Pertama Kali ke Getengan

Saya memiliki cita-cita meninggalkan tempat ini dengan tempo yang sesingkat-singkatnya. Jujur, kau akan selalu memiliki banyak alasan untuk berujar belum siap. Dalam hati, ada beribu pertanyaan, apa yang akan saya hadapi saat berada di sini. Sedetik, sejam, sehari, seminggu, setahun, entahlah, yang penting cuman menyiapkan pantat lalu ditempelkan di kursi dan mulailah. Carilah posisi senyaman mungkin dan mulailah mengusir kepanikan. Lalu, menyusun berbagai siasat untuk angkat kaki segera.

“Kita jemput dulu kepala puskesmas di Buntu Burake”, ujarnya.

Ucapan supir ambulance itu membuyarkan lamunan saya. Padahal, sudah kugarap sedemikian rupa siasat agar dapat meninggalkan tempat tugas segera.

“Sebentar lagi, akan sampai. 10 menit ji perjalanan dari Makale ke Getengan, dok”, lanjutnya.

Dia adalah supir ambulance Puskesmas Getengan. Martinus namanya. Belakangan, saya baru tahu, kalau dia akrab dipanggil oleh orang-orang di Puskesmas dengan sebutan Papa Keti. Kami menumpang di mobil ambulance. Dari jam 7 pagi, saat kabut dan hawa dingin masih menutupi tempat tinggal kami, dia sudah ada di sana menunggu kami berlima.

Hari pertama, kami sewajarnya membutuhkan bantuan orang lain. Termasuk menuju ke suatu tempat yang sama sekali kau tidak tahu harus mengarah ke mana. Walaupun, kau tahu dan memiliki kendaraan menuju ke tempat itu. Untungnya, orang-orang baik di sini tidak ada habis jumlahnya yang bersedia membantu kami.

***

Kami dokter internship. Jumlah kami 15 orang. Hari ini, di dalam mobil ambulance, kami berlima. Selebihnya, sepuluh orang berada di rumah sakit. Kami masing-masing berasal dari perguruan tinggi yang berbeda-beda. 1 orang dari UNAIR, 2 orang dari UNHAS, 3 orang bersekolah di UNSRAT, dan paling banyak 9 orang dari UKI Jakarta.

Dokter internship itu ada sebab sebutan dari kementerian kesehatan. Kau tahu, kan kalau pemerintah itu gemar membuat program untuk mendapatkan tenaga kesehatan yang bersedia untuk ditaruh di manapun. Entah ini sial atau beruntung sebagai dokter yang baru lulus dari pendidikan kedokteran ditempatkan di desa Getengan. Celakanya ini wajib. Saya akan berada selama 4 bulan di Puskesmas lalu 8 bulan akan melaksanakan tugas pelayanan kesehatan di rumah sakit.

Oh iya, saya lupa memperkenalkan tempat ini. Getengan adalah sebuah desa di Kecamatan Mengkendek. Getengan ini berjarak 13 kilometer dari Makale, pusat kota dari kabupaten Tana Toraja. Kalau mau naik bus dari Makassar, kira-kira siapkan pantat untuk betah duduk selama 6 jam menggunakan bus kecil. Yah, kalau dari Makale ke Getengan menggunakan motor bisa tiba dengan menempuh waktu sekitar 20 menit dengan kecepatan tidak terlalu kencang.

***

Ambulance berhenti di depan rumah. Mungil. Pagar kayu dicat putih, rumah itu menambah nilai indah rumah itu. Sekeliling halaman depan rumah bertaburan pot-pot bunga. Rumput-rumput mungil hijau tumbuh menjalar.

Mesin mobil ambulance masih berderu. Asap knalpot perlahan-lahan mengisi tempat kami berlima duduk. Seorang teman membuka jendela. Udara pengap karbon knalpot pelan-pelan bertukar dengan udara segar. Bercampur dan hilir mudik di dalam sini.

“Ambulance ini sepertinya sudah lama. Kalau tidak pernah dipelihara pastinya sudah berakhir di tempat timbang besi bekas.”

Beda sekali bentuk fisik ambulance di pedesaan dengan di kota. Saya masih ingat bentuk fisik ambulance di kota. Bentuk mereka megah, sirine meraung-raung, sampai-sampai butuh pasukan bermotor yang memegang tongkat untuk membuka jalan dengan segera. Padahal, ambulance di kota itu sudah berisik terdengar.

Berbeda dengan ambulance di pedesaan. Pikirku, orang yang berada di dalamnya akan hikmat berdoa. Mungkin bukan hanya orang yang sakit atau keluarga pasiennya, bisa saja supir ambulance ataupun tenaga medis yang mengantar menuju ke rumah sakit. Pasalnya, kursi berbentuk tapal kuda tersedia di sini. Ada yang memanjang ke belakang seukuran manusia, cukup untuk pasien tidur. Lalu kursi memanjang ke samping untuk pengantar, serta kursi untuk paramedis duduk di samping pasien. Tidak ada peralatan medis yang canggih seperti ambulance-ambulance di film Barat. Bahkan yang paling sederhana pun, tiang infus ataupun tabung oksigen tidak ada di dalam ambulance ini.

“Dok.” sambil membuka kaca pemisah antara supir dan ruang tempat kami.

“Sebentar ada ballo 5 Liter itu. Ini acara untuk menyambut dokter internship baru. Kami juga ada bakar daging. Sebentar malam nah. Tinggal maki menginap satu malam di rumah dinas dokter puskesmas. Makan daging babi ji semua toh”, kata pak sopir.

Pak supir itu menutup kaca pemisah. Dia tersenyum, Kepala puskesmas sudah berjalan menuju ke ambulance. Dia duduk di kursi depan. Mobil perlahan-lahan turun menuju jalan poros menuju ke Getengan.

“Iya, pak. Di Manado tinggal kaki meja yang tidak dimakan”, sahabat saya menyambar ajakan pak supir itu.

Dalam beberapa jam ke depan, saya akan melanggar untuk meminum-minuman yang menurunkan kesadaran. Perlahan-lahan mobil ambulance meninggalkan Buntu Burake dan perlahan-lahan juga kedua tangan patung Jesus muncul menampakkan diri memberkati Kota Makale. Dan mobil ambulance ini memang sengaja dibuat agar orang di dalamnya bisa berdoa dengan hikmat.

 

The following two tabs change content below.

William Gunawan

Lahir di Makassar, pada 16 Februari 1991. Terlibat dalam Komunitas Literasi Makassar, ia mengaku banyak mendapatkan kejutan-kejutan dan manusia cerdas. Setelah selesai sekolah medis selama 7 tahun, sekarang sudah jadi dokter. Mondar-mandir di koridor rumah sakit kayak kain pel. Dapat dihubungi melalui Email: wwdableyu@gmail.com.

Latest posts by William Gunawan (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *