Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)

Problem bumi dan masa depannya telah menjadi perhatian utama masyarakat dunia sejak Rachel Carlson mengeluarkan dokumen yang bercerita tentang bahaya residu pestisida. Bukan hanya itu. Menurutnya, industri yang sudah gegap gempita di seluruh dunia ternyata meninggalkan masalah masa depan bumi. Dokumen ilmiah yang ditulis pada tahun 1962 itu menandai sebuah kecemasan umat manusia soal fungsi satu-satunya planet yang dihuni makhluk hidup ini. Buku Silent Spring yang ditulis Carlson itu mau mengabarkan sebuah aba-aba bahwa manusia saat ini juga harus berpikir tentang kelestarian planet ini.

Sepuluh tahun kemudian program lingkungan di Perserikatan Bangsa-Bangsa menjadi isu penting.Perkumpulan banyak bangsa itu menggelar konferensi dunia di Stockholm untuk pembangunan berkelanjutan. Saat itulah dicetuskan sebagai hari lingkungan hidup yang dirayakan pada tanggal 5 Juni setiap tahun.

Semua negara merasa perlu mengusung sebuah slogan yang berkembang kemudian, yakni pembangunan berkelanjutan(sustainable development).Pembangunan berkelanjutan menjadi topik baru dalam segala kebijakan tentang perencanaan pembangunan di berbagai negara. Ada kesadaran yang muncul terutama di tingkat elit negara mengenai perlunya melaksanakan pembangunan dengan memastikan tetap tersedianya Sumber Daya Alam (SDA) di masa depan. Namun, dalam dua puluh tahun kemudian hampir seluruh negara beramai-ramai menggerogoti bumi laksana rayap mengerat kayu empuk. Suara Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio De Jeneiro pada 1992 itu tetap hanya nyaring di forum namun sunyi di lapangan industri.

Industri tetap pada wataknya yang mengesampingkan pertimbangan keberlanjutan demi mendapatkan bahan baku. Industri telah menjalankan tugasnya sebagai perangkat keras ekonomi untuk menentukan denyut pembangunan. Pembangunan juga demikian, selalu berada dalam definisi pertumbuhan ekonomi semata. Itu sebabnya, di kemudian hari pegiat lingkungan hidup menyerang konsep pembangunan berkelanjutan justru karena falsafah developmentalismyang bertumpu pada konsep economic growth semata. Para ilmuwan dan aktivis itu berpendapat bahwa target pelestarian lingkungan hidup akan makin jauh karena konsep pembangunan berkelanjutan sesungguhnya sedang menentang dirinya sendiri. Usulannya adalah kehidupan berkelanjutan.

Apapun konsep yang diajukan, pembangunan dalam pengertian pengembangan karya peradaban manusia sulit dielakkan. Debat semantik soal pembangunan hanya mungkin dapat memperbaiki definisi teoretik, bukan menghentikan kerusakan yang mengancam kelangsungan fungsi bumi di lapangan praksis.

Sebenarnya, apa yang paling menjadi persoalan dalam urusan kelangsungan fungsi planet ini? Nampaknya pendapat Arne Naess dalam buku Ecology, Community, and Lifestyle perlu dipertimbangkan. Pemerhati lingkungan hidup banyak mengambil pendapat Naess sebagai rujukan. Gaya hidup (life style) ditempatkan menjadi titik tolak yang disorotnya sebagai persoalan paling pelik itu. Ia berpendapat bahwa mengendalikan gaya hidup masyarakat adalah suatu cara untuk mencegah kerusakan fungsi lingkungan.

Arne Naess dan Carlson sudah memberikan gambaran kepada seluruh bangsa tentang dua persoalan pertama yang menjadi akar kesalahan mengurus bumi dan kehidupan di atasnya. Naess menunjukan gaya hidup sebagai problem besar tiap-tiap individu sedangkan Carlson menyorot soal watak industri. Naess memberikan informasi tentang sebuah paradigma yang membentuk cara pandang seseorang tentang diri dan kepentingannya. Di atas kepentingan itulah ia bekarja. Saya ingin menyebutnya sebagai “paradigma kedirian”. Di atas kepentingan pribadilah semua gejala ini bekerja. Mirip dengan pernyataan Carles Darwin tentang konsep survival of the fittest yang diperluas ke segala ranah. Melalui “penyembahan” terhadap gaya hidup inilah manusia saling memakan. Tujuanya adalah melayani diri. Apapun dapat dikorbankan untuk keperluan tujuan ini.

Gaya hidup mengubah keperluan pemenuhan kualitas hidup menjadi standar hidup. Terjadi pergeseran dari ranah pribadi (diri) ke komunitas atau kelompok. Pada bagian inilah manusia memaksa dirinya untuk melengkapi diri dengan pernak-pernik simbolik walau harus mengorbankan kualitas hidup yang seharusnya dipenuhi. Kualitas untuk tujuan pemanusiaan harus diabaikan. Padahal, dalam konsep ilmu lingkungan, alam semesta telah menyiapkan secara gratis atau setidaknya secara murah segala urusan manusia untuk mencapai kualitas hidupnya. Sebuah keluarga yang semula memilih makan sayuran segar dari kebun sendiri atau dari pasar tradisional harus mengorbankan gaya hidup sehat hanya untuk memenuhi keperluan gaya hidup lux di restoran yang menyajikan junk food. Semua atas nama gaya hidup; kemewahan. Secara individual saja sudah mengalami degradasi. Paradigma kedirian jelas telah mengajak manusia perlahan-lahan “memisahkan diri” dari lingkungan tempat hidupnya.

Di ranah lain, Carlson menyorot industri yang sejak semula menjadi fokus keresahannya. Carlson melihat bahwa industri telah mencaplok nurani manusia dari lingkungannya. Nurani manusia diganti dengan nafsu industri. Akal manusia berubah menjadi mesin yang bekerja berdasarkan sebuah mekanisme laba-rugi. Mesin itulah yang menegaskan keterpisahan total manusia dengan alamnya. Maksudnya, bahwa manusia adalah bagian dari alam tak dapat dipungkiri namun memeras alam untuk kepentingan penggemukan dan penumpukan modal.

Doktrin survival kelompok kian menjadi raja dengan standar keunggulan kapital atau permodalan.Tatkala harus menuntut percepatan pengembangan modal maka kepentingan kepemilikan modal dapat melibas apapun termasuk tempat hidup manusia, lingkungan hidup. Melalui konsep industrial ini pulalah problem daya tampung dan daya dukung lingkungan hidup menjadi persoalan paling besar kini dan masa mendatang.

Di level individu, paradigma kedirian menggeser setiap manusia di sekitarnya. Melalui konsep industrial manusia terikat dalam kelompok-kelompok usaha yang saling mengeser. Dapat disebut bahwa perilaku industri mengikuti “paradigma kekelompokan”; paradigma komunitas. Seperti halnya paradigma kedirian, paradigma kekelompokan atau komunitas ini, mengunggulkan manusia atas makhluk lain. Ini mendapat pembenaran dari konsep antroposentrisme. Efek dari paham ini, segala yang bukan manusia akan tersingkir dari perlindungan.

Paradigma inilah yang menjadi akar dari segala praktik eksploitasi. Demi memenuhi kebutuhan kelompok industrial atau para pemodal maka pengelolaan tanah, hutan, dan perairan kini mencapai derajat eksploitasi yang amat hebat. Fungsi lahan juga tak kalah rawannya mengalami perubahan dan berujung kepada amuk ekologi yang dahsyat.

Antara industri dan gaya hidup memiliki hubungan erat dalam proses perubahan lingkungan dan penurunan fungsi-fungsinya. Industri adalah kegiatan yang dapat mengumbar keinginan manusia untuk mengeruk bahan baku alami dari bumi. Kegiatan ini tak gampang dihentikan setelah dipersentuhkan dengan doktrin pembangunan. Semua pembangunan selalu diukur dengan pertumbuhan ekonomi yang salah satu soko gurunya adalah seberapa kencang roda industri berputar. Semua itu dapat dijawab dengan satu cara saja; eksploitasi SDA.

Industri tidak hanya menjadi perkakas nafsu pembangunan untuk membabat tetumbuhan, memeras tanah dan menggali sembarangan isinya, tetapi juga merusak cara hidup yang sewajarnya dalam kebudayaan di semua komunitas manusia. Rusaknya cara hidup dimulai dengan proses rusaknya cara berpikir dan berpengaruh pada perubahan gaya hidup.

Apa hubungannya dengan gaya hidup? Gaya hidup manusia merupakan salah satu hal penting yang berpengaruh terhadap kualitas lingkungan hidup. Artinya, kerusakan maupun kelestarian lingkungan hidup amat dipengaruhi oleh gaya hidup manusia. Standar hidup (standard of life) mewah harus dibayar sangat mahal. Bukan oleh diri sendiri melainkan oleh bumi dan kehidupan di atasnya serta material alam di dalamnya. Gaya hidup sederhana yang berbasis pada konsep kualitas hidup (quality of life) adalah cara hidup yang amat murah dan menaati bahasa alam. Ia dapat dipenuhi tanpa harus memeras sumber daya yang diperlukan bagi masa depan kehidupan. Persoalannya, gaya hidup sederhana nampaknya tidak dapat melayani derasnya tuntutan industri untuk kemajuan pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana industri dapat dikelola dan pertumbuhan ekonomi dapat digerakkan dengan tetap menjamin fungsi bumi?Konsep etik lalu dilibatkan untuk menjadi bagian utuh dari komponen lingkungan.Ringkasnya, manusia harus menjadi bagian organik dari lingkungannya.Lingkungan harus dilihat sebagai kerja organik dari komponen yang menyatu dalam satu keutuhan, bukan keterpecahan yang bekerja secara mekanis.Tidak heran jika banyak pihak yang mencoba menggulirkan gagasan tentang etika global. Etika global dipandang sebagai  upaya menjawab gejala kerusakan masyarakat dan lingkungan. Guna memahami hal ini diperlukan uraian tentang struktur yang berpengaruh atas status lingkungan hidup.

Lingkungan hidup sudah dapat disebut rawan sesungguhnya bukan saja ketika gejala bencana sudah nampak melainkan ketika sebuah rencana untuk mencapai kemajuan dirancang di atas landasan paradigm kekelompokan tadi. Apa sebabnya? Karena rencana itu sudah mengancam fungsi-fungsi yang wajar dari sebuah sistem ekologi. Rencana pembangunan yang memisahkan manusia (kelompok manusia) dengan makhluk lain (kelompok makhluk lain). Berarti antara gaya hidup mewah dan individualistik berhubungan erat dengan watak industri dan sosialistik yang amat eksploitatif. Eksploitasi merupakan perluasan dari gaya hidup mewah itu. Paradigma kekelompokan merupakan perluasan dari paradigma kedirian.

Ilustrasi: http://wallpaperswide.com/earth_in_the_future_2-wallpapers.html

The following two tabs change content below.

Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), Anak Tentara Melawan Orba (2015), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit).

Latest posts by Syafinuddin Al-Mandari (see all)

0 thoughts on “Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *