La Tahzan

Saudaraku,  pernahkah kau berjumpa dengan pipi yang tak pernah basah oleh airmata?

Juga rumah yang tak pernah ada duka di dalamnya?

Pernahkah kau berjumpa dengan seseorang yang tak pernah marah?

Juga hari yang tak Nampak cahaya matahari di dalamnya?

Dan telah nyata bagimu bagaimana Kami berbuat terhadap mereka dan telah kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan” (QS Ibrahim: 45)

 

Anehnya,  bagaimanapun besarnya hal yang menimpa kita, tak akan ada yang setega itu menyalahkan Tuhan. Tak ada yang benar-benar berani menghujat,  meraung-raung mempertanyakan  mengapa ‘ini harus terjadi’,  atau juga ‘mengapa harus kami’. Semua hal  besar yang terjadi dan mengambil harta,  nyawa, serta kekuatan kita pada akhirnya,  akan dipersalahkan kepada tangan-tangan manusia. Karena rumput yang bergoyang pun tak ingin menjawab,  maka kenyataan ini mungkin benar.

Manusia,  kapankah akan datang sejahteranya? Justru aneh kalau kita tanyakan kapannya karena hal itu tidak akan pernah terjadi. Bumi adalah tempat kita mengais-ngais rejeki, sambil menikmati ujian dan cobaan yang berganti. Suka diganti duka,  naik diganti turun,  kanan diganti kiri,  miskin diganti kaya,  sehat diganti sakit dan macam-macam pergantian lainnya.

Berapa banyak orang kaya yang kehilangan uangnya dalam satu kedipan mata?

Berapa banyak orangtua yang merana karena dibunuh anaknya?

Berapa banyak manusia yang marah karena dipenjara?

Berapa banyak manusia yang mengeluh kesakitan karena tak bisa bicara?

Banyak.

Jangankan mereka,  cerminlah pada diri sendiri. berapa banyak yang bahagia hatinya 2 jam yang lalu,  dan kemudian menjadi berduka-duka di 2 jam setelahnya. Berapa banyak yang marahnya setengah mati,  lalu berganti menjadi tertawa berikutnya. Memang dunia ini bulat adanya,  dan sifatnya pun demikian. Terbolak-balik juga kita yang hidup didalamnya.

Syahdan,  mengenai hal ini telah jauh-jauh hari Allah menjaminkan bahwa tidak ada sedih yang kekal,  juga tidak ada bahagia yang tetap tinggal. Yang fana adalah rasa dan yang kekal hanyalah Dia.

Apapun hal yang dicipta olehNya,  suatu hari pada hari yang kembar akan pergi jua. Tua,  lapuk,  usang dan mati. Apapun hal yang dicipta olehNya,  suatu hari akan merasakan kesulitan yang tiada tara hingga ia kembali kepada Tuhan dengan keadaan bersih dari dosa-dosanya. Perniagaan yang menguntungkan bukan?

Namun bagi kita yang telah silau dengan hias-hiasan dunia,  tentu mendengar kalimat tersebut justru tidak melegakan. Hati masih saja waspada dan senantiasa diliputi sedih. Kita masih urung percaya dengan perniagaan ini. ‘Rela, sabar dan ikhlas di beri cobaan di dunia,  hingga pulang ke kampung akhirat dalam keadaan bersih dari dosa-dosa masa lalu’,  adakah yang benar-benar mau?

Masih banyak yang tak rela rumahnya di sapu Tsunami. Masih banyak yang tak sabar anaknya tewas karena tertimpa reruntuhan bangunan. Masih banyak yang tak mau badannya  memakai pakaian yang biasa-biasa. Masih banyak yang dilema di dalam hati akankah Tuhan benar-benar ganti?. Akankah Tuhan benar-benar ganti? Akankah saya benar-benar ikhlas dan Nrimo?

Padalah sudah jelas kita berjanji bahwa saya hanya akan menjadikan Dia sebagai satu-satunya Ilah,  disaksikan oleh  langit bumi beserta segala isinya.

Dengan menyatakan itu,  serta merta pula raga dan jiwa sangat siap dengan yang namanya kehilangan,  karena semua hanya milikNya dan kapan-kapan jika ia mau ambil itu terserah Dia.  Dengan menyatakan itu,  serta merta kita berjanji akan tetap percaya dan setia menyembahNya walau diri berdarah-darah kelaparan. Dengan mengambil janji seperti itu,  manusia telah bersikukuh dan wajib hukumnya untuk tunduk dan patuh hanya kepada satu hal yang paling Akbar kekuasaan dan kebaikannya,  yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Sakit? Tentu. Penulis sendiri mungkin orang yang paling pertama melanggar janji. Tidak sabar dan berduka jika mengalami kehilangan.

Takut? Mesti. Penulis sendiri tak pernah mau membayangkan jika suatu saat nanti harus hidup di tengah-tengah orang yang sedang perang sana-sini.

Lapar? Ya. Penulis sendiri tidak pernah membayangkan bagaimana harus menanggung pedihnya lapar dahaga dan hanya  rumput yang bisa dimakan.

‘dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir dan batin’ (QS Luqman : 20)

‘maka nikmat Rabb yang manakah yang kamu dustakan?’ (QS Rahman : 13)

Diri kita benar-benar berada pada kehinaan di saat tidak pernah bersyukur karena diberikan kaki yang bisa berjalan sendiri,  dimana banyak sekali manusia yang meraung-raung minta di beri kesembuhan pada kakinya yang lumpuh

Tahukan kita bahwa tak pernah ada  manusia yang paling rendah dari dia yang tidak pernah mensyukuri amannya Negara sendiri dari serangan makhluk-makhluk perusak bumi lainnya,  di saat Palestine hanya tinggal sisa-sisa.

Anak-anaknya terkapar kelaparan

Bapaknya merana kehilangan kaki dan tangan

Wanita-wanitanya tak punya lagi kehormatan

Dan apa yang mereka-mereka teriakkan?

barangsiapa yang oleh Allah dikehendaki menjadi baik maka ia akan diuji olehNya’ (Al-Hadits)

Juga mereka melanjutkan

‘dan cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi Petunjuk dan Penolong’ (QS Furqan : 31)

Bisakah kita melapangkan hati seluas itu untuk sabar terhadap ujian?

Meskipun itu beruntun dan seperti saling berkejaran,  bisakah kita ikhlas melepas kehilangan?

Bisakah kita menyiapkan hati untuk senantiasa bertubat dan bersyukur untuk hari ini? Melupakan masa lalu yang mungkin sangat pedih untuk diingat dan menatap hari yang masih sangat berpeluang untuk kita goreskan kebaikan di dalamnya? Bisakah kita hanya percaya kepada Allah dan menyerahkan semua diri dan jiwa hanya kepadaNya,  tunduk dan patuh pada perintahnya, ridha dengan segala ketetapanNya dan juga berbaik sangka kepadaNya?

Bahwa kesabaran Nabi Ibrahim dapat mengubah panasnya api menjadi dingin dan sejuk. Apalagi jika hanya meluluhlantakkan kekasaran hati?

Bahwa berprasangka yang baik kepadaNya hanya akan melahirkan jiwa yang terus terisi dengan kebaikan-kebaikan. Apalagi jika itu hanya mengembalikan harta melimpah?

Bahwa bertawakkal kepadaNya dapat memberikan perasaan untuk selalu merasa cukup akan kehadiranNya. Alapagi jika itu hanya menyembuhkan dari bencana?

Saudaraku,  Hari esok itu belum terjadi dan mari membuatnya lebih baik. Hingga Dia..

‘lalu,  menurunkan ketenangan atas mereka’ (QS Al-Fath : 18)

 

Bahasa Alam (2)

Tubuh alam kadang menjadi hal yang terabaikan begitu saja. Suatu yang ironis, karena kita tiap hari didekap erat. Denyut nadi hidup kita ada di dalam dekapan alam. Alam berkasih sayang dengan ikhlas.

Saat ia tergores akan muncul reaksinya. Walau begitu ia tidak bergegas menumpahkan amarahnya. Kalau hutannya digunduli, tanah di sekitarnya akan diam-diam mengagetkan pembalak atau pemukim di sekitarnya. Sebaliknya, keluarga kita ini sangat bersahabat jika diperlakukan dengan baik. Ia akan memberikan semua tanda-tanda tentang hal-hal yang akan terjadi padanya.

Dahulu banyak cerita di tengah masyarakat tentang air laut berdiri. Ia adalah pemandangan yang indah ditonton oleh warga dari atas bukit. Ombak yang tingginya sampai belasan meter itu seakan berdiri lalu menyapu dataran rendah mulai dari estituaria hingga tepian kaki kars. Mengamuk namun enak ditonton karena di sana ia dihadapi oleh tebalnya hutan bakau. Bakau hancur, perumahan yang sudah ditinggalkan lebih dahulu penghuninya itu hanya bergeser sedikit. Air laut berdiri itu tak lain adalah tsunami.

Dihantam tsunami, hewan dan ikan tidak satu pun terlihat di tepi pantai. Sepertinya mereka amat paham apa yang sesungguhnya akan terjadi. Mereka mengikuti irama alam ini sambil tetap hidup di habitatnya dengan tenang. Manusia sajalah yang justru mengalami korban jiwa walaupun pun masih sangat sedikit. Kasus Palu dapat diambil sebagai contoh. Tercatat ada 12 orang meninggal dalam bencana air laut berdiri di Palu pada tahun 1927 dan 200 orang pada tahun 1968.

Tatkala lanskap pemukiman berubah cepat, sepertinya reaksi alam mulai berubah. Banjir, longsor, dan abrasi serta macam-macam bencana mucul menjadi ancaman. Perilaku alami bumi tetap berlangsung. Mungkin saja bukan reaksi alam namun dilihat sebagai bencana karena sudah menelan korban jiwa. Banyak bahasa alam yang mulai dilupakan manusia.

Penduduk menggenjot pertumbuhan ekonominya dengan mengubah banyak sekali kenampakan alam. Hutan bakau dibabat habis. Di sana didirikan pemukiman. Sebagiannya digunakan untuk pertanian demi keperluan industri. Pemukiman berjejer menghadap laut yang menganga tanpa masker. Tatkala gempa mengguncang warga menghadapi reruntuhan batu. Batu yang jadikan dinding tak diikat dengan sistem –dinding- yang baik. Semua itu karena perhitungan ekonomi yang berbeda dengan bahasa alam.

Kala pemukiman didirikan di daerah rentan kejadian alami seperti gempa, maka sebenarnya sudah ada konsekuensi yang harus ditanggung tanpa tawar-menawar. Sayangnya, kemampuan kita itu mamahami bahasa alam ini sangat kurang.

Palu pada tahun 1927 mulai menuai akibat buruk itu. Gempa mengguncangnya pada 6 SR. Ribuan orang menjadi korban, belasan meninggal dunia karena air laut berdiri itu. Gempa yang lebih kuat terjadi lagi pada tahun 1938 pada magnitudo 7,6. Kali ini kian meluas ke wilayah sekitarnya.

Kali ini dengan magnitudo yang hampir sama, Kota Palu berantarakan lagi. Ia menjadi kota mati dalam hitungan beberap menit saja.

Ada yang mencoba menghubungkan kejadian yang amat dahsyat ini dengan perikaku kemusyikan. Upacara Palu Nomoni dituding menjadi biang kehancuran Palu 28 Oktober lalu. Ditengarai ada praktik kemusyrikan dalam perhelatan budaya itu.

Apakah memang demikian? Apakah ini bukan karena ketidakmampuan kita membaca bahasa alam? Tentu menarik untuk ditelusuri dalam perspektif budaya. Apakah dosa besar harus selalu dijawab dengan kejadian yang sering disebut bencana?

Sebelum kenabian ditutup, Tuhan sangat sering mengirim kejadian luar biasa kepada sekelompok orang. Kejadian mana membuat manusia mengakui Keagungan Tuhan. Tuhan sering juga menghukum sekelompok manusia karena pembangkangannya terhadap seruan mengesakan-Nya.

Ajakan untuk menggunakan akal tidak mumpuni mengantar manusia ke pintu iman. Peradaban manusia pada periode tersebut belum tiba pada tingkatan yang kompatibel dengan sistem pandangan dunia berbasis akal. Ia harus dibantu dengan peristiwa ajaib yang melampaui hukum-hukum alami, misal kausalitas.

Itulah yang dikenal dengan mukjizat. Ia adalah suatu pengecualian. Mukjizat menyela hukum-hukum alamiah. Hukum alamiah yang bergerak di alam semesta tetap berjalan sebelum dan setelah munculnya mukjizat tersebut. Mukjizat hanya terjadi satu kali untuk selamanya dan tidak dapat diulangi oleh siapapun pada saat yang lain.

Kalau tiap saat peluang keajaiban mukjizat itu bisa terjadi, maka tentu kita akan sulit membedakan peristiwa alamiah biasa dengan teguran atau ujian dari Tuhan. Akan muncul peluang untuk saling menipu mengatasnamakan hukuman Tuhan.

Selain itu, mukjizat selalu harus dicatat di dalam kitab suci. Ia menjadi arsip penting untuk sejarah bahwa pernah terjadi pada masa tertentu, Nabi diingkari lalu umatnya disadarkan dengan kajaiban. Mukjizat yang sudah pernah terjadi tidak akan terjadi lagi setelahnya. Orang saleh yang tidak dibakar api hanya terjadi satu kali yakni pada Nabi Ibrahim as. Sesudah itu, Nabi Ibrahim pun tak bisa mengulanginya lagi, atau Allah tak mengulangi lagi pada siapapun termasuk pada Nabi Ibrahim as itu sendiri.

Kalau seluruh masa hingga kiamat manusia hanya bisa disadarkan hanya dengan keajaiban maka tentu akan banyak sekali kemungkinan munculnya kejadian luar biasa yang melampaui hukum-hukum alamiah. Padahal hukum alamiah itu adalah bukti keseimbangan semesta berdasar Keadilan Tuhan.

Demi menjaga keseimbangan tersebut maka manusia setelah era kenabian dibekali dengan satu mukjizat agung bernama Alqur’an. Ia adalah kitab ilmu pengetahuan. Manusia pasca kenabian hingga akhir zaman adalah manusia yang berada di etape kesempurnaan pemikiran dan peradaban. Saat mana, nalar menjadi perangkat utama untuk mencapai keyakinan. Bukan mengandalkan keajaiban lagi.

Dengan demikian, manusia diajarkan untuk meyakini Kemahabesaran Tuhan benar-benar melalui kesadarannya dengan mengoptimalkan perangkat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ajakan Alquran untuk menajamkan akal sangat tegas dalam misi ini.

Konsep ketuhanan versi Alquran untuk masa selanjutnya tidak lagi berbasis keajaiban peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya. Justru pada keteraturan hukum-hukum alamiah itulah terdapat Kemahabesaran Tuhan. Keajaiban diubah maknanya menjadi pengakuan akan Kemahabesaran Tuhan karena tertib semesta ini memang sangat menakjubkan. Baik pada kosmos luar diri maupun kosmos diri manusia sendiri terdapat keteraturan hukum Tuhan yang dapat mencegah dan menundukkan kesombongan bagi orang-orang yang berpikir.

Demikianlah, usai kenabian hukum-hukum semesta dan bahasa alam ini berjalan secara alamiah. Manusia diajarkan untuk menyadari adanya dosa dan akibat-akibatnya dengan cara menajamkan akal untuk mengimani Tuhan. Tidak lagi diperlihatkan suatu hukuman kontan dan dahsyat di luar kausalitas alamiah sebagai akibat kedurhakaan.

Hal demikian ini bermanfaat pada pengembangan peradaban manusia secara rasional. Tidak ada peluang untuk mengajak manusia mencapai kemajuan peradabannya hanya dengan upacara peribadatan semata tanpa ikhtiar keilmuan.

Tuhan akan memberi hukuman setimpal dengan perbuatan manusia itu sendiri.  Perbuatan musyrik misalnya tidak lagi dijawab dengan peristiwa alam yang melampaui hukum-hukum alamiahnya, melainkan mengalir dalam sebab akibat alami hingga ia sampai pada kejadian yang menjadi konsekuensi logis perbuatan tersebut.

Dengan perspektif ini maka peluang untuk mengatasnamakan peristiwa menakutkan sebagai hukuman atas dosa manusia dapat diurai secara rasional. Jika itu berkenaan dengan kekeliruan manusia ketika memperlakukan alam ini maka alam akan bereaksi menuju keseimbangannya yang mungkin saja berbahaya bagi manusia. Longsor bebukitan adalah akibat penebangan hutan yang melampaui ambang batas dan carring capacity alam. Begitu juga bencana yang menimpa pemukim karena belum mengetahui gejala peristiwa alamiah seperti gempa bumi dan tsunami.

Ini semua menantang akal untuk mengenali bahasa alam.  Persepektif ini mengajak manusia untuk menggali tanda-tanda (ayat) Tuhan dan Kekuasaan-Nya di alam semesta agar dapat digunakan untuk kemaslahatan, mengantisipasi dampak buruk, dan sebagainya.

Manusia pasca kenabian dibekali dengan kemampuan membedakan hukuman Tuhannya yang merupakan akibat kelalaiannya dengan peristiwa alamiah semesta. Konsep ketuhanan tidak lagi berada di luar jangkauan kesadaran manusia. Oleh sebab itu manusia bisa lebih arif dalam berhadapan dengan semesta tempat hidupnya.

Saat ini kita berada di alam pasca kenabian. Kesadaran untuk hidup saleh dan menjauhi maksiat tidak lagi karena ditakut-takuti oleh bencana alam, sebab bencana alam semula adalah kejadian normal dalam semesta.

Kesadaran kita harus sampai pada tingkat tertinggi yakni keyakinan akan datangnya hari pembalasan. Akal kita harus tiba pada kesadaran bahwa Tuhan tidak lagi akan menegur manusia sekonyong-konyong lewat jeweran alam kecuali sebagai suatu konsekuensi logis dari kekeliruan dalam pengelolaan alam.[]

 

Ilustrasi: http://www.mysultra.com/masih-banyak-yang-salah-alamat-ke-bpbd/ilustrasi-bencana-alam-internet/

 

Bahasa Alam (1)

Gempa bumi dengan derajat guncangan tinggi Agustus 2018 di Mataram, Nusa Tenggara Barat disusul pada bulan ini gempa disertai tsunami di Palu dan Donggala pun memperpanjang deretan kejadian menakutkan itu. Tidak ada pilihan lain untuk menempatkan kejadian alam ini sebagai sesuatu yang patut mendapat perhatian.

Gempa ini disebut sebagai bencana dalam ungkapan publik kita. Gempa adalah kejadian geologis namun secara sosiologi ia adalah bencana.

Gempa sebagai peristiwa geologis sebenarnya biasa saja. Peristiwa alami yang tak dapat dicegah. Justru gempa bumi diperlukan oleh bumi itu sendiri.

Naskah-naskah ekologis menyebut adanya suatu sifat alami bumi ini yang disebut sebagai homeostatis. Ia adalah kemampuan bumi dan komunitas yang terdapat di atasnya untuk memulihkan dirinya sendiri. Perubahan alam yang terjadi secara alami  bisa saja terlihat seperti kehancuran namun pemulihan bentuk dan fungsinya akan dilakukan sendiri. Kemampuan itu hanya akan berlangsung jika ambang batasnya tak terlampaui.

Homeostatis adalah bahasa alam. Ia menyapa manusia sekelilingnya dengan kesahajaan tanpa basa-basi. Makhluk hidup dan benda alam lainnya juga memiliki keharmonisan berbahasa engan gerak alaminya masing-masing.

Laksana drama semesta, sahut-sahutan komponen alam ini sebenarnya sedang berlangsung. Hanya manusia yang merupakan komponen alam yang perlu memahami lebih mendalam. Ini lantaran manusia memiliki potensi ekspresif yang amat berbeda dengan benda semesta lainnya.

Ekspresi manusia di alam sangat berbeda dengan komponen alam lainnya. Semula ia menjadi bagian organik dari alam. Lambat laun manusia mengerti ekonomi dan membentuk kelas sosial. Lalu tercipta perlombaan gaya hidup.

Lewat itu semua, manusia mulai melepaskan diri dari tubuh alam. Ia membuat panggung alam kini dihuni oleh dua komponen yang saling terpisah. Keduanya adalah manusia dan benda-benda di luar manusia. Benda-benda itu dianggap sebagai pemuas kepentingan dan gaya hidupnya.

Konsepsi diri manusia yang seperti inilah yang menyebabkan munculnya pengertian bencana secara sosiologis. Doa-doa dipanjatkan agar kejadian alami itu tak perlu terjadi. Suatu hal yang sesungguhnya bertentangan dengan bahasa alam.

Manusia tiba-tiba ingin memaksa alam mengubah bahasanya. Padahal seharusnya manusia bekerja keras mengembangkan ilmu pengetahuan sesuai untuk menyesuaikan diri dengan bahasa alam ini. Teknologi deteksi dini, desain kota, dan bangunan, seharusnya menjadi seni “berbahasa” manusia yang dikembangkan di masa depan.

Doa dalam bahasa manusia seharusnya memohon agar cahaya Allah yakni ilmu pengetahuan dan hikmah selalu dilimpahkan kepada para periset agar mampu menemukan perangkat ilmu untuk menjamin keamanan di masa depan.

Ikhtiar keilmuan amat diperlukan. Mengenal berbagai karakteristik geologis dan ekologis adalah cara terbaik untuk menyahuti bahasa alam. Rekayasa manusia secara tepat akan menjadi jawaban terbaik. Tidak sekadar menjadi usaha penyelamatan jiwa melainkan penyelamatan nalar agar tetap sehat. Melihat bencana tidak sebagai kutukan melainkan ujian. Bukan untuk menyadari nasib yang dianggap telah ditentukan Tuhan, melainkan menyadari ujian dari Tuhan untuk meningkatkan kreasi manusia. Bahasa manusia harus tetap menjadi bagian organik dari bahasa alam, karena begitulah Bahasa Tuhan Semesta Alam.

Bincang saya dengan teman yang menekuni kuliah filsafat menjelaskan bahwa gerak di alam ini selalu terjadi. Geraknya bukan saja berupa perubahan pada aksidennya melainkan substansinya. Lupakan dulu istilah-istilah filsafat ini sebab kita tidak ingin menghapalkannya untuk menghadapi ujian komprehensif!

Prinsipnya, semua anggota keluarga ekologi kita ini sedang bergerak. Mereka sedang berubah untuk menyempurnakan atau mencapai posisinya yang stabil. Menurut naskah yang ditulis beberapa pemikir bahwa gerak adalah keluarnya sesuatu dari potensi menuju aktus. Anggota alam semesta kita ini tidak akan tinggal diam.

Ketika gerak salah satu anggota keluarga ekologis kita itu sedang berlangsung, maka rekan-rekannya yang lain akan menyesuaikan diri. Sungguh pun terlihat akan menimbulkan gangguan, namun kekompakan mereka memperlihatkan harmoni. Tidak saling meniadakan.

Respon mereka bak simfoni musik yang saling melengkapi. Toh, jika terjadi kerusakan maka mereka akan memperbaiki dirinya sendiri secara alami. Itu demi memberi kesempatan buat anggota keluarga ekologisnya mencapai proses perubahan lebih stabil.

Proses ini dinamakan dengan adaptasi. Mereka akan menyesuaikan diri secara alamiah dengan perubahan apapun yang terjadi di sekitarnya. Adaptasi dapat dilakukan dengan beruaya, bahkan jika terpaksa mereka mengubah sel-sel secara evolutif.

Ruaya adalah perpindahan kelompok hewan tertentu secara besar-besaran ke tempat lain. Ruaya adalah bahasa alam. Ia menggambarkan terjadinya suatu peristiwa alami yang sebenarnya biasa saja. Andai saja kita mengerti bahasa ini maka proses penyesuaian diri terhadap perubahan alam dapat dilakukan.

Sehari setelah gempa di Palu dan Donggala, seorang penjual nasi kuning di Pantai Manakarra, Mamuju, bercerita. Dirinya tak ikut menyingkir ke bukit-bukit. Ia menjelaskan bahwa tanda-tanda alam belum terlihat. Ia meyakini bahwa burung-burung tertentu akan berpindah secar besar-besaran jika akan terjadi perubahan di laut.

Saya tidak tertarik ikut pro-kontra usai penjelasannya itu. Saya hanya meyakini juga bahwa ilmu pengetahuan kita belum maksimal mengungkap rahasia bahasa alam ini. Celakanya lagi, kearifan lokal kita sudah kian tergerus. Budaya kita dulu banyak menyimpan pengetahuan tentang perilaku semesta ini. Ia dihentikan oleh kekejaman paradigma ilmu modern.

 

KLPI Bukan Ruang Pertemuan Pahlawan dan TBPI Bukan Markas Power Rangers

Kelas Literasi Paradigma Institute (KLPI) hadir kembali. Baru saja membuka kelas perdana untuk angkatan ke-5. Peserta sebanyak 37 orang. Di Toko Buku Paradigma Ilmu (TBPI) mereka berkumpul. Menyimak wejangan Kanda Sulhan Yusuf—CEO Paradigma Group—mengenai orientasi KLPI. Ruangannya pengap dan sempit karena dijejali buku-buku. Peserta yang jumlahnya cukup banyak akhirnya berhimpit-himpitan. Tapi percayalah, semangat dan harapan yang membangun komunitas ini seluas galaksi Bima Sakti.

KLPI memang bermula dari semangat untuk menjadi bagian dari kosmologi literasi. Meski hanya sebagai entitas kecil belaka. KLPI juga bergerak atas dorongan harapan akan terciptanya masyarakat berbudaya literasi. Meski sumbangsinya tak banyak, Tapi KLPI percaya, berbuat sesuatu adalah hal yang paling dibutuhkan saat ini daripada saling menyalahkan atas terpuruknya budaya literasi masyarakat.

Ada banyak jalan menuju Roma, kata peribahasa klasik. Harapan terwujudnya masyarakat berbudaya literasi tentu bukan hal mustahil terwujud. Asalkan ada segelintir—dalam bahasa Arnold Toynbee—creative minority yang siap bergerak mewujudkan harapan itu. Buktinya, hanya berawal dari sebaran pamflet sederhana di media sosial. Ajakan berliterasi bisa memantik niat segelintir orang untuk bergabung membenahi diri. 37 anak muda ini akhirnya terpanggil untuk belajar.

Bisa dibayangkan. Jika kegiatan literasi dilakoni secara intensif oleh banyaknya komunitas yang tersebar di berbagai penjuru. Bukan tak mungkin, harapan terwujudnya Makassar menuju kota Literasi, atau Indonesia menuju negara literasi bisa menjadi nyata. Mulanya budaya literasi itu ditanamkan dari individu ke individu melalui ruang diskusi. Seperti biasanya, hanya segelintir saja yang berhasil terprovokasi.

Di antara segelintir ini, ada secuil subjek yang bersedia menanamkan semangat literasi di lingkungan sosialnya. Seterusnya demikian. Perlahan tapi pasti. Mungkin hasilnya belum bisa dipetik pada generasi saat ini. Namun di generasi selanjutnya—entah di generasi ke berapa—budaya literasi bisa saja terwujud secara masif melalui benih-benih dari generasi sebelumnya.

Apa salahnya bermimpi, Bung. Mumpung masih gratis. Lagi pula, mimpi-mimpi kebangkitan masyarakat literasi ini bukan semacam utopia yang tak memiliki referensi di dunia nyata. Dia lebih riil di banding utopia akan tatanan masyarakat tanpa kelas ala Marxisme, atau negara ideal ala Platon, misalnya.

Sebab fenomena kebudayaan literasi itu benar-benar ada. Hanya belum merata. Agar bisa meluas di ranah kehidupan masyarakat, budaya literasi ini tentu perlu diperjuangkan. Memperjuangkan mimpi ini setidaknya lebih bermanfaat daripada terus berkelahi demi mendukung salah satu kandidat presiden, yang belum tentu memikirkan nasib kita.

Tentu KLPI hadir bukan sebagai ruang bertemunya pahlawan sok jago yang ingin memperjuangkan tatanan dunia baru. Dan TBPI bukan sejenis markas Power Ranger. KLPI sadar diri hanya sebagai entitas kecil dari kosmologi literasi. Tapi KLPI punya tekad yang besar menyumbangkan sumbangsi bagi perjuangan tatanan masyarakat literasi meski sejumput saja. Relawan KLPI hanya tahu, literasi itu penting dan memperjuangkannya adalah sebuah kebaikan bernilai berpahala.

Bahkan, relawan dan peserta kadang mencuri sedikit waktu untuk ketawa-ketiwi ketika proses belajar di kelas berlangsung. Karena memang KLPI tak punya tampang untuk bisa disebut sebagai ruang pertemuan para pejuang yang hendak membahas cita-cita revolusi secara serius. KLPI hanya ingin memperjuangkan satu elemen penting dalam masyarakat: literasi. Perjuangan yang tentunya dijalani dengan gembira, banyak bercanda, sambil menikmati hangatnya kopi hitam dan pisang goreng buatan Yunda Mauliah Mulkin.

KLPI telah memasuki angkatan ke-5. Tentu bukanlah perjalanan yang mudah. Kadang semangat melanjutkan kelas ini meredup. Kemudian menyala lagi. Redup lagi. Menyala lagi. Seterusnya demikian. Namun, relawan KLPI kadang tidak tega, jika orang-orang bertanya: “kapan kelas dibuka lagi?”, “Kak Hajir, kabarika kalau mau buka kelas lagi nah!”.

Relawan KLPI merasa bersalah jika tidak menjemput antusiasme orang-orang yang memilih KLPI sebagai ruang membenahi tradisi literasinya. Para relawan tentu bersyukur, jika KLPI dipercayai sebagai—ibarat kawah candradimuka— ruang membenahi diri. Itu artinya, orang-orang mulai melihat KLPI sebagai salah satu gerakan bagi masa depan kemajuan literasi masyarakat.

Selamat bergabung, peserta KLPI Angkatan ke-5. Mari menjadi bagian dari sejarah.

Berdialog dengan Alam

Jumat sore usai silaturrahim ke rumah sepupu sambil menjalankan terapi yang disarankan dokter, kampung kami guncang. Suasana berubah menjadi kepanikan. Penduduk berlarian keluar rumah.

Televisi dan berbagai media sosial menyiarkan telah terjadinya gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Daerah kami, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, yang berdempet dengan Sulawesi Tengah pun kena guncangan magnitudo 7,4 itu. Sebagian penduduk mengungsi sebagai antisipasi jika ada tsunami. Maklum jarak kampung kami dengan tepi laut hanya beberapa meter saja. Ada rumah yang bahkan tepat di bibir pantai.

Publikasi terakhir, hingga tulisan ini saya bikin, berdasar pada koran Kompas, Sabtu, 29 September 2018, bahwasanya gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah ini, berkekuatan M 7,4, lokasi 0,20 LS dan 119,89 BT. Kedalaman 11 km, berpusat di 26 km utara Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa terjadi pada pukul 17.02 WIB.

Gempa ini menimbulkan tsunami dengan ketinggian 1,5 meter hingga 3 meter, yang diperkirakan tiba pukul 17.22 WIB. Tsunami tersebut berakhir pukul 17.36 WIB. Penyebab gempa bumi dangkal akibat aktivitas sesar Palu-Koro. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini dibangkitkan oleh deformasi dengan mekanisme pergerakan dari struktur sesar mendatar (slike-slip).

Lebih jauh lagi, dikabarkan oleh Kompas, jalur telekonunikasi lumpuh hingga lewat tengah malam. Akibatnya, gempa bermahnitudo 7,4 yang berpusat di Kabupaten Donggala, yang disusul tsunami di pesisir Teluk Palu, sampai Jumat malam belum jelas benar dampaknya. Berapa korban jiwa meninggal dan luka-luka belum ada kepastian. Pun, taksiran jumlah kerugian material. Yang pasti, banyak warga Sulteng yang bersiaga di luar rumah, mengungsi ke daratan yang lebih tinggi, karena khawatir gempa susulan dan tsunami.

Anjuran agama, khususnya Islam, menganjurkan kepada umatnya, tatkala mengalami peristiwa menakutkan adalah Salat Ayat. Saya melmbaca media sosial dipenuhi dengan doa agar keluarga dan rekan di area kejadian selamat.

Sebagai orang yang mengimani hal itu doa pun terpanjat dari lisan saya. Namun selain itu, ada semacam refleksi atas kejadian ini. Ini adalah bahasa alam. Berdialog dengan alam tentu akan lebih baik mengiringi doa-doa.

Gempa adalah kejadian alami. Beda dengan banjir, longsor, erosi, abrasi, atau kebakaran dan yang semacamnya. Ada unsur tangan manusia pada deretan contoh kejadian yang disebut terakhir ini. Bagaimana dengan gempa bumi dan tsunami? Kejadian alami.

Baik gempa maupun longsor dan semacamnya adalah bahasa alam. Bedanya, longsor dan semacamnya adalah respon alam atas kelakuan tangan manusia. Dialog dengannya adalah dengan cara menghentikan kebiasaan buruk kepada semesta ini, seperti menebang vegetasi besar di lahan rawan bencana.

Program edukasi dan literasi lingkungan menjadi mendesak dilakukan. Pengetahuan manusia sudah seharusnya dapat menyapa alam sekitar dengan ramah. Program dan perencanaan perlindungan sudah perlu menjadi bahasa manusia sehari-hari.

Kejadian-kejadian alami memang tak dapat dihentikan. Gempa bumi tidak bisa dicegah. Akan tetapi, sebagai bahasa alam manusia perlu memiliki cara menyapanya.

Keperluan manusia adalah eliminasi terjadinya kerusakan dan korban yang akan berjatuhan. Ikhtiar manusia dapat mencipta optimisme untuk mengurangi dampak tersebut. Upaya mengungkap tanda-tanda kejadian semacam itu bukan mustahil ditemukan secara lebih dini.

Itu sebabnya, tiba-tiba selain berdoa, yang teringat setelah gempa mulai mengguncang itu adalah sepupu saya. Ia kini tengah berada di Chiba, Jepang, untuk menyelesaikan studi doktoralnya dalam soal-soal remote sensing. Suatu disiplin kajian yang berusaha menajamkan indera lewat bantuan peralatan guna mengenali gejala alami pada bumi dan semesta.

Mungkin dengan kemampuan teknologi suatu saat, mengenali gempa bumi dan tsunami sudah mirip dengan melihat mendung untuk mengantisipasi dampak hujan. Setelah kita tahu bahwa hujan akan segera turun jika sudah mendung, maka kita akan mengambil jas hujan. Dengan demikian perjalanan tetap bisa dilanjutkan sedang badan kita tidak basah kuyup.

Itu pulalah sebabnya saya mendoa dengan dua doa ketika gempa dan tsunami datang. Pertama saya panjatkan permohonan kepada Tuhan agar penduduk selamat, keluarga korban tabah, penderita mendapat bantuan dan santunan. Selain itu, saya mendoa agar para ilmuwan yang tengah memikirkan upaya deteksi dini segala kejadian alam terutama yang alami itu terus-menerus disempurnakan. Seharusnya begitulah kita berdialog dengan alam. Wallahu a’lam.

 

Ibu Mega: Sosok Perempuan Pesisir yang Peduli Pendidikan

Kami mendapat suntikan energi baru.  Setelah menyelenggarakan agenda pembahasan kurikulum Kelas Anak Pesisir, esoknya kami langsung mengajak Teman Belajar baru untuk meninjau lokasi-lokasi yang dijadikan sebagai ruang kelas terbuka Kelas Anak Pesisir Komunitas Ruang Abstrak Literasi.

Letaknya di kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Pantai Marbo Tallo dan di salah satu beranda rumah masyarakat Kampung Karabba. Lokasi yang terakhir di Kampung Karabba adalah lokasi baru Kelas Anak Pesisir yang baru. Tidak jauh dari Pantai Marbo Tallo sekitar kurang lebih satu kilometer kita sudah tiba di lokasi yang masih termasuk bagian dari Kelurahan Tallo, Kecamatan Tallo, Kota Makassar.

Pemukiman padat, tidak tertata dan terkesan kumuh yang berada di atas laut. Rumah-rumah penduduk semuanya terbuat dari kayu dan jembatan kayu seadanya sebagai penghubung dari rumah ke rumah yang hampir ambruk adalah gambaran lokasi baru Kelas Anak Pesisir di Kampung Karabba. Ibu Mega adalah salah satu masyarakat yang berbaik hati untuk meminjamkan beranda rumahnya sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran setiap hari sabtu dan minggu sore.

Kami beruntung bertemu dengan Ibu Mega, sosok Ibu sederhana yang merelakan mimpi-mimpinya untuk tidak melanjutkan kuliahnya dan memilih bekerja demi membantu biaya pengobatan orang tuanya yang sakit pada waktu itu. Sementara suami Ibu Mega, Pak Firman bekerja sebagai sopir pribadi dengan pendapatan yang tidak menentu setiap harinya.

Kehidupan keras telah dilalui Ibu Mega sejak kecil dan kesadarannya tentang pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah nasib ditularkan ke anak perempuan satu-satunya bernama Indah yang sudah beranjak naik ke kelas enam sekolah dasar. Kami melihat Indah begitu bersemangat dan menikmati setiap hal-hal baru yang didapatkan dari proses belajar di sekolahnya maupun di Kelas Anak Pesisir.

Siang itu kami pertama kali bertemu Ibu Mega dan menjelaskan maksud dan tujuan kami mengadakan Kelas Anak Pesisir untuk anak-anak di Kampung Karabba. Singkat cerita.

“Iye, di sini anak-anak masih banyak yang belum bisa membaca, ada anak usia kelas 5 SD belum bisa membaca padahal sekolah ji juga,” keluh Ibu Mega menjelaskan.

“kalau bisa ki’ bantu anak-anak disini supaya bisa banyak na tau juga, nanti saya yang cerita sama orang tuanya anak-anak disini supaya na dorong juga anak-anaknya ikut belajar,” lanjut Ibu Mega.

“Jadi kapan kami bisa mulai kelasnya Bu?” kata seorang teman kepada Ibu Mega.

“Kalau bisa jaki’ sore ini, nda papa juga,” jawab Ibu Mega dengan lugas.

Setelah itu, sebulan terakhir beranda rumah sederhana Ibu Mega berukuran lima kali dua meter didapuk menjadi tempat Kelas Anak Pesisir kami yang baru. Setiap kami ingin memulai kelas Ibu Mega dengan ikhlas membantu kami memanggil anak-anak dan begitu setianya mengikuti jalannya proses kelas hingga akhir.

Kami sendiri agak khawatir dengan kapasitas beranda rumah Ibu Mega yang sebenarnya hanya memuat sekitar dua puluh orang usia kategori anak-anak sementara ada sekitar tiga puluh anak-anak di Kampung Karabba yang aktif di Kelas Anak Pesisir yang tiap pekannya selalu antusias menunggu kami sebelum kelas di mulai.

Mengantipasi kemungkinan terburuk ketika kelas berlangsung, kami pun mendiskusikan hal ini kepada Ibu Mega. Untuk sementara yang bisa kami lakukan adalah menambah beberapa batang bambu sebagai tiang penyanggah agar rumah di atas laut tersebut tidak ambruk.

***

Bagi kami, Ibu Mega adalah pejuang pendidikan yang sesungguhnya. Mengajarkan kami tentang semangat untuk terus peduli terhadap kondisi pendidikan anak-anak pesisir yang begitu kompleks permasalahannya. Ada kekuatan di balik keterbatasan manusia. Karena dengan keterbatasan kita dapat merasakan suatu fase titik terendah dan berusaha untuk mencari jalan keluarnya tetapi tidak semua manusia bisa melewati proses ini.

Ibu Mega telah menjadi guru kehidupan dan teladan bagi kami yang selama ini berkutat dalam kekakuan sistem pendidikan formal dan kemudian terjebak hanya sekedar untuk mengejar gaji, pangkat dan jabatan seperti kata Pramoedya Ananta Toer.

Konsep dan tujuan pendidikan telah banyak dicetuskan oleh para tokoh.  Pada hakikatnya mereka sependapat. Bahwa pendidikan adalah proses menjadikan manusia untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Tetapi, soal konsep dan tujuan pendidikan negeri ini sama sekali tidak diketahui oleh Ibu Mega sendiri.

Karena kepedulian dan semangat Ibu Mega terhadap pendidikan anak-anak pesisir di Kampung Karabba tidak didapatkannya dalam ruang-ruang formal pendidikan itu sendiri.  Melainkan dari kondisi ketidakadilan sistem pendidikan yang dirasakannya langsung dan masih terjadi hingga saat ini. Dan memang betul bahwa pengetahuan sejati adalah pengalaman dari keadaan yang membangun kesadaran. Ibu Mega telah membuktikan hal tersebut.

Pertama Kali ke Getengan

Saya memiliki cita-cita meninggalkan tempat ini dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Jujur, kau akan selalu memiliki banyak alasan untuk berujar belum siap. Dalam hati, ada beribu pertanyaan, apa yang akan saya hadapi saat berada di sini. Sedetik, sejam, sehari, seminggu, setahun, entahlah, yang penting cuman menyiapkan pantat lalu ditempelkan di kursi dan mulailah. Carilah posisi senyaman mungkin dan mulailah mengusir kepanikan. Lalu, menyusun berbagai siasat untuk angkat kaki segera.

“Kita jemput dulu kepala puskesmas di Buntu Burake”, ujarnya.

Ucapan supir ambulance itu membuyarkan lamunan saya. Padahal, sudah kugarap sedemikian rupa siasat agar dapat meninggalkan tempat tugas segera.

“Sebentar lagi, akan sampai. 10 menit ji perjalanan dari Makale ke Getengan, dok”, lanjutnya.

Dia adalah supir ambulance Puskesmas Getengan. Martinus namanya. Belakangan, saya baru tahu, kalau dia akrab dipanggil oleh orang-orang di Puskesmas dengan sebutan Papa Keti. Kami menumpang di mobil ambulance. Dari jam 7 pagi, saat kabut dan hawa dingin masih menutupi tempat tinggal kami, dia sudah ada di sana menunggu kami berlima.

Hari pertama, kami sewajarnya membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk menuju ke suatu tempat yang sama sekali kau tidak tahu harus mengarah ke mana. Walaupun, kau tahu dan memiliki kendaraan menuju ke tempat itu. Untungnya, orang-orang baik di sini tidak ada habis jumlahnya yang bersedia membantu kami.

***

Kami dokter internship. Jumlah kami 15 orang. Hari ini, di dalam mobil ambulance, kami berlima. Selebihnya, sepuluh orang berada di rumah sakit. Kami masing-masing berasal dari perguruan tinggi yang berbeda-beda. 1 orang dari UNAIR, 2 orang dari UNHAS, 3 orang bersekolah di UNSRAT, dan paling banyak 9 orang dari UKI Jakarta.

Dokter internship itu ada sebab sebutan dari kementerian kesehatan. Kau tahu, kan kalau pemerintah itu gemar membuat program untuk mendapatkan tenaga kesehatan yang bersedia untuk ditaruh di manapun. Entah ini sial atau beruntung sebagai dokter yang baru lulus dari pendidikan kedokteran ditempatkan di desa Getengan. Celakanya ini wajib. Saya akan berada selama 4 bulan di Puskesmas lalu 8 bulan akan melaksanakan tugas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Oh iya, saya lupa memperkenalkan tempat ini. Getengan adalah sebuah desa di Kecamatan Mengkendek. Getengan ini berjarak 13 kilometer dari Makale, pusat kota dari kabupaten Tana Toraja. Kalau mau naik bus dari Makassar, kira-kira siapkan pantat untuk betah duduk selama 6 jam menggunakan bus kecil. Yah, kalau dari Makale ke Getengan menggunakan motor bisa tiba dengan menempuh waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan tidak terlalu kencang.

***

Ambulance berhenti di depan rumah. Mungil. Pagar kayu dicat putih, rumah itu menambah nilai indah rumah itu. Sekeliling halaman depan rumah bertaburan pot-pot bunga. Rumput-rumput mungil hijau tumbuh menjalar.

Mesin mobil ambulance masih berderu. Asap knalpot perlahan-lahan mengisi tempat kami berlima duduk. Seorang teman membuka jendela. Udara pengap karbon knalpot pelan-pelan bertukar dengan udara segar. Bercampur dan hilir mudik di dalam sini.

“Ambulance ini sepertinya sudah lama. Kalau tidak pernah dipelihara pastinya sudah berakhir di tempat timbang besi bekas.”

Beda sekali bentuk fisik ambulance di pedesaan dengan di kota. Saya masih ingat bentuk fisik ambulance di kota. Bentuk mereka megah, sirine meraung-raung, sampai-sampai butuh pasukan bermotor yang memegang tongkat untuk membuka jalan dengan segera. Padahal, ambulance di kota itu sudah berisik terdengar.

Berbeda dengan ambulance di pedesaan. Pikirku, orang yang berada di dalamnya akan hikmat berdoa. Mungkin bukan hanya orang yang sakit atau keluarga pasiennya, bisa saja supir ambulance ataupun tenaga medis yang mengantar menuju ke rumah sakit. Pasalnya, kursi berbentuk tapal kuda tersedia di sini. Ada yang memanjang ke belakang seukuran manusia, cukup untuk pasien tidur. Lalu kursi memanjang ke samping untuk pengantar, serta kursi untuk paramedis duduk di samping pasien. Tidak ada peralatan medis yang canggih seperti ambulance-ambulance di film Barat. Bahkan yang paling sederhana pun, tiang infus ataupun tabung oksigen tidak ada di dalam ambulance ini.

“Dok.” sambil membuka kaca pemisah antara supir dan ruang tempat kami.

“Sebentar ada ballo 5 Liter itu. Ini acara untuk menyambut dokter internship baru. Kami juga ada bakar daging. Sebentar malam nah. Tinggal maki menginap satu malam di rumah dinas dokter puskesmas. Makan daging babi ji semua toh”, kata pak sopir.

Pak supir itu menutup kaca pemisah. Dia tersenyum, Kepala puskesmas sudah berjalan menuju ke ambulance. Dia duduk di kursi depan. Mobil perlahan-lahan turun menuju jalan poros menuju ke Getengan.

“Iya, pak. Di Manado tinggal kaki meja yang tidak dimakan”, sahabat saya menyambar ajakan pak supir itu.

Dalam beberapa jam ke depan, saya akan melanggar untuk meminum-minuman yang menurunkan kesadaran. Perlahan-lahan mobil ambulance meninggalkan Buntu Burake dan perlahan-lahan juga kedua tangan patung Jesus muncul menampakkan diri memberkati Kota Makale. Dan mobil ambulance ini memang sengaja dibuat agar orang di dalamnya bisa berdoa dengan hikmat.

 

The Sea of Trees: Keinginan Bunuh Diri dan Pencerahan di Aokigahara

Konon semakin tua, pilihan hidup seseorang semakin sedikit. Umumnya, di usia muda sesorang memiliki segudang keinginan: ingin sekolah ke luar negeri, ingin berpetualang ke tempat-tempat terpencil, traveling mengabadikan pemandangan eksotis, melancong ke kota-kota bersejarah, atau menjadi seorang volunteer di kegiatan-kegiatan sosial.

Tidak lama umur bertambah ia akan menginginkan pekerjaan tetap, kendaraan pribadi dan jaringan pertemanan yang luas. Di waktu ini ia juga akan mencari seorang pasangan hidup. Setelah dirasa sedikit mapan ia ingin memiliki hunian sendiri, dan anak-anak dari rahim istrinya. Bertahun-tahun menyekolahkan anak-anaknya, hingga akhirnya pilihan hidupnya hanya tinggal dua: hidup tenang menikmati hari tua dan menunggu kapan kematian menjemputnya.

Kematian dari siklus demikian sering menjadi pilihan terakhir bagi kehidupan orang-orang normal. Bahkan, ia sebenarnya tidak pernah dimasukkan ke dalam daftar panjang keinginan. Dalam hal ini kematian hanya menjadi sesuatu yang dibiarkan alami. Terjadi begitu saja tanpa dipikirkan apalagi direncanakan. Toh, siapa pula yang berencana mati.

Tapi, bagaimana jika kematian justru menjadi sesuatu yang diinginkan. Dengan kata lain, kematian adalah satu-satunya harapan yang mesti segera ditunaikan?

The Sea of Trees adalah film yang berangkat dari pernyataan di atas. Si tokoh yang pergi jauh ke Jepang dari Amerika tempatnya tinggal hanya untuk bunuh diri. Uniknya, ia berkeinginan bunuh diri di dalam hutan yang terkenal angker. Hutan yang memang populer sebagai tempat orang-orang mengakhiri hidup: Aokigahara.

Film ini dimulai dengan Arthur Brennan ( Matthew McConaughey) yang membeli tiket sekali jalan menuju Tokyo tanpa membawa apa-apa, bahkan koper sekalipun. Tujuannya hanya satu yakni langsung ke Aokigahara, hutan di kaki Gunung Fuji.

Tiba di dalam hutan ia menenggak resep obat untuk mengakhiri hidupnya. Tepat di saat inilah ia melihat Takumi Nakamura (Ken Watanabe), pria lain yang bunuh diri yang tampaknya berubah pikiran mencari jalan keluar dan ingin kembali ke tempat aman setelah tersesat selama dua hari. Di titik inilah film ini mulai masuk ke dalam inti cerita.

Pertemuan Arthur dan Takumi  juga sekaligus menjadi titik balik cerita yang di awal diperkirakan akan mengakhiri hidup mereka masing-masing. Justru pertemuan mereka mengarahkan cerita untuk keluar dari Aokigahara. Satu hal yang tiba-tiba bertolak belakang dari premis awal film ini.

Dari sini, Arthur berkeinginan membantu Takumi menemukan jalan keluar dan segera mendapatkan pertolongan. Tapi, yang namanya hutan, jika tidak memiliki keahlian mengetahui letak arah angin maka akan menjadi masalah tersendiri. Arthur dan Takumi akhirnya tersesat, dan secara tidak sengaja di saat mencari jalan keluar itulah mereka berdua menjadi lebih dekat.

Jalan cerita yang berubah dari premis awal sang tokoh, nampaknya menjadi perhatian utama Gus Van Sant sebagai sutradara untuk tidak ingin masuk ke dalam cerita mengenai bagaimana dan seperti apa proses kedua tokoh menuju kematian. Justru porsi utama ada pada dimensi mengapa kedua tokoh ingin mengakhiri hidupnya?

Di sinilah tema tentang depresi, kesepian, cinta, dan harga diri dieksplorasi ke dalam jalinan cerita flash back si tokoh Arthur.

Arthur adalah seorang ilmuwan berprofesi sebagai dosen yang menjalani rumah tangga yang bermasalah. Hal ini diperlihatkan dari Joan Brennan (Naomi Watts), istri Arthur yang mempermasalahkan pendapatan suaminya sebagai dosen. Tapi ibarat gunung es, simptom utamanya adalah kasih sayang yang meregang di antara mereka berdua.

Dalam konteks keluarga, dapat ditelusuri persoalan utama mengenai kasih sayang adalah salah satu masalah utama masyarakat Barat. Eksplorasi kasih sayang yang diangkat dari pasangan Arthur dan Joan dengan kata lain merupakan salah satu jualan film ini, apalagi mengingat minimnya kasih sayang dalam banyak kasus menjadi salah satu penyebab depresi yang mendorong orang bunuh diri.

Walaupun begitu, dalam film ini seperti nanti terkuak, faktor utama yang mendorong si tokoh berkeinginan bunuh diri adalah depresi akibat rasa bersalah yang kian akut. Ya, Arthur menjadi pribadi yang berbeda setelah istrinya divonis tumor otak. Ia mulai kehilangan konsentrasi dan gagal fokus. Hingga ketika istrinya meninggal dunia, hidup Arthur diliputi keputusasaan dan penyesalan tiada tara.

Lain hal dari Arthur, Takumi malah lebih merepresentasikan budayanya sebagai orang Jepang. Sebagai pekerja kantoran, ia terdorong mengakhiri hidup lantaran hilang harga diri setelah turun jabatan. Seperti yang ia katakan kepada Arthur, turun jabatan artinya kehilangan peluang memberikan makan layak kepada keluarganya. Jika itu terjadi sama halnya ia hilang kehormatan sebagai seorang kepala rumah tangga.

Sosok Takumi jika dikontekskan ke dalam data-data kasus bunuh diri di Jepang, mewakili kebiasaan para pekerja kantoran yang memilih bunuh diri setelah pulang bekerja dari kantor. Selain stres akibat tuntutan kerja, besar kemungkinan hal itu dipicu oleh motif yang sama seperti diperlihatkan Takumi.

Lalu mengapa Aokigahara yang dipilih? Bukankan kalau mau mengakhiri hidup bisa di mana saja dan dengan cara apa saja. Misalnya, meloncat dari gedung tinggi, gantung diri, menenggak racun mematikan, atau menabrakkan diri di rel kereta api. Bukankah terlihat aneh jika hutan menjadi tempat bunuh diri?

Dari pertanyaan demikian, menurut hemat saya bahwa film ini memiliki visi untuk mengkampanyekan anti bunuh diri yang memang banyak terjadi di Aokigahara. Di Jepang sendiri menurut catatan resmi, terdapat 21.897 orang yang meninggal dunia akibat bunuh diri pada 2016. Dari semua itu Aokigahara menjadi tempat paling “favorit” untuk melakukan bunuh diri.

Itulah sebabnya di suatu adegan, Arthur yang sudah tenggelam dalam putus asa mencari tempat paling baik untuk mengakhiri hidup via internet. Dan seperti disampaikan sebelumnya hutan Aikogahara menjadi destinasi paling teratas muncul di mesin pencari.

Berdasarkan visi itulah film ini bertolak dengan pentingnya pencarian makna hidup yang menjadi sebab mendasar dari umumnya orang bunuh diri. Klimaks dari itu terdapat di dalam percakapan di tengah malam yang mengantarkan Arthur dan Takumi secara tidak langsung mendapatkan secercah cahaya pencerahan. Di scene ini, sangat terasa bahwa masalah utama dari keduanya –dan juga orang-orang yang mengalami kekosongan sampai depresi—adalah soal bagaimana seseorang menemukan rekan yang tepat untuk saling menguatkan.

Di bagian ini pula, kehilangan orang yang dicintai bukan berarti orang yang meninggal benar-benar hilang dan lenyap begitu saja, melainkan ia tetap ada dan dekat walaupun berbeda alam dengan orang yang masih hidup. Pandangan filosofis inilah yang keluar dari mulut Takumi sekaligus mengentakkan Arthur mengenai makna kehidupan pasca kematian. Sesuatu yang sebelumnya tidak dipercayai Arthur mengingat profesinya sebagai profesor di bidang matematika.

Twist di akhir cerita yang kontras dari premis awal film ini akan membuat sebagian penonton merasa tertipu. Bagaimana tidak jika justru Arthur menjadi orang yang berhasil keluar dan terselamatkan berkat usahanya bertahan hidup. Pasca itulah sebelum kredit film, Arthur kembali menata hidupnya dengan melakukan hal-hal yang disenangi istrinya semasa ia hidup. Semua itu dilakukannya demi cintanya kepada Joan istrinya. Sesuatu yang menjadi kekuatan untuk melanjutkan kehidupannya. Juga, sesuatu yang belakangan baru ia sadari.

Data Film

Sutradara: Gus Van Sant

Penulis skenario: Chris Sparling

Genre: Drama misteri

Pemain: Matthew McConaughey, Ken Watanabe, Naomi Watts

Durasi: 110 menit

Produksi: Gil Netter Productions Waypoint Entertainment

Tanggal rilis: 2016

Rating: 6,0/10 (IMDb)

Sumber gambar: imdb

 


sumber gambar: amazon.com

Apa itu Ilmu Agama?

Ingar-bingar politik membawa suatu gelombang baru dalam ujaran publik beberapa tahun terakhir ini. Banyak yang telah melalui momentum politik sebagai sirkulasi kekuasaan. Hasilnya? Hanya berupa sirkulasi hidup belaka. Berangkat dari ketiadaan menuju kembali kepada ketiadaan. Salah satu contoh yang dapat diambil adalah ratusan pejabat tinggi yang pernah melalui hidup penuh prestise dan kehormatan, kini menjadi manusia tua yang sejajar dengan penduduk negeri lainnya.

Salah satu yang amat sering diperbincangkan di dalam berbagai saluran media sosial adalah pernyataan B.J. Habibie dalam salah satu pidatonya. Ringkasan pesan itu adalah pernyataan sadar beliau bahwa kesuksesannya dalam ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah banyak berarti. Andai beliau diminta memilih ilmu pesawat terbang dengan ilmu agama, maka pilihan beliau adalah yang terakhir. Perbincangan itu menggoda untuk mendalami pengertian ilmu agama. Begitu juga efeknya kepada pencerahan publik, terutama untuk masa depan kemajuan umat manusia. Manusia diajak kepada keyakinan baru tentang tiadanya makna hidup.

Narasi Masa Depan

Dalam suasana kekosongan inilah manusia mencari narasi baru masa depannya. Ketiadaan makna hidup adalah penderitaan bagi manusia yang mulai dijawab dengan berbagai narasi. Satu di antaranya adalah ajakan jihad. Hasilnya adalah berkubangnya sejumlah aktivis dalam gerakan bersenjata sambil mengabaikan perasaan kemanusiaan yang terdalam. Orang menyebutnya terorisme. Walhasil, itu dianggap sebagai cara teringkas masuk surga demi meninggalkan dunia tak bermakna ini.

Benarkah jalan keluar semacam ini? Sudah banyak kritik. Satu lagi jawaban yang lebih lunak. Ilmu agama! Menjauhi ilmu umum adalah salah satu jalan keluar untuk meninggalkan kehampaan hidup. Menghabiskan waktu untuk memperoleh ilmu umum memang dapat menghasilkan kemapanan hidup material, namun bisa menimbulkan kekosongan makna di akhir usia. Ketakutan ini sedang disebarkan ke tengah masyarakat. Oleh sebab itu, amat menarik untuk mencoba mengurai apa ilmu agama itu sebagai bagian dari narasi masa depan.

Agama

Agama adalah konsep kehidupan yang di dalamnya terdapat landasan, aturan, arah dan tujuan hidup. Konsep inilah yang memandu manusia untuk menentukan pilihan dalam kehidupannya.

Kelompok manusia yang meniadakan pilihan pun sebenarnya adalah suatu model pilihan dalam beragama. Deterministik, dalam istilah ilmu kalam disebut sebagai jabariyah menemukan waktunya yang tepat untuk dianut. Agama adalah kumpulan pengetahuan tentang tata cara memuji dan membesarkan Tuhan sambil berpasrah diri tentang nasib masa depan. Dunia mulai diombang-ambing oleh gelombang yang tak berarah.

Agama dalam perspektif hanya mengulang polemik pemikiran teologis. Ia tidak menyumbang optimisme. Adakah pilihan lain?

Tauhid

Satu hal yang diajarkan dalam khazanah agama-agama adalah cara beragama. Ada cara beragama dengan melihat semesta sebagai suatu kesatuan dan ada juga dengan memecah semesta dalam keterbilangan atau keragaman. Agama yang mengajarkan kesatuan datang dengan perspektif utuh ketika melihat semesta, termasuk asal-usul dan masa depannya. Komponen semesta tempat hidup manusia adalah sesuatu yang organik. Bagian-bagiannya adalah suatu keutuhan. Agama selainnya selalu melihat bahwa komponen semesta adalah bagian yang mekanistik.

Pada perspektif kesemestaan inilah ilmu-ilmu itu tumbuh. Pendapat yang meyakini ada pemilahan ilmu agama dan umum tumbuh dari cara beragama yang kedua. Cara beragama yang pertama menumbuhkan ilmu dalam perspektif kesatuan dan keutuhan, tanpa pembedaan. Perspektif Islam menyebut cara beragama ini dengan nama tauhid. Tauhid tidak semata pengesaan Tuhan namun juga pengakuan terhadap kesatuan semesta.

Kesatuan Semesta

Kesatuan semesta amat sulit diakui. Ini tergambar dari ilmu-ilmu yang berserak dalam kamar-kamar sosialnya masing-masing. Tiap-tiap ilmu memiliki otonomi dalam sebuah disiplin kajian yang terpisah-pisah.

Semesta yang dilihat sebagai komponen terpisah-pisah berefek buruk pada pengembangan ilmu pengetahuan. Ilmu tidak lagi mengantarkan manusia kepada kesejatian hidupnya. Ajaran agama pun ditempatkan sebagai disiplin kajian yang merupakan pecahan cara pandang terhadap semesta itu. Di sinilah pula ilmu agama itu dikenal sebagai sebuah disiplin terpisah.

Ilmu Agama

Lain Habibie, lain Nabi Adam. Tatkala Nabi Adam dibiarkan memilih agama dan ilmu, beliau pilih ilmu. Ilmu diyakininya akan mengantarkan kepada agama.

Semua ilmu adalah agama karena agama menganjurkan berilmu. Dengan demikian ilmu adalah bagian utuh dari kerja dalam agama. Aktivitas utama orang beragama adalah berilmu.

Ilmuwan yang tak beragama akan memperlakukan ilmunya hanya dalam wilayah material. Itu sebabnya ilmunya selalu terasa hampa. Berujung dengan kebinasaan. Kematian adalah awalnya. Mulai dari liang kuburnyalah kebinasaan itu disaksikan. Memandang ilmu seharusnyalah menganut cara pandang yang menyeluruh atas konsep semesta. Semesta sebagai kesatuan periada yang tercipta. Semesta ini bergerak untuk kembali kepada Tuhannya Yang Maha Esa. Kosmologi tauhid ini mungkin dapat menuntun untuk mengubah cara pandang mengenai ilmu. Segala ilmu yang menggerakkan peradaban manusia kembali kepada keridhaan Tuhannya adalah ilmu agama. Ilmu kapal terbang B.J. Habibie seharusnya mulai sekarang tidak dianggap sebagai bukan ilmu agama.

Gempa Lombok dan Pembangunan Berwawasan Bencana

Pada tahun 1995, di daerah bagian selatan Prefektur Hyogo, Kobe, Jepang, gempa bumi berkekuatan 6,9 skala richter mengguncang selama 20 detik dan menghasilkan 6.434 korban tewas. Gempa ini melakukan dua hal pada warga Jepang. Melakukan pukulan mematikan namun di satu sisi melakukan belaian kasih sayang untuk menyadarkan pemerintah jepang bahwa gempa bumi nyatanya harus diterima sebagai bagian kehidupan dari mereka yang berdiam di daerah-derah pertemuan lempeng tektonik.

Berkaca dari kasus gempa inilah, akhirnya jepang melakukan evaluasi besar-besaran dalam hal program pendidikan mitigasi bencana dan pengawasan bangunan tahan gempa yang diberlakukan secara nasional, merata dan tegas.

Kembali ke nagara kita, Indonesia. Semoga kita tidak lupa, bahwa nyatanya terhitung sejak tahun 2004, kita telah melalui 3 kasus gempa bumi yang sangat besar, destruktif dan sungguh mematikan. Pada tahun 2004, Gempa Aceh yang berkekuatan 9,3 skala richter diikuti oleh tsunami setinggi puluhan meter telah menghasilkan kerusakan yang teramat parah hingga menelan 283.106 korban jiwa.

Setahun kemudian, pada maret 2005, gempa berkekuatan 8,6 skala richter kembali mengguncang Sumatera, tepatnya di Pulau Nias, Sumatera Utara. Meski tidak berdampak tsunami, gempa ini tetap berujung mematikan karena menelan hingga 1.346 korban jiwa. Lagi-lagi, setahun kemudian, pada tahun 2006, gempa bumi kembali menimpa salah satu daerah padat di Indonesia, yakni Yogyakarta. Meski hanya berkekuatan 6,2 skala richter, namun karena kepadatan pemukiman dan rapuhnya sistem bangunan warga, alhasil tercatat 6.234 warga harus meregang nyawa dibawah reruntuhan bangunan mereka sendiri.

Dan terakhir pada 5 Agustus 2018, gempa sebesar 5,1 skala richter mengguncang Lombok dan disusul kembali dengan gempa yang lebih besar yakni 7 skala richter pada 19 gustus 2018. BNPB melansir korban jiwa pada gempa lombok ini mencapai 515 orang dan korban luka 7.145 orang, belum lagi dengan rusaknya infrastruktur berupa rumah warga yang mencapai 73.843 unit. Sungguh semua kejadian di atas sangat miris bila hanya berakhir pada sebuah catatan buku dan file-file saja. Berakhir tak lebih dari sebuah bacaan “ringan”.

Semua kejadian gempa bumi di atas sudah sepatutnya menjadi bahan evaluasi bersama, bahwa kejadian gempa meski tidak menghasilkan tsunami, nyatanya masih mampu menelan ribuan korban jiwa akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Maka patut kita mencermati, bahwa dengan diakhirinya status tanggap darurat di Lombok dan diganti dengan masa pemulihan dan rehabilitasi bangunan, nyatanya kita semua masih terjebak pada persoalan-persoalan yang meskipun substantif namun hanya berlaku dalam jangka waktu yang pendek. Semestinya, di lain sisi, pemerintah juga harus mulai memaksimalkan konsep-konsep pembangunan jangka panjang yang berwawasan bencana.

Sebagai sebuah perbandingan, mari kita bersama-sama melihat perda mengenai ketentuan pembangunan gedung ataupun perumahan yang sebagian besarnya masih menerapkan aturan-aturan lama mengenai kebencanaan yang hanya fokus pada peraturan mengenai rekomendasi Peil Banjir atau surat keterangan bebas banjir saja. Kita belum menemukan masifnya upaya pemerintah khususnya pemerintah daerah dalam menerbitkan Perda terkait ketentuan pembangunan bangunan yang harus tahan gempa. Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum, Imam S. Ernawi mengugkapkan bahwa menurut catatannya baru 30% kabupaten/kota yang memiliki Perda terkait tata cara perencanaan bangunan tahan gempa.

Dilain sisi,. Minimnya pembangunan bangunan tahan gempa selain disebabkan oleh landasan hukum yang masih kurang dan tidak mengikat, juga disebabkan karena terbatasnya sumber daya manusia di bidang bangunan tahan gempa. Kalaupun ada, aksesnya sangat sulit dan biaya konsultannya cenderung lebih mahal dibandingan pendirian bangunan konvensional.

Kita harus mengingat bahwa kita mempunyai puluhan ribu kuota beasiswa melalui LPDP, Bappenas, BUMN serta donatur luar negeri setiap tahunnya yang bila ditetapkan 10% saja dari total seluruh kuota ini khusus untuk merekrut para Fresh Graduate Tekhnik Arsitektur, Tekhnik sipil dan jurusan lain dengan disiplin ilmu yang sama, maka beberapa tahun kedepan kita sudah mampu menghasilkan ratusan bahkan ribuan ahli bangunan tahan gempa yang bisa kita sebar ke seluruh Indonesia dan memulai program pembangunan kita yang baru yang lebih berwawasan bencana.

Yang terakhir, para pelaku pasar, khususnya pemerintah dan para kontraktor perumahan dan gedung, semestinya melaksanakan inovasi konsep pembangunan dan marketing yang lebih memfokuskan pada produk-produk gedung dan perumahan yang berwawasan bencana. Bila dimanfaatkan dengan baik, ada potensi keuntungan besar yang menanti mereka jika mau menerapkan konsep bangunan berwawasan bencana khususnya bangunan yang tahan gempa. Ada puluhan juta konsumen khususnya di sepanjang pesisir sumatra, Jawa, Nusa Tenggara hingga Maluku yang merupakan daerah rawan gempa yang pasti akan sangat antusias untuk memiliki hunian tersebut.

Terakhir, kesemua solusi diatas, baik itu peenyediaan SDM yang mumpuni terkait bangunan tahan gempa, penguatan dasar hukum khususnya Perda dan pengubahan konsep pasar mengenai bangunangedung dan perumahan yang berkualitas hendaknya harus dijalankan bersama-sama dan terhubung satu sama lain agar hasil yang kita dapatkan kelak bisa maksimal dan merata, sehingga di masa depan kita telah memiliki Blue Print mengenai konsep pembangunan yang lebih arif dan berwaawasan bencana.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kelas Literasi Paradigma Institute