Obesitas di Era Konsumsi Massal

Dalam beberapa pandangan tokoh ilmu sosial, konon katanya kita telah memasuki suatu fase baru yakni era pascamodernitas yang ditandai dengan peningkatan pola interaksi secara digital, merebaknya budaya online dan menipisnya batas-batas antar ruang.

Berbagai kemajuan yang telah dicapai oleh umat manusia lewat pengembangan Ilmu pengetahuan (sains) dan teknologi telah mengantarkan kehidupan pada suatu keadaan kemudahan dalam melakukan upaya kontrol pada alam. Dalam salah satu pandangan tokoh Ilmu sosial, W.W Rostow, pola pembangunan ekonomi akan bermuara pada tahap konsumsi massal di mana suatu masyarakat dan negara telah sampai pada keadaan yang sejahtera. Produksi dan konsumsi yang berlebih dan Industrialisasi yang telah mantap. Terlepas dari hal tersebut, perlu dipertanyakan apakah tahapan tersebut adalah suatu akhir dari linearitas zaman, puncak dari segala bentuk perubahan evolusionis dari suatu masyarakat layaknya Francis Fukuyama dalam “The End Of History” ataukah malahan memunculkan suatu tahapan baru dari buah realitas yang ada di dalam tahapan tersebut. read more

Ali Syariati: Sang Raushan-fikr

Apa yang harus dilakukan ? Darimana kita mesti mulai ? Dua pertanyaan kunci ini, selalu saja menjadi alas pijak bagi saya, tatkala terlibat dalam setiap perbalahan. Perkakas pikir tersebut, saya dapatkan dari seorang intelektual tercerahkan, Ali Syariati.

Tetiba saja, saya terkenang pada sosok ini. Apatah lagi, hingga kini, posternya masih bertengger gagah di dinding ruang baca saya. Dan, ketika tulisan ini saya bikin, jika saja Syariati masih hidup, maka usianya tepat 85 tahun.

Adalah Mazinan, sebuah desa di pinggiran Masyad, di timur laut Khurasan, Iran, yang menjadi saksi tanah tumpah darah pertama dari seorang Ali Syariati. Tepatnya, pada tanggal 24 november 1933, Ali Syariati di lahirkan, dari pasangan Sayyid Muhammad Taqi’ Syariati dan Zahra. Syariati adalah putra sulung dari kedua pasangan keluarga tersebut. read more

Waktu dan Puisi-puisi Lainnya

Waktu

Pada saat waktu akan wicara
tentang keheningan

Ada refleksi yang silau tentangmu

Ada ingatan yang berlarian
berkejaran menapaki lekuk-lekuk kenangan

Pada saat waktu bertutur
Aku melihat huruf-huruf tentang jarak

Pada saat waktu bersajak
ada bait-bait lirih hidup tanpamu

Di sela-sela kata sajak waktu
ada huruf-huruf kesedihan yang terurai bila tak ada namamu ikut serta

Aku di sini selalu menanti waktu
Datang memberiku
larik-larik berbeda

Mengajakku menghayati duniamu
tanpa jeda
Tanpa ada yang lalu
kini
dan
akan datang read more

Metamorfosis Ibu: Membumikan Ilmu Parenting

Buku yang lahir dari cinta keluarga untuk peradaban. Merupakan sekumpulan esai parenting yang telah terbit di media daring (online) maupun media luring (cetak). Harian Fajar, Koran Tempo, Edunews.id, dan Kalaliterasi.com menjadi ruang untuk menerbitkan gagasan yang luar biasa. Buku ini merumahkan ide literasi parenting. Mengapa tidak, ditulis dari rumah, dipraktikkan di rumah, dan tujuan akhirnya adalah “rumah”. Mengupas kulit-kulit paradigma tentang anak melalui pendekatan penuh cinta dan jauh dari kata pelampiasan, kekerasan, ancaman, dan jebakan. Menjadi seorang ibu merupakan keniscayaan bagi yang telah menikah dan mengasuh anak sebagaimana mestinya merupakan didikan awal sebagai sosialisasi primer membentuk kepribadian yang berkeadaban. read more

Buku: Mendasari Perlawanan, Menjaga Parit-Parit Ingatan

Ideologi, politik dan seksualitas kerap melatari penyensoran dan penghancuran buku-buku. Kita mendapati sejarah pembakaran kitab-kitab hadits termasuk mushaf Al-Quran di masa kekhalifaan Ustman, lalu kita mengetahui tragedi pembakaran buku, dokumen-dokumen karya dan koleksi Tan Malaka, di kaki gunung Wilis, oleh lusinanTentara Angkatan Darat yang menagkap dan membunuhnya pada 1949.

Lalu, Desember 2009 Kejaksaan Agung (Kejagung) melakukan pembredelan terhadap lima buah buku yang dianggap mengganggu ketertiban umum, bertentangan dengan UU 1945 dan Pancasila. Kelima buku tersebut dilarang beredar di Indonesia. read more

Beribu Cinta Untukmu

Menyambut maulid Nabi

 Bak kulihat cahayamu di matahari menerangi semesta. Membasuh wajah-wajah lugu bersahaja hingga melek hidup, membasuh batin-batin letih para pencari cinta ke ruang dan waktu tak berbatas. Membasuh laku kasar penduduk sahara menuai santun. Semesta mewujud cinta dari perangaimu yang indah. Engkau hadir di remah hidup kaum tak berpunya, mengasihi mereka yang memusuhimu.

Menyelimuti cinta dan kasih semesta dan paradaban. Para penyair tak habis kalimat mengukir keindahanmu. Pena-pena para cerdik pandai tak hentinya menggores kebajikan yang engkau jejakkan. Jadi, bila mencintaimu dengan beragam ekspresi budaya, merindukanmu dengan berbagai laku yang kami jejakkan, lalu kami dituduh berlaku bid’ah dhalalah, tak mengapa,  sebab semuanya hanya sezarra ekspresi cinta kami dari gundukan semesta ini. read more

Melihat Orang Gila dari Dekat

Erich Fromm, dalam hidupnya, pernah menyimpan sebuah pertanyaan besar. Pertanyaan itu kira-kira berbunyi, bagaimana mungkin? Perjumpaan dia dengan pertanyaan itu berasal dari sebuah peristiwa yang pertama kali mengguncang rasa kemanusiaan Fromm sendiri. Erich Fromm saat itu berusia dua belas tahun. Di usia seperti itu, dia mengenal seorang perempuan muda, teman keluarganya.

Si perempuan itu cantik, menarik, dan terlebih lagi, ia juga seorang pelukis. Sayangnya, perempuan muda itu sudah bertunangan. Dalam ingatan Fromm, perempuan itu hampir selalu menemani ayahnya yang telah menduda. Seorang laki-laki tua yang tidak menarik, yang juga tidak berpenampilan menarik. Fromm mengakui penilaian ini dilandasi dengan rasa cemburu. read more

Memaknai Hari Pahlawan Melalui Memperkaya Wawasan Sejarah

Di saat memperingati hari pahlawan, kita selalu disuguhi dengan kisa-kisah heroik perjuangan para pahlawan kita dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Selama masa kolonial sejak berdirinya VOC, pemerintahan Hindia-Belanda hingga pendudukan Jepang, bangsa kita memang sudah mengalami begitu banyak perjuangan fisik yang memakan ribuan korban jiwa. Dimulai sejak perjuangan kerajaan-kerajaan di Nusantara yang berujuang membebaskan diri dari praktik culas VOC dalam memonopoli perdagangan, ketimpangan sosial di masa Hindia-Belanda, kekejaman Romusha di masa pendudukan Jepang, serta perjuangan berdarah-darah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di perjuangan yang terakhir inilah, di perjuangan mempertahankan kemerdekaan, bisa dicatat sebagai perjuangan revolusi fisik yang paling menguras banyak tenaga, dana hingga nyawa. Banyak di antara kita yang tidak terlalu intens dalam membaca literatur-literatur sejarah malah kadang berfikir bahwa istilah-stilah atau peristiwa bersejarah seperti Pertempuran Medan Area, Bandung Lautan Api, Pertempuran Surabaya, Palagan Ambarawa hingga peristiwa-peristiwa sejarah di kampung kelahiran kita seperti Korban 40.000 Jiwa dan nama-nama besar di dalamnya seperti Wolter Monginsidi dan Emy Saelan adalah bagian dari perjuangan merebut kemerdekaan sebelum 17 Agustus 1945. Nyatanya, perjuangan terberat dan paling mematikan justru terjadi di masa-masa setelah proklamasi kemerdekaan kita. Jangan membayangkan sebuah kehidupan yang damai dan penuh kebahagiaan setelah kita memproklamasikan kemerdekaan kita dari penjajahan. read more

Takut

Maka tersingkaplah fajar setelah jelajahi gulita malam. Mentari seolah mematuk-matuk kulit ariku hingga menusuk tembus sadarku yang baru saja siuman dari lelapnya. Aku bergegas berkejaran dengan mentari menuju kerumunan makhluk di semesta. Di luar sana kompetisi meraih dunia fana nampaknya takkan pernah redup, malah semakin gempita saja menggunakan segala cara dan menafikan aura-aura etis dan estetis sekalipun. Jadilah, lomba perjalanan menuju cahaya beralih memasuki ruang-ruang buram dan gelap baik sengaja maupun tidak. read more

Change you Words Change you World

Kata dan pikiran ialah elemen yang saling mengandaikan. Kata ialah cermin pikiran sekaligus sebaliknya, pikiran ialah basis kata. Keduanya memiliki hubungan kausal yang satu menjadi sebab bagi lainnya, begitu juga sebaliknya.

Melalui elemen kata, pikiran dapat diakses sedemikian rupa: melacaknya, menelusurinya, menggeledahnya, menunjuknya… kepada sesuatu titik, entah konsep, ide, atau gagasan.

Tapi juga kata sebaliknya cangkang yang demikian purna menyembunyikan pikiran: membungkusnya, menutupinya, melindunginya… ke dalam suatu maksud, entah berupa niat, kemauan, atau kehendak. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute