Pelukan-pelukan

Pukul 20.00 WITA, Bahlul baru saja menunaikan sembahyang Isya. Plong! Perasaannya sedikit lega karena masih mendapati dirinya dalam keadaan taat pada rambu-rambu agama. Meski ia sadar bahwa ia memeluk agamanya karena keturunan semata, bukan pilihan yang diambil dari hasil kajian mendalam dan kritis. Pelaksanaan ibadahnya pun masih jauh dari khusyuk, karena sekadar pelepas kewajiban semata. Pusaran ketidakpuasan terhadap ibadah yang dilakoni menerungkunya dalam gudang pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Inilah yang menciptakan lubang besar di kedalaman jiwanya. Gelisah, hampa, dan semua rasa yang kerap bersanding dengan galau yang memeluknya setiap malam dalam kamar gelap, pengap, dan sepi.

Plong! Plong! Sekitar 20 menit sebelum Isya ia mendapati dirinya tidak benar-benar sendiri. Seseorang di luar sana secara jeli menangkap ketidakberesan psikologinya. Depresi! Orang itu dengan cermat menebak kondisi pikiran dan jiwanya yang sedang kacau balau, seperti habis diterjang badai topan Phanfone yang menghantam Filipina saat natal. Meski menohok, ia tidak bisa menafikan hal tersebut. Itulah membuatnya melepaskan diri dari pelukan pikiran anehnya dan bersegera melaksanakan ritual sembahyang dan bergegas ke lokasi perkemahan. Bagi Bahlul dalam kondisi yang demikian, merebahkan diri dalam kebersamaan dan kekeluargaan teman-teman di kota rantau tak ubahnya pelukan hangat keluarga. Dan sebuah pelukan dapat membantu pelepasan hormon oksitosin, hormon yang memicu rasa bahagia.

Pukul 11.45, tibalah Bahlul di hutan pinus. Di tempat inilah ia bertemu Mila, gadis berumur 22 tahun yang mengaku menjalani kuliah di kampus ternama di kota Daeng. Malam ini kali kedua mereka bertemu. Pertemuan pertama terjadi tanggal 22 Desember 2019, pukul 00.24 malam. Di mana malam mestinya berpelukan dengan sepi sebab dingin amat menusuk. Tapi yang terjadi malam itu lokasi perkemahan amat ramai, tenda warna warni berdiri kokoh – sesekali bergoyang-goyang – disela-sela batang pinus.

Sama seperti malam ini. Hutan yang sepi menjadi ramai. Ramai dan penuh cinta. Dan Mila seperti biasa nyaman dalam pelukan kesepian tepat di kaki bukit yang jauh dari keramaian. Ia berayun di hammock yang diikatkan pada dua pohon pinus yang tangkainya sedang sibuk berpelukan.

Malam kian larut dan kelam. Gerimis dan dingin berseliweran. Rembulan bersembunyi di balik pelukan awan altostratus. Pohon-pohon pinus diam membisu, kakinya hangat dalam pelukan bumi. Setan-setan berpesta, berpelukan satu sama lain. Angin mengendap-endap tak ingin dipeluk siapa pun. Sunyi menerungku. Hanya tenda-tenda yang bergoyang sesekali menolak untuk diam saat semesta membisu. Basah. Api-api unggun dipadamkan. Tak ada lagi kembang api tahun baru. Semua padam dan sisa satu hal yang belum padam. Berahi segelintir anak muda yang sedang sibuk berpelukan di dalam tenda.

“Lihatlah.. Bahlul.. Sama seperti yang kuceritakan pada pertemuan kita tanggal 22 Desember, tepat di Hari Ibu. Anak-anak perempuan yang ibunya meringkuk kedinginan dan rindu senyum anaknya, tidur dalam peluk hangat lelaki yang bukan ayahnya. Anak lekaki yang ketika pulang ke rumah selalu memeluk ibunya, sedang khusyuk memeluk anak gadis lain dalam tenda. Meski tidak semuanya seperti itu, tapi mataku telah menangkap banyak peristiwa. Lucunya, hal demikian dipandang wajar-wajar saja. Gunung lantas dilihat terpisah dari Indonesia yang berideologi Pancasila atau bangsa yang mengakui lima agama besar dunia yang menjunjung tinggi moralitas. Gunung dianggap seperti negera-negara liberal di mana kebebasan seksualitas terjamin.

Laki-laki dan perempuan yang ada di sini bukanlah berandalan Bahlul. Sebagian dari mereka bahkan andil berdebat tentang hukum mengucapkan natal dan tahun baru. Semuanya mengaku kaum terdidik. Tak percaya? Dalam dompet mereka terdapat kartu mahasiswa dari berbagai macam kampus ternama di negeri ini. Di kelas dan ruang diskusi mereka berbicara tentang kemerosotan moral para pejabat negeri ini. Atau tentang sistem pendidikan yang tidak lagi mengarahkan pada pembangunan moral.

Bahlul, kau mungkin bisa pura-pura lupa ketika diospek kita diajarkan tentang tugas dan fungsi kaum terdidik. Satu yang harus kita garis bawahi, moral force. Kekuatan moral kaum terpelajar mestinya dibangun sejak dini, dimulai dari diri sendiri. Tidak usah menunggu sistem pendidikan kembali ke subtansinya, perubahan tidak akan tercipta jika bukan kita yang memulainya. Sebab kita adalah generasi yang akan melanjutkan estapet kepemimpinan negeri dan agama kita. Ketika moral force menubuh maka barulah kita menjelma menjadi creator of change yang sejati.

Bahlul, kuceritakan semua ini kepadamu agar kau tak lagi menjelma lelaki bejat yang memberi pelukan hangat kepada gadis yang bukan ibumu. Atau menjadi perempuan-perempuan yang merasa pelukan lelaki yang bukan ayahmu jauh lebih hangat dari pelukan ibu bapakmu. Aku tak ingin kau menulis puisi yang sama dengan kawanku, maka kirimkan ia doa dan al-Fatihah sebelum kubacakan puisinya untukmu!

Anak Ibu sedang menahan tangis; Katanya karma sedang berjalan menuju ke arahnya, katanya karma akan segera menjemputnya. Anak ibu lalu menangis; Tangisannya pelan tak terdengar dibalik pintu toilet karena sedang mengigit bibir bawahnya agar suaranya tangisannya tak pecah, hingga akan muncul desas desus tanya para penggibah. Tangisannya tak terdengar karena disamarkan oleh suara air yang keluar dengan patuhnya dari mulut bapak keran di toilet.

Anak ibu lalu diam; Pikirannya penuh dengan kesalahan dan cara menempuh penebusan. Haruskah anak ibu meninggalkan dunia dengan cara paling tragis atau hidup didunia dengan cara paling tragis pula. Anak ibu kemudian tertidur; Terpejam dengan mata sembab, tubuh dingin dipeluk angin malam tak ada yang peduli.Sebab ibu jauh disana dan tak tahu apa-apa tentang anaknya ini.”

Usai membacakan puisi, Mila meninggalkan Bahlul sendiri berpelukan dengan dingin dan kesepian. Mila kembali dalam tendanya karena seorang lelaki sejak tadi memanggilnya. Tenda ditutup rapat. Senyap kemudian menyergap.

 

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/vera52/art/Camping-770369061

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

One thought on “Pelukan-pelukan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *