Pidato, Esai, dan Debat

 

Ada banyak cara mendekati kaum muda, khususnya  yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan yang sederajat. Lebih tepatnya, yang akan menunaikan haknya selaku pemilih pemula pada pesta demokrasi, Pilkada Serentak 2018. KPU Bantaeng menyapanya dengan tiga perjumpaan; lewat lomba pidato, lomba menulis esai, dan lomba debat. Sekotah lomba itu, dipersyaratkan pesertanya, hanya yang menjadi pemilih pemula pada Pilkada nantinya. Tema lomba pun diseseuaikan dengan dunia mereka, generasi millennial. Menyasar pandangan mereka sebagai pemilih pemula dan pemilu. Cakupan ruang lingkup inilah yang terpatri dalam tiga jenis lomba itu.

Saya tergolong insan yang beruntung. Apa pasal? Sebab, sebagai pegiat literasi, berkesempatan menjadi dewan juri pada perlagaan itu. Bahkan menjadi ketua dewan juri. Peruntungan saya, karena selama ini, saya banyak berinteraksi dengan kaum putih abu-abu itu, baik saat saya melaksanakan pelatihan literasi, maupun berkomunitas, tidak sedikit dari anak yang seusia mereka, menjadi lahan garapan saya dalam mendorong gerakan literasi.

Lomba Pidato yang selenggarakan pada tanggal 14 Maret 2018 dengan jumlah peserta lebih 30 orang, telah menghasilkan juara.  Demikian juga Lomba Menulis Esai yang digelar pada tanggal 23 April 2018, sudah memilih sepuluh esai terbaik, selanjutnya  dipaparkan oleh para peserta, lalu dilseleksi menjadi lima esai  terbaik, guna dijadikan bahan Lomba Debat pada tanggal 25 April 2018. Peserta terbaik dari lomba debat ini, akan mewakili Bantaeng dalam ajang Lomba Debat tingkat provinsi, yang dihelat oleh KPU Sulawesi Selatan di Makassar, nantinya.

Sarwa ajang kompetisi  sudah usai gelarannya. Namun, bagi saya ini baru separuh jalan.  Apa perkaranya? Sebab  berpidato, menulis esai, dan berdebat, amat dekat dengan kemampuan literasi seseorang, termasuk sekaum peserta lomba itu.  Kapasitas literasi yang saya maksudkan cukup standar, manakala pahaman yang saya ajukan adalah literasi terkait dengan baca-tulis. Kemampuan membaca dan menulis. Bukankah seorang yang akan berpidato harus punya wawasan yang memadai? Begitu juga menulis esai, dibutuhkan bahan bacaan yang tidak sedikit untuk menulis satu esai. Apatah lagi berdebat, sangat membutuhkan kapasitas yang mumpuni.

Berlapikkan pada pandangan itulah, saya kemudian berpikir untuk mengajukan satu item kegiatan, buat mereka yang ikut lomba itu. Hitung-hitung bonus dari salah seorang jurinya, sebab bonus lainnya, sudah cukup memadai diberikan oleh KPU Bantaeng, selaku penyelenggara. Lalu apa bonus yang saya tawarkan itu? Tiada lain adalah pelatihan literasi, sebagaimana yang sering saya lakukan pada anak-anak muda.  Gagasan ini muncul seketika setelah lomba itu terlaksana. Saya menganggap, anak-anak yang jago berpidato itu, belum tentu juga bisa menulis. Pun yang sudah menulis esai, menurut saya masih perlu ditingkatkan bobot kepenulisan esainya.

Bertolak dari alas pikir inilah, saya ajukan penawaran kepada komisioner KPU Bantaeng, agar memfasilitasi pelatihan literasi ini. Bak saya melempar umpan, langsung disambar oleh segenap komisioner, dengan persetujuan yang bakal digelar beberapa waktu ke depan. Bila tidak ada aral melintang, akan dilakasanakan pada pecan pertama bulan Ramadan. Sekaligus acara buka puasa bersama. Pikiran saya mekar, hati saya pun berbunga-bunga dengan sambutan itu.

Ibarat gelindingan bola salju, makin membesar keinginan dari pantikan awal pelatihan literasi ini. Saya ajukan lagi ide, bahwa sekaum putih abu-abu yang berjumlah sekitar 50-an orang, yang ikut tiga even lomba ini, akan diberi tugas setelah pelatihan, agar menulis esai tentang pemilu, dalam hubungannya dengan pemilih pemula, dengan sudut pandang generasi millennial. Saya lalu menegaskan lebih dalam, jika kita mendapatkan 50 esai dari mereka, maka peluang kita untuk membukukannya akan menyata. Sehingga, dari perhelatan yang digawangi oleh KPU Bantaeng ini, akan menghasilkan satu buku tentang pilkada dan pemilu  serentak, yang ditulis oleh generasi millennial.

Kalau saja asa ini terwujud, tentulah kita akan mendapatkan begitu banyak keuntungan. KPU Bantaeng akan dicatat sebagai institusi yang ikut mendorong tumbuhnya gerakan literasi di kalangan anak muda. Buku ini akan menjadi penanda, buat menandai satu tahapan perkembangan gerakan literasi, khususnya di Bantaeng, yang memang belakangan ini, gerakan literasinya lagi moncer, dengan tumbuhnya puluhan komunitas literasi. Secara tidak langsung, KPU Bantaeng telah berkontribusi positif, menjadi salah satu katalisator gerakan literasi. Inilah namanya sinergi, pun boleh juga disebut sebentuk kolaborasi.

Mengapa sinergi dan kolaborasi ini mungkin terjadi? Waima gelaran lomba pidato, lomba menulis esai, dan lomba debat merupakan program menyeluruh  bagi  KPU seluruh Indonesia, yang artinya ada tuntutan formal yang mendorongnya.  Tentulah nasibnya program ini akan berbeda, bila sekadar mewujudkan perintah formal dari program KPU.  Dan, KPU Bantaeng tidak sekadar menjalankan program lomba. Ada capaian lain yang ingin dinyatakan.  Hal ini bisa terjadi, karena para komisioner KPU Bantaeng, telah menganggap pula gerakan literasi sebagai agenda penting bagi bangsa ini.

Akhirnya, berpidato tapi tidak punya kapasitas literasi yang memdai, hanya akan melahirkan orator yang senada dengan tong kosong yang nyaring bunyinya. Menulis esai, tanpa basis literasi yang mumpuni, bakal menelurkan penulis esai, besar kemungkinannya terjebak dalam terungku copy paste. Terlebih lagi, para pendebat yang abai pada kemampuan literasi, pasti akan masuk dalam lingkaran perdebatan yang tak berujung pangkal. Di era kiwari ini, cukup banyak orang  berpidato minim isi. Menulis esai tanpa kejujuran. Berdebat kusir tiada lelah. Karenanya, dengan sapaan yang sedini mungkin pada sekaum putih abu-abu yang berlomba itu, setidaknya , jangan mendaur ulang para pendahulunya. Dan, salah satu terapinya, menyuntikkan tradisi literasi secepat  pengembaraan mereka dijagat millennial.

 

Ilustrasi: Nabila Azzahra

The following two tabs change content below.

Sulhan Yusuf

Pegiat Literasi dan Owner Paradigma Group. Mengarang buku Sehimpunan Puisi AirMataDarah (2015), Tutur Jiwa (2017). Dan, kini selaku Pemimpin Redaksi Kalaliterasi.com.

Latest posts by Sulhan Yusuf (see all)

One thought on “Pidato, Esai, dan Debat”

  1. Amat bahagia kita mengapresiasi sambutan Komisioner KPU Bantaeng untuk menyelenggarakan Pelatihan Literasi bagi para pemilih pemula. Semoga dapat dimasukkan materi riset sederhana sebagai bagian dari keterampilan memperoleh data untuk bahan penulisan bagi mereka.
    Kurrusumanga’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *