Pak Ishak, Tralala, dan Bunga-Bunga

 

Makassar pada suatu hari, ketika aku usai bertamasya di gerai toko buku di bilangan mall Panakukang, aku beranjak bergeser ke sebuah kedai kopi hendak membaca buku yang baru saja kubeli. Menurutku itu adalah cara terbaik menunggu isteriku yang tengah membawa dua anakku ke sebuah praktik dokter yang tak terlampau jauh dari tempat ngopi yang kupilih. Aku belum menikmati kopi di sore hari ini.

“Kopi Kalosi Toraja, pak?” ujar seorang barista yang rupanya telah mengenaliku berikut pesanananku. Saban hari bila aku mengunjungi kedai kopi ini, aku selalu kepincut dengan racikan kopi Kalosi dan Toraja. Entah berapa lama aku larut dalam “Just After Sunset”-nya Stephen King, mengalun lagu dari Aiza Segulerra. Aku berusaha mengingat judul lagunya tapi kulupa. Kuteruskan bacaanku…

Sekitar satu jam aku menikmati sedapnya cerita Stephen King bersama kopi Kalosi Toraja. Aku menatap ke luar jalan. Ah magrib begitu deras, ada yang terhempas. Tiba-tiba aku teringat potongan sajak Sapardi Djoko Damono. Waktu telah beranjak dari sore menemui malam. Seorang lelaki lebih paruh baya yang sangat familiar bagiku duduk di sebelahku. Aku berbagi senyum untuknya sembari menyapanya, “Selamat malam, Pak.” Ia segera membalas dengan keramahanku dengan senyuman yang lebih akrab dan hangat, “Selamat malam.”

“Sejak tadi ya?” sapanya sopan.

“Sekitar satu jam lalu, Pak,” sahutku.

Mungkin dari sikapku yang tampak olehnya bila aku ingin sekali berbincang dengannya, beliau bergeser berpindah kursi semeja denganku. Beberapa saat kemudian beliau memanggil pelayan dan memesan Cappuccino dan dua buah roti.

Beliau membuka perbincangan dengan menertawai dirinya dan isterinya yang salah melihat tanggal dan hari dari sebuah hajatan pengantin salah seorang anak sahabatnya. Ia mengira hari ini padahal mestinya sabtu pekan depan. Jadilah bincang awal itu riuh oleh derai tawa kami berdua.

“Apakah adik mengenal Tralala?” (Saya samarkan namanya)

“Oh, iya saya mengenalnya, pak. Beliau termasuk kawan dekat ketika mahasiswa dulu walupun kami berbeda asal perguruan tinggi tempat kami mengais pengetahuan. Sekarang beliau sudah bebas dari rumah tahanan di Filipina setelah mendekam beberapa tahun di sana dan saat ini telah di Makassar. Lalu berceritalah dengan tema yang menarik minat kami berdua dengan cukup serius. Dalam waktu dekat beliau ingin menemuinya dan menulis kisahnya di catatan-catatan pendek yang setiap pekan di salah satu media lokal beroplah cukup besar di kota Makassar.

“Beberapa tahun lalu,” Pak Ishak memulai ceritanya, “Ketika media geger oleh penangkapan Tralala di negeri seberang, sebab tertuduh sebagai “teroris” yang selama ini telah diincar oleh pemerintahan Filipina, kumasukkan ia ke dalam daftar doaku. Sebagaimana kebiasaanku sebelum tidur, aku mendoakan orang-orang satu persatu khususnya sahabatku dan orang yang kukenal dan dalam keadaan dilanda masalah.”.

“Tapi malam itu, setelah beberapa orang saya doakan, wajah Tralala yang baru saja tertangkap di Filipina itu selalu menyambangiku dan tak hendak beranjak bayang-bayangnya, maka kulantunlah doa-doa yang cukup panjang untuk beliau demi kebaikan dan kesehatannya.”

“Pak, tapi beliau kan tertuduh “teroris” yang salah satu rencananya pernah hendak membom gereja yang ada di Makassar,” ujarku.

“Iya aku juga dengar seperti itu tapi sebelum ada bukti. Prasangka tidak boleh bersemayam di pikiran dan hati kita. Saya mengenalnya, kerap aku berdiskusi di rupa-rupa forum dan aku menyukai kelugasannya meyakini keyakinannya dan untuk hal itu ia bersuara lantang.”

“Setelah beberapa pekan penahanannya di negeri yang mayoritas penduduknya katolik itu. aku menemui isterinya melalui seorang mahasiswa saya di pasca sarjana tempatku mengajar sebab ia dalah salah satu dari beberapa sahabatnya. Setelah berbincang dengan isterinya, aku menyimpulkan bahwa perempuan ini adalah seorang ibu yang kuat menanggung beban psikologi dan materi. Hidup sebagai single parent adalah wujud cintanya kepada suaminya yang menempuh jalan “perjuangan” yang tidak lazim.”

“Beberapa hari setelah pertemuan itu aku mengunjungi seorang pastor dan menceritakan prihal pertemuanku dengan isteri tertuduh teroris itu. Dan meminta kepadanya untuk membantu dalam tiga hal. Pertama, bila berkenan tolong doakan kawan saya itu dan keluarganya supaya mereka tetap dalam kebaikan. Kedua, tolong umumkan di jamaah anda yang berjumlah lebih dari lima ribu itu bila hendak berbelanja kue-kue belanjalah di kedainya untuk membantu meringankan biaya hidup keluarganya. Ketiga, bila memungkinkan carilah jalan agar aku dan atau kamu dapat mengunjungi Tralala di rumah tahanan di Filipina.”

“Awalnya pastor ini rada bingung juga mendengar permintaanku,” Pak Ishak terus melanjutkan cerita dengan penuh semangat.” Namun setelah kujelaskan panjang lebar alasan-alasanku, akhirnya ia mengiyakan walaupun mungkin sedikit bimbang. Singkat cerita, suatu waktu doa-doaku nampaknya mewujud. Pastor yang kumintai tolong, diundang ke Filipna untuk menghadiri sebuah hajatan seminar Internasional yang diprakarsai lembaga gereja katolik di negeri itu.”

Di sela waktu hajatan, sang Pastor akhirnya bisa mengunjunginya di rumah tahanan. Sang tertuduh teroris ini tak kepalang terharunya ketika tahu bahwa yang menjenguknya adalah seorang pastor dari kota kelahirannya, jauh dari negeri seberang atas permintaan Pak Ishak. Dari bilik jeruji ia menulis surat untuk bapak penuh kasih ini dan juga buat isterinya di kampung halaman.

Kelopak mataku tak tahan membendung bulir-bulir air hangat basahi pipiku. Betapa lelaki lebih dariparuh baya di hadapanku memiliki cinta kasih yang tulus. Bulu kudukku tak hentinya merinding. Pak Ishak lalu berbisik kepadaku bila cerita ini untuk pertama kalinya ia ceritakan pada seseorang. Aku sungguh beruntung. Aku diliputi bahagia tak terkira dan sepenuh haru.

Aku membayangkan bagaimana Baginda Nabi dalam sebuah kisah. Saban hari di pojok sebuah pasar di kota Madinah menyuapi seorang buta Beragama Yahudi dengan sepenuh kasih sembari tak hentinya dari mulut si buta itu mencaci maki sang Nabi yang sangat penyayang. Sehingga ketika baginda Nabi wafat, seorang sahabatnya mencoba melanjutkan kebiasaannya menyuapi si buta, namun ia dibentak, “Siapa kamu?” Sahabat itu menjawab, “Aku yang biasa menyuapimu,” ujarnya. “Bukan!” kata si Buta, “Beliau sangat lembut dan penuh kasih. Sedang kamu tak seperti dia.” Sahabat itu menangis meninggalkan orang tua buta itu kemudian berujar bahwa beliau telah mangkat. Dialah Muhammad Sang Nabi Agung yang saban hari menyuapimu dengan lembut sepenuh kasih.

Aku teringat Mahatma Gandhi yang gelisah dan berpuasa sepanjang waktu bila masyarakat di kampung dan negerinya bertikai antar suku dan agama. Beliau menghabiskan umurnya mengayomi masyarakatnya membangun negerinya secara egaliter. Meneguhkan hak-hak kaum tertindas sepanjang waktu.

Aku teringat Bunda Theresa yang menggadaikan dirinya sepanjang hayatnya mendampingi masyarakatnya yang terjangkit penyakit kusta dan kaum papa lainnya tanpa mengenal ras dan agamanya.

Sebelum kami berpisah, bapak yang sangat bijak dan bersahaja yang kukagumi sejak dulu, meminta padaku satu pernyataan tentang karakter kawan yang jadi objek pembicaraan kami. Beliau bertanya padaku sebagai seseorang yang pernah bersentuhan cukup dekat dengannya. “Menurutku, yang paling menonjol padanya adalah sikap teguh pada sesuatu yang diyakininya,” kataku singkat.

“Itu poin bagus yang akan aku sampaikan bila beliau mengizinkanku menuliskannya kelak. Sebab kehidupan di kekinian, orang teguh bertahan pada sesuatu yang benar sudah mulai langka.”

Tak lama kemudian kami berpamitan. Beliau lebih dahulu meninggalkan kedai kopi tempat kami berbincang. Langkahnya pelan. Di tubuhnya kurasakan aura kasih sayang meliputinya. Memancarkan kasih yang tulus tak bertepi.

Seorang teman saya yang bertetangga dengan, pak Ishak Ngeljaratan, saban pagi di suatu musim mendapatinya menanam bunga baru di halaman rumahnya. Teman saya itu menyapa dan menanyainya, “Pak Ishak, rajin sekali menanam bunga.” Beliau hanya berseloroh, “Saya tidak mau kalah dengan pencuri yang setiap malam mengambil bungaku.”

 

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

0 thoughts on “Pak Ishak, Tralala, dan Bunga-Bunga”

  1. Tulisan yg menyentuh qolbu … membuka nalar utk tetap saling menghargai dan membantu kepada sesama tampa melihat latar belakang sosial… atau dr mana asal keyakinan seseorang … tks pak Rasyid Idris telah memberi pencerahan seperti cerahnya matahari pagi ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *