Menguji Gus Dur

KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) masih sempat berkelakar jelang Sidang Umum MPR hasil Pemilihan Umum 1999, tatkala dirinya dibandingkan dengan Nurcholish Madjid (Cak Nur) untuk pencalonan presiden. Gus Dur berseloroh bahwa Cak Nur adalah intelektual sedangkan dirinya adalah orang kampung. Jenaka saja karena audiens mengira ada analisis yang akan disampaikan oleh Gus Dur tentang perbandingan dirinya dengan seorang intelektual sekelas Cak Nur. Publik mengenal bahwa Cak Nur memiliki banyak pandangan progresif terkait suksesi kepemimpinan nasional. Sejak tahun 1996 Cak Nur sudah pernah menyinggung pentingnya suksesi untuk menjamin tumbuhnya demokrasi. Ternyata Gus Dur hanya menyifati dirinya dengan sebutan orang kampung. read more

Budaya Cecceng na Jekkong

Lotto. Putera keempat Daeng Marewa -anak lelaki Deang Mattayang, mantan Kades Butta Tinggi, saat itu merasa sangat senang. Wajahnya berseri-seri. Ia tampak sibuk menyalami para tamu yang datang ke rumahnya. Ia tersenyum puas. Itu tersungging di bibirnya.

Hari itu ia terpilih lagi menjadi Kades oppo’ di desanya. Semua warga ikut bahagia. Bagaimana tidak, Kades muda yang kerjanya hanya ongkang-ongkang kaki di bale-bale rumahnya itu, diterima baik oleh semua orang. Pasalnya sederhana, Lotto orangnya tidak pelit. Berbeda dengan Kamarudding, calon Kades bergelar Sarjana Pendidikan itu. Ia cerdas, tapi miskin. read more

Tiada Pertanyaan yang Berakhir Pada Pertanyaan Itu Sendiri

Semuanya berlalu begitu saja, tapi saya tak tahu untuk apa. “Apa yang terjadi setelah suatu urusan usai?”, mungkin rehat sejenak, pikirku. “Tapi, apa yang terjadi setelah waktu rehat usai? Barangkali hidup hanya seputar itu-itu saja. Kalau pun tidak, “Mengapa tidak ada rehat yang benar-benar rehat? Mengapa tidak ada kesibukan yang benar-benar menyibukkan?”, sehingga semua bisa keluar menuju ruang yang tak memiliki sekat, prasangka, perasaan, serta hubungan sebab-akibat.

Pertanyaan-pertanyaan itu yang kemudian berulang kali menghinggapi kepala. Di tiap-tiap sudut sepi dan ramai. Ia menagih jawaban yang selama ini tak bisa kusiasati. Ia hadir seperti gayung kamar mandi yang dinding-dindingnya mulai timbul bercak-bercak hitam. Tubuh yang telanjang dan harap cemas terkena air dingin pagi itu, serta sikat gigi yang selalu bikin bingung. Akan ditaruh dimanakah ia?. Pasal, tak ada tempat untuk menyimpan peralatan mandi di ruang yang hanya dipisahkan dinding dua kali tinggi manusia itu. read more

Tali-temali Literasi di Pucuk Tahun

Ada awal, ada akhir. Inilah maksim paling tepat menggambarkan suasana kiwari, di pekan terakhir  bulan Desember, tahun 2019. Di awali Januari, diakhiri  Desember. Itulah takdir siklus waktu tahunan yang terjalani, guna menghitung himpunan perkara kemelataan hidup dan kehidupan. Awal tahun menjanjikan banyak harapan, akhir tahun menegaskan capaian. Kehayatan, seolah hanya berayun di antara harapan dan capaian. Begitulah seterusnya, hingga akhir benar-benar berakhir.

Di pekan terakhir Desember 2019, saya sudah masuk perangkap lilitan waktu, baik yang bersifat personal maupun sosial. Menemani dua orang anak saya berlibur di kampung halaman, Bantaeng  dan menyata di hajatan keluarga, serupa terungku kegiatan personal. Selainnya, melibatkan diri di tiga acara bertajuk literasi, sebentuk tawanan aktivitas sosial. read more

Di antara Detak Jarum Jam Pagi dan Puisi-puisi Lainnya

Di antara Detak Jarum Jam Pagi

Di antara detak jarum jam pagi
tekadmu berkumpul
kau tak butuh secangkir kopi
tak butuh sentuhan matahari merah
cukup kecupan hangat di kening
dari sang istri

Bergegaslah langkahmu
membelah gigil pagi
mengabaikan embun
mengabaikan halimun

Di antara detak jarum jam pagi
hadirmu,
memantik senyuman
pengabdianmu,
mengenyangkan perut sang tuan
dan atas nama orang-orang tercinta
engkau rela keringatmu diolah
pabrik pengeruk air mata

Makassar, 02 Desember 2019

Gerombolan

Sekelompok orang-orang lugu
berhamburan di pelosok kampung
membawa kabar langit
esok tiada kelam read more

Berbagi di Jalan-Jalan Lapang

Kala Adam as, sedang masygul dengan laku dan jejak-jejak hidup anak-anaknya. Belum ada jejak sebelumnya yang ia bisa panuti sebab dialah manusia awal diamanatkan membangun peradaban di bumi. Dalam lunta nan perih, Adam as pun tengadah hingga ke ujung langit ketujuh. Mencari jalan-jalan kemuliaan yang akan ia jejakkan bersama kekasih-kekasih dari sulbinya. Amanat pertama yang ia terima, mengajak Qabil dan Habil sebagai generasi kedua darinya, melukiskan cintanya dengan berbagi.

Pendek cerita, dalam kisah-kisah selanjutnya, Qabil mewujud serakah dan pongah. Cahaya di hatinya, bertabir debu-debu, yang lambat laun menghitam pekat, mewujud dengki dan benci. Sedang, Habil menempuh jalan cahaya dengan cerlang nalar dan hatinya. Dalam perjalanan manusia selanjutnya hingga di waktu tak terkira, kita merujuk pada dua kutub ekstrim itu. Memilih jalan Qabil dengan jejak hitam pekat tanpa nalar dan kesabaran, atawa jalan-jalan Habil dengan jalan cahaya dan cinta sepanjang jalan. Jejakkan nalar yang unggul dan hati terbuka menderang. read more

Idealisme di Ujung Pedal

Senja baru saja beranjak dari tempatnya bersemayam di pojok semesta, setelah berbagi keindahan pada seluruh makhluk di bumi, terkhusus pada manusia yang diberi kemampuan menyesap keindahan, hingga meruang di pojok hatinya yang paling dalam, hingga memengaruhi jejaknya dalam meniti hidup, bagi yang mampu mengartikulasi dan mensyukuri, segala nikmat dan keindahan, yang disebar oleh Sang Mahaindah di seluruh penjuru semesta.

Tak tersisa sepercik pun senja merah saga nan indah setelah malam menyambut menggantikannya. Sepedaku kukayuh dari bilangan Hertasning Baru, menuju ke jantung Kota Makassar, tepatnya di seberang timur Lapangan Karebosi yang mashur itu, yang bersisian langsung dengan Bank Indonesia. read more

Demokrasi untuk Siapa

Seperti pesta. Demokrasi lima tahun sekali adalah momentum di mana masyarakat merayakaan kebahagiaan. Bukan sebaliknya menjadi petaka berkepanjangan. Memimpin desa adalah salah satu jalan untuk membangun.

Konsekuensinya adalah terlibat masuk arena pertarungan dalam keadaan siap menang dan siap menerima kekalahan. Siapa pun itu pantas diapresiasi sebanyak-banyaknya, karena semua calon sebagai orang pilihan masing-masing berangkat dari niat dan misi terbaiknya untuk membangun desa.

Kisruh yang terjadi di Desa Bontobulaeng menjadi pelajaran untuk direnungkan, bahwa kekuasaan jauh lebih penting daripada kemanusiaan. Adanya kelompok yang belum menerima hasil pemilihan yang dilakukan pada tanggal 5 Desember lalu sampai hari ini harus diapresiasi sebagai hak penuh sebagai warga negara untuk menggugat, menyampaikan aspirasi. read more

Malino, Bukan Hawa Dingin dan Hutan Pinus

Malino itu dingin, sejuk, pinus, air terjun, sayuran, buah-buahan, bunga, kebun teh. Begitulah image banyak orang. Bahkan mayoritas. Nyaris semua. Baik itu pelancong maupun orang Malino sendiri. Padahal, bukan itu saja, kota kecil di kaki Bawakaraeng ini, juga telah merekam pelbagai peristiwa bersejarah, bukan hanya di kancah lokal, namun juga di arena nasional.

Malino tidak sedingin dulu lagi. Begitu kata banyak orang. Seperti itulah pengalaman mereka yang sudah sekian kali bertandang ke sana. Atau dari mereka yang sedari kecil mukim di sana. Perubahan itu memang betul-betul terasa. Padahal, yang terutama dicari di Malino adalah rasa dingin itu sendiri. read more