Menggosipkan Buku

Kampus adalah medan perang, yakni memerangi kebodohan untuk mewujudkan mahasiswa yang cemerlang, dan generasi yang memiliki ciri intelektualitas tinggi. Jika sebagai prajurit di medan laga peperangan anggota militer, senjata yang digunakan adalah pistol, senapan, dan senjata api lainnya, untuk menegakkan keamanan rakyat, maka sudah selayaknya seorang mahasiswa menjadikan buku, pena, dan laptop sebagai senjata untuk berlaga di “medan perangnya” yang bernama kampus.

Komitmen yang kuat tentu sangat diperlukan dalam suatu pertempuran untuk memperoleh hasil yang baik. Demikian pula bagi seorang mahasiswa dalam membatinkan komitmennya, untuk selalu mendekatkan bahkan mencintai “alat tempurnya”. Hal tersebut tentu sangat diharapkan agar generasi yang dicita-citakan, bisa terwujud melalui cetakan-cetakan kampus. Mengingat hal itu, turut andil dalam menanamkan komitmen, tentulah tidak hanya sekadar memperkenalkan melalui nasehat dan imbauan lisan, tetapi ikut serta melakukan aktivitas-aktivitas yang mengarah pada komitmen yang akan dibangun. read more

Tiada Tanah, Tiada Hidup

Hentikan perampasan tanah petani, karena tanah adalah tempat petani memuliakan dirinya dengan berkerja. —Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA)—

Berbagai bencana sosial melanda belahan dunia, sehingga solidaritas dan seruan perlawanan bermunculan dari seluruh penjuru dunia. Salah satu bencana sosial itu adalah monopoli hak atas tanah. Pada perihal tersebut, negara berkembang, atau istilah lain, negara dunia ketiga, masih menunjukkan aksi perlawanan dan penolakan terhadap masifnya perampasan dan monopoli atas tanah yang dilakukan oleh imperialisme. Hal serupa terjadi ketika kita semua harus memperingati Hari Ketiadaan Pangan, sebagai implementasi nyata dari keserakahan sekelompok manusia yang tak beradab, dan jauh dari sikap kemanusiaan. read more

Mengenal, Awal Cinta (Bag-3)

Sebagaimana dijanjikan dalam tulisan sebelumnya, pada kesempatan kali ini, akan diurai beberapa tema dasar dalam filsafat. Namun, harus diingat baik-baik bahwa kata “ada”—yang banyak digunakan pada dua bagian tulisan sebelumnya— bukanlah kata yang tepat untuk menerjemahkan kata “wujud” dalam bahasa filsafat.[i] Adalah kenyataan bahwa kata “wujud” itu sendiri mensyaratkan kesadaran dan persepsi. Namun, saat ini bukanlah waktu yang tepat mendiskusikannya. Mudah-mudahan lain kesempatan, persoalan ini akan diurai dengan baik. read more

Filsafat Kebahagiaan: Perspektif Plato

Sejak dahulu, pembahasan mengenai pertentangan internal dalam diri manusia, antara hasrat (nafsu) dan akal budi telah menjadi tema penting dalam ajaran kearifan dan agama-agama kuno. Sanatana dharma dalam ajaran Hindu mengajarkan cara memperoleh kebijaksanaan abadi dengan mengendalikan nafsu yang kerap menghambat jalan dharma. Ajaran Buddhis lebih ekstrem dengan menegaskan bahwa sumber penderitaan adalah hasrat, dan untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan membebaskan jiwa dari penjara hasrat melalui 8 jalan. Ajaran kearifan timur tersebut mengingatkan akan bahayanya nafsu bagi pencapaian kebahagiaan sejati manusia. read more

Bercakap-cakap dalam Sunyi

Judul: AirMataDarah (Sehimpun Puisi)

Penulis: Sulhan Yusuf

Penerbit: Liblitera Institute bekerja sama Boetta Ilmu

Cetakan: Pertama, Maret 2015

Tebal: 178 halaman

Inilah buku yang menarik untuk dibaca dan didialogkan. AirMataDarah (Sehimpun Puisi) mengalir sebagaimana air, melihat sebagaimana mata, dan menghidupkan sebagaimana darah. Buku ini begitu reflektif, tidak kering, tetapi juga tidak amat-amat romantik. Ia memberikan gambaran refleksi sekaligus kritik-kritik dalam setiap bait-bait syairnya. Sebagai seorang penyair yang sejati—walaupun penulis buku ini tidak pernah disebut atau menyebut diri sebagai penyair—selalu menerjemahkan setiap fenomena itu dengan cara yang reflektif, jernih dan segar. Relektif, jernih dan segar di sini bertolak pada esensi bahwa setiap puisi pada dasarnya merupakan anak kandung dari penulis atau penciptanya. Sebagai anak kandung ia harus lahir tepat waktu, tak boleh premature, kedaluwarsa, dan tentu saja, mencitrakan kekhasan penciptanya. Tidak bolehlah ia menjadi anak tiri—berjarak dari si penciptanya. Itulah yang dimaksud dengan jernih serta segar. Sulhan merenungkan begitu banyak persoalan hidup yang dijumpainya: dari yang hina hingga terhormat, suci maupun bersimbah noda, dari yang empirik, filosofis sampai yang paling mistik. Renungan-renungan itu tergambarkan dalam syair-syairnya. read more

Pentingnya Belajar Menulis

Sebagaimana biasa kelas dimulai dengan membaca dan menyimak karya tulis teman-teman peserta yang hadir siang itu. Si empunya tulisan membacanya dan yang lain menyimak sambil memegang kertas gandaannya. Tulisan bebas saja, tak ada keharusan mesti menuliskan jenis apa. Mau puisi satu paragraf, cerpen satu halaman, ataupun opini berlembar-lembar. Siapa pun bebas mengalirkan ide dalam bentuk yang dipilihnya.

Lalu dengan suara yang cukup lantang dibacakanlah hasil karya tersebut. Ada yang membaca dengan intonasi yang cukup baik, ada yang seadanya alias datar saja. Tetapi ada juga yang cukup merdu. Iramanya enak, pemenggalan frasa dan kalimatnya pas di telinga. Yang mendengar, meskipun tidak kebagian kertas hasil tulisan tersebut, tetap bisa menyimak dan menangkap kalimat demi kalimat yang mengalir dari mulut si pembaca. read more

Ulamaku, Ulamamu, dan Ulama Kita

Pekan ini, penuh dengan hari-hari yang melelahkan ruang pikir, bahkan memabukkan ranah zikir. Gegaranya, persamuhan di Indonesia Lawers Club (ILC), yang mengusung tema, “Setelah Ahok Minta Maaf”, menyisakan keributan yang menyalak-nyalak, khususnya di media daring. Pangkalnya, tatkala di acara itu, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, yang diwakili oleh K.H.Tengku Zulkarnaen, membacakan putusan fatwa MUI, yang mendakwa Ahok selaku penista al-Qur’an dan penghina ulama, lalu melaporkan ke polisi. Sontak saja, bukan hanya di arena ILC menyulut perdebatan, protes pada institusi MUI tak terelakkan. Berlanjut di media sosial, ada yang meminta MUI dibubarkan saja. Bagi saya, ini sejenis deinstitusi MUI. read more

Ibn ‘Arabi, Para Pencari Ilmu, dan Suatu Rasa Bersalah

Di ruang berisikan puluhan meja dan kursi itu, peserta diskusi tengah duduk santai, sambil menikmati sajian kopi dan fasilitas internet. Saya datang terlambat. Dan entah mengapa, setelah sampai di warkop itu saya merasa gugup. Saya tak seperti biasanya.

Mungkin karena materi yang dibebankan oleh Yusri, owner dari warkop yang bernama Be Smart Coffee itu, membuatku seperti ciut sendiri. Bayangkan, saya harus mengulas pemikiran Ibn ‘Arabi, meski hanya pengantar saja. Dan kita tahu, pemikiran Ibn ‘Arabi begitu rumit, tak sederhana yang kita bayangkan. Tapi saya pikir, ini tugas intelektual yang harus saya emban. Saya hanya memilih mensiasati diskusi ini dengan mengutarakan apa yang saya tahu, dan tidak mengutarakan, atau tidak asal ngomong dari apa yang saya tidak tahu tentang percik pemikirannya. read more

Soekarno dan Literasi

Soekarno dan literasi, sama-sama tonggak patahan sejarah. Titik balik prasejarah menjadi sejarah ditandai oleh tulisan. Titik balik Nusantara terjajah dengan Indonesia merdeka ditandai dengan kehadiran Soekarno. Kehidupan tanpa tulisan adalah realitas prasejarah. Indonesia tanpa Soekarno adalah keterjajahan. Keduanya, Soekarno dan literasi, merepresentasikan patahan. Soekarno mengantarkan patahan Indonesia terjajah ke Indonesia merdeka. Literasi menandakan patahan prasejarah ke sejarah. Yang perlu dicatat dari keduanya adalah sama-sama melahirkan perubahan, bukan sekadar yang evolutif bahkan juga perubahan yang revolusioner. Dan, melahirkan patahan realitas. read more

Manusia yang Tak Pernah Selesai

Memikirkan manusia, sama saja memikirkan sesuatu yang lebih luas dari geometri ruang angkasa dan lebih dalam daripada palung laut terdalam di dunia. Hingga detik ini, manusia adalah sesuatu yang tetap menjadi misteri, lebih misterius dibanding legenda manapun yang pernah dikuak oleh Arkeologi dan ilmu sejarah kontemporer. Semakin banyak spesialisasi bidang ilmu pengetahuan yang objek materilnya adalah manusia, semakin tebal pula hijab misteri manusia.

Dalam tradisi Ilmu Pengetahuan dan filsafat, ada semacam kesamaan tujuan saat melakukan penelitian, pembedahan ataupun penjelasan terhadap manusia. Yaitu ikhtiar untuk mengetahui hakikat, esensi ataupun hukum yang melekat pada diri manusia. Hakikat manusia ini kita sebutlah dengan istilah The Real I. Setiap bidang pengetahuan ataupun aliran pemikiran memiliki interpretasi tersendiri terhadap The Real I. Ironisnya semakin cabang-cabang ilmu pengetahuan dan pemikiran tersebut mengeksplorasi tema manusia, secara tidak sadar telah terjadi proses detachment (penjarakan/pengelakan) yang berlapis (stratified) terhadap manusia dan kemanusiaan. Hal ini dikarenakan The Real I adalah sesuatu yang abstrak dan murni ide, sedangkan dalam aktivitas pengkonsepsian dan teoritisasinya menggunakan medium bahasa yang sifatnya konkrit dan kondisional. Sehingga hakikat manusia dan kemanusiaan yang sifatnya universal telah terlimitasi dalam sekian banyak kotak-kotak konsep dan terpotong-potong ke dalam kategori-kategori pikiran yang berupa ragam. read more

Kelas Literasi Paradigma Institute