Persaudaraan Wujudiah

Dari sekian banyak pemaknaan, ada yang mengartikan “saudara” berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “sa” berarti satu dan “udara” berarti perut atau rahim. Maksudnya adalah terlahir dari satu perut atau rahim yang sama. Atau pun juga berasal dari satu sumber yang sama. Sesuatu disebut bersaudara karena satu dengan yang lainnya terlahir dari sumber yang sama. Atau, dengan makna yang lebih luas, disebut bersaudara jika berada dalam lingkup yang sama.

Ikatan persaudaraan ini menentukan nilai-nilai yang membalut kerekatan antara satu dengan yang lainnya untuk tetap menyatu. Kesatuan, cinta, kasih sayang, senasib, tenggang rasa dan lain sebagainya merupakan nilai-nilai yang mengikat mereka dalam keutuhan dengan pandangan bahwa mereka berasal dari sumber yang sama. Sumber atau asal yang sama dijadikan pijakan persaudaraan untuk tetap menyatu padu antara satu dengan yang lainnya.

Pada umumnya persaudaraan ditilik dari garis keturunan. Melalui sumber keturunan yang sama itulah mereka mengada dan dianggap bersaudara. Ibu merupakan sumber terdekat untuk dikatakan sesuatu atau seseorang bersaudara satu dengan yang lainnya. Ada ikatan yang menyatukan satu dengan yang lainnya berdasarkan fakta dan kesadaran bahwa mereka berasal dari ibu yang sama, sehingga mengharuskan untuk tetap bersatu pada hal-hal tertentu dalam keadaan apa pun.

Moyang merupakan titik acuan terjauh untuk dipandang sebagai bersaudara, seperti Nabi Adam as. Semua manusia adalah keturunan Adam as. sehingga semua mereka bersaudara satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, sebagai keturunan Adam, manusia semestinya menyatu padu dalam membangun kehidupan dan bukan bersaing tidak sehat atau bahkan menjatuhkan yang lain untuk mencapai tujuan. Tindakan yang tidak sehat semacam ini adalah pengingkaran atas nilai-nilai yang berkaitan dengan persaudaraan karena tidak mencerminkan kesadaran bersatu bahwa mereka terlahir dari sumber yang sama.

Lingkup persaudaraan dapat dipersempit atau diperluas berdasarkan acuan yang diambil yang dipandang sebagai sumber bersama. Lingkup persaudaraan dengan acuan ibu lebih kecil dibanding dengan yang beracuan moyang. Lingkup nilai-nilai yang terkandung dalam persaudaraan juga dapat menyempit dan meluas mengikuti acuan yang diambil sebagai asal bersama.

Dalam pandangan Wahdatul Wujud, semua yang ada berasal dari sumber tunggal, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu segala sesuatu mengada berasal dari rahim tunggal dan satu-satunya rahim, yaitu Allah SWT. Dan yang paling menarik adalah, meng-ada-nya segala sesuatu tetap dalam ketunggalan wujud sehingga bermakna tidak melahirkan wujud baru, dengan demikian hubungan antara Allah dengan segala sesuatu adalah hubungan ketunggalan yang sama sekali jauh dari keterpisahan dan jarak. Kepaduan antara Allah dengan yang ada dan yang ada dengan yang ada adalah dalam ketunggalan, sehingga ketunggalan ini memancarkan persaudaraan yang melampaui segala bentuk persaudaraan yang ada umumnya. Inilah persaudaraan wujudiah. Persaudaraan yang tercipta dari sumber wujud tunggal yang di dalamnya beroperasi ikatan-ikatan mulia yang menyatukan karena aspek individualitas tidak pernah tercerabut bebas dari sumber ketunggalannya.

Segala yang tampak dan tak tampak berasal dari Wujud Tunggal. Keberasalan ini tidak melahirkan terciptanya kejamakan wujud hakiki, karena kehadiran segala yang ada hanyalah pancaran atau manifestasi dari Wujud Tunggal. Semua yang ada adalah manifestasi dan bukan merupakan wujud mandiri, namun bergantung murni pada Wujud Tunggal. Persaudaraan satu manifestasi dengan yang lainnya adalah persaudaraan yang amat kental dan luhur penuh kebersamaan dan kemuliaan karena ia terikat oleh ketunggalan sumber wujud dan senantiasa dalam limpahan keagungan Wujud Tunggal sebagai sumber segenap keberadaan dan juga sumber segenap kesempurnaan termasuk keagungan dan kemuliaan.

Dalam pandangan sufistik, segala sesuatu selain Allah hanyalah tajaliat-tajaliat atau “penampakan luar” Allah SWT. Oleh karena itu tidak mungkin tajaliat bersanding wujud dengan Allah SWT karena tajaliat tidak memiliki wujud hakiki. Tajaliat hanya “mengalami keterpinjaman” wujud belaka. Semua bentuk tajaliat bersumber dari Allah yang tajaliat-tajaliat tersebut dalam kondisi kepapaan murni, bergantung total pada Allah SWT. Sebagai sesuatu yang bersumber sama, yaitu Allah SWT, maka setiap tajaliat bersaudara satu dengan yang lainnya.

Persaudaraan di atas kental dengan kesadaran sufistik, yaitu setiap tajaliat dalam kondisi kepapaan murni dan sekaligus bergantung murni pada Allah SWT secara langsung. Dalam keadaan semacam ini tidak mungkin antara satu tajaliat akan mengganggu tajaliat lainnya karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk itu akibat kepapaan murninya, akan tetapi mereka kompak menyatu bergantung kepada Allah untuk mewujud. Sehingga persaudaraan antar tajaliat adalah kemenyatuan satu dengan yang lainnya untuk tetap sadar diri atas kepapaan murni dan bergantung murni pada Allah SWT, atas keadaan ini segenap tajaliat menerima limpahan kebaikan dan untuk menyempurna dari Allah SWT. Persaudaraan dengan kesadaran sufistik ini jauh melampaui jenis persaudaraan umumnya yang tersekat oleh berbagai bingkai ilusi wujud kehidupan.

Allah menciptakan segala sesuatu dan tetap bersamanya, hal ini mengisyaratkan bahwa segala sesuatu itu bersaudara satu dengan yang lainnya dan tetap dalam lingkup-Nya. Citra persaudaraan luhur ini Allah ciptakan secara azali bersamaan dengan proses penciptaan, yang semestinya citra persaudaraan ini merembes pada semua jenis persaudaraan dalam kehidupan. Citra persaudaraan wujudiah luhur ini semestinya mengisi persaudaraan antar manusia, persaudaraan antar agama, persaudaraan antar golongan dan persaudaraan antar segenap eksistensi yang ada dan yang akan mengada. Persaudaraan yang tercerabut dari citra persaudaraan wujudiah akan melahirkan suasana “kelompok persaudaraan” satu dengan yang lainnya akan saling menerkam dan saling meniadakan, bisa memakai topeng kelompok, agama, ras dan lainnya. Sejarah kemanusiaan, sejarah kehidupan semestinya dipenuhi oleh tetes-tetes embun persaudaraan wujudiah secara berkelanjutan sehingga melahirkan gerak kehidupan yang menyempurna demi terwujud kesempurnaan-Nya pada setiap manifestasi yang dirasakan dalam hidup keseharian.

 

Sumber gambar: Gogle

The following two tabs change content below.

Herman Pabau

Penulis lepas, penyuka tasawuf, filsafat dan sastra, menetap di Makassar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *