Buku Kuning Mi Instan

Saya diajak berkeliling oleh penulis Raymond Carver Terkubur Mi Instan di Iowa untuk memahami bagaimana menulis sebuah karya sastra dengan cara yang paling amatir. Bukan saya yang mengatakan itu, tetapi hal itu terus berulang di beberapa halaman buku bersampul kuning dengan keriting mie instan. Pelan-pelan, kita akan memahami bahwa menulis secara amatiran bukan perkara enteng.

Di halaman 45, sebuah pesan kepada pembaca bahwa sang penulis novel berusaha menghindari cerita yang mudah ditebak. Dan karena itu kamu berhenti menulis novel itu sambil memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak mudah ditebak pembaca namun tetap masuk akal. read more

Bukuku Sayang, Bukuku Malang

“Cukuplah rayap saja yang menghancurkan buku.” (Guru Han)

Apa jadinya, jika setiap kelompok mendatangi toko buku, lalu meminta sejumlah buku untuk dikembalikan ke penerbitnya, karena tidak setuju dengan buku itu? Maka akan kosonglah toko buku. Dan, tahukah anda jika buku tak bebas diperdagangkan lagi? Mandeklah ilmu pengetahuan. Macetlah peradaban.

Beberapa waktu lalu, segelintir orang, menamakan diri dari Pemuda Pancasila (PP) dan Brigade Muslim Indonesia (BMI) mendatangi toko buku Gramedia di Mal Trans Studio Makassar. Maksud kedatangannya dapat dilihat pada video berdurasi 39 detik, yang lagi viral. Mereka sedang mencari buku yang berpaham Marxisme. Dan, bersepakat dengan pihak Gramedia, untuk menarik seluruh buku tersebut dan mengembalikan ke pihak percetakan. Mereka ingin Makassar bebas dari paham itu. Apesnya, buku yang dipertontonkan di video itu adalah bukunya Franz Magnis Suseno, yang justru buku tersebut mengkritik marxisme. Satu kebodohan menurut Romo Magnis. Rupanya mereka tidak bisa bedakan, mana buku marxisme dan buku kritik atas marxisme. read more

Razia Buku: Anda yang Malas Membaca Tak Perlu Membatasi Bacaan Publik

“Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya; maka pastilah bangsa itu akan musnah,” kata Milan Kundera. Namun hari ini, di Makassar, kita tak menyaksikan buku dibakar karena perang saudara sebagaimana yang terjadi di Alexandria. Pun kita tak menyaksikan buku dibuang ke sungai sebagaimana yang dialami ratusan ribu koleksi perpustakaan kerajaan Islam di Baghdad. Namun kita bisa bersepakat, pelarangan buku tak ada bedanya ketika buku dibakar atau dibuang ke sungai: sama-sama metode penghancuran sebuah bangsa dan peradaban. read more

Mengapa Mereka Begitu Pandai Merazia Buku?

Saya tiba-tiba merasa menjadi orang goblok selama 17 detik melihat sekumpulan orang yang merazia buku. Mereka gagah berdiri bebas memegang buku yang dianggap mampu meracuni pikiran orang banyak. Merekamnya dengan gawai canggih tanpa rasa was-was. Pose mereka ini mirip dengan calon guru besar yang hendak mendatangi podium pengukuhan. Menenteng buku-buku sampai membutuhkan asisten berkaca mata.

Saya menduga mereka sudah melakukan penelitian berhari-hari, berbulan-berbulan, atau bertahun-tahun, atau beribu-ribu tahun sampai abad pertengahan bahwa buku  memiliki pengaruh langsung terhadap bentuk pemikiran orang-orang. Seolah-olah teks memiliki akses langsung mengubah paradigma seseorang. read more

Razia Buku Kiri dan Realisme Spekulatif: Perang (terhadap) Pemikiran

Lagi hangat perdebatan para filsuf. Tentang sudut pandang baru, atau paradigma baru, sebuah gerakan, atau aliran baru. Mereka menyebutnya realisme spekulatif. Secara langsung menginterupsi postmodernisme atau kawannya yang lain, pascastruktruralis, yang anti-realis. Gerakan emansipasi. Bahwa, alih-alih menemukan kebenaran universal, bahkan yang mana ‘yang benar’ dan yang mana ‘yang belum benar’ pun kini masih perlu dan harus segera dipertentangkan kembali.

Realisme spekulatif: ‘perang’ pemikiran
Sebuah kabar gembira tentu saja, bagi pecinta literasi. Bahwa filsafat pun tak pernah benar-benar berada di titik aman. Tak ada yang anti-kritik dalam dunia ilmu, juga filsafat. read more

Derita Pasien di Tanggal Merah

Indonesia memang bukan negara dengan tanggal merah atau hari libur terbanyak. Posisi itu ditempati Srilanka dengan 25 hari libur. Indonesia menempati posisi ketiga dengan 20 hari libur.

Dulunya saya menganggap tanggal merah itu tidak masalah. Namun pikiran saya itu berubah setelah sebuah peristiwa yang saya alami beberapa bulan yang lalu.

Selengkapnya begini.

Bertemu dengan dokter seringkali menjadi sebuah kemewahan bagi pasien. Terlepas apapun alasannya, dokter acapkali lebih sibuk ketimbang jadwal presiden sekalipun. read more

Beternak Derita

“Berbuatlah, tapi jangan karena ingin beternak derita.” (Guru Han)

Gempa politik pilkada di beberapa daerah, sekira dua tahun sebelum datangnya badai dan tsunami politik pilpres dan caleg, sekotahnya sudah berlalu. Waima gempa politik, dan badai, serta tsunami politik, tetap menyisakan akibat, hingga kini masih terasa. Negeri ini butuh pemulihan atas sakit jiwanya.

Saya punya beberapa kawan yang terkena dampak akut gempa, badai, dan tsunami politik itu. Mereka adalah para pendukung peserta helatan politik itu. Pasalnya, banyak kawan saya menang, juga tidak sedikit yang kalah. Dan, baik menang maupun kalah, ternyata nasibnya sama: menderita. read more

Berikan Ruang pada Perasaan Anak

Jika Band Letto mengangankan Ruang Rindu, dan Tulus, seorang musisi terkenal, yang  menginginkan Ruang untuk bebas dan sendiri, pernahkah terlintas dalam pikiran untuk memberikan ruang pada perasaan anak? Bukan hanya ruang bermain, ruang belajar, atau ruang-ruang fisik lainnya. Karena semua fasilitas tersebut sudah lebih mudah ditemukan di rumah-rumah tinggal, sekolah, atau area publik lainnya. Kendati masih butuh banyak pembenahan dalam hal keamanan, kenyamanan, serta keselamatan mereka.

Anak-anak beserta dunianya yang penuh warna, tantangan pengasuhan, kepelikan menghadapi perilakunya, akan selamanya mendorong dan memaksa setiap orang dewasa di sekitarnya untuk terus siap siaga, belajar, berubah, dan bertumbuh. Tak sedikit yang kewalahan hingga berujung pada rasa frustrasi, namun banyak pula yang jatuh-bangun mau belajar segala hal yang terkait pengetahuan pengasuhan mereka. Walaupun mungkin lebih banyak jatuhnya daripada bangunnya. Tak jadi soal selama mereka bangkit kembali dan belajar memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah lalu. read more

Kuliah (Sekolah), untuk apa?

Sekarang musim daftar kuliah. Ini bisa jadi berita gembira ataupun berita yang manyayat hati bagi calon dan keluarga calon mahasiswa. Gembira bagi yang lulus dan mampu membayar biaya kuliah. Derita bagi yang tak lulus, dan jalan satu-satunya untuk kuliah, lewat jalur mandiri. Itupun kalau ada koneksi dan isi tas untuk biaya kuliah jalur Mandiri. _Hmmmm, Mandiri.. tapi bukan Bank Mandiri yang hari ini down sistemnya_ 😂. Mandiri adalah salah satu jalur prestise masuk kampus Negeri. Prestise dengan bayar yang lebih aduhai. read more

Parenting for Dad

Dalam banyak kesempatan saya sering memperhatikan baik secara sengaja maupun tidak, interaksi dan percakapan yang terjadi antara ayah dan anak, atau obrolan sebuah keluarga yang berada dalam jangkauan perhatian dan pendengaran saya. Sangat langka saya dapati percakapan sehat dan membangun di sana. Yang banyak terjadi, suara dan pendapat anak-anak disepelekan, ditertawai, bahkan dianggap angin lalu atau tidak pernah ada.

Mereka terkadang ditanyai tetapi jawabannya tidak didengarkan. Dimintai pendapat namun kerap tidak dihargai. Pertanyaan yang sifatnya basa-basi berseliweran dalam percakapan sehari-hari tetapi mereka hanya melayang dan berputar-putar saja sebatas plafon, lalu menguap entah ke mana. Masing-masing kembali sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Tak peduli orangtua tanyanya apa, anak-anak jawabnya apa. Sepanjang tidak timbul kegaduhan yang  berarti, maka semua akan dianggap baik-baik saja. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute