Pergulatan Kata-kata

Beberapa bulan berlalu saya mandek menulis. Entah kenapa. Yang saya percaya, bahwa memulai kembali sebuah kebiasaan ibarat mendaki gunung yang tinggi. Perjuangannya sungguh luar biasa. Makanya janganlah pernah merasa bangga ketika sudah melahirkan karya semisal buku atau sederet tulisan di sejumlah media. Karena bagi saya menulis itu mestilah menjadi sebuah kebiasaan. Seperti halnya ketika bangun pagi dan kita butuh ngopi atau sarapan. Terasa ada yang kurang jika dalam satu hari kita tidak melakukannya. Dalam permisalan minum kopi mungkin saja ada sinyal yang dikirim otak ke sistem tubuh yang mengakibatkan kepala jadi terasa sakit. Nah, dalam menulis, efek apa yang akan dirasakan jika berhenti melakukannya? Setiap orang akan menyodorkan jawaban yang bervariasi.

Yang pasti efek yang saya rasakan berbulan-bulan tidak menulis adalah rasa bersalah, rasa gelisah, rasa tidak percaya diri, dan seribu satu rasa lainnya.  Untungnya saya bisa mendeteksi asal-muasal ketidakberesan tersebut. Bahwa, dalam beberapa bulan ini saya telah menggeser fokus perhatian dan minat saya pada hal lain yang bukan buku, menulis, ataupun parenting. Dampaknya, dalam kesibukan menjelajah itulah saya mulai kehilangan gairah pada hal-hal inti yang sejak lama sudah saya bangun. Yang mana faktor x tersebut tidak masuk dalam kurikulum pengembangan hidup sebagaimana cita-cita awal dahulu.

Lalu tiba-tiba pagi menjelang siang tadi,  di tengah keasyikan saya bersih-bersih sambil Fb-an dan buka Whatsapp, saya terinsipirasi untuk menuliskan apa yang melintas dalam benak kali ini.  Merasa tersindir, tersentil,  sekaligus termotivasi setelah membaca sebuah tulisan  yang menarik dari sebuah laman menulis , dan ternyata berhasil menggerakkan jari-jari ini untuk kembali bermain-main dengan tuts keyboard  laptop. Ditambah lagi kejadian-kejadian sehari-hari yang sangat sayang jika tidak diabadikan dalam tulisan,  Walhasil semuanya berkontribusi dalam menggerakkan saya kembali menulis.

Ungkapan-ungkapan seprerti Kata adalah Senjata, atau Melawan dengan Kata mungkin sudah umum kita dengar sehari-hari. Semua ungkapan tersebut benar adanya. Akan tetapi kali ini saya ingin menegaskan bentuk perjuangan yang menjadi pilihan saya setiap harinya.

Banyak yang memandang remeh sebuah kata, tak sedikit yang menyepelekan pentingnya memperhatikan pilihan kata yang setiap detik terlontar dari ujung lidah kita. Bahkan ada segelintir orang yang dengan sengaja membiarkan dirinya dikontrol oleh moodnya sehingga dengan mudah kita membaca karakter dan gambaran suasana hatinya melalui kata-kata yang ia lontarkan.

Pada setengah perjalanan usia rata-rata manusia, saya mulai menyadari betapa bertuahnya kata-kata. Saya mendapat pengetahuan dan penyadaran tersebut dari buku-buku, hasil perbincangan dengan teman-teman, dan dari pengamatan perilaku sehari-hari terhadap orang-orang yang setiap saat berinteraksi dengan saya. Saya yang sangat suka mengamati sesuatu kemudian mencari tahu apa sebab dan mengapa hal itu terjadi, sesungguhnya sangat diuntungkan dengan kebiasaan tersebut. Ujung-ujungnya saya akan menarik sebuah kesimpulan versi pengamatan saya yang terekam dalam rentang waktu tertentu.

 

Ubah karakter lewat kata

                Dalam rumah saya, ada sembilan anggota keluarga. Satu ibu saya, satu suami saya, empat anak, dan dua orang ponakan yang tinggal bersama kami. Setiap hari saya melakukan interaksi dengan mereka, baik verbal maupun non verbal. Dan kesemuanya mengandung makna. Tak ada yang sia-sia. Saya tidak mau menghambur-hamburkan kata untuk sesuatu yang tidak memiliki tujuan. Saya ingin setiap orang yang terhubung dengan saya memperoleh manfaat sekecil apa pun itu. Yang jelas tidak akan dirugikan.

Dalam kehidupan sehari-hari pun saya tidak pernah menggunakan istilah hukuman, baik dalam lisan terlebih dalam praktik. Rasanya kata hukuman itu  sesuatu yang menegangkan dan menggelisahkan. Saya lebih senang mengubah kebiasaan buruk anak-anak lewat sesi bincang-bincang, tentunya dengan menggunakan kata-kata yang persuasif. Karena kesadaran itu sifatnya lebih menggugah dan lebih permanen sifatnya dibandingkan dengan model kekerasan yang mungkin menjadi pilihan sebagian orang.

Sejauh ini saya selalu tertarik mempelajari hal-ihwal pengetahuan soal manusia dan pikiran-pikiran yang menyelimutinya. Bacaan-bacaan tersebut saya terapkan dalam pola komunikasi dan kehidupan sehari-hari. Jika setiap orang memahami cara kerja pikiran lalu melakukannya sesuai dengan arahan teori-teori tersebut, saya yakin akan banyak persoalan kejiwaan manusia dapat dicegah dan mendapatkan solusinya.

Setiap hari saya bergulat dan bergelut dengan kata-kata. Untuk mengubah kesukaan bermain game pada anak laki-laki kami, saya mendekatinya dengan kata-kata. Bukan kata-kata biasa melainkan kata-kata yang sudah saya pilih dan siapkan sebelum ia terucap keluar. Menghadapi anak kami yang lain yang nampak keteteran mengelola waktu, saya pun menghadapinya dengan susunan kata-kata yang terpilih. Padahal hati ini sebenarnya sudah sesak ingin menumpahkan kekesalan melihat kamarnya yang berantakan, tetapi saya selalu ingat untuk bijak menggunakan kata-kata. Maka ada kalanya saya memilih diam daripada berbicara dalam kondisi yang belum siap.

Makanya saya sangat menentang orangtua yang sangat gampang melontarkan amarah kepada anak-anak mereka. Karena saya pribadi tidak suka jika ada orang yang memarahi saya apalagi untuk perkara sepele saja. Saya juga menentang orangtua yang bersikap masa bodo ke anak-anaknya, karena anak-anak itu amanah Tuhan yang bernyawa, yang butuh sentuhan kasih sayang dan kehangatan komunikasi. Bukan benda yang digeletakkan begitu saja, yang jarang diajak bicara.

Menghadapi perilaku pasangan yang tidak berkenan di hati, utarakan dengan kata-kata yang pas untuknya. Bukan kata-kata sindiran, umpatan, atau jenis ungkapan kekesalan lainnya. Tetapi pilihlah kata-kata yang membangun, yang menggiringnya untuk mau menyadari kesalahannya. Jika kata-katanya tepat biasanya akan ada perubahan perilaku pada akhirnya.

Setiap orang selaiknya berpikir seribu kali sebelum berkata-kata. Di sanalah letak perjuangannya. Memilih dan memilah kata-kata yang akan kita keluarkan. Jangan sampai orang lain terluka karenanya. Terkhusus anak-anak yang masih berjiwa rentan dan sensitif. Karena kata-kata itu hanya akan menjadi milik kita selagi ia masih berada dalam batin, tetapi manakala ia sudah terlontar keluar, ia sudah menjadi milik orang lain sang penerima kata-kata.

 

 

 

 

The following two tabs change content below.

Mauliah Mulkin

Manager at Paradigma Ilmu Bookstore
Pegiat literasi dan parenting di Paradigma Institute.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *