Pohon Waru, Janji dan Cerita Lainnya

Boleh jadi nanti aku akan bertemu, dulu masih kuingat saat kami saling memagut mesra dan berucap janji di malam yang hangat itu.

Ia kunamai Maya. Elok, bukan hanya karena tampang, tutur kata dan rambut panjangnya, tetapi ia juga indah karena bulatan-bulatan kecil yang menempel manis pada lekuk wajahnya. Meski tak pandai menaksir, tetapi kuduga, begitulah aku mengenalnya 15 tahun silam.

Kalau saja bukan karena peristiwa itu, barangkali sudah segubuk dengannya, membangun batih dan punya keturunan. Tetapi semenjak hari kepergian, aku sudah tidak mendapati kabarnya, terakhir kali melihat Maya saat ia mendekapku erat lalu pergi. Di sana awal semuanya dimulai, tatkala aku mengerti arti damba yang sebenarnya, di saat aku harus membenci waktu, perempuan dan suratan.

Lalu? Lima belas tahun usai berlalu. Menurutku, itu adalah waktu yang amat lama untuk mengingat, menyatukan kepingan-kepingan kisah dan menceritakannya secara utuh. Tetapi baiklah akan kucoba.

***

Barang delapan meter dari arah pantai, tumbuhlah pohon waru laut. Pohon dengan sejuta babad, umurnya telah berpuluh-puluh tahun, bahkan sebelum mendiang ayahku dilahirkan, konon sudah sebesar itu, nyaris tidak satupun berubah, kecuali satu, kini kerut-kerut kecil mulai tampak dirupaku. Pokok kayu itu selalu berjaya membawaku pada masa-masa budak, saat aku dan kawan-kawan saling beradu, memetik daun waru, menjepit rambut, lalu melepasnya dan tertawa berdengkang-dengkang.

Petang yang panjang, bongkahan awan samar menggantung di atas jagat, sebentar lagi gulita. Laut malam itu seperti memaksaku untuk kerasan berlama-lama di bibir pantai, menikmati riuh suara alun, mengelih para penjala yang baru saja datang mengeluhkan hasil tangkapan. Mereka mengutuki para pemburu ikan yang lalah, mereka menghancurkan karang seenak jidatnya. Serakah! nelayan-nelayan kecil juga butuh makan. Aku menggerutu dalam batin.

Di bawah pohon itu. Di bale bale milik Pak Syarif. Kuraba gelap, kelam semakin pekat. Yang begitu jelas hanya dua, riuh kecipak ombak menghempas permukaan pantai dan kedip-kedip cahaya di tengah hamparan laut.

Mataku melekat tepat pada sorot silau kerlap-kerlip itu. Menyala, padam, menyala, padam kemudian menyala lagi, semakin jelaslah saat teriakan itu mendengung samar berkali-kali, seperti memanggil-manggil.

“Tarik jangkarnya,” perintah Pak Syarif cekatan, agak-agak ia mengerti isyarat itu. Kami menuju lampu-lampu.

Perahu itu semakin tampak berbentuk, saat kami perlahan-lahan melekati lampu-lampu, aku sedikit-sedikit mahfum dengan percakapan orang-orang ini.

“Mereka dari pulau seberang,” tukas Pak Syarif menyakinkan.

Maya. Di sini pertama kali aku melihatnya, perempuan yang kelak menjadi benalu dalam hidupku, perempuan teguh, aneh dan penuh teka-teki. Kubawa langkahku dan meraih tangannya, membantunya beralih ke perahu milik pak Pak Syarif. Matanya menggeriap, bibirnya pucat, hawa angin malam makbul menyetubuhi perempuan asing itu.

Sepekan hari sudah perahu orang seberang ini terdampar, aku tak mengerti ini benar-benar nyata atau justru hanya mimpi, bahwa sejak malam kencan yang hangat itu, aku merasa Maya adalah milikku, kami saling menyukai, selama keberadaannya kami habiskan untuk membangun renjana.
.
”Kata mamak, pagi besok kami harus berangkat. Mesin perahunya sudah pulih,” tuturnya. Aku seakan patuh dengan pilihan itu meski sukar menerima.

Pagi temaram. Daun-daun pohon waru seperti jatuh satu persatu. Pagi ini Maya harus beranjak. Penumpang siap bertolak setelah dipastikan tidak ada satupun barang ditinggalkan kecuali satu, aroma tubuh Maya yang masih bergala di sehelai pakaianku.

“Jangan pernah menemuiku sampai waktunya tiba,” sekelip kalimat itu membuatku buncah betanya-tanya.

“Mengapa? kau tak ingin? atau aku berbuat salah?”

“Tidak, ini demi kebaikan kita, berjanjilah kelak saat aku mengabarimu, kau akan menandangiku,” cakapnya memotong kemudian berlalu tanpa menoleh. Perahu itu terus bergerak sampai sekecil titik lalu menghilang lebur bersama biru gelombang.

Kapan lagi aku akan menjumpainya. Hari demi hari adalah kekosongan, sunyi, sepi dan hitam. Setiap saban adalah musim yang begitu panjang. Sampai tiba waktu aku harus meninggalkan pulau ini.

Setelah kupikir matang-matang kuputuskan untuk menyusul para sahibku. Aku pernah bermimpi untuk menjadi seorang guru bahasa seperti Pak Dadang, pengajar kesukaanku di waktu SMA dulu. Tiga tahun menganggur membantu ibu berladang, barulah kali ini aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan sekolah, dan di kota besar adalah satu-satunya jalan dengan melanjutkan pendidikan.

“Jaga dirimu, ingat tanah ini adalah tempatmu kembali,” kata ibuku saat merogoh saku baju dan memberiku azimat yang terbungkus dari kain hitam, “Ini milik ayahmu, simpanlah dan jaga baik-baik.” Kutatap wajahnya merah berkaca-kaca, lalu sekelip air mata itu tumpah mengguyur pipi.

***

Bibirku kering, terik seperti membakar seluruh isi bumi. Berat sekali meninggalkan ibu. Selama kurang lebih 24 jam aku di atas perahu, lalu tiba malam di pelabuhan kota. Pertama kali aku melihat lampu-lampu benderang sepanjang jalan, kiri kanan kendaraan lalu lalang.

Aku berharap di kota ini semua ingatan tentang Maya bisa kulengahkan, namun semakin aku berusaha semakin kurasa tak kuasa.

Selama lima tahun kuhabiskan waktuku dengan buku dan tugas-tugas, alhasil aku dapat meraih gelar sarjana pendidik lalu diterima mengajar sebagai guru honorer di sekolah tempatku magang pertama kali. Menjadi tenaga pengajar setiap hari membuatku tumbuh dewasa, setiap bulan kukirimkan ibuku surat-surat menanyakan kabarnya.

Lalu bagaimana dengan Maya? Ia masih seperti dulu, hangat dalam ingatan dan mimpi-mimpi. Namun, setiap terang setiap petang bagiku adalah penantian. Menunggu kabar darinya membuatku patah, kuputuskan untuk mencari dan tidak menaui hasil, orang-orang tak satupun mengenalinya.

***

Pagi hitam, bunyi alarm membuatku terbangun. Sebilang hari aku harus bergegas melanjutkan pekerjaanku sebagai seorang guru. Setelah sarapan kemudian berlepas ke sekolah.

Kulihat para murid lintang pukang menuju kelas masing-masing, saat bel sekolah bunyi berkali-kali, waktu istrirahat berakhir dan pelajaran segera dimulai. Hari ini adalah waktunya untuk membaca cerita pendek masing-masing murid, setelah anak didik kuberi tugas pekerjaan rumah tiga hari yang lalu.

Riuh suara tepuk tangan itu memenuhi ruang kelas, saat Karno membacakan sebuah cerita tentang perjuangan seekor Kijang, berlarian tunggang langgang, sampai berhasil menyelamatkan diri dari terkaman raja hutan.
Selanjutnya Inaya, perempuan kecil itu membawa langkahnya dengan pelan.

“Inaya?” Suasana kelas mendadak senyap. Semua mata tertuju padanya, Ia belum lagi memulai.

“Inaya, kenapa?” Dengan rasa penasaran aku mendekati.

Kepala gadis itu tertunduk. Tubuhnya mematung. “Ayo bacakan,” aku mengulangi, ia seperti menahan kantung mata agar tidak jebol. Sia-sia, air mata itu meleleh pecah, tumpah ruah menyimbahi lantai. Aku meraihnya dengan rasa iba. Kuraih secarik kertas yang dipegangnya.

”Surat Kecil Untuk Ayah.” Jantungku terpengarah saat membaca judul kisahnya. Cerita itu mengalir lara. Dalam cerita, Inaya berkisah lahir dari perut seorang perempuan bernama Maya.

Perempuan yang limabelas tahun silam itu melarikan diri setelah didapati dirinya sadar tengah berbadan dua, melahirkan di tanah rantau dan membesarkan anaknya tanpa seorang ayah. Ya. Perempuan hebat itu adalah Maya kekasihku. Perempuan yang kini tengah tertidur lelap disebelahku, bersama putriku. Inaya. []

The following two tabs change content below.

Wawan Saa

Wawan saa alias Sulpandi Adriawan. Lahir di Ballabulo, 28 Oktober 1995, Kabupaten Kepulaun Selayar Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Pegiat di komunitas literasi Rumah Belajar Paradox (RBP).

Latest posts by Wawan Saa (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *