Parenting for Dad

Dalam banyak kesempatan saya sering memperhatikan baik secara sengaja maupun tidak, interaksi dan percakapan yang terjadi antara ayah dan anak, atau obrolan sebuah keluarga yang berada dalam jangkauan perhatian dan pendengaran saya. Sangat langka saya dapati percakapan sehat dan membangun di sana. Yang banyak terjadi, suara dan pendapat anak-anak disepelekan, ditertawai, bahkan dianggap angin lalu atau tidak pernah ada.

Mereka terkadang ditanyai tetapi jawabannya tidak didengarkan. Dimintai pendapat namun kerap tidak dihargai. Pertanyaan yang sifatnya basa-basi berseliweran dalam percakapan sehari-hari tetapi mereka hanya melayang dan berputar-putar saja sebatas plafon, lalu menguap entah ke mana. Masing-masing kembali sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Tak peduli orangtua tanyanya apa, anak-anak jawabnya apa. Sepanjang tidak timbul kegaduhan yang  berarti, maka semua akan dianggap baik-baik saja.

Dalam praktik kehidupan sehari-hari kata parenting mulai penulis kenal pada awal 2010-an. Sebelumnya lebih populer dengan istilah pengasuhan, meskipun dari tinjauan bahasa, sama saja maksudnya. Menurut kamus istilah psikologi, The Cambridge Dictionary of Psychology, parenting adalah segala tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak-anak dalam rangka melindungi, merawat, mengajari, mendisiplinkan, dan memberi panduan.

Dahulu kita tidak pernah melihat orangtua-orangtua kita belajar pengasuhan secara khusus, misalkan terlibat dalam kelompok-kelompok diskusi, seminar-seminar, atau pelatihan-pelatihan. Tahu-tahu mereka sudah begitu piawai mengurus rumah dan anak-anaknya. Bahkan terampil mengurus beberapa anak tanpa bantuan kakek-nenek atau asisten rumah tangga. Artinya, pengetahuan soal itu mungkin saja mereka dapatkan secara lisan dari pengajaran orangtua mereka sebelumnya secara turun-temurun. Berbeda dengan zaman kini, di mana wadah dan fasilitas belajar dengan mudah kita temui. Tinggal kemauan saja, mau memanfaatkannya atau tidak.

Walaupun banyak kemudahan dapat kita jumpai saat ini, namun tingkat kepedulian dan kehadiran para ayah dalam keseharian anak masih sangat minim. Boleh saja mereka berdalih karena kesibukan kerja di luar rumah sehingga membuat mereka merasa memiliki keterbatasan dalam hal hal waktu dan kesempatan. Akan tetapi bukan aspek tersebut yang akan saya bincangkan dalam tulisan kali ini. Tetapi pengetahuan umum dan fundamental yang hendaknya harus dimiliki oleh seorang ayah. Adapun kesempatan menerapkannya bisa ditempatkan pada urutan belakangan. Karena kedua kondisi tersebut akan melahirkan sikap dan tindakan yang berbeda pula.

Contohnya, A adalah ayah yang sudah memiliki pemahaman soal pengasuhan dalam hal-hal mendasar, sedangkan B adalah ayah yang memiliki kondisi sebaliknya. Di suatu pagi yang sibuk, keduanya harus menghadapi situasi yang sama. Anak-anak menuntut perhatian orangtuanya di pagi hari. Usia anak-anak bervariasi, ada yang masih TK, ada yang sudah duduk di kelas 2 SD. Keduanya anak laki-laki. Anak tertua berseru-seru memanggil nama ayahnya untuk dibantu mengambilkan sesuatu, karena ibu sementara disibukkan oleh urusan dapur. Kedua tipe ayah dalam contoh sama-sama dalam ketergesa-gesaan mempersiapkan diri ke tempat kerja.

Reaksi ayah A (tenang):  “Nak, cobalah berusaha dulu mengambil sendiri barangnya. Pakai kursi kalau ketinggian. Nanti Ayah bantu kalau ternyata kamu tidak bisa.”

Reaksi ayah B (gusar): “Aduh, masak yang begitu saja kamu tidak bisa? Tuh, adikmu saja bisa menyiapkan sendiri perlengakapannya. Kamu ini sudah besar masih juga ‘selalu’ minta dibantu!”

Dalam sikap dan lontaran kalimat kedua ayah di atas sudah berbeda. Ayah A lebih tenang dan siap, sementara Ayah B tidak memiliki kesiapan, yang terlihat dari cara dia merespons atau menyikapi perilaku anaknya. Kira-kira kita ingin berada pada situasi yang mana?

Dalam pengamatan penulis selama ini, para ayah sangat minim peranannya dalam tanggung jawab pengasuhan. Seolah tugas tersebut hanya jadi tugas para ibu saja. Tak peduli anak hanya satu, dua, atau lebih banyak lagi dari itu. Kasusnya hampir sama saja. Dan, menjadi keluhan hampir sebagian besar para ibu. Padahal dari sudut pandang mana pun kita melihatnya, tugas dan kewajiban mengasuh anak adalah tugas bersama kedua orangtua. Dari ketimpangan ini muncullah banyak masalah yang ujung-ujungnya menelan korban. Entah ibu yang mengalami gangguan psikologis ringan, anak yang bertingkah tak terkendali, sampai pada tindakan kriminal yang serius, atau si Ayah sendiri yang akhirnya tak berdaya menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam rumah. Semua bermula dari ketidaksiapan orang-orang dewasa yang terlibat di dalamnya.

Secara pribadi, penulis pun menyadari dari mana semua akar permasalahan ini bermula. Tidak perlu jauh-jauh meneropong ke masa lalu. Karena orangtua kita pun pada umumnya membesarkan anak-anaknya dengan model seperti ini. Lalu anak-anak yang saat ini telah menjelma menjadi orangtua menyadur tanpa kesadaran penuh perilaku-perilaku tersebut. Siklus itu pun kembali berulang tanpa ada upaya untuk mengendalikan atau memutuskannya.

 

Mengapa Ayah?

Karena secara normatif agama, budaya, dan sosial kemasyarakatan, seorang ayah ditempatkan sebagai pemimpin dalam rumah tangga. Seorang pemimpin tentu saja perlu memiliki wawasan dan pengetahuan lebih luas daripada yang dipimpinnya. Jika tidak, berpeluang akan terjadi banyak kekacauan dan ketidakberesan dikarenakan figur teladan yang hilang. Tak perlu piawai, tetapi minimal memiliki dasar-dasar pengetahuan yang cukup agar tidak tersesat jauh di tengah jalan.

Sayangnya, masih banyak yang beranggapan bahwa ilmu pengasuhan tidaklah sepenting ilmu keterampilan hidup lainnya. Tidak perlu serius mempelajarinya, ia akan diketahui dengan sendirinya. Ajaran dari mana pula ini? Sambil merenung, saya senyum-senyum miris dalam hati. Pada banyak kasus, mereka merasa bisa membesarkan anak dari hasil meniru orangtua-orangtua mereka dulu. Iya, kalau benar, bagaimana jika tidak? Waspadalah, jika kita tidak memiliki pengetahuan yang cukup terhadap pengasuhan anak, maka otomatis apa yang tersimpan dalam perbendaharaan ingatan akan muncul dengan sendirinya tanpa ada kesempatan lagi untuk memilahnya. Menggantikan peran solusi atas perilaku salah atau menyimpang yang dilakukan oleh anak.

Jika sudah terjadi hal seperti ini, maka kedua orangtua sudah sangat terlambat jika baru akan mulai belajar. Namun sebagaimana kata pepatah, “lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”.

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute.

Latest posts by Mauliah Mulkin (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *