Penyalahgunaan Keistimewaan Perempuan Menjadi Malapetaka

Perempuan, kata yang tak asing terdengar. Apakah anda seorang perempuan? Jika iya, tulisan ini akan mewakili diri anda. Jika anda seorang pria, bacalah tulisan ini agar anda mengetahui sedikit banyak tentang perempuan. Ini akan menjadi hal yang penting dan menarik untuk di perbincangkan. Makhluk kuat yang dibalut dengan sikap lembut dan paras yang indah ini acapkali menarik diperbincangkan.

Mengapa tidak, berbagai keindahan tertanam pada diri seorang perempuan ini, kekuatan yang begitu besar membuat saya pribadi bangga menjadi seorang perempuan. Siapa yang sangat mahir mengurus rumah tangga dengan seabrik keperluan dan permasalahan di dalamnya? Tangan siapa yang begitu andal menjadi koki di rumah sendiri? Sikap halus dan sabar tersalurkan dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya, terlebih lagi perempuan yang bekerja dan kadang menjadi tulang punggung keluarga. Berbagai keunikan dan kekuatan yang sangat besar tertanam pada jiwa dan sosok ini.

Yah, P E R E M P U A N. Kata perempuan berasal dari kata Empu, yang berarti “tuan” atau orang yang mahir atau berkuasa. Terdapat makna yang cukup dalam di sini. Kata ini berarti perempuan memiliki penuh tubuhnya dan menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Seiring berjalannya waktu kata perempuan bergeser maknanya di masyarakat menjadi hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Berangkat dari hal ini kehadiran perempuan mulai kontroversial di masyarakat, karena pergeseran nilai dan budaya membuat perempuan memiliki begitu banyak masalah yang harus dihadapi.

Sebelum saya melangkah lebih jauh, maka saya perjelas bahwa di dalam tulisan ini tidak ada unsur menjatuhkan atau menjelek-jelekkan kaum pria. Tulisan ini dibuat berdasarkan fakta dan sependek pengetahuan yang saya milki. Saya Nadia Widyansari akan bercerita sedikit tentang perempuan.

Dari awal penulisan, saya lebih memilih mengunakan kata “Perempuan” di banding menggunakan kata “Wanita”. Mengapa demikian? Karena menurut saya kata perempuan lebih cocok di banding kata wanita. Kata Wanita itu sendiri berasal dari bahasa jawa, “wani ditoto” artinya “berani diatur” berangkat dari sini, maka sulit bagi seorang wanita untuk memiliki kontrol terhadap dirinya sendiri, apalagi di masyarakat. Maka seorang wanita tidak bisa mnghindar jika di dikte oleh seorang pria. Maka saya lebih setuju menggunakan kata Perempuan.

Kali ini saya akan membahas tentang kekerasan yang dialami perempuan di media massa. Sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita pasti sudah sering melihat kekerasan yang didapatkan oleh perempuan, bahkan sebagian dari pembaca mungkin pernah mengalami sendiri baik sebagai orang yang melakukan kekerasan maupun sebagai korban. Saya kerap kali merasa kebingungan mengapa seorang laki-laki begitu tak berperasaan dalam memperlakukan perempuan. Bukankah dia dilahirkan oleh seorang perempuan? Bukankah perempuan adalah makhluk yang seharusnya di jaga dan di hormati?

Di dalam CATAHU (catatan tahunan) 2019 komnas perempuan, terdapat 406.178 kasus kekerasan terhadap perempuan yang di laporkan dan di tangani selama tahun 2018 (naik dari tahun sebelumnya sebanyak 348.466). kasus kekerasan terhadap perempuan ini terdiri dari 13. 568 kasus yang di tangani oleh 209 lembaga mitra pengada layanan yang tersebar di 34 provinsi. Serta sebanyak 393.610 kasus bersumber pada data/kasus yang di tangani oleh pengadilan agama.

Pelecehan seksual, penganiayaan, perdagangan, eksploitasi, intimidasi, pemerkosaan hingga pembunuhan merupakan bentuk dari kekerasan yang di alami perempuan namun dalam media perempuan seringkali dijadikan sebagai objek dan di eksploitasi tubuhnya hingga dijual atau diperdagangkan bak benda mati. Karena konstruksi media jugalah maka terjadi hal-hal yang berupa pelecehan dan pemerkosaan.

Dapat kita saksikan sendiri di televisi baik film maupun iklan yang ada kerapkali mengeksploitasi tubuh perempuan secara berlebihan. Katanya sebagai penarik. Namun mengapa hanya wanita? Mengapa tak sekalian tubuh pria dieksploitasi sedemikian rupa juga? Padahal seringkali pria juga merupakan konsumen yang sama besar dari produk tersebut contohnya sabun mandi. Bahkan rokok yang notabenenya digunakan oleh laki-laki tetap saja perempuan yang menjadi objek.

Media iklan seringkali menampilkan hal-hal yang berlebihan dalam menyampaikan pesan iklan tersebut. Iklan yang muncul tidak lagi menunjukkan atau menggambarkan nilai guna, bahkan seringkali tidak relevan dengan komoditas yang dijual. Contohnya iklan AXE, Call me /ud Versi Sauce, Mist, Speial Need, Lost. Dalam iklan ini menampilkan perempuan dalam balutan busana mini, gestur yang menawarkan sensualitas/seksualitas dan terdapat pengambilan gambar yang hanya menunjuk beberapa fragmen tubuh vitalnya.

Dalam iklan ini terdapat eksplotasi perempuan secara fisik dan non fisik. Eksploitasi secara fisik ditunjukkan dengan adanya teknik shot yang mengeksploitasi beberapa bagian tubuh tertentu seperti bibir, dada, pundak dan pinggul serta bahasa tubuh dan yang menunjang terbentuknya image seksi pada iklan ini sedangkan secara non fisik di tunjukkan perempuan dalam berbagai karakter seperti mudah tergoda laki-laki, seksi dan agresif.

Selanjutnya ekspoitasi dalam program televisi seperti film, talkshow dan musik. Dapat kita saksikan sendiri bagaimana cara berpakaian publik figura sekarang. Kebanyakan dalam dunia perfileman pakaian yang digunakan adalah pakaian yang ketat, pendek dan membentuk lekuk tubuh perempuan. Tak hanya sampai di situ eksploitasi juga merambah kancah musik. Bagaimana goyangan yang di lakukan oleh para penyanyi , pakaian bahkan model vidio klip lagu yang menampilkan perempun yang sexy. hal tersebut membuat wanita semakin di anggap murahan dan dengan gampangnya dieksploitasi.

Selain itu, majalah juga menampilan iklan yang mendominasi eksploitasi perempuan. Perempuan dalam majalah jauh lebih sensual lagi. Tak jarang beberapa majalah memajang foto perempuan mulai dari setengah bugil hingga bugil terutama di majalah sport. ketiga adalah eksploitasi artikel atau berita, maksud saya dalam ekspoitasi artikel atau berita adalah dalam bentuk kata-kata yang sangat sensual dan mengarah pada perempuan seperti kata montok, semok, seksi, perawan, wanita penggoda dan lain sebagainya.

Keempat adalah eksploitasi psikologis. Eksploitasi psikologis merupakan konstruksi peran atau citra perempuan sebagai kaum inferior. Tujuannya untuk membuat perempuan merasa nyaman atas dominasi laki-laki sekaligus mempertahankan dominasi tersebut. Dalam acara TV, internet maupun majalah dan surat kabar pasti anda pernah menemukan konten yang membahas tentang bagaimana tips-tips menjadi istri yang baik atau tips menjaga kecantikan, tips mendapatkan hati laki-laki dan tips mendapatkan tubuh ideal yang di sukai oleh laki-laki, hal lain yang dapat anda temukan terdapat pada dunia perfileman yang ada di tanah air yaitu perempuan di gambarkan sebagai sosok yang suka bergosip, lemah , manja, pasrah, penurut, cengeng, mudah di rayu, konsumerisme dan mata duitan.

Eksploitasi selanjutnya terdapat dalam ranah ekonomi. Dalam hal ini media menggunakan perempuan sebagai alat untuk mempercepat pencapaian keuntungan. Bagi media, perempuan tidak lebih dari sekedar komoditas untuk meningkatkan rating dari media itu sendiri. Contohnya iklan mobil dan produk susu yang selalu dibintangi oleh perempuan seksi dan vulgar. Kalau di pikir-pikir apa sih hubungan mobil dengan perempuan seksi? Apa hubungan susu sapi yang menjadi produk dengan perempuan? . tidak hanya sampai di situ, hal paling memprihatinkan menurut saya adalah perdagangan perempuan. Karena konstruk yang dibangun oleh media bahwa perempuan adalah makhluk yang di ciptakan untuk melayani laki-laki maka kini perempuan semakin banyak di perjual belikan. Kasus prostitusi semakin marak hingga perambah kalangan artis.

Akibat dari konstruksi tersebut membuat perempuan kini hidup berdasakan pembentukan media dan tidak menyadari apa yang di konstruksikan media dapat merugikan diri sendiri. Dalam analisis sosiologi, Jean Baudrillard menyatakan kehadiran iklan membuat masyarakat tidak lagi mementingkan nilai guna dari produk tertentu dalam melakukan kegiatan konsumsi. Dan hal yang paling buruk terjadi saat ini , konsumsi dijadikan sebagai nilai tanda dalam masyarakat atau sebagai penanda status seseorang.

Hal ini menimbulkan lahirnya masyarakat konsumtif yang menghabiskan uangnya untuk membeli barang yang tidak dibutukan demi mendapatkan pendanda status sosial yang mereka inginkan. Dampak lainnya adalah merujuk pada pemikiran Jean Baudrillard yaitu di zaman ini TV telah melebur dalam kehidupan dan sebaliknya. Maka konstruksi perempuan sebagai inferior dan laki-laki sebagai superior dalam media menjadi realitas. Akibatnya dominasi laki-laki semakin kuat dan dapat meningkatkan kekerasan dan pelecehan seksual kedepannya.

Dari permasalah dan realitas yang terjadi saat ini, solusi yang dapat mengurangi eksploitasi pada perempuan adalah dengan mempertegas hukum dan undang-undang termasuk dalam media. Selain itu, peran komnas HAM dan komisi perlindungan anak dan perempuan juga dapat mengambil andil yang besar saat terjadi hal yang demikian. Tokoh-tokoh agama juga sangat berperan penting dalam hal ini, kondisi yang tidak sesuai dengan syariat agama dan tata krama yang ada di Indonesia ini sebenarnya sangat mengganggu dan semakin menjauhkan kita dari niali-nilai budaya yang kita tanam apalagi negara kita merupakan negara mayoritas penganut agama Islam.

 

Ilustrasi: https://www.sentinelassam.com/news/sexual-exploitation-of-women-criminal-offence-in-jammu-and-kashmir/

The following two tabs change content below.

Nadia Widyansari

Latest posts by Nadia Widyansari (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *