Perempuan Penunggu Perahu

Kecipak air berlarian seiring deru mesin jolloro yang saling bersahutan. Burung-burung pipit berkejaran dari ranting ke ranting di pohon-pohon bakau nan hijau memadati sungai Pute. Di salah satu pojok arusnya sebuah pondok kecil berbahan kayu dan gemecah dan sepotong dermaga mungil terbuat dari kayu ulin peninggalan suaminya. Di antaranya itulah, Daeng Cinnong saban hari menghabiskan waktunya menunggu perahu-perahu yang lalu lalang berharap ada salah satu atau lebih yang mampir berbagi senyumnya dan membeli penganan yang dijajakannya, gogoso kambu dan telur asin dipagi hari dan cendol di siang harinya.

Di kampung Daeng Cinnong, salah satu sungai yang masih terawat baik adalah sungai Pute itu, sebagai alur yang menghubungkan warga antar kampung di kawasan itu. kawasan yang berjibun dengan panorama indah. Tegakan dan barisan bukit-bukit karst di kejauhan nampak sangat eksotis dan sedikit mistis. Deretan pokok-pokok nipah yang mengikuti arus lekuk-lekuk sungai nun jauh. Air sungai yang masih bening sebening hati para pelalu-lalang sepanjang alurnya.

Daeng Cinnong, baru saja duduk di balai-balai bambu di samping jualannya, pagi ini setelah menyelesaikan pekerjaan rumahnya dan mengurusi persiapan sekolah anak semata wayangnya, Fatira yang kerab disapa, Tira. Demikian itu keseharian Daeng Cinnong, selebihnya menunggu perahu yang akan menepi dan menyapanya.

Sekira tiga puluh menit, Daeng Cinnong duduk di balai-balai bambu di bawah rindang pohon padada dua orang pappalimbang telah menepikan perahu tempelnya atau oleh masyarakat setempat kerap pula dibilangkan jolloro.

“kopita, Daeng Cinnong, pakai gula merah saja.”

“Iye, daeng muktar.”

“Daeng Nai, pesan apaki?”

“saya pesan kopi, juga, tapi pakai gula pasir dan banyaki kopinya.”

“Iye, Daeng Nai.”

Setelah Daeng Cinnong menghidangkan pesanan dua pappalimbang, Daeng Muktar dan Daeng Nai, suasana hening beberapa saat, kedua pelanggan itu asyik menikmati kopi dan penganan sarapan yang dijajakan di kedai kecil, Daeng Cinnong, di salah satu pojok lekuk sungai Pute.

“kelas berapami, Tira, daeng Cinnong?” tanya, Daeng Muktar spontan memecahkan suasana hening. “Oh.. sudah kelas empat, sebentar lagi naik kelas lima.”

Dialog-dialog pendek selalu mewarnai percakapan di tempat ini sebab tipikal, Daeng Cinnong yang tidak suka berbasa-basi. Dia hanya menjawab pendek kala ditanya, dan jarang sekali memulai percakapan kecuali berkenaan dengan urusan jual beli di kedai kecilnya itu. sejak ditinggal suaminya tiga tahun lalu dia lebih banyak menutup diri bila tidak berkenaan dengan mata pencahariannya yang juga baru digeluti beberapa saat setelah suaminya menghilang tanpa kabar.

***

Di suatu pagi, seperti biasa Daeng Cinnong mengantar suaminya hingga di dermaga kecil depan rumahnya, yang hendak mencari ikan sebagai mata penhariannya. Sejak masih muda, Daeng Talli telah menggeluti usahanya itu sebagai nelayan pancing dan sesekali membawa dan menggunakan pukat bila firasatnya menangkap peluang di jejak yang saban hari dilaluinya. Hingga suatu hari yang naas bagi, Daeng Cinnong, sebab ternyata pagi itu adalah pagi yang terakhir kalinya Ia mengantarkan suami yang sangat dicintainya di dermaga mungil tempat menambatkan perahu jolloro sebagai modal usahanya menghidupi keluarga kecilnya. Setelah jelang empat tahun hingga kini tak ada kabar tentangnya. Padahal kala itu musim biasa saja, musim hujan baru saja beranjak pergi akan berganti kemarau. Badai pun tak berkabar bila ia mengunjungi hamparan jejak-jejak alur perahu, Daeng Talli. Ia menghilang begitu saja bak ditelan bumi tanpa secuil kabar pun yang mengunjungi, Daeng Cinnong dan Tira.

***

“Berapa Daeng Cinnong, dua gogoso dan segelas kopi.”

“Eeeee iye, Daeg Nai, sebelas ribu,” jawab daeng Cinnong dengan kata dan suara terbata-bata.

Daeng Nai, memecah lamunan, Daeng Cinnong dengan pertanyan spontan. Karena spontan dan mendesak. Daeng Cinnong pun agak kaget dan kikuk. Dia khawatir dua orang tamunya itu tahu apa yang sedang ia lamunkan. Lamunannya jauh mengembara ke angkasa tak bertepi. Hatinya terbawa gundah yang dalam. Hatinya perih tapi bola matanya tak sanggup lagi mengalirkan air mata di tebing-tebing pipinya. Tangisnya telah berpindah dari mata ke hatinya. Tapi ia sabar dan tabah, sebab masa depannya ada pada keceriaan Tira. Dia tidak mau memperlihatkan kesedihan di depan anak semata wayangnya sesedikit apapun.

Daeng Muktar pernah melamarnya melalui adik ibunya setelah ditinggal suaminya dua tahun lamanya tanpa kabar sedikit pun. Tapi ditolaknya dengan halus dan keyakinan yang kuat bahwa suatu saat kelak suaminya akan datang dan berlabuh kembali di dermaga mungil yang dibuatnya bersama dan di hatinya yang sangat dicintainya dengan perahu yang ditumpanginya ketika pergi. Biarlah aku menunggunya hingga perahunya membawanya kembali kepelukanku, gumamnya dalam hati.

Untuk mencairkan hatinya yang beku, beberapa kali sengaja dihembus isu oleh kerabat dan warga di kampungnya bila, suaminya telah beristri lagi di sebuah pulau di kepulauan Kalmas nun jauh. Pernah pula kabar angin berhembus bila, Daeng Talli ayahanda Tira telah wafat ditelan ombak besar di selat Makassar di sekitar kepualuan Spermonde, agar Ia dapat menerima lamaran lelaki yang memiminangnya. Dan pelbagai kabar-kabar burung lainnya dihembuskan berunglangkali. Tapi Daeng Cinnong bergeming, Ia tidak percaya dengan semua berita itu. Dia masih sangat yakin bila suaminya yang sangat ia cintai kelak masih dan akan kembali menepikan perahunya di dermaga cintanya yang Ia rajut dan bangun bersama.

Daeng Cinnong dan Fatira, Ibu dan anak ini bukan berarti mereka tidak membutuhkan lelaki sebagai pendamping hidupnya apatahlagi, Tira masih berusia kanak yang senantiasa merindukan ayahnya, sebab kala Daeng Talli meningglkan rumahnya hampir bersamaan dia beranjak ke sekolah diantar ibunya setelah melepas Daeng Talli di dermaga kecil tak jauh dari rumahnya untuk menenunaikan tugasnya sebagai nelayan menafkahi keluarga kecilnya. Tapi, itulah Daeng Cinnong yang berhati teguh bagai karang yang tak mudah tergerus ombak dan badai sekali pun. Sekali cinta ia tambatkan pada seorang lelaki tak ia cerabut hingga jasad berkalang tanah. Padahal lelaki yang telah meminangnya tidak hanya kelas pappalibbang seperti Daeng Muktar, tapi juga para lelaki yang telah mapan secara ekonomi di kota kecamatan dan dikenal berbudi baik pula. Jadi, pilihannya cuma satu dan takkan pernah bergeser ke lain hati. Hatinya telah tertambat di dermaga cinta yang sangat kokoh walau setiap hari dihempas ombak gerusan kapal motor yang riuh melintasi tepi kedai dan rumahnya di salahsatu kelokan sungai Pute.

“Mama, bagaimana menurutta’ berita-berita yang sudah menyebar di kampung ini, termasuk sampai ke telinga guruku, tentang kematian Bapak?” Dengan mimik serius sedikit tegang, Tiara, bertanya pada Ibunya karena tak tahan lagi hampir setiap saat memamah berita kematian Ayahnya. Di sekolah, di rumah Neneknya, kerabat dan warga kampungnya.

“Kamu parcaya, sayang?”

“Sebenarnya perasaanku sama dengan perasaan, Mama, tidak percaya, tapi setiap hari saya medengar kabar itu, hampir-hampir tak berjeda, saya sangat sedih, Mama. Bahkan Nenek pun mempercayai kabar itu.”
“Itulah, Nak. Kita harus kuat dengan keyakinan kita. Sebab, saya masih yakin bahwa Bapak kamu suatu saat akan kembali berkumpul bersama kita. Kita harus bersabar menunggu di tepi sungai ini. Menunggu perahu ayahmu menepi dan berlabuh di dermaga itu sebagaimana beberapa musim lampau penantian kita selalu bersahut bahagia kala bapakmu datang dengan senyum semringah yang selalu membahagiakan kita.”

Dialog-dialog penuh kasih seperti ini senantiasa berkelindan di batin mereka berdua dalam setiap kesempatan. Sore itu di hari Minggu, sepulang berkeliling menumpangi perahu salahsatu peninggalan, Daeng Talli, berkeliling di beberapa destinasi wisata Rammang-rammang menjajakan penganan dan kopi kepada para tukang perahu dan para pelancong di kawasan wisata Rammang-rammang. Mereka duduk di balai-balai menggerus letih sembari bercengkrama, dialog berkenaan kematian, Daeng Talli mengharu biru perasaan mereka berdua. Tapi, Daeng Cinnong sebagai Ibu yang tegar dan piawai mengemong anaknya sepenuh kasih, telah matang sehingga dialog-dialog seperti itu diarahkannya kebuah muara kegembiraan dan kebahagiaan, Tira.

“Mama, semalam aku bermimpi disambut bapak dengan senyum semringah yang indah seraya memelukku, bapak membisikiku, aku menyayangimu bersama Ibumu. Sayangi Ibumu seperti aku menyayangimu.” Tira, menyampaikan mimpinya itu sembari mengenakan pakaian sekolahnya, Ia tersenyum renyah dan sedikit rindu dan gundah teduh di bola matanya.

“Alhamdulillah sayang, Papa pasti merindukan kita juga dengan rindu yang sangat akut seperti kita merindukannya, jadi kita harus lebih bersabar ya, sayang.”

Tira, hanya mengangguk disertai senyum manis yang selalu ia berikan pada ibunya yang baik hati dan menyayanginya. Pun, Daeng Cinnong, selalu memberi yang terbaik pada anak kesayangannya itu. Semua ruang dan waktu disiapkan untuknya, untuk membahagiakannya. Dia bertekad membesarkannya sepenuh hati dan daya upaya. Letihnya akan gerus bila memandang buah hatinya itu. Dua perempuan cantik, Teguh pendirian, tak letih dan tak bosan menunggu perahu cintanya akan berlabuh di dermaga di depan rumahnya di bawah pohon padada nan rindang.

***

Dalam penantian panjang yang berat tetap dilaluinya dengan optimis yang nyaris tak pernah urung bahwa suatu saat kelak suaminya akan kembali menepi di dermaga tempat Ia menunggu perahunya yang dulu mereka antar kepergiannya. Hingga suatu ketika setelah berpuluh tahun kepergiannya dan kala semua warga di kampungnya telah melupakannya, Daeng Nai datang dengan sebuah tongkat di tangannya ditemani seorang pemuda ganteng yang serupa dengan wajahnya dan wajah Tira. Walau wajah rupawan itu telah tertutupi kerut dan sabetan-sabetan luka meruangi hampir seluruh mukanya.

Kedatangannya kali ini setelah lama sekali kepergiannya hanya membawa kematiannya. Ia kembali ke bilik rumah yang dirindukannya. Menghembuskan nafas terakhir di pangkuan istri dan anak yang dikasihinya. Kedatangannya seolah hanya menggerus gundah dan rindu yang lama terbenam di hati dua perempuan penunggu perahu hingga dermaga tempatnya menunggu telah menua rapuh dan lapuk. Kedua perempuan cantik nan sabar itu, hanya gamang dan gundah menyaksi rupa ganteng lelaki muda yang mengatar Sang lelaki yang dicintainya dan bertahun-tahun ditunggu kedatangannya.

Hulawa, Januari 2019.

 

Istilah-istilah: 

Jolloro: Sebutan untuk perahu tradisional Bugis-Makassar. Biasanya digunakan nelayan menangkaip ikan

Padada: buah pedada

Gogoso: Makanan yang berbahan utama beras ketan. Mirip makanan lemper dari jawa.

Pappalimbang: perahu penyeberangan

 

Sumber gambar: https://www.deviantart.com/midodellouche/art/riding-on-a-boat-alone-in-the-sea-739566923

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *