Pesona Sari Diri: Catatan Pinggir Menuju Kesadaran Diri

“Kenalilah zaman dengan mengikat setiap makna dari peristiwa, niscaya engkau tidak terombang-ambing oleh zaman”.

“Bergeraklah dengan literasi sebab ia akan meninggalkan jejak peradaban dan dekatlah dengan buku-buku niscaya ilmu hikmah akan menghampirimu”.

***

Adalah Bung Sulhan Yusuf, dalam buku Pesona Sari Diri telah merangkum berbagai peristiwa yang terjadi, baik itu peristiwa politik, kebangsaan, budaya, tokoh, buku, lagu, bola, dan berbagai hal yang memantik jiwanya. Semuanya akan didedahkan dengan narasi renyah, mudah dicerna seperti seorang ayah bercakap pada anaknya, yakni berbincang dengan memahami si anak dengan penuh cinta.

Bagi Bung Sul, Sang Literasi ini sama seperti seorang seniman yang kawakan dalam memainkan kanvas-kanvasnya sehingga melahirkan lukisan yang memanjakan mata dengan keindahan permainan warna.  Begitu juga Bung Sul, ia begitu piawai membaca tanda-tanda zaman yang kemudian dituangkan dalam narasi-narasi hidup yang begitu elok. Hidup bagi Bung Sul, adalah apa yang bisa kita berikan, bukan apa yang kita peroleh. Memberi berarti, diri kita menjadi saluran rahmat buat orang lain, kita menjadi sebab atas kebahagiaan orang lain. sementara menerima adalah amanah yang masih ada kemungkinan adanya penyimpangan.

Bagi saya, buku Pesona Sari Diri ini bertujuan untuk memberi sentuhan dalam melihat berbagai fenomena dan kenyataan. Bahwa kita sebagai manusia harus melibatkan diri dalam kancah pertarungan “the millenial genaration“. Zaman yang rumit diprediksi, perubahan begitu cepat terjadi, generasi 4.0 adalah zaman yang hampir-hampir memutus rantai yang serba formalitas dan mengikat. Teknologi telah banyak merampas relasi antar manusia dan kemudian membentuk “relasi maya” yang tanpa batas-batas nilai.

Pesona Sari Diri hadir di tengah kancah pertarungan berbagai nilai, lalu menyodorkan berbagai kesederhanaan sebagai sebentuk perlawanan terhadap hedonisme yang telah mewabah merasuki sampai di kedalaman otak kita. Manusia berjalan atas rekayasa teknologi, kemerdekaan telah direnggut oleh sains dan teknologi. Bagaimana tidak, hidup kita lebih banyak dengan gadget, mau tidur ingat kamu, mau makan ingat selalu ingat kamu, yakni gadget.

Tidak ada cara lain untuk melawan kemewahan hidup, kecuali dengan kesederhanaan. Kita boleh kaya, tetapi kesederhanaan dan kedermawanan harus menjadi sikap, baik dalam bertutur maupun bertindak. Kesederhanaan akan membawa kita pada arti hidup, sebab kesederhanaan adalah bentukan dari terpaan hidup yang begitu heroik. Dalam pertarungan itulah, setiap dari kita akan menemukan sari diri, sebagaimana pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Hegemoni dan kesemuan hidup
Pada dunia lain, panggung modernisme yang diagungkan di Barat, kini perlahan-lahan, menemukan ajalnya, kita akan segera menyaksikan keruntuhannya. USA sebagai lambang supremasi modernisme kini dihinggapi kejenuhan dan kepalsuan hidup. Akibatnya penyakit pikun sebagai akibat dari tiadanya wirid pemantik kehidupan yang membawa pada ketenangan hidup. Ideologi dan paham keagamaan tidak sanggup menciptakan pola-pola kebahagiaan, kehidupan semu sebagai jawaban atas krisis kemanusiaan semakin menyata dalam kehidupan.

Beragamnya kemunculan berbagai ideologi sesungguhnya adalah bentuk pencarian intelektual yang didasari oleh gejolak jiwa merdeka. Misalnya, munculnya posmodernisme sebagai salah satu bentuk pemberontakan nilai-nilai kemapanan modernisme, justru datang sebagai penjelas atas akutnya cara pandang terhadap dunia. Meskipun posmodernisme tidak lebih sebagai fenomena intelektual belaka, akan tetapi, bagaimanapun, ia hadir sebagai awal dari munculnya generasi 4.0. Sebuah generasi yang berperilaku ganda, yakin generasi yang kehilangan identitas zaman.

Dalam perilaku keagamaan, kita menemukan orang yang rajin beribadah, tetapi juga gemar menyakiti sesama. Seakan-akan agama hanya berada pada batas-batas formal. Pada malam hari nampak sangat religius, tetapi pada siang hari ia menjadi sangar, menyeruduk semua tata nilai yang ada. Agama universal ditarik dalam dunia yang sempit, sebatas kelompok saja, perbedaan dijadikan alat untuk menghakimi sesama.

Perubahan cara pandang terhadap dunia, semakin menunjukan pola-pola acak. Lihat ideologi kapitalisme, para penganutnya justru mencerminkan orang sosialisme dan berlaku sebaliknya. Relasi ideologi berubah menjadi trans-ideologi, berkepala kapitalis tetapi bertindak sosialis, hidup tanpa kepercayaan, ateis, tetapi bertindak sosialis, tampak agamis realitasnya ateis. Kehidupan begitu paradoks, itulah kehidupan milenial.
Era revolusi industri 4.0, lebih menekankan pada pola-pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, yang pada ujungnya dapat membawa kita pada fenomena disruptive innovation. Perubahan terjadi dengan sangat cepat. agamis, nasional, dan sekaligus radikal, kadang-kadang menyatu dalam satu peristiwa. Gelombang keagamaan begitu besar yang juga diikuti dengan sikap-sikap radikal, intoleran, dan anarkis.

Sementara pada sisi lain Spiritual Capital tumbuh di pusat-pusat kota, semakin membuat kita sulit memahami seseorang dalam satu kerangka ideologi semata. Artinya kita dengan mudah menemukan orang kaya-raya terlihat sangat religius, dermawan, dan humanis, tetapi pada sisi lain ia menjadi hakim atas keimanan orang lain. Kita juga dengan mudah menemukan orang yang tampak religius, tetapi sangat mudah mencaci maki bahkan membunuh atas nama agama. Manusia tampak tidak lagi memiliki batasan-batasan nilai, ia boleh menghina dengan baju agama.

Agama ditampilkan dalam bentuk peran ganda, pada satu sisi semangat keagamaan begitu kuat pada simbol-simbol agama, tetapi pada sisi lain rapuh dalam pengendalian, karena tiadanya pengetahuan akan diri. Kata “maaf” seakan menjadi kata pamungkas untuk melegalkan berbagai sikap pelanggaran etika. Lidah kita begitu fasih melantunkan ayat-ayat pada kitab suci, tetapi lidah kita juga begitu tajam melukai sesama manusia, tanpa ada perasaan bersalah sama sekali. Cacian kita sudah seperti wirid penenang jiwa dalam mengeksekusi keimanan orang lain. Rumah ibadah yang mestinya sebagai tempat penyucian jiwa, tempat kembali dari jalan maksiat, kini di jadikan sebagai tempat mengkafirkan sesama.

Bahkan ada kecenderungan yang semakin menguat terhadap kelompok-kelompok radikal yang menampilkan kesangaran, melanggar hak-hak pribadi, yang justru dalam agama dipahami sebagai aktualisasi irfan akhlaki, fenomena ini semua dikemas dalam bingkai agama. Agama cenderung dipersonalisasi pada individu atau kelompok. Mengkritik kelompok atau individu tertentu dapat dianggap mengkriminalisasi kelompok atau individu tertentu. Menafsirkan agama hanyalah hak kelompok tertentu saja, akibatnya agama cenderung inklusif. Pada hal justru terjadi atas ketidakmampuan pelaku-pelaku keagamaan kita menampilkan agama yang rahmatan lil alamin.

Akibat dari itu semua generasi milenial justru terperosok ke dalam kedangkalan “rasa keagamaan” mereka tidak bisa merasakan kenikmatan dalam beragama, jiwa kering dalam hawa agama, tindakan tidak lagi dibarengi rasa bersalah, karena mereka tidak memahami batas-batas moralitas agama. Bahkan tidak sedikit saat ini, di beberapa negara Timur Tengah, bahkan di Indonesia setiap tahun penganut ateis terus bertambah.  Anak-anak muda itu telah cenderung pada ateis, padahal mereka adalah eks penghafal-penghafal Quran.

Kalau zaman modern saja mengalami pelapukan budaya apatah lagi, zaman tradisional yang kini telah menjadi fosil yang tinggal di museum peradaban masa lalu. Meskipun akhir-akhir ini ada kecenderungan kuat untuk melihat dan memeriksa kembali sejarah masa lalu. Akan tetapi, karena budaya milenial yang sudah begitu tertancap kuat dalam berbagai sisi kehidupan, ia menjadi kenyataan yang sudah teramat sulit untuk keluar dari frame zaman baru yang sudah kehilangan identitas masa lalu.

Buku Pesona Sari Diri ini, sebenarnya ingin memaki zaman dengan menelanjanginya dan menyetubuhinya dengan panah-panah analisis yang renyah. Kemudian ingin menggantikan dengan generasi yang lebih presisi dengan “dunia atas”, yakni sebuah dunia yang dipayungi dengan nilai-nilai nubuat. Atau ibarat bahtera Nuh yang menyiapkan kapal untuk menghindari banjir semesta.

Setiap tempat pasti memiliki orang yang memiliki cara pandang yang berbeda dari pemikiran mainstream, mereka pasti melihat yang tidak tampak di permukaan, mereka ibarat pembawa kendi air di tengah sahara pada orang-orang yang tercekik dahaga Setiap zaman, pasti menyisakan orang-orang suci untuk menjaga keberlangsungan semesta. Raushan dhamir, gelar Muhammad Iqbal salah satu dari sekian banyak tokoh yang diangkat dalam buku ini cukup mewakili untuk meneriakkan nilai-nilai sublim dalam membawa manusia pada negeri jiwa yang damai.

Pesona Sari Diri adalah akumulasi tempaan dari akhlak Irfani sebagai sebuah suluk diri menuju singgasana Ilahi. Pesona berarti di sana, di dalam diri ada penyingkapan kegelapan menuju keindahan cahaya. Ibarat Zulaiha yang terpana oleh pesona nabi Yusuf, Zulaiha mabuk oleh pesona Yusuf karena pada diri Yusuf bertabur cahaya keindahan.

Sementara sari diri adalah merupakan misteri bagi mata biasa, sari diri adalah wilayah batin yang tidak terjamah oleh kasat mata. Sari diri adalah sperma terakhir sebagai hasil seleksi dari pertarungan hidup yang akan kita serahterimakan di ujung kehidupan ini. Sari diri, adalah persembahan Habil pada Tuhannya. Sari diri adalah persembahan para syuhada kepada kekasih agung, di mana tetesan darah menjadi persembahan cinta.

The following two tabs change content below.

Tajuddin Noer

Penulis esai dan puisi. Menerbitkan buku Ziarah Cinta

Latest posts by Tajuddin Noer (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *