi pada kita, pemilik tubuh. Lauralee Sherwood memberikan gambaran bagaimana proses menelan itu terjadi.

Sebuah saklar di bagian batang otak kita terletak di medulla. Dia akan bekerja pada saat terjadi pemicu. Disebutkan pemicu itu akan berespon saat larutan dan bolus, makanan yang sudah dikunyah, berada di belakang mulut dan menuju ke faring. Tekanan bolus ini merangsang reseptor untuk mengirimkan signal ke saklar untuk melakukan proses menelan. Di dalam ilmu fisiologi, dibilangkan menelan adalah refleks paling kompleks di dalam tubuh.

Sebab dia proses kompleks, tidak segaris lurus sebab akibatnya. Dia berupa jaring-jaring yang saling mempengaruhi. Satu sebab bisa buat beberapa akibat. Yang didirikan oleh para ahli fisiologi tentang bagaimana proses menelan adalah belum final, mungkin ada kemungkinan lain. Dibutuhkan giat yang lebih untuk melihat yang belum.

Untuk bisa ke sana, dibutuhkan subsidi pikiran dari berbagai pihak. Yang bergiat mencari tahu bagaimana tubuh ini bekerja. Subsidi dasarnya sudah jelas bahwa kunci memahami bagaimana tubuh bekerja dengan normal. Ilmu fisiologi sudah mengantar ke dasar itu. Tetapi mencari tahu dan menggeledah yang belum itu perkara lain.

Usaha-usahanya dibimbing oleh metode-metode yang sistematis. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa. Kedalaman ini yang kemudian mempengaruhi transformasi berpikir di ruang publik.

Tidak mungkin ini dicapai dengan cara-cara sederhana. Hari-hari ini cara-cara sederhana menjadi jalan pintas mencari solusi atas kegamangan. Kita mencari semua jawaban dengan modal googling. Padahal itu tidak mengubah perilaku-perilaku jahat kita dalam mengkhianati kejujuran bahwa googling hanya menghadirkan daftar-daftar hasil pencarian dan kita akan berjodoh dengan itu jika sesuai dengan saat hasrat sudah terpenuhi. Kita mengkhianati akal sehat rasa ingin tahu.

Harusnya googling tetap tidak mengubah apa pun. Dia hanya hadir sebagai pemudah kita untuk tetap menjadi seorang yang tetap menjalankan konsumsi pengetahuan. Yang kita impikan bagaimana meretas jalan menjadi produsen pengetahuan. Ruang publik kita tidak akan hadir dengan modal bacaan googling kalau tugas mengonsumsi pengetahuan tidak mengalami transformasi.

Rasa ingin tahu tidak akan pernah terselesaikan dengan satu jawaban. Bahkan dengan menempuh metode-metode yang sistematis. Rasa ingin tahu berwujud keliaran akal dalam memerangkap kepastian.

Jika kita hari ini bertengkar meributkan apakah kegiatan minum air harus bagaimana dan dilakukan dengan cara apa, apakah kita adalah manusia yang bergerak dengan cara-cara otomatis. Dan apa iya, seringkali kita melihat orang buru-buru, berdiri minum dengan tergesa-gesa, tersedak, membuat kita mendirikan kepastian bahwa minum air berdiri tidak menghadirkan kesehatan buat kita. Atau mungkin kita jarang melihat orang yang minum duduk dengan santai berbincang, tidak mengalami tersedak, lantas kita menghadirkan bahwa minum duduk itu sehat buat kita.

Atau pertengkaran ini mendatangkan maksud lain. Menggugat manusia lewat kegiatan sehari-hari yang sering dilakukan, tetapi tidak sadar akan itu. Menghasilkan pertengkaran dan melahirkan dua polarisasi kelompok.

Dari segi ini, kita lebih harus memahami kompleksitas daripada menyerahkan diri kepada berkesimpulan sederhana.

 

Sumber gambar: http://kaltim.tribunnews.com/2017/11/16/

The following two tabs change content below.

William Gunawan

Lahir di Makassar, pada 16 Februari 1991. Terlibat dalam Komunitas Literasi Makassar, ia mengaku banyak mendapatkan kejutan-kejutan dan manusia cerdas. Setelah selesai sekolah medis selama 7 tahun, sekarang sudah jadi dokter. Mondar-mandir di koridor rumah sakit kayak kain pel. Dapat dihubungi melalui Email: wwdableyu@gmail.com.

Latest posts by William Gunawan (see all)

One thought on “Minum Air Minum Air Minum”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *