Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Peresensi

Belakangan saya mulai menyadari keinginan menjadi peresensi buku. Walaupun niat ini akal-akalan saja, memang. Ya mau bagaimana lagi. Semangat membaca saya angin-anginan. Ini cara bulus belaka agar saya membaca buku.

Zaman sekarang, kita harus hidup seperti pelari maraton yang diserang kehausan. Mesti lahap menepekuri buku-buku. Coba pikirkan setiap detik bermunculan penerbit-penerbit buku. Entah legal atau liar, mayor atau indie. Dari moncong mereka kertas-kertas berubah menjadi buku-buku. Puluhan, ratusan, ribuan…. read more

Nasib Rezim Kebenaran di Era Viralisme

Jika seorang perempuan disanjung-sanjung dengan kata-kata indah. Misalnya, “kamu cantik sekali malam ini”. Yakinlah, hatinya akan berbunga-bunga. Namun, ketika ekspresi cantik dipercantik menjadi “syantik”, mungkin ekspresinya akan berubah, apalagi jika ia mempunyai pengetahuan historis tentang viralnya dangdut si syantik. Itulah contoh sederhana betapa hebatnya viral mengubah persepsi atas ekspresi kata-kata. Sama-sama niatnya memuji, cantik, syantik, tapi bisa ditanggapi berbeda. read more

Hukum Lemah, Kabut Asap Menguat

Masalah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Riau telah menjadi peristiwa tahunan yang terulang. Menjadi tragedi menakutkan yang akan selalu dikhawatirkan oleh masyarakat di sana. Bahkan ada perkataan bahwa Riau kini telah memiliki 3 musim. Musim hujan, musim kemarau dan musim kabut.

Tahun 2015, kabut asap Riau pernah mengakibatkan lebih dari 600.000 warga terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan (ISPA) dan 9 orang anak meninggal dunia. Ini kembali terulang di tahun 2016, 2017, dan 2018. Kini, 2019 kebakaran hutan yang kembali terjadi telah berlangsung selama 12 hari. Seluas 108,5 hektar dan hanya menyisakan jarak pandang sejauh 800 meter. Kabarnya inilah kebakaran terparah (Kompas.com 13/09/2019) read more

Panrita dan Catatan Demokrasinya

Panrita meninggalkan kopinya yang belum tandas, membiarkan semut mengerubunginya di selasar masjid. Sore itu, matahari pun masih bergelayut angkuh di langit. Panasnya masih menyengat. Di bawah pohon mangga yang teduh di depan gedung sekolahlah Panrita menuju. Keramaian yang diciptakan anak sekolahan sore itu, mengusik kebiasaannya menenggak kopi dan memaksanya nimbrung dalam keriuhan khas anak remaja.

Perhelatan pemilihan ketua OSIS yang menyita perhatian Panrita tersebut berlangsung cukup alot dan panas. Tetapi tetap dalam suasana demokratis nan meriah. Bagi Panrita, pesta demokrasi terbesar di tingkat sekolah tersebut menjadi angin segar di tengah santernya kabar kematian demokrasi di kota kita. Pedang kekolotan yang dibawa oleh kelompok yang berpelesiran menyita buku-buku yang dianggapnya sesat, bukan hanya memberangus kemerdekaan literasi, tetapi secara pelan-pelan telah menikam demokrasi yang kita dibanggakan. read more

Tirani Mayoritas

SEWAKTU domisili di Kupang, NTT, saya sering menjadi korban bully. Kekerasan rasial dengan mengejek saya Bugis kerap terjadi saat kelahi dengan teman sepermainan. Kelak saya menyadari, etnis seseorang ternyata bisa menjadi bahan kekerasan rasial ketika tinggal di daerah rantauan.

Daerah terutama penduduk asli dan pendatang mengalami jurang ketimpangan sosial yang dalam, bisa menjadi faktor pendorong lahirnya kekerasan sosial.

Di Kupang, mayoritas orang Bugis berprofesi sebagai pedagang. Di pasar-pasar nyaris sebagian pedagang orang Bugis. Toko-toko kelontong di pinggir-pinggir jalan, jika lumayan besar, bisa dipastikan itu adalah orang Bugis. Secara umum, tidak saja orang Bugis, di Kupang, masyarakat pendatang banyak mengambil peran strategis hampir di semua bidang kehidupan. read more

Merdeka! Ya, Berbuku

Dua hari setelah HUT RI ke-74, persisnya, hari Senin,  19 Agustus 2019, sekira pukul 09.00, saya sudah menyata di Aula Kantor Lurah Ereng-Ereng, Kecamatan Tompo Bulu, Bantaeng. Rintik hujan jatuh perlahan  membasahi pepohonan, masih enggan menderas. Seolah hanya menyapa saja. Padahal, pohon cengkeh telah menengadahkan daunnya, buat memandikan diri, sebab mulai kering kerontang. Maklum, musim kemarau mulai mencicil safarnya. Tentu, bukan saja cengkeh, tanaman lain , semisal kopi dan cokelat, pun berharap sama. read more

Selonjoran Bersama Guru Han

Selepas membaca buku Bekisar Merah, karangan Ahmad Tohari, saya menghela napas panjang. Buku ini kurang sesuai dengan ekspektasi saya saat ini, walaupun diakhiri dengan happy ending, salah satu kesukaan saya ketika membaca buku. Kekurangpuasan saya berlanjut, pada buku setipis catatan belanja Ibu, Dekat Nyaring dari Sabda Armandio. Walau di awal terasa menyenangkan, namun ditutup dengan perasaan gantung, dan akhir cerita pun tidak berakhir happy ending.

Saya pun kembali mencari buku dengan harapan mendapatkan rasa senang, serta kepuasan setelah membacanya. Sembari memikirkan buku harapan itu, saya melihat quotes di salah satu instastory seorang kawan, “Cukuplah rayap saja yang menghancurkan buku.” (Guru Han). Sepertinya kalimat ini tidak asing. Benar saja, setelah berupaya mengingat sosok Guru Han, hal pertama terlintas di kepala saya, ia botak licin layaknya lampu taman. read more

Ular Merah Putih

Beraneka cara merayakan HUT NKRI ke-74. Secara umum, anak-anak negeri menandainya dengan berbagai macam lomba. semisal, lari karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, dan lainnya. Pun, di bidang seni,  beragam lomba digelar, sebentuk, baca puisi, lagu perjuangan, dan seterusnya. Intinya, beriang gembira, dengan harapan tiba rasa senang, syukur bisa bahagia. Waima, semua jenis lomba itu, sudah amat konvensional. Berlangsung dari tahun ke tahun. Anehnya, tetap dinanti buat dihelat.

Hingga beberapa hari kemudian, aura perayaan itu masih terasa. Berlaksa gambar dan video, bertebaran di dunia maya. Nyaris setiap orang yang punya akun media sosial, mengabadikan apa yang dibikin pada jelang, saat, dan sesudah perayaan itu. Saya pun turut ambil bagian. Setidaknya, foto akun media sosial saya, terbingkai dengan simbol merah putih, ditambah beberapa kata, sebagai penanda ikut merayakan kemerdekaan. Tak ketinggalan pula, saya ukir di status, tentang  rasa merdeka. read more

Sepucuk Surat Cinta untuk Bapak Rektor

Assalamu’alaikum Pak Rektor, Prof Hamdan Juhannis. Semoga sehat dan berbahagia selalu.

Ribuan ucapan selamat mungkin sudah berdatangan semenjak terpilih hingga dilantiknya bapak menjadi pimpinan tertinggi di UIN Alauddin Makassar (UINAM). Maaf karena terlambat mengucapkannya pada Bapak.

Sekali lagi, selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Rektor UINAM untuk periode 2019-2023. Semoga amanah dan bertanggungjawab dalam memimpin pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di UINAM. Mudah-mudahan jabatan itu bisa menghantarkan Bapak untuk semakin menjadi pribadi yang sederhana, bijaksana, humanis dan tidak arogan apalagi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga Bapak bisa menjadi tauladan bagi kami para masyarakat kampus peradaban, UINAM. read more

Manakala Rasis Jadi Gorengan

Seorang guru terburu-buru keluar dari kelas menuju ruang kantor. Ia duduk sambil berkata

“Miss, ada masalah tadi di kelas. Saya tidak tahu apakah ini masalah besar, tapi menurutku harus saya jelaskan di sini.”

Saya dan dua orang staf di kantor pun terdiam, dengan rasa cemas saya mendengarkan penuh perhatian informasi yang ia sampaikan. Ia bercerita jika sewaktu mengajar, antara siswa A dan B terjadi clash, karena perbedaan pendapat mengenai penilaian tugas yang diberikan. Lalu si B mengancam, tidak akan mengerjakan tugas, walau ia akan mendapatkan nilai nol, tetap ia terima. Akhir cerita, si guru tetap mengambil keputusan atas voting siswa terbanyak daripada memilih keinginan si B. Kami pun berjanji akan mengkomunikasikan masalah itu. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute