Pesona Kota Seribu Masjid

Telah lama kudengar kabar bila di pulau Lombok Mataram terdapat sebuah “surga” yang dicipta Tuhan. Dapat membuat jiwa-jiwa manusia yang menikmatinya serasa di “surga”. Masih terhitung pagi, kala aku mengunjunginya di sebuah hari yang cerah. Dari kota mataram. Kota berjuluk seribu masjid. Setelah menikmati lantunan shalawat sebagai sebuah tradisi yang sangat mengakar di masyarakatnya pada setiap jelang azan salat lima waktu dikumandangkan. Aku bergegas berkemas untuk mengunjungi beberapa destinasi wisata di pulau Lombok ini.

Masih pagi, udara masih sangat segar menyambangi paru-paru pada setiap pejalan dan pelancong di kampung dan kota yang bersuku asli Sasak. kami menuju pantai Kuta-Lombok. Sepanjang jalan kota mataram dan desa yang terlintas masih menyimpan pepohonan yang terawat baik sehingga dinginnya masih terasa menusuk-nusuk kulit ari. Hamparan persawahan dan perkebunan juga terlihat masih tergarap dengan memadai.

Bincang-bincang kecil menyertai perjalanan kami yang tentu sangat mengasyikkan. Masih terbilang pagi, kami tiba di kawasan pantai kuta. Kami langsung menyusuri bibir-bibir pantai yang berombak landai. Panoramanya sangat menakjubkan sebab selain berpasir putih juga beberapa spot di ujung-ujung pantai nampak beberapa gundukan bukit-bukit kecil yang menjorok ke laut menyerupai kawasan raja ampat di Papua. Orang-orang lokal menyebutnya bukit Tunak.

Kami menikmati panorama pagi yang sejuk. Deburan ombak landai yang seolah memanggil-manggil dengan suara desah gadis-gadis manja bermanja cinta pada kekasihnya. Setelah beberapa view dan spot kupotret dan kurengkuh gambarnya. Kami bersiap bergegas melanjutkan perjalanan yang cukup panjang menuju destinasi yang lebih eksotis dan prestisius, menuju Gili.

Masih terhitung pagi kami menyusuri jalan-jalan menuju pelabuhan penyeberangan menuju Gili. Namun sebelumnya kami mampir beberapa saat di pantai Senggigi yang lebih sepuluh tahun tak kukunjungi. Kala masuk di kawasan ini aku sedikit terhenyak dari perubahan yang terjadi. Perubahan yang sangat drastis terjadi. Senggigi bak’ disulap menyerupai kawasan kuta-Bali di akhir tahun delapan puluhan. kala suasana ini kusampaikan pada seorang sahabatku yang beberapa bulan terakhir berdomisili di kota mataram, beliau membenarkan bahwa seolah-olah kawasan senggigi ini didesain menjadi duplikat dari kawasan Kuta-Bali. Resort, bungalow, hotel-hotel berbintang dan berbagai fasilitas mewah dan mahal bertaburan di kawasan ini.

Yang pasti turis-turis dari manca Negara dan lokal berbondong-bondong mengunjunginya. Investor pun pasti tak kalah gesitnya membebaskan lahan-lahan di kawasan pantai berpanorama indah ini dengan sunset yang eksotis di senja hari yang membuat mata seakan tak hendak berkedip oleh keindahannya. Dan sebagaimana lazimnya di negeriku ini, penduduk asli menjadi “penggembira” pada setiap proses industrialisasi berlangsung di setiap kawasan dengan dalih “menampung” tenaga kerja. Padahal sebelumnya lahan-lahan yang berbentang di kawasan tersebut adalah milik turun temurun moyang mereka. Maka nampaklah pemandangan, penduduk lokal sebagai pemijit menjual jasa di hamparan pantai berpasir putih itu. Sebagai penjaja asesoris yang berkerumun dengan harapan-harapan besar yang nampaknya sulit ia gapai dan berbagai cerita yang mengundang Tanya lainnya.

Setelah mata dan rasa berpuas menikmati panorama Senggigi, kami pun melaju ke kawasan Gili. Gili yang pertama kutandangi adalah gili meno. Udaranya tak terlampau menyengat kendatipun ia di kelilingi pantai dari laut nan indah. Di gili ini, tak kunyana aku bersua dengan orang-orang yang berasal dari kampung moyangku. Bugis Bone, Sinjai, Mandar, dan Selayar. Konon mereka lahir di Gili Meno, hanya mampu berbahasa ibunya nun jauh di tanah Bugis dalam sepatah dua kata dengan terbata-bata pula. Hanya Haji Fatahuddin yang lancar bebahasa Bugis, Makassar dan Mandar. Sebab, hingga kini beliau masih pengembara dari pulau ke pulau berkomunikasi dengan sanak moyangnya. selebihnya adalah warga yang moyangnya berasal dari tanah Bugis yang tak pernah mudik. Cengkrama pun berlangsung akrab walaupun hanya sejenak saja namun menggerus dahaga bertemu sanak-sekampung di kampung orang.

Kala kutandangi gili trawangan, aku sedikit terperangah sebab suasananya seolah tak di negeriku walaupun masih banyak yang berbahasa Indonesia. Namun nampaknya orang-orang lebih suka berkomunikasi dalam bahasa internasional. Pun, kampung ini disesaki manusia dari berbagai negeri. Para pelancong yang bepakaian minim menyesaki Gili Trawangan. konon beberapa resort dan bungalow telah digadai kepada para pemilik modal dari berbagai negeri. Gili trawangan sangat padat oleh pengunjung sebab hampir semua fasilitas telah disiapkan. Dentum musik berbagai aliran mewarnai pulau kecil ini sepanjang pantai. Hampir tak ada ruang jeda yang tak di sesaki café, kedai penjaja assesoris, dan resort. Lagi-lagi, anak-anak dan pemuda lokal menjadi bagian “dekoratif” yang mengais nafkah di hiruk-pikuk pelancong. Tentu seperti lazimnya pula mereka putus sekolah.

Menuju Gili trawangan selain dari bandara praya, dapat juga ditempuh langsung dari tanjung Benoa di Bali dengan menaiki speed boat berukuran besar dengan waktu tempuh hanya dengan satu jam lebih sedikit dengan harga ticket yang relative murah, seharga tiga ratus ribu rupiah. Pun dari Gili Trawangan mau menuju Bali setiap hari dengan mudah dilakukan.

Gili air yang lebih eksotik tak kurang lebih mirip, sebab di Gili ini pun manusia-manusia yang datang beroleh kebebasan lebih dari tempat-tempat lain di negeri ini. melihat situasi ini sesungguhnya aku hanya setuju dengan porsi setengahnya selebihnya sama sekali aku tak setuju. Mestinya, kala sebuah kawasan wisata dibeludaki pengunjung maka secara otomatis penduduk lokal akan mengalami tingkat kesejahteraan yang meningkat sebagai sebuah konsekwensi logis. Tentu dengan backup kebijakan daerah maupun pusat yang memihak padanya. Namun, nampaknya menjadi sebuah fenomena umum di negeriku ini bila hal itu terjadi maka dampak ekonomisnya sangat minim dan mereka selalu terpojok sebagai pemain piguran, dan guest starnya adalah mereka yang datang membawa uang segepok. Gili yang indah, gili yang eksotis, dan gili yang mistis hanya menjadi sebuah cerita di pojok-pojok kegirangan para pemodal.

Gili yang berarti pulau kecil, memang sangat eksotis melebihi dari berbagai pulau yang pernah kukunjungi. Jadi, Gili memang “Gila” dari berbagai plus-minusnya.

Sebagai sebuah ex kerajaan di masa lampau jauh sebelum negeri ini bernama Indonesia tentu masyarakat dan pemerintahannya telah pula melakukan komunikasi dan jalinan kerjasama dengan masyarakat Dunia. Satu diantara yang mungkin banyak yang lain, adalah kunjungan pengembaraan dan petualangan, Alfred Russel Wallace ke mataram-Lombok, sebelum beranjak ke Makassar, Sulawesi dan Indonesia bagian timur lainnya. Wallace, sebagai peneliti keanekaragaman fauna telah mengililing Nusantara selama 8 tahun. Sejak 1854 hingga 1862. Beliau juga mencatat beberapa spesimen fauna (burung) di hutan Lombok diantaranya, Kingfisher Halcyon fungidus, burung murai tanah yang aneh dan cantik, Zoothera anromeda, Dll.

Petualangang, Wallace di Lombok, juga menceritakan ke indahan kota Ampanan atawa Ampenan beserta sawah-sawah yang telah di garap oleh warga dengan model terasering dengan pembagian distribusi air yang cukup apik dan adil. Dari seluruh pengembaraan penelitiannya di Nusantara, Alfred Russel Wallacea telah merangkumnya dalam sebuah buku yang diberi judul “The Malay Archipelago”.

Semakin jauh kita melangkahkan kaki di negeri Indah ini pesonanya semakin menghunjam ke dalam sukma. Dalam berbagai perspektif negeri ini disuratkan untuk beragam karena hal tersebut menjadi asbab dari bagian ke indahannya. Karenanya, sangat disayangkan bila hanya sekedar dalih kekuasaan sebagian anak bangsa entah sadar atawa tidak nampaknya berupaya melakukan langkah-langkah memecah belah ke indahan negerinya yang sangat elok ini. semoga tidak.

 


sumber gambar: traveltodayindonesia.com

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *