Persetubuhan Literasi Politik dan Politik Literasi

Orang-orang mulai menyemut di dalam gedung. Beraneka model busananya. Bermacam warna pakaiannya. Beragam tingkatan usianya. Tawa riang menerungkunya. Gembira ria meluapinya. Bahagia menghidunya. Hajatan ini, bak gula dikerumuni semut.

Sembari menanti acara dimulai, sekelompok pegiat seni-budaya, Komunitas Pakampong Tulen (Komplen), menembangkan lagu-lagu daerah, langgam Makassar, orkes turiolo (otri). Sederet lagu didendangkan. Rupa-rupa alat musik dimainkan. Celo, gitar kontra bas, gitar, cak-cuk, dan biola, menyatu dalam harmoni. Segenap penghadir khusyuk dalam pusaran tembang etnik.

Ketika persembahan Komplen jeda, seorang perempuan muncul dengan sorotan lampu, mengajak menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Setelahnya, sekelompok laki-perempuan berjejer, serupa paduan suara, melagukan mars Relawan Demokrasi (Relasi) 2019 KPU Bantaeng. Berikutnya, seorang anggota relawan, bernama Ustas Sahabuddin, memanjatkan doa, agar perhelatan ini diberkahi Yang Mahakuasa. Rupanya, helatan ini merupakan hajatan Relasi Bantaeng. Namun, apa tajuknya?

Ketua panitia acara, Indrawati, sekaligus  Koordinator Relasi, menerangjelaskan maksud acara. Para penghadir digiring untuk menyaksikan slide di layar putih, sehimpunan testimoni, baik dari dalam maupun luar negeri. Pun, dari ormas keagamaan dan pejabat pemerintah. Ungkapan-ungkapan testimoni itu, sebentuk penguat terhadap sepak terjang para Relasi, selama menunaikan tugas, menjadi mitra penyelenggara Pemilu Serentak 2019.

Lampu padam. Bukan karena PLN mematikannya. Tetiba muncul sosok perempuan. Lampu sorot menajam padanya. Ia mulai bertutur. Sebagai penghadir, saya mencoba menebak, gerangan apa sesungguhnya plot panggung ini. Nanti dua tiga penggalan kalimat dituturkan, saya mulai menangkap maksudnya. Sepertinya, semi monolog, memaparkan proses rekruitmen menjadi Relasi, bagaimana Relasi bersosialisasi, dan ungkapan-ungkapan masyarakat terhadap Relasi. Penuturan yang lantip. Penutur monolog, ternyata, seorang Relasi pula, Mahdita Ayu Mentari.

Pucuk kalimat Mahdita seolah memberi isyarat, agar duplikat buku diarak. Ukurannya 79×104 cm, diringi uangkapan petuah-petuah dalam deretan kata. Salah seorang Relasi, Haedir Thumpaka, bersama pengiringnya, seolah membacakan mantra-mantra.

Barisan awan putih. Menyambut dengan riang. Menyaksikan kelahiran anak-anak ruhani. Dari mereka yang rela dan bertugas untuk sebuah pengabdian pada negeri. Yahh.. 22 januari 2019 adalah saksi. Jiwa-jiwa bersemi dan bernaung dalam relawan demokrasi. Barisan anak-anak bintang. Membasuh cahaya di kening kami. Menyaksikan perjalanan yang tidak mudah dan begitu panjang. Menuliskan dengan pen-pena. Abadi. Bertinta. Cinta yang nyata.

Tutur-tutur itu, menjadi penyakral barisan pengiring, hingga arakan duplikat buku tiba di panggung, diletakkan pada dua sudut bagian depan panggung.

Ruangan gelap, lalu hadir sosok perempuan. Lampu sorot meneranginya. Ia menunduk, merapal ujar, “Ada cara manusia menunaikan sesuatu dalam kehidupan ini. Dengan segala peristiwa dan dinamikanya. Ada pula mengekspresikan cinta dan empati dengan berbeda. Dengan menabur bunga di pusaramu, mengirim doa tempat terindah di sisi-Nya. Bukan juga berarti harus bersedih sepanjang waktu, akan tetapi, belajar dari ketegaran dan kerelaan atas mereka, yang menginspirasi, untuk kami para Relasi.”

Petuah bijak tersebut dipanjatkan oleh Rahmawati, seorang anggota Relasi, mengantarkan satu nyayian, semacam elegi, atas duka bersama yang dialami para relawan. Lewat tindisan apik pianonya, Fandy Arfah, staf KPU Bantaeng, menembangkan satu lagu pengingat, judulnya,”Kemarin”, dipopulerkan oleh grup band, Seventeen. Lagu ini menjadi pengiring tampilan slide, tentang beberapa anggota Relasi yang berduka.

Selama menjalankan amanah, ada dua anggota relasi yang kehilangan anaknya. Jumading Ali, anaknya wafat karena sakit. Jumriani, putranya berpulang pada keabadian, sebab tenggelam di sungai, dekat rumahnya. Dan, segenap anggota Relasi, sempurna dalam kedukaan, ketika salah seorang relawan meninggal. Ia sakit. Syamsuddin, sosok inspiratif para relawan lainnya. Ia seorang penyandang disabilitas, tapi spiritnya, tak kalah dari relawan lainnya.

Sorot lampu berpindah ke pemandu acara, seorang Relasi, Nurfadillah. Ia mengajak Ketua KPU Bantaeng, Hamzar Hamna, naik ke panggung. Nampaknya, akan ada kejutan. Benar saja adanya, keduanya berduet menembangkan lagu yang dipopulerkan salah satu penyanyi legendaris tanah air, almarhum Crisye, “Damai Bersamamu”. Saya meraba maksud duet ini. Tafsir pentas boleh saya kemukakan, duet maut menabalkan tekad, agar kita semua menyuntukkan diri dalam kedamaian. Gesekan biola salah seorang Relasi, Dion Baharuddin, meliuk-liuk, menenggelamkan segenap penyaksi helatan.

Duet tuntas. Berikutnya, sebagai bentuk apresiasi kepada keluarga Syamsuddin, pihak KPU Bantaeng, menyerahkan lukisan dan piagam penghargaan khusus. Nah, sesudah penyerahan lukisan dan piagam, Hamzar Hamna, langsung didapuk untuk memberikan sambutan, selaku Ketua KPU Bantaeng. Selain ucapan terimakasih kepada semua pihak, Hamzar juga meminta dengan sangat, agar diizinkan menjadi orang yang paling berbahagia atas acara ini. Ditegaskannya pula, pengarakan duplikat buku Dari Relasi ke Literasi, itulah penanda, buku ini secara resmi diluncurkan. Dengan begitu, makin jelaslah tajuk helatan ini, launching buku Dari Relasi ke Literasi.

Hadirnya buku Dari Relasi ke Literasi, menurut KPU Provinsi Sulawesi Selatan, yang ikut memberi apresiasi dalam sambutannya, merupakan peristiwa yang garib. Buku yang ditulis oleh Relasi KPU Bantaeng, hingga saat ini, masih menempati posisi, satu-satunya di Indonesia. Menurutnya, ada beberapa buku yang bakal terbit, tapi ditulis oleh komisioner. Pun, ada pula rencana KPU Pusat RI, akan menerbitkan sekumpulan tulisan perwakilan Relasi seluruh Indonesia. Saya lalu membatin, Relasi KPU Bantaeng sudah terdepan, telah mengamalkan slogan Yamaha, “Semakin di depan”.

Tentulah ini amat membanggakan sekaligus membahagiakan. Karenanya, Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, lewat sambutan tertulisnya, dibacakan oleh Asisten I Sekretaris Daerah, Hartawan Zainuddin, menyatakan, “Ternyata Relawan Demokrasi (Relasi) KPU Bantaeng sebagai mitra sosialisasi dan pendidikan pemilih pada Pemilu 2019, dapat mewujudkan dengan menulis catatan perjalanan, untuk dihimpun dan dibukukan dalam sebuah judul, Dari Relasi ke Literasi. Pemkab Bantaeng tentu memberikan terima kasih dan penghargaan tinggi, atas pencapaian ini, karena selama ini belum ada KPU Kabupaten/Kota yang dapat menerbitkan buku seperti ini.”

Bagi saya, selaku pegiat literasi, sekotah mata acara pentas, plot pementasan, mencerminkan isi buku. Memastikan hadirnya buku tersebut, sebagai penanda moncernya gerakan literasi di Bantaeng. Ini tidak bisa dilepaskan dari makin giatnya para pegiat literasi menjalankan politik literasi, dengan semboyan gerakan literasi paling mutakhir, politik literasi mesti dicolokkan kepada seluruh elemen masyarakat.

Esai-esai dari anggota Relasi Bantaeng, telah terhimpun dalam buku Dari Relasi ke Literasi, mengalamatkan sebentuk literasi politik. Sementara, geliat untuk membukukannya dan mewujud menjadi buku, merupakan politik literasi dari pegiat literasi. Pastinya, buku ini, serupa amsal, hasil persetubuhan literasi politik dan politik literasi. Lahirlah anak ruhani dari para Relasi Bantaeng.

Ketika ada anak yang lahir, biasanya diakikah. Sebab buku ini juga sejenis anak, serupa anak ruhani, maka layak pula diakikah. Dan, launching buku Dari Relasi ke Literasi,  pada hari Rabu, 23 Oktober 2019, bertempat di Balai Kartini Bantaeng, dengan segala kemegahannya, merupakan sunyatanya perhelatan literasi politik. Dan, helatan ini mesti dimaknai sebagai kampanye literasi, selaras politik literasi.

 

 

 

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017), dan Pesona Sari Diri (2019). Kiwari, selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *