Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-2, Habis)

Baca juga:

Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-1)

***

Dalam kajian ideologi dikenal dua kutub ideologi besar dunia yakni individualisme dan sosialisme. Individualisme dan sosialisme sebenarnya sama-sama melayani keserakahan, masing-masing keserakahan diri dan keserakahan kelompok (spesies manusia). Oleh sebab itu, penulis merasa perlu mengenalkan bahwa selain makhluk individu dan sosial seperti yang lazim didoktrinkan di sekolah formal, manusia juga sebenarnya adalah makhluk ekologis. Konsekuensinya, dukungan prinsip antroposentrisme yang ada dalam definisi materialisme saat ini memang perlu diperbaharui sebab hanya mengunggulkan jenisnya (spesiesnya).

Pada dekade 1970-an buku Small is Beautiful yang ditulis E.F. Schumaker diterbitkan oleh LP3ES. Schumaker memperkenalkan sebuah konsep untuk menjauhi semangat kemewahan yang disebutnya sebagai “proyek besar”. Segala proyek besar selalu meminta bayaran dengan harga mahal; kerusakan ekologi (fisik dan non-fisik). Pemborosan! Akibat-akibat yang ditimbulkan itu semua hanya dapat ditepis dengan kembali kepada hal-hal sederhana. Sederhana itu indah!

Keren itu tidak harus gebyar. Gebyar tapi mengandung risiko disfungsi komponen-komponen ekologi hakikatnya justru buruk. Keren seharusnya tidak mengandung risiko terhadap keseimbangan fungsi-fungsi komponen ekologi walau nampak sangat sederhana. Sederhana mulai dari gaya hidup hingga produk-produk peradaban adalah konsep yang mungkin telanjur bertentangan dengan alam pikiran manusia modern. Padahal, justru di sanalah akan ditemukan cara meningkatkan produktivitas tanpa harus menggunakan teknologi yang rumit namun mengganggu fungsi dan keseimbangan lingkungan. Lewat pemikiran ini muncul gagasan teknologi tepat guna. Beberapa tahun kemudian isu teknologi tepat guna berhasil mendorong temuan yang mencengangkan.Fungsional, ekonomis, praktis, dan ramah lingkungan.

Sederhana yang indah itu dapat terjadi kalau paradigmanya diubah menjadi lebih luas. Muncul ekosentrisme. Berdasarkan berbagai sumber, Sonny Keraf (2002) mengelaborasi kritiknya terhadap konsep pengelolaan lingkungan dengan memodelkan pergeseran cara pandang ke ekosentrisme sebagai sebuah perubahan dari biosentrisme.

Sebelumnya, biosentrisme dipuji sebagai upaya etis untuk menjadikan semua makhluk hidup setara. Sebuah keluarga kehidupan! Ia meninggalkan konsep antroposentrisme yang merajakan jenis manusia atas hewan dan tumbuhan. Kini semua yang hidup dihargai persis seperti penghargaan dan keistimewaan yang pernah diberikan (hanya) kepada (jenis) manusia.

Namun konsep itu dipandang memiliki cacat. Bukankah ekologi adalah sebuah sistem interaksi antara benda mati dengan benda hidup dalam sebuah ruang tertentu? Kalau begitu, seharusnya penghargaan haruslah diberikan secara setara terhadap kedua komponen ini. Itu sebabnya, penghargaan bukan hanya kepada manusia dan makhluk hidup lainnya, namun juga benda-benda tak hidup di sekitarnya. Perhatian harus diarahkan kepada kesatuan ekologi. Perlakuan baik harus diberikan kepada semua komponen itu. Itu sebabnya, berdasarkan konsep ini, benda hidup selain manusia serta benda lain di sekelilingnya memiliki hak untuk diperlakukan secara wajar dan mulia. Memuliakan manusia, makhluk hidup lainnya, dan benda-benda di sekelilingnya adalah prinsip pokok konsep ini. Inilah ekosentrisme. Paradigma keplanetan!

Ketamakan (greedy), sebuah gejala di tingkat individu yang ditransformasi menjadi mental eksploitatif industri di ranah komunitas menempatkan manusia sebagai jenis makhluk yang amat superior. Namun tatkala ia menempatkan dirinya sebagai bagian dari sistem ekologi, maka ia adalah satu dari sekian sekrup planet bumi yang posisinya sama penting dengan komponen lain. Dengan penuh kesadaran ia tak memiliki pembenaran untuk merusak komponen lain. Merusak yang dimaksud di sini adalah melakukan disfungsi atas yang lain.

Bagaimana paradigma keplanetan bekerja? Asumsi pokok konsep ini adalah seluruh keluarga planet bumi itu merupakan satu tubuh. Merusak salah satu komponen sama dengan mengancam dan pada gilirannya akan merusak bahkan dapat memusnahkan seluruh tubuh planet ini. Kekhawatiran akan kejadian itu, yakni musnahnya kehidupan dan seluruh fungsi-fungsi benda pada planet ini sangat wajar menerungku alam pikiran manusia yang perilakunya merupakan poros kelestarian planet bumi ini di masa depan.

Alam pikiran, kesadaran dan tingkah laku manusia ditempatkan sebagai jangkar keseimbangan fungsi-fungsi keluarga planet bumi ini beserta segala kepentingan untuk melestarikan dan menjamin kelangsungannya di masa depan. Rasa was-was akan amuk ekologi sebenarnya dapat diakhiri sejak saat ini melalui kesadaran bahwa manusia dan buminya bukan dua pihak yang berbeda. Mimpi manusia seharusnya adalah mimpi bumi dan seisinya juga.

Mungkin itulah sebabnya Juni 2015 lalu, begitu laman United Nations Environment Programme (UNEP) terbuka,yang nampak paling menonjoladalahtulisan; “Seven Billion Dreams. One Planet. Consume with Care”, sebuah slogan yang mengandung himbauan dan harapan. Himbauan untuk mengendalikan gaya hidup konsumtif dengan kepedulian prima yang diharapkan akan menjadi dasar pencapaian harapan tujuh miliar umat manusia di punggung bumi. Itulah tema besar hari Lingkungan Hidup se-dunia, 5 Juni tahun 2015 tersebut. Organisasi lingkungan hidup se-dunia itu, memilih tema tersebut seakan menyampaikan pesan tentang tertatihnya konsep pembangunan berkelanjutan yang empat puluh lima tahun lalu mulai disebut-sebut. Tertatih karena seperti telah diuraikan di depan paradigma konsumerisme di tingkati ndividu dan industrialisme di tingkat sosial masih merajai cara hidup manusia.

Apa yang harus diubah? Paradigmanya! Perhatikan alam berpikir sekelas UNEP itu! Kental dengan paradigma keplanetan, UNEP sepertinya memang masih menempatkan bumi sebagai satu-satunya alam tempat hidup manusia. Kerusakan planet bumi sebuah dongeng yang diperdengarkan kepada penduduk bumi laksana memperdengarkan dongeng hantu kepada anak-anak yang susah tidur di malam hari. Bagi yang peduli masa depan, ancaman kerusakan bumi mungkin memiliki pengaruh terhadap sikapnya mengelola bumi. Bagi yang otaknya sudah didominasi laba industri, kemasadepanan bumi adalah urusan masa depan itu sendiri ibarat anak yang tahu bahwa esok ia tetap bisa bangun betapa pun mengerikannya dongeng horror yang diceritakan kepadanya menjelang tidur.

Paradigma keplanetan membawa konsekuensi yang tidak kurang berbahayanya dibandingkan dengan perilaku kejam kepada lingkungan hidup. Ancaman maksimal yang diberikan lembaga semacam UNEP dan aktivis institusi-institusi peduli lingkungan hidup terhadap pelaku destruktif adalah hilangnya daya dukung bumi, punahnya kehidupan di dunia atau tamatnya riwayat bumi. Persis seperti ancaman maksimal hukuman mati terhadap pelaku narkoba, pelaku-pelakunya tetap belum memedulikannya. Belum lama berselang nasib naas hukuman mati yang diganjarkan kepada narapidana narkoba, kasus penggerebekan pesta shabu di Pondok Indah, Jakarta, tetap dapat disaksikan orang banyak. Begitulah perumpamaannya. Belum lama longsor dan banjir bandang melanda berbagai tempat seperti Banjarnegara, Garut, Bandung, Bima, Manado, dan lain-lain penebangan hutan di tempat-tempat yang seharusnya dilindungi tetap saja berlangsung.

Paradigma keplanetan seperti saja tak kuasa membendung gaya hidup manusia. Arne Naess wajar berteriak, “Quality of life yes, standard of life tja!” Kualitas hidup seharusnya menjadi fokus cara bertindak manusia, bukan standar hidup yang dicerminkan oleh gaya hidup. Terbukti, praktik kekejaman terhadap bumi terus berlangsung justru beriringan dengan berbagai dampak lingkungan yang menyengsarakan.

Sepertinya penting diulangi bahwa paradigm keplanetan inilah yang ada di dalam konsep etika ekosentrisme. Konsep itu disebut-sebut sebagai penyempurnaan atas paradigm spesiesisme dan biotisme dalam tulisan-tulisan Sony Keraf. Spesiesisme (kejenisan) menjadi biotisme (kemakhlukhidupan), lalu ekologisme (keplanetan) mengandung diskriminasi, dominasi dan penjajahan.

Secara ringkas dapat dikembangkan sebagai berikut; Pertama, “kejenisan”, yang di tulisan ini disebut “kedirian”, mendominasi, mendiskriminasi dan menjajah jenis makhluk hidup lain. Seolah-olah yang hidup itu hanya manusia.Barangkali karena itulah maka hampir semua bahasa dalam budaya manusia di berbagai suku dan bangsa dalam konteks semantik mendudukkan hewan dan tumbuhan “sebangsa” dengan benda mati.

Efeknya adalah rendahnya penghargaan dan pemuliaan terhadap benda-benda hidup selain manusia.“Kedirian” manusia menampilkan spesiesnya sebagai paling dominan atas spesies makhluk hidup lainnya.Tulisan ini harus menyebut “kedirian” untuk melibatkan psikologi dalam kajian ekologi, bukan hanya fisik dan biologi dari spesies Homo sapiens.Psiko-ekologi, bukan eko-psikologi.

Kedua, kemakhlukhidupan, yang dalam tulisan ini disebut “kekelompokan”, mendominasi makhluk lain. Kelompok makhluk lain, yakni hewan dan tumbuhan seolah hanya pelengkap dalam suatu sistem ekologi. Para pemikir lingkungan memandang ada diskriminasi atas anggota keluarga planet bumi dalam sistem ekologi seperti telah disinggung di depan.Efeknya adalah rendahnya penghargaan dan pemuliaan terhadap benda-benda.

Memang pernah muncul di era tertentu kengerian menguasai manusia sehingga merasa perlu mencegahnya dengan penyembahan kepada benda-benda.Ada juga yang menyebutnya penyembahan kepada Tuhan melalui benda-benda.Mitos lalu dipahat di dinding budaya manusia untuk memuliakan benda-benda di sekitarnya.Benda-benda mendapat perlakuan baik.Berakhirnya era mitos dengan masuknya perkembangan sains berhasil menggusur tradisi itu.Manusia tampil lebih garang.

Ketiga, keplanetan sebagai suatu konsep mengenai kesatuan seluruh unsur penyusun ekologi hingga saat ini dipandang sebagai konsep paling sempurna. Dalam konsep etika lingkungan paradigm ini dinamakan ekoseparadigma Semua berpusat kepada ekologi, rumah tangga seluruh benda baik hidup maupun tak hidup. Konsep ini menggeser konsep yang menempatkan dominasi (jenis) manusia maupun kelompok makhluk hidup. Kini, segala makhluk memiliki kedudukan yang sama dalam konteks kelestarian dan keselamatan jenis dan kelompoknya.

Pertanyaan yang muncul adalah “setelah beberapa dekade konsep ekosentrisme menjiwai pengelolaan lingkungan, bagaimana kabar status lingkungan hidup?” Himbauan organisasi PBB untuk lingkungan hidup (UNEP) di lamannya pada 2015 lalu itu dapat menjawab tegas. Masa depan bumi, segala benda, dan kehidupan, termasuk manusia di dalamnya tetap dalam ancaman bahkan kian mengkhawatirkan.

Persoalannya ada pada persepsi manusia tentang alam dan kehidupan di dalamnya. Manusia adalah anggota keluarga semesta yang memiliki kehendak bebas dan kemampuan memilih. Poros dari seluruh rencana perbaikan dan pelestarian sesungguhnya adalah perilaku manusia. Jika manusia menerapkan persepsinya masih dalam konteks ketakutan maupun keperluan ekonomi dan material, maka perubahan paradima kedirian, kekelompokan, ke keplanetan sebenarnya tidak akan memberi perbaikan yang berarti. Manusia tetap saja mendominasi, menciptakan diskriminasi, dan membuat eksploitasi atas lingkungannya. Mengapa demikian? Sikap dan perilaku yang muncul tatkala alam dibatasi sebesar planet bumi ini saja, adalah rendahnya bobot keharusan manusia menjaga masa depan alamnya. Masa depan itu sendiri sebenarnya amat buram pengertiannya dalam konsep keplanetan itu.

Nampaknya paradigma dan etika lingkungan perlu dikembangkan hingga ke pandangan dunia (world view) yang lebih mendasar. Dunia dan kehidupan manusia seharusnya bukan hanya di planet bumi ini. Sama halnya, ancaman terberat bukan pada hilangnya daya dukung bumi ini saja. Hidup manusia adalah hidup abadi. Ganjaran atas perilakunya ada dua; kesenangan abadi atau derita abadi juga. Alam pikiran keplanetan tak dapat menjelaskan hal tersebut. Konsep “kesemestaan” perlu ditimbang sebagai paradigma baru pemikiran lingkungan hidup, atau sebuah konsep etika lingkungan baru, kosmosentrisme. Selama paradigma keplanetan masih mengurung kesadaran manusia mengenai kehidupan dan tempat hidupnya, keadaan akan selalu demikian ini. Inilah kurangnya paradigma keplanetan.

Ilustrasi: https://id.pinterest.com/sierra0004/robert-weigand/

The following two tabs change content below.

Syafinuddin Al-Mandari

Lahir di Kasambang, 19-04-1973. Doktor Kajian Multidisiplin Ilmu Lingkungan. Ketua Umum PB HMI MPO 2001-2003. Dosen Universitas Paramadina Jakarta. Penulis buku: HMI dan Wacana Revolusi Sosial (2003), Demi Cita-cita HMI; Catatan Ringkas Perlawanan Kader dan Alumni HMI Terhadap Rezim Orba (2003), Demokrasi dalam Cengkraman Orde Baru (2004), Anak Tentara Melawan Orba (2015), dan Strategi Kebudayaan dan Kesadaran Ekologi (naskah siap terbit).

Latest posts by Syafinuddin Al-Mandari (see all)

One thought on “Paradigma Keplanetan: Apa yang Kurang? (Bag-2, Habis)”

  1. jadi, apakah terdapat hubungan dengan alam setelah kehidupan yang kemudian menggiring pemikiran manusia untuk mencintai lingkungan ?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *