Perempuan dalam Bayang Literasi

Alunan sendu membisiki telinganya. Hari mengganti hari dan ia masih saja bersikukuh ingin tegar. Tak mau dipisahkan dari rasa cinta pada sang suami. Ia ingin tabah, tak pernah sekalipun dalam pernikahannya airmata menetes. ia mengalahkan tabahnya hujan di bulan Juni itu. Tak ada tempat bercerita,  hanya pada anaknya terkecuali.

“Bunda,  izinkan aku keluar. Jangan kau paksa  saya bunda. Saya tak suka di dalam.” Suatu hari anaknya mulai mengeluh.

“Sebentar nak, belum saatnya. Jangan kau buat risau bunda. Tinggallah di dalam sedikit lebih lama. Banyak yang bunda pikirkan nak” sang bunda memelas kasih,  membatin ia.

“Tapi bunda,  ini telah mencapai umur saya. Saya sangat ingin keluar bunda. Tak kah bunda merasa kasihan? Mohon izinkan saya.” Sang anak mulai meminta belas kasih sang bunda.

Diam. Bunda yang dimintai belas kasih hanya diam. Bulir air matanya terpaksa keluar dari kelopaknya. Kali ini tak bisa ditahan. Sedih ia alang kepalang. Sang suami tak kunjung pulang sebagai sandaran.

***

Perempuan ini adalah jelitanya abad. Mengalahkan keindahan “bunga akhir abad”. Bukan, bukan tingginya hidung sebagai ukuran,  mata biru yang berbinar juga tidak,  bahkan kulit putih mulus tak jua.  Yang ia punya lebih dari itu. Sesuatu yang semua orang dambakan untuk dimiliki. Kecantikan di luar nalar yang pernah kau bayangkan untuk dipunyai. Sebuah jelita yang bukan saja indah dalam pandangan,  namun juga dalam pikiran.

Memandang wajahnya kau akan terbayang megahnya istana Firaun,  menatap senyumnya membawamu pada fatamorgana gurun pasir,  mendengar dia bertutur aduhai,  seperti nyanyian simfoni sang malam. Begitu merdu alunannya,  bahkan pada ritme sendu. Bukan bualan kata kakek Pram. Semua keindahan seperti bersekutu untuk menujunya. Wahai kau sang pemilik,  tak merasa kah?

Dulu,  waktu masa muda masih dimilikinya. Ia dipuja hadirnya. Menjadi dambaan semua lelaki yang mengenalnya.

“Gerangan siapakah dia?” Laki-laki penuh tandatanya.

“MasyaAllah,  betapa indah. Siapa pemiliknya?” Semua memuji tuhannya, begitu melihat sang perempuan.

“Bagaimana dia bisa seperti itu? Dari negeri mana dia terlahir?” Lagi,  masih riuh orang-orang bertanya tentangnya.

Sang pemilik keindahan hanya saja tak begitu sadar dengan yang dimilikinya. Sangat-sangat tak ambil pusing dengan semua pujian. Dianggapnya nasehat yang tak perlu didengar. Dalam pikirannya hanya satu,  aku ingin menyelesaikan segalaku ini dengan baik, dalam cakupan Tuhanku. Yah,  perempuan yang cantik tidak hanya dalam pandangan,  juga dalam pikiran. Bagaimana indahnya tak didamba? Jika wajahnya bercahaya setiap harinya. Bagaimana kehadirannya tak dirindu,  jika tutur katanya hanya berupa kebaikan. Tak pernah sekalipun ia mencemooh dan mengolok. Bagaimana ia tak di inginkan? Jika keramahan adalah nafasnya. Tak suka ia pada penindasan,  dan mendorongnya meng-AKSI bersama kawan mahasiswanya di jalan-jalan. Meski itu,  pandangan dan pergaulannya tetap pada jalannya. Ia berbuat karena tuhannya dan suatu saat akan diminta tanggung jawab atas yang dilakukannya. Maka menjaga diri adalah pakaiannya. Di sana-sini penghargaan atas kebaikannya membludak. Pujian kian menjamur karena jasanya. Membantu sesama adalah hal yang selalu dipedomaninya. Bagaimana ku gambarkan perempuan indah ini? Begitu sulit merangkai katanya.

Sampai pada suatu hari,  dia berjalan dalam pelukan musim semi. Aroma bunga menusuki indera penciumannya. Awan yang menggantung,  berdirinya langit yang tegar pun turut memberi restu. Sempurna semesta  membentuk harmoni. Hijab yang dikenakannya berkibar dan memolekkannya. Warna kuning dan biru terpadu dengan indah dikenakannya. Berjalan ia dengan dentuman jantung dan aliran darah yang menyesaki daging-daging.   Seorang lelaki penulis menghampiri. Mencoba  menghapuskan jaraknya dengan perempuan itu. Dengan lantang mengumandangkan

“Aku ingin menikahimu!”

Perempuan itu beku. Langit terasa merenta.

“Aku ingin menikahimu!” Sang penulis mengambil jarak,  mendekat.

Perempuan itu masih beku. Langitnya ingin runtuh

“Aku ingin menikahimu. Bukan karena indahmu,  bukan karena pikiranmu. Bukan itu. Aku hanya ingin menikahimu karena itu kamu,”  disuarakannya dengan lantang pikirannya itu. Disaksi semesta. Dia berhasil menjadikan sang perempuan tetap beku. Tak bisa berkata.

Berhari setelah kejadian itu,  sang perempuan dilanda sendu. Minum dan makan enggan. Riuh pertanyaan-pertanyaan dalam pikirannya. Menjamur satu persatu.

“Siapa laki-laki itu?”

“Siapa laki-laki itu?”

“Siapa dia yang mengambil tenangku? Siapa dia yang menyesaki nafasku?”

Bimbang ia. Tak tahu membalasnya dengan apa. Tak tahu melakukannya bagaimana. Segalanya menjadi kian susah. Tak tenang. Ia lalu duduk dan membanting diri pada kasur empuk,  membiarkan sebuah surat berisi cinta berbaring di sebelahnya.

“Aku mencintamu. Sampai mentari menemui akhir. Tak terbit lagi,,

Aku mencintaimu. Sampai tak ada lagi jalan untuk jadi  tujuan. Sejauh itu..

Aku mencintaimu. Sampai tak ada lagi nafas untuk dihela. Sebutuh itu..

Dan aku tak mencintaimu. Dengan dekat,  dengan butuh,  dengan batas.

Aku mencintaimu dengan segalaku. Itu kewajibanku.”

Dan begitu, puisi membuat perempuan  dan penulis itu merajut kenyataan. Mereka berakhir di pelaminan. Bermandi restu dan doa. Juga riuh kekesalan. Ada yang merasa tak senang dengan bersatunya mereka.  Mengapa  sang perempuan melabuhkan cintanya pada sang penulis? Ia tak punya apa-apa selain tulisan yang juga tak membuahkan apa-apa. Mau diberi makan huruf kau? bahagiakah kau dengan pikiran suamimu? Bisakah?

“Yah, semua perkataan berat mesti dibalas dengan kebaikan. Seperti suamiku,  aku pun mencintainya  dengan imanku.”  Membatin lagi sang perempuan. Benar-benar jelita dalam pandangan.

***

3 bulan usia pernikahan mereka. Perempuan itu meski telah dipinang,  tak bisa jelitanya disembunyikan. Kemana-mana selalu ia mencuri segala perhatian. Meski didampingi laki-laki penulis di sisi,  tak menyurutkan niat bola-bola mata untuk menikmati indahnya perempuan indah itu.

“Tenang, Mas. Aku mencintaimu. Sungguh.. sedikitpun tak ada niat menjauh darimu,” sang perempuan menghibur suaminya. Melingkarkan erat lengannya pada sang suami. Memberi senyuman terbaik hanya untuk suaminya. Sebentar memegang wajah suaminya,  lalu mengusapnya lembut.  Dan tumpah-tumpah cintanya kemudian. Tak ada sesal menikahi suaminya. Tak ada.

Sang suami setiap pagi memberinya puisi cinta. Dan perempuan itu makin indah dengan senyumnya. Karena puisi. ia mencintai suaminya lagi dan lagi. Yah,  Suami yang memberikan segala hidupnya untuk tulisan. Suami yang memberinya makan lewat tulisan. Dan kemudian,  tulisan merenggut semua senyum yang dimiliki sang perempuan.

***

Hari ini tepat 4 tahun pernikahan mereka. Rumah nampak lengang. Sang perempuan duduk di pekarangan. Dibelai angin sepoi,  di atas kursi goyang kayu rotan hadiah suaminya. Ia bermata lesu,  kulitnya Nampak lebih menua. Warna kulitnya memucat,  dengan bibir yang tak merekah lagi. Jaket rajut berwarna abu lebih didekapnya. Tubuhnya sangat kurus,  semangatnya kian usang.  Angin tak mau lagi menjaganya. Semesta sudah bosan memeluknya. Perempuan itu tak indah lagi. Perempuan itu sempurna kehilangan cahayanya.

“Bunda,  saya lelah. Ingin keluar. Tolong bunda,  izinkan saya,” memelas lagi sang anak

“Tidak nak, jangan. Kasihani bundamu. Jangan kau keluar dulu. Bunda belum bisa memngeluarkanmu. Tidak nak. Tunggulah sebentar.”

“Bunda,  tapi ini telah waktunya. Saya tak tahu kapan,  cepat-cepat saya akan keluar jua. Bunda tak bisa menidak lagi,” sang anak menjawab bundanya

“Kau memang benar nak. Kau benar. Bunda tak tahu sampai kapan bunda bisa menahannya. Tapi akan kutahan nak. Keluarnya kau dari situ,  mulailah kau meneguk penderitaan bundamu. Tidak nak,  bunda tak mengizinkan” perempuan indah itu mengerang. Memegangi perutnya. Menahan sakitnya. Betapa sakit tuhan, betapa sakit. Tolong aku.

Perempuan itu,  kembali menancapkan matanya pada gerbang. Berharap terbuka,  dan sang suami ada di baliknya. Berharap suaminya sang penulis itu membawa pulang sejumlah uang. Berharap suami yang begitu digilainya itu memberinya nafas lega. Berhari-hari sudah suami tak pulang. Pergi menempuh jalan yang ia sendiri tak pernah jalani. Ia,  suaminya pergi menjajakan tulisannya. Berharap ada yang mau membeli kata-kata yang ditulisnya.

Bertahun sudah perempuan itu berada dalam ketabahan.  Mencoba meneriakkan bahwa anggapan orang-orang itu salah besar. Berharap semua omongan tak indah dari mulut mereka berhenti. Ia berkata tidak! Mereka semua salah. Menjadi istri dari seorang penulis adalah hal termewah di dunia. Tak ada bandingannya. Tak bisa sekuntum mawar diganti sekalimat puisi. tak ada yang semesra itu,  mendapatkan pelukan hangat puisi sang suami,  di saat sedang lelah membereskan rumah. Semua tak terganti.

Hanya saja belum. Bukan suamiku yang berdosa. Mereka para pembaca yang tidak tahu estetika. Tidak menghargai makna sebuah karya. Tidak menghargai tulisan. tidak mencintai bahasa. Tidak mau membudayakan budaya baca. Tidak mau membuka jendela dunia. Bukan salah suamiku. Ya, bukan salahnya. Suamiku adalah terbaik karena masih mau berpikir. Dalam diammnya ia memaknai bahasa,  kutemukan gagah di dalamnya.

Perempuan itu diam tersebab pikirannya. Ia lelah menunggui dirinya mengantuk. Matanya telah berhari-hari terjaga. Untuk makan sesuatu pun tenaga yang ia punya hanya sisa-sisa. Meski di dapur tak ada yang bisa ia masak. Harta yang ia punya saat ini hanyalah setumpuk puisi dari suaminya. Tak dibuang. Begitu berharga.  Namun ia masih tabah. Memupuk keyakinannya lagi,  suami yang dimilikinya pasti pulang.

Ia terdiam. Beku di atas kursi malasnya. Langit Nampak gelap. sakit yang dialaminya tak terperi lagi. Sayup-sayup didengarnya tetangga memanggil-manggil minta tolong sambil mendekap tubuh perempuan itu. Darah segar mulai menetes.

***

“Bunda, aku keluar,” sang anak menangis meraung

“Bunda,  aku sudah keluar. Bunda, sepedih inikah di luar bunda? Tak kau sambut aku dengan senyummu?” sang anak makin menjadi. Menangis ia.

“Bunda,  takkah kau dengar aku? Menyesal bunda mengandung aku?” sang anak kembali menangis

Perempuan itu,  hanya memandangi anaknya. 5 menit yang lalu anaknya telah menghirup udara. Jiwa yang dikandungnya itu kini telah lahir. Jiwa yang selalu ia bisiki untuk tetap tinggal di dalam rahimnya. “Di luar terlalu  berat nak, berat. Kau tak kan tahan. Ayahmu  belum pulang. Air susuku bahkan mengering. Tapi tenanglah nak,  jangan kau menangis. Mungkin setumpuk puisi di lemari itu akan membantu,” kali ini tak tahan. Perempuan  itu akhirnya meneteskan air matanya lagi.

 


sumber gambar: panampost.com

The following two tabs change content below.

Wahyu Hardiani

Asal Tana Toraja. Masih berusaha menyelesaikan segalanya di Universitas Negeri Makassar. Menulis, kuanggap sebagai sarana pengungkapan cinta

Latest posts by Wahyu Hardiani (see all)

One thought on “Perempuan dalam Bayang Literasi”

  1. Tulisan ini terasa menyudutkan seorang penulis yg tdk ada harga tulisanx pdhl semestinya seorang penulis itu adalah dewa pengetahuan dan bhkan dengan tulisan menyentuh hati kita selaku pembaca bahwa begitu pentingx sebuah tulisan yg akan menerankan bumi ini akan sebuah pengetahuan. Andai tak ada tulisan dmn kita bisa membaca atau menegok pengetahuan ini. Belajar dari tulisan seseorang adalah sebuah hal yg bijak untuk menjadi tumpuan sukses dalam melahirkan ide2 kreatif. Selamat membaca. Saya suka tulisan ini. Thanks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *