Orang-Orang Kalah

Pagi ini cuaca cerah. Suasana di jalan-jalan kota sedikit lengang oleh kendaraan bermesin. Kecuali di tempat-tempat tertentu sedikit agak riuh oleh warga yang berolah raga. Dari yang bersepeda, berlari-lari santai, berjalan kaki, hingga melakukan senam berkelompok di ruang publik terbuka. Belum selesai aku berpikir dan bertanya dalam hati, kenapa Sabtu ini alun-alun kota yang sebagiannya telah dialihfungsikan menjadi tempat perbelanjaan, sangat padat pengunjung berolah raga. Anakku telah menjawabnya.

“Bapak, mungkin karena musim Pilkada ya, sehingga tempat ini yang biasanya tidak sesak, tapi hari ini agak kesulitan kita berjalan cepat.”

“Apa hubungannya?” Kilahku.

“Ada-lah, Pak. Mungkin mereka sedang melakukan sosialisasi dengan biaya murah. Coba lihat pengunjung yang berkelompok-kelompok itu, itu umumnya mereka berseragam tagline dan gambar kandidat, baik calon Gubernur dan wakilnya, maupun calon Walikota dan wakilnya.”

“Oooo ya, masa sih, aku tak memperhatikannya.”

Setelah perhatianku kualihkan ke beberapa kelompok barulah aku sadar bila salah satu penyebabnya alun-alun ini sangat padat pengunjung, baik yang berolah raga maupun yang hanya sekedar datang kongkow-kongkow dengan teman-temannya. Sebagian besar mengenakan kaus yang bertagline dan bergambar kandidat masing-masing.

Bahkan di sebuah sudut alun-alun itu, ada yang saling sindir, saling menjelekkan kandidat masing-masing. Dengan suara gempita mereka hampir bersamaan meneriakkan yel yel masing-masing kandidat tim pemenangan. Hampir saja terjadi adu fisik bila satu dari dua kelompok itu tidak mengalah. Urung diri dari lokasi alun-alun itu yang mestinya peruntukannya untuk berolah raga namun dimanfaatkannya untuk bersosialisasi dan berkampanye sebelum waktunya. Mereka tidak sadar bila ruang publik ini diperuntukkan untuk semua orang untuk berolah raga, dan perlakuan mereka mengganggu pengguna ruang-ruang publik itu.

Setelah reformasi berhasil menurunkan presiden Suharto dari tahta kuasanya yang dipeluknya hingga lebih dari tiga puluh tahun, nampaknya suasana politik menjadi tak karuan di tangan para elit yang campur sari antara yang betul-betul elit pengawal reformasi dan para elit penumpang gelap yang dulunya berdansa dansi menikmati dan berkontribusi besar dalam perjalanan politik otoritarianisme dan militerisme.

Mereka seolah-olah bangun dari kubur tidur panjangnya dan menjelma sebagai seorang pahlawan. Tipikal pejuang seperti inilah yang banyak mewarnai perjalanan reformasi kemudian, dan para muda yang dulunya ikut berjuang mengusung lahir dan mengembangnya gerakan reformasi ikut bermetamorfosa dengan penumpang gelap itu lalu mengusung gerakan mundur ke masa silam dengan topeng reformasi dan pembaharuan.

***

Musim ini musim pesta. Pesta para pemilik modal dan para manusia bebal. Mereka berkolaborasi dengan para politisi di partai-partai mereguk kuasa dari suara-suara rakyat jelata yang kebanyakan di antara mereka tak pernah diberi pendidikan politik dengan baik. Hal ini agar suaranya dapat disebut suara Tuhan yang bisa dipertanggungjawabkan oleh penerima suaranya kelak sebagai amanat yang melekat secara spiritual dan sosiologis.

Dalam tiga dekade reformasi diusung yang nampak berkembang adalah kebebasan liar nyaris tak terkendali. Hukum nyaris mati suri oleh kelompok-kelompok dominan yang melakukan tekanan kepada kelompok-kelompok minoritas yang mestinya telah dilindungi oleh undang-undang. Para elit politik di partai-partai tidak akan berperan banyak dalam perlindungan kaum minoritas yang ditekan oleh kelompok-kelompok yang sesungguhnya secara jumlah juga tak terlampau banyak hanya menang dari sisi kenekatan dalam melakukan aksinya. Karena hal ini terkait dengan image partai yang berharap suara mayoritas kala pemilu nantinya disemua level pemilihan.

Para pendukung telah mencuri start kampanye dan sosialisasi sebelum KPU (Komisi Pemilihan Umum) mengangkat bendera start sebagai petanda bahwa kompetisi dan pesta Pilkada sudah mulai dihelat dengan berbagai aturan main yang telah disepakati dan disetujui. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perang bully hoax berlangsung dengan sangat intens di Medsos (media sosial). Perang ini nampaknya mencapai puncaknya kala pemilihan presiden dan wakilnya pada tahun 2014 lalu dan berkecambah terus setelahnya seakan tak hendak menurun kala memasuki perhelatan Pemilu selanjutnya.

Suatu waktu dalam suasana santai di meja makan, anak-anakku yang berjumlah tiga orang menanyaiku dengan mimik serius.

“Kenapa teman-teman saya yang aktif bermedia sosial ikut-ikut pula saling membully dan menebar hoax di akun masing-masing, Bapak?”

“Tapi, kamu tidak kan?” Imbuhku santai.

“Iya, Pak, kami bertiga tidak, cuma prihatin saja. Padahal di rumah ini juga kita-kita kan sudah ada pilihan, baik untuk calon walikota dan wakilnya maupun calon gubernur dan wakilnya,” cerocos anakku yang paling sulung.

“Iya, sayang, karena teman-temanmu itu mungkin tidak memiliki pengetahuan tentang politik dan tujuan memilih yang sesungguhnya. Apatahlagi bila orang tua mereka masuk sebagai tim pemenangan di salah satu kandidat dan tidak memiliki kesadaran dan welas asih kepada sesama. Pasti mereka akan melakukannya sebagai sebuah strategi yang meghalalkan segala cara. Dan strategi yang demikian itu bila digunakan terus menerus dalam waktu yang cukup panjang akan berdampak pada ambruknya nilai-nilai demokrasi yang sesungguhnya mulia. Bahkan tatanan sosial pun akan menjadi rusak jadinya. Jadi, keluarga kecil kita mesti memberi contoh yang baik pada tetangga-tetangga kita bagaimana berpolitik dan berdemokrasi yang lebih baik dan santun,” imbuhku, panjang lebar menjelaskannya.

Di dalam keluarga kami memang dari hal-hal kecil hingga yang paling rumit selalu dirembukkan dan didiskusikan hingga sedetail-detailnya sampai substansi masalah. Sehingga setiap masalah-masalah sosial dan politik yang berkembang di luar sana membuat keluarga kami sudah khatam dan sepemahaman termasuk cara dan strategi menghadapainya. Termasuk Pemilukada yang akan dihelat dalam waktu dekat ini.

Di masyarakat via medsos yang dipergunjingkan dan diperdabatkan hanya pada aspek-aspek permukaan. Semisal penampilan fisik, gerakan spontanitas yang tiba-tiba menarik perhatian dunia medsos.

Sedang di keluarga kami telah mengulik jejak rekam setiap paslon (pasangan calon) walikota dan wakilnya, dan gubernur dan wakilnya. Program-program yang disuguhkan kepada pemilih, paling tidak pada aspek rasionalistas, proporsionalitas, keterukuran, dan keterjangkauan. Agar kami tidak memilih paslon seperti memilih kucing dalam karung.

Kami juga menghindari perdebatan-perdebatan yang tidak terlalu substansial di medsos. Bahkan dari ketiga anak kami yang sudah beranjak dewasa semua tidak terlalu intens bermain di medsos kecuali untuk menjalin hubungan silaturrahim, mengembangkan wawasan, dan juga bisnis. Sebab, kami telah menyimpulkan bahwa sebagian besar perdebatan-perdebatan politik di medsos bermuara pada hoaks dan bullying dan hal tersebut dalam durasi waktu yang panjang, baik langsung maupun tak, akan merusak jiwa dan keperibadian. Pun, akan merusak hubungan silaturrahim yang menjadi urat nadi akhlakul karimah atawa budi mulia yang diutamakan dalam spiritualitas agama.

***

“Hei.. Mira, kenapa kamu berlari kayak kesetanan,” tergurku dengan nada khawatir membuncah.

Mira, anak keduaku tak segera menjawab karena masih ngos-ngosan berburu dengan nafasnya. Ia nampak pucat sepucat kain belacu. Aku di beranda rumah menikmati hari jelang sore dengan kopi dan pisang goreng falm sweker. Seperti biasanya setelah usahaku di pasar tradisional tak jauh dari rumahku telah kututup untuk istirahat siang.

“Itu Pa, di perempatan jalan Kalimantan dan jalan Seram terjadi perkelahian massal dua kelompok pendukung paslon dan kebetulan aku lewat di sana sepulang dari sekolah.”

“Yapi, kamu baik-baik saja kan?”

“Iya Pak, tapi aku nyaris ketimpuk batu yang berseliweran saling bersahut.”

“Alhamdulillah kamu luput dari batu-batu itu, Nak. Itulah satu lagi pembelajaran buat keluarga kita, bahwa ketidak-dewasaan berpolitik dan mungkin ketidak-pahaman makna-makna mulia dari tujuan demokrasi maka akan melahirkan proses anarkisme sebab semua diorientasikan untuk kekuasaan semata. Dan kekuasaan sangat rentan dengan laku korup.”

Entah bagaimana muasalnya sehingga dua tim sukses paslon kepala daerah sua di perempatan jalan tak jauh dari rumah kami padahal oleh KPU (Komisi Pemelihan Umum), para paslon dan tim kampanye dan pemenangannya dilarang melakukan kampanye pada hari dan waktu yang bersamaan. Kala ditanya, jawabnya bukan kampanye hanya konvoi anak-anak muda saja, padahal sebagian memang memakai atribut Paslon.

Malam berganti pagi hingga kembali malam lagi. Kemudian hari-hari berproses hingga melampaui minggu dan bulan. Jelang Pemilukada digelar proses kekerasan dalam mengawal masing-masing paslon dalam Pemilukada kali ini, kekerasan nampaknya tak hendak usai, bahkan kekerasan verbal dan tulisan khususnya di medsos semakin menggila saja. Banyak hubungan keluarga, kerabat, hingga sahabat terputus hanya karena berbeda paslon yang diusung.

“Jadi, bagaimana sikap kita, Pa, menghadapi Om Nasrun. Kelihatannya Dia sedang kalap membabi-buta hingga seperti orang tak sadarkan diri saja. Semua orang termasuk keluarganya sendiri akan dijauhinya bahkan dimusuhinya bila berbeda pilihan.”

“Santai saja, sayang. Pada waktunya dia akan sadar juga. Selain mungkin karena memang pilihannya mungkin juga kakak saya itu mendapatkan keuntungan material dari pilihan politik yang ditempuhnya sebagai seorang pengusaha, dan sudah lama dia lakukan. Yang mengherankan memang pada Pemilukada kali ini agak berbeda, karena di samping kepentingan materil juga dibumbui dengan isu-isu agama. Nah kalau isu  ini yang dimainkan biasanya orang-orang akan dirasuki fanatisme yang tak rasional lagi, akal sehat terbang menjauh, yang mungcul adalah kebencian.”

“Padahal, Paman, saban hari ke rumah ini ya, walaupun hanya sekedar hallo say dan menanyakan kabar kita semua,” cerocos anak bungsuku.”

“Ya demikian itulah, katanya. Ada dua jenis orang yang tidak mempan dinasehati, yakni, orang yang sedang jatuh cinta dan pendukung Paslon, hehehe..”

Kami terkekeh serentak mengamati dan mendiskusikan sikap keluarga dekat dan para pendukung paslon di musim perhelatan demokrasi ini. Mereka bak orang jatuh cinta yang konon tai kucing pun sudah rasa coklat dibuatnya. Betapa membiuskannya kekuasaan itu. Katanya seperti candu yang merasuki tubuh dan psikis penggunanya, semakin jauh dan lama ia dikomsumsi maka semakin menggiurkan pula.

Sesungguhnya dalam kompetisi demokrasi dengan cara-cara kasar dan menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan adalah cara-cara Machiavellian yang melahirkan dendam kesumat yang tiada henti. Dalam perspektif moralitas dan akhlak sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang kalah kendati dalam realitasnya mereka menang dan menduduki kekuasaan. Kalah menang mereka adalah orang-orang kalah.

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *