Toilet

Selama di Amerika, saya akan mencoba menuliskan beberapa hal positif dari perilaku dan interaksi masyarakatnya yang menurut saya sangat patut kita ikuti dan teladani. Eh tunggu dulu, sepertinya kita tidak perlu ikut-ikutan dan meneladani, karena sepertinya apa yang mereka lakukan di sini terkait kedisiplinan, kebersihan, keteraturan dan penghormatan tanpa sekat sosial sudah jauh dikenalkan lewat naskah-naskah suci agama dan pesan-pesan adat budaya kita. Mungkin lebih tepatnya untuk mengingatkan kita bahwa ada bangsa di luar sana yang jauh lebih mengamalkan nilai-nilai positif yang kita tuliskan dalam lembaran-lembaran kitab suci dan lontara’ kita, dibanding kita sendiri, terutama saya secara pribadi. read more

Ruang Bernapas, Jiwa Langgas

Puluhan orang berkerumun. Jumlah persisnya saya tidak tahu. Beberapa orang telah saya kenal. Bahkan, amat akrab. Sekotahnya berkumpul di depan sebuah kantor sederhana, di jantung Kota Bantaeng. Depan GOR Bantaeng, hanya sepelemparan batu dari Kantor Pos Bantaeng, dan beberapa langkah saja dari Lapangan Bawakaraeng Bantaeng. Nama kantor itu, Satuan Layanan dan Rujukan Terpadu (SLRT), Dinas Sosial Kabupaten Bantaeng.

Sebagai orang yang diajak berkumpul pagi itu, saya masih meraba-raba dalam tanya, apa yang hendak dilakukan? Dan, sebenarnya mau kemana? Memang, sedari mula saya diberitahu, segenap persona SLRT akan melakukan Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda), dikemas dalam acara family gathering. Saya tabung saja tanya itu. Saya biarkan diri ikut mengalur pada tahapan cerita, memamah di tapak rencana penghelat acara. read more

Menjadi Pahlawan dengan Melawan

10 November, Hari Pahlawan kembali mengulang harinya. Rasanya, baru kemarin kita merayakannya. Memasang status di akun media sosial kita masing-masing, supaya tidak dianggap kudet (kurang update). Sekarang, Hari Pahlawan kembali, dan perayaan serupa mesti berulang. Sepertinya, teknologi telah mengambil alih segala bentuk perayaan kita. Sebuah kedangkalan jika tak diikuti semangat belajar dan mencari tahu, sesuatu di balik dipilihnya 10 November, sebagai Hari Pahlawan.

Hari Pahlawan memang tak seramai hari peringatan lainnya. Anak sekolah pun masih kurang yang tahu. Tatkala saya bertanya tanggal 10 November itu hari apa? Mereka spontan menjawab hari Minggu. Tak salah sih, tapi sudahlah. read more

Mengelola Kemajemukan Identitas

Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi, kabarnya telah meminta maaf atas pernyataannya mengenai larangan cadar dan celana cingkrang di lingkungan aparatus sipil negara. Pernyataan yang membuat isu tentang radikalisme kembali memanaskan situasi kita . Meski demikian, tetap saja ia menganggap pemahamannya sudah benar. “Rasa-rasanya tidak ada yang salah rasanya. Mungkin saya mengangkatnya agak terlalu dini,” katanya yang saya kutip di tempo.co (5/11/10). Pembenaran apapun yang berusaha dibuat oleh Fachrul Razi, ia tetap keliru. read more

Maulid: Mencintai Nabi dengan Sederhana

Berabad-abad yang lalu, 12 Rabiul Awal, Tahun Gajah di malam Senin yang tenang, seorang manusia agung lahir di permukaan bumi.  Beliau adalah Nabi Muhammad Saw, putra tunggal dari Abdullah bin Abdul Muththalib dan Siti Aminah Az-Zuriyah binti Wahab, cucu dari Syaibah bin Hasyim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abdul Muthalib. Al Qur’an menggambarkan, bumi sampai bergetar hebat dan seluruh langit pada hari itu, terang dipenuhi oleh cahaya, setelah Rasulullah yang agung dilahirkan.

Dalam kitab Arahiq Al Makhtum, karangan Syeikh Syafiyyurrahman Al Mubarakfuri, dijelaskan bahwa istana Kisra Anusyirwan (Raja Persia) juga berguncang dahsyat, hingga menyebabkan 14 balkonnya roboh. Di tempat lain, api abadi yang disembah oleh kaum Majusi di Kuil pemujaan di Persia (kini Iran), juga diriwayatkan padam. read more

Lamaran Pertama

Makassaar 21 Mei tahun 1999, kala itu Alan, suamiku, baru berumur 26 tahun, lelaki kelahiran 1973 itu datang ke rumahku membawa hantaran bersama keluarga besarnya. Kami menyambutnya dengan tangan terbuka nan hangat. Papa dan Mamaku mempersilakan ayah dan ibu Alan untuk memasuki ruang tamu, sedangkan Alan hanya duduk di teras rumah. Ia, Alan, nampak gagah dengan balutan kemeja putihnya.

***

Gadis yang kulamar itu bernama Fadilah Triana, ia putri semata wayang dari Pak M. Fahmi Samsu dan Ibu Natasya Nurul Zahira. Kedua orang tuanya dahulu dikenal sebagai orang yang cukup berada, maklum mereka punya usaha jual beli emas, akan tetapi peristiwa krisis ekonomi tahun 1998 dan penjarahan yang terjadi di ibukota membuat keluarga kaya itu terpuruk dan jatuh miskin. Untunglah saat itu Fadilah masih menyimpan satu stel emas—sebagai hadiah perayaan kelulusan sarjananya—untuk dijadikan modal membangun keluarganya kembali. Mereka pun bertolak ke Makassar untuk memulai kehidupan yang baru. read more

Badut, Patch Adam, dan Balada Arthur ”Joker” Fleck

Komedi adalah tragedi tanpa tangis, tragedi adalah komedi tanpa tawa–Abinabanu

DI SUATU waktu,  ia menyelinap masuk di kamar terlarang. Hanya dokter sungguhan boleh masuk di ruangan bercat serba putih itu. Ia masuk dengan niat tulus menciptakan lelucon.  Ia tanpa segan-segan menyelinap di dalam bangsal penderita kanker otak. Di situ ia memanfaatkan alat-alat kedokteran seadanya sebagai perkakas humornya.

Ia mengubah pispot kencing menjadi sepatu raksasa, busa pompa karet menjadi hidung a la badut. Atau, pakaian dokter memeragakan kostum badut yang  melorot. read more

Spirit Literasi, Flashdisk, dan Narasi Kehidupan

Setelah kegiatan bedah buku Pesona Sari Diri, karya Sulhan Yusuf (saya sering memanggilnya Kak Sul) di Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Bantaeng, yang melibatkan saya selaku pembedah, saya menemukan muara, sebagai refleksi dari karya yang cukup gurih, enak, sangat inspiratif, dan filosofis. Bermuara minimal pada diksi “spirit literasi”, “flashdisk” dan “narasi kehidupan”.

Pesona Sari Diri sebagai anak ruhani Sulhan Yusuf, yang kurang lebih 529 halaman, terbagi menjadi empat bagian, merupakan “narasi kehidupan”, yang lahir dari hubungan intim dari “spirit literasi”. Pesona Sari Diri sebagai buah dari proses eksternalisasi, menghabiskan durasi rentang waktu kurang lebih 3 tahun, sebentuk  refleksi atas fenomena, pergulatan, dan pergumulan dinamika kehidupan yang mengitari, mengiringi keseharian Sulhan Yusuf. read more

Gelas Kosong Revolusi

“Sejak jauh hari Gus Yudi Latif menyerukan revolusi mental, kau menolak mentah-mentah. Kau bilang organisasi telah mengasah mentalmu. Pak Nirwan Ahmad Arsuka dan temanmu yang kau sebut kutu buku itu mengajakmu membaca. Kau acuh, membisu, lalu tersenyum receh sembari berkata, kau punya banyak tugas yang harus diselesaikan.

Tetapi kau selalu punya waktu bercumbu dengan wanitamu, orang yang kau sebut beb. Mengahabiskan waktu bercinta dengan kata-kata jorok yang kau sebut puitis. Atau sepanjang malam bersamanya dalam kamar kos berpeluk mesra macam ayah bunda, dan tak ingin pagi segera tiba. read more

Literasi Desa dan Desa Literasi

Kehadiran bulan November tahun 2019, masih belia sekali. Persisnya di pekan pertama, tanggal 2-3, jatuh pada Sabtu-Ahad. Pemerintah Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng, lewat kepala desanya, Amiluddin Aziz, saya didapuk untuk terlibat dalam dua mata acara. Workshop dan bedah buku. Bertempat di Aula Kantor Desa Bonto Jai.

Hajatan workshop, 2 November 2019, menegdepankan tajuk,  “Workshop Literasi Desa”, dibuka oleh Poni Gassing, mewakili Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Bantaeng. Para penghadir yang terlibat, sengaja dipilih dari unsur perwakilan kelembagaan desa dan komunitas. Semisal, BPD, LPM, majelis taklim, PKK, para pendidik, tokoh masyarakat dan agama, serta kaum muda. Selain saya selaku narasumber, juga melibatkan seorang pegiat literasi, sekaligus sosok petualang, Andhika Mappasomba. read more