LI Junyang dan Merpati

Foto ini menggambarkan banyak hal, tampak seorang anak mengusap air mata Ibunya. LI Junyang, seorang anak belia dari kota Shanghai, China. Dia berusia 3 tahun dan diagnosa mengidap kanker neuroblastoma. Orang tuanya kehabisan dana tak mampu membayar, tampak ibunya terseduh seduh menangis menyaksikkan anaknya. Menyedihkan memang, seorang anak lahir, sejenak di dunia, tiba-tiba harus bertarung melawan sakit yang mematikan.

Dari kisah ini, pertanyaan-pertanyaan eksistensial terkadang nyeletuk dalam hati, “untuk apa seorang anak dilahirkan, merasakan sakit dan nyeri, kemudian mati?”. “Mengapa seorang anak kecil tanpa dosa itu lahir untuk cuma merasakan nyeri sakit?”. Agak serupa dengan Albert Camus, dia menggugat dan menafsir dunia ini dengan apa yang disebutnya dengan absurbditas, “manusia lahir di dunia ini, tanpa kehendaknya, tak pernah memintanya, kemudian tiba-tiba hidup di dunia ini, pada saat tiba waktunya dia akan berhadapan dengan kematian, yang bisa saja dengan kehendaknya, ingin menolaknya, tapi tak ada daya untuk itu”. read more

Saleh Ritual, Saleh Sosial

Hari ini, di penghujung petang yang sendu. Tunai sudah buku Corat-coret di Kaki Langit saya eja. Buku kedua buah fikir dari Kanda Muhammad Rajab ini berisi esai-esai yang berangkat dari hal-hal paling sederhana yang dilaluinya setiap hari, baik sebagai wakil rakyat ataupun sebagai rakyat yang diwakili, dari buku ini pula saya sedikit banyak terinspirasi ihwal pengabadian momen dan diri melalui tulisan.

Buku ini amat menarik bagi saya, apatah lagi saya adalah tipe orang yang memang menyukai buku berisi esai. Hemat saya buku esai mudah dicerna oleh orang-orang seperti saya yang kadang telmi (telat mikir)dan tidak terlalu suka berfikir hal-hal yang pelik, Hehe. Namun petuah-petuah bijak nan bajik di dalamnya tetap menjadi makanan gurih nan bergizi bagi jiwa saya yang kering ini. read more

Pada Bulan April 1946

Apa yang istimewa di bulan April? Setidaknya setiap bulan April akan diperingati hari Kartini, yang jatuh pada tanggal 21 April. Terus apa lagi yang istimewa di bulan April? Perhelatan pemilihan umum, setidaknya sejak tahun 2009, 2014, dan terakhir pemilihan umum serantak untuk Pilpres dan Pileg 2019. Untuk terakhir masyarakat Indonesia telah mengetahui siapa yang memenangi kontestasi Pilpres, setidaknya versi hitung cepat (seyogyanya kedua paslon bersabar menunggu hasil resmi dari KPU).

Selain yang telah saya sebutkan sebelumnya, bulan April juga ternyata memiliki cerita tersendiri bagi Kerajaan Gowa, hal itu saya dapatkan ketika membaca : Khasanah Arsip Pemda Gowa Nomor Register 12 Tentang Programma Pelantikan Raja Gowa milik Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan yang beralamatkan di Jalan Perintis Kemerdekaan KM. 12. read more

Presiden-Presidenan

Teman, bagaimana kabarmu sekarang? Kelihatannya kamu tambah sejahtera dan bahagia saja.

Kamu katakan dirimu belum sukses? Ukuran sukses itu relatif, teman. Menjadi petani, nelayan, pegawai, atau apapun pekerjaanmu, terpenting bisa bemanfaat. Sebenarnya kamu itu sudah sukses.

Janganlah kamu ukur kesuksesan dirimu dengan melihat kesuksesan orang lain. Terlebih jika kamu mau membandingkan dirimu dengan saya,

Oh iya, teman. masih ingatkah kamu, saat dulu kita sama-sama duduk di bangku sekolah? Untuk pertama kalinya kita bertemu, berkenalan lalu kian akrab. read more

Menadaburi Perjalanan Cinta

Buku Perjalanan Cinta dibuka dengan secuplik figur Maemunah. Seorang ibu penjaja warung makanan kecil-kecilan di sebuah kota kecil Sulawesi Utara. Esai ini tidak berbicara banyak selain dari kebajikan Ibu Maemunah yang berhasil “dipungut” dari sekian banyak kisah-kisah inspiratif nan menggugah tentang kebaikan yang dilakoni “orang-orang kecil”.

Di esai ini kesimpulannya cukup sederhana, tapi mahal harganya: apa pun lakon Anda, bekerjalah dengan jujur, ikhlas, dan senantiasa berpikir positif. “Insya Allah, hidup kita akan mabarakka‘ (berkah)” ungkap Maemunah di esai berjudul Bunda Maemunah itu. read more

Orang-Orang Kalah

Pagi ini cuaca cerah. Suasana di jalan-jalan kota sedikit lengang oleh kendaraan bermesin. Kecuali di tempat-tempat tertentu sedikit agak riuh oleh warga yang berolah raga. Dari yang bersepeda, berlari-lari santai, berjalan kaki, hingga melakukan senam berkelompok di ruang publik terbuka. Belum selesai aku berpikir dan bertanya dalam hati, kenapa Sabtu ini alun-alun kota yang sebagiannya telah dialihfungsikan menjadi tempat perbelanjaan, sangat padat pengunjung berolah raga. Anakku telah menjawabnya. read more

Menulis itu Mudah

Hari itu, rasa malas dan kantuk masih menerungku di kamar tidur, dan dinginnya udara pagi seolah menggoda hasrat raga ini untuk tidur dan melanjutkan mimpi. Di sela pergulatan batin  itu, seorang tamu datang ke rumah mencari keberadaan saya. Mendengar suara tamu yang tidak asing itu, lantas bergegas ke teras rumah, dan ternyata Pak Dusun sekaligus inisiator Rumah Baca Panrita Nurung bertandang ke rumah untuk sebuah hajat. Tak lain adalah perihal perbaikan atap rumah baca kami. Percakapan berlangsung singkat dan saya diminta untuk membeli paku di toko terdekat. Saya pun bergegas menuruti permintaan beliau. read more

Sexy Killer Akan Berakhir Biasa-Biasa Saja

Seperti pemilu tahun ini, boleh dicatat dalam sejarah sebagai pemilu paling meriah dengan politik identitas dan polarisasi yang brutal. Sebuah film di bulan April tahun 2019, juga mungkin bisa kita catat dalam sejarah berbangsa dan bermasyarakat kita, sebagai sebuah film dokumenter dengan penonton terbanyak di Indonesia.

Film dokumenter ini bukan mengusung sebuah tema yang populis di kalangan masyarakat, seperti layaknya dokumentasi-dokumentasi kemiskinan warga kota, yang alih-alih menampilkan sisi sosial, malah dipaksakan dengan berbagai rekayasa adegan untuk mendramatisir keadaan. Sexy Killer bergerak pada isu lingkungan, yang selama ini mungkin hanya dikenal pada komunitas terbatas, atau pada seminar dan diskusi-diskusi kampus. Isu ini dianggap kurang sexy, terlebih bila dibawakan pada mereka yang bukan merupakan bagian dari dampak kerusakan lingkungan, atau tambang seperti yang dibahas didalam exy Killer ini. read more

Waktu untuk Tidak Menikah: Perempuan-Perempuan Pelupa dan Suara Aktivisme Perempuan

Sejak awal, dari Denyut Merah, Kuning Kelabu, kumcer Amanatia Junda sudah memuat daya pikat yang nyaris sempurna. Ia dibuka dengan lenyapnya Noni, tetangga si Aku yang menjadi penutur dalam cerita pertama di buku yang baru saja diterbitkan kembali awal tahun ini.

Dengan cara ini, pembaca langsung dipukul rasa penasaran. Ibarat lubang hitam, ia menyedot daya imajinasi pembaca untuk menjawab rasa ingin tahu yang ditiupkan dari kalimat pembuka cerpen ini.

Noni diceritakan perempuan tomboy seketika hilang entah kemana. Tokoh si Aku, tetangga kamarnya paling dekat bahkan tidak tahu kemana perginya Noni. Noni dikisahkan raib tanpa petunjuk sedikit pun. Ia hilang meninggalkan kamar kosnya dengan TV dibiarkan menyala. read more

Survei, Quick Count dan Kaum Anti Ilmu Pengetahuan

Survei dan quick count itu prediksi, begitulah cara kerja matematika. Tak puas? Bantah dengan temuan yang lebih kuat, bukan dengan status Facebook.

—————-

Banyak pelawak yang terus saja meragukan hasil quick count perolehan suara kandidat presiden dan wakil presiden dari sejumlah lembaga survei. Saya menyebutnya pelawak, karena berkoar-koar tentang adanya upaya pembentukan opini dari lembaga survei tersebut karena dianggap hasil belum final. Padahal lembaga survei tersebut tidak pernah mengatakan hasil survei dan quick count-nya sudah final. Itu lucu sekali. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute