Potret Ayah

 

Ayah menyambangiku di sebuah malam sepi senyap. Ia datang dengan wajah ringis selimuti rupanya yang rupawan hingga tampak kusut. Tak seperti biasanya, ayahku selalu datang menyambangiku dengan tersenyum tanpa kata hanya rona wajah dan gesture tubuhnya yang ceria dan senang.

Aku masih tercenung di beranda rumah panggung adikku di kampung moyangku jauh dari hiruk pikuk kota. Kehadiran ayah menyambangiku dengan wajah dan gesture tubuh yang kurang menyenangkan membuatku galau terbagun tengah malam dan tak bisa lelap lagi.

Rokok sudah berbatang-batang kuisap dan kopi tubruk yang disajikan adik iparku sudah gelas ke dua tandas. Pisang goreng telah lumat sepiring sebagai pengantar ngopi pagiku. Tapi wajah ayah yang cemberut seolah mengejekku tak hendak hengkang menjauh, sangat menggangguku.

Jelang siang, aku belum beranjak dari beranda rumah panggung adikku, entah batang rokok keberapa telah kuhabiskan, setelah adikku kembali dari sawah dan ladangnya dengan sisa-sisa peluh yang masih meronai wajah dan tubuhnya yang tak mengenakan secarik kain pun kecuali celana pendek hingga selutut.

“Daeng, ada masalah kah di kota?” tanya adikku singkat.

“Tapi tidak berat, biasa saja,” jawabku pun singkat.

Seperti biasa, adik bungsuku yang penyabar ini tahu bila aku menghadapi masalah di manapun termasuk di kota tempat domisiliku selama ini, pasti aku bertanggung jawab sendiri tanpa melibatkan siapapun termasuk adikku. Adik bungsuku sepertinya sudah mafhum. Dia juga senang sebab bila aku menghadapi masalah yang cukup berat pasti rumahnyalah yang di pelosok kampung ini sebagai tempat pelarianku menenangkan diri sembari berpikir mencari jalan keluar untuk mengambil keputusan yang tepat untuk semuanya.

Setelah menunai salat zuhur, adikku mengajakku santap siang bersama. Kami melantai di atas tikar daun pandan santap bersama, tentu kami riang dan gembira, sebab momen seperti ini jarang sekali kami temukan lagi setelah kami sama-sama dewasa dan menjalani hidup masing-masing.

“Boleh kah aku bantu menyelesaikan masalah yang menimpa, Daeng?” tanya adikku sembari menikmati santap siang yang lezat hasil racikan istrinya.

Aku hanya melenguh sembari menggelengkan kepala, seperti biasa bila aku ada masalah dan berhari-hari istirahat di rumahnya, dan adikku pun tahu jawaban saya. Pertanyaannya itu hanya ingin menunjukkan rasa empatinya kepada kakak yang ia sayangi dan kasihi, walau sesungguhnya jawabannya telah ia tahu terlebih dulu.

Istrinya pun hanya tersenyum mendengar dan menyaksi percakapan kami yang terputus-putus tak lancar.

“Mungkin besok aku kembali ke Makassar menyelesaikan masalah yang telah menimpaku dan menjalani hidup kembali seperti biasa,” ujarku, sembari kubagi senyumku pada adik bungsuku dan istrinya yang baik hati.

Walau pun adik bungsuku dan istrinya ini hanya hidup berdua karena anak semata wayangnya telah berlayar ke berbagai negara setelah menamatkan sekolah pelayarannya di Makassar, mereka nampak sangat bahagia, yang kerap membuatku kagum pada ke duanya.

Aku membatin, sebelum aku menyelesaikan masalah yang kuhadapi dengan baik dan gentlemen, pasti ayahku akan datang lagi sebentar malam dengan wajah dan gesture tubuh yang kurang menggembirakan.

***

Di kantor polisi, aku diinterogasi selama tiga jam lamanya. Aku menjelaskan bahwa tetanggaku itu memukul anak tetanggaku yang berkelahi dengan anaknya, pas aku lewat dan melerainya. Karena tidak puas memukul anak tetanggaku aku pun dipukulnya karena jengkel padaku telah melerai pemukulan yang dia lakukan, dan kala itu aku melawan membela diri, memukulnya hingga pingsan. Mestinya, tetanggaku itu yang ditahan dan diterungku sebab melakukan kekerasan pada anak, jelasku panjang lebar di hadapan penyidik polisi.

Demikian itu sepotong kisah dari masalah yang kuhadapi kali ini sehingga membuatku harus mengurung diri sejenak beberapa hari di kampung moyangku jauh nun di keriuhan kota Makassar.

Membuat adik bungsuku dan istrinya sedikit cemas walau pun mereka berdua tahu bila aku bisa menyelasaikan masalahku tersebut dengan baik setelah mukim di rumahnya beberapa hari. Sebab, ini bukan pertama kali terjadi dan menjadikan kampung kami ini sebagai tempat semedi dan kontemplasi untuk mencari dan mencairkan jalan buntu yang merentang di hadapanku. Sudah kerap kali dan jalan lapang terbentang terinspirasi setelahnya. Mungkin banyak dipengaruhi oleh faktor alam sekitar dan kedekatan secara emosional dengan keluarga besarku dan khususnya kedekatan dengan ayahku secara psikologis.

Keramahan dan kebaikan adik bungsu serta istrinya. Suasana alam sekitar pun punya andil yang mebuatku tenang di rumah panggung adik bungsuku itu. Di belakang rumahnya terdapat sungai besar dengan suara ritmik air mengalir bak suara padu padan orkestra yang mengasyikkan. Di depan rumahnya melintang jalan desa yang sunyi dan hamparan sawah sejauh mata memandang, sedang di ujung jauh di sana nampak jejeran bukit-bukit karst yang memesona. Aku membayangkan bila seorang penyair domisili di sini maka aku yakin akan melahirkan karya-karya syair yang indah.

***

Seorang intel yang cukup karib denganku bertandang ke rumahku dan menawarkan perdamaian tanpa syarat.
“Kalau denganku, tidak masalah, pak Arif,” jawabku, setelah intel itu menjelaskan maksud keinginan berdamai tetanggaku itu. Tapi, bagaimana keluarga anak tetanggaku yang dipukulnya.

“Itu urusan aku,” katanya singkat.

Rupanya, pak Arif, intel senior berpangkat kompol itu didaulat sebagai juru damai entah oleh siapa, apakah keluarga, Daeng Gassing tetanggaku si pemukul anak kecil yang berkelahi dengan anaknya dan berkelahi pula denganku karena tak ingin aku melerainya kala ia memukul anak tetanggaku itu, ataukah, pak Arif ditugaskan khusus oleh komandannya setelah mempelajari kasus ini secara seksama atau pun ada permintaan khusus dari keluarga besar, Daeng Gassing untuk berdamai, sebab kami dari tiga rumpun keluarga yang telah lama bertetangga tak mungkin dalam sengketa berlama-lama. Sebab, selama ini kami semua di kampung ini sangat rukun dan damai. Entah, setan apa yang merasuki, Daeng Gassing sampai ia membela anaknya mati-matian sehingga mata hatinya tertutupi ego dan emosi yang cukup akut.

***

Dinihari jelang subuh, ayahku datang lagi menyambangiku, tapi, kali ini ia tak lagi bermuka masam dan tampak sedih. Tapi, melempariku senyum walau hanya senyum tipis dan sedikit ekspresi senang tanpa kata kecuali gerak gesture tubuhnya. Mungkin karena masalahku dengan, Daeng Gassing tetanggaku dan anak tetanggaku yang dipukulnya dan kupukulnya pula hingga pingsan telah selesai dan hubungan kami cair seperti sediakala sebagai tetangga.

“Bagaimana masalahnya dengan, Daeng Gassing, Daeng?”

Adik bungsuku menanyaiku, kala menyambangiku bersama istrinya setelah sekian pekan tak mendengar kabarku, sejak aku meninggalkan rumahnya untuk semedi dan berinstrospeksi serta mencari inspirasi jalan keluar dari masalah yang kuhadapi.

“Alhamdulillah sudah kelar, dik.”

“Pak Arif, intel senior di Polres telah menfasilitasi perdamaian tiga keluarga bertetangga yang bersengketa. Kami menandatangani surat damai di atas kertas bermaterai yang di saksikan langsung kapolsek dan Wakapolres,” jelasku panjang lebar.

“Alhamdulillah,” seru adik bungsuku hampir bersamaan dengan istrinya. Wajah cemas tadi spontan berubah berseri setelah mendengar penjelasanku.

“Eh..ngomong-ngomong, adik menyimpan foto ayah?”

“Kayaknya tidak ada, Daeng.”

“Nanti saya cari dulu di almari, Daeng,” timpal Aminah, adik iparku yang baik hati yang karib kusapa Mina.

“Iya, tolong cari ya, karena aku telah mencarinya juga dan belum kutemukan, sejak rumah Ibu kebakaran beberapa tahun silam itu.”

Setelah santap siang bersama, jelang sore adik bungsuku dan istrinya berpamitan. Mereka berdua memang bila menyambangiku tak pernah bermalam semalam pun. Mungkin karena ternak dan ladangnya tak ada yang jaga dan dia tidak mau mempercayakan pada tetangga dan keluarga lainnya. Kecuali ada hajatan penting keluarga di kota, itu pun paling banter yang bermalam hanya istrinya.

Ayahku, sosok yang sangat baik dan bijak. Bukan hanya di keluarga kami, pun oleh tetangga dan masyarakat sekampung sangat menghormatinya. Beliau sangat peduli dan memiliki rasa empati yang tinggi pada sesama, walau tak memiliki harta melimpah. Bila ada yang butuh pertolongannya, tak menunggu komentar ba bi bu, ia langsung mengulurkan tangan dan dirinya langsung membantu. Salah satu kebiasaannya yang sulit dilupakan para tetangga adalah, setelah menunai salat subuh di masjid kampung dekat rumah, ayahku berkeliling kampung menyapa setiap orang yang ditemuinya, menurutnya, itulah jalan silaturrahim yang paling enteng dan murah. Sehingga, beliau digelar walikota oleh orang-orang sekampung, mungkin karena gandrungnya bersilaturrahim dan sukanya menolong orang yang butuh pertolongannya.

***

Sudah seminggu ini, aku mengunjungi beberapa rumah keluarga dekat tapi tak satu pun yang menyimpan potret ayah. Walau rupanya tak pernah lekang dari ingatanku hingga garis dan gurat-gurat wajahnya. Hampir semua keluargaku mengatakan diantara kami bersaudara sekandung yang terdiri dari tujuh orang, akulah yang paling mirip dengan ayah termasuk wajahnya. Entah kenapa, beberapa minggu belakangan ini aku sangat merindukangannya, sangat ingin memandangi potretnya, tapi setelah kucari ke beberapa tempat di rumah-rumah keluarga, tak satu pun yang menyimpannya termasuk di rumah kakak dan adikku.

Hingga suatu pagi aku mengunjungi seorang kawan pelukis, dan membawakan potretku padanya, tapi yang kusuruh lukis adalah wajah ayahku. Temanku itu sedikit agak bingung. Tapi setelah kujelaskan untuk melukisnya dalam usia tujuh puluh tahun tapi dengan dasar potretku yang masih berusia awal empat puluhan tahun. Temanku Sang pelukis itu akhirnya bersedia juga.

Lebih dari sebulan lamanya, setelah berkali-kali memperlihatkan lukisan itu pada kerabat dekatku untuk mecocokkan gurat wajah ayahku dalam lukisan itu, barulah rampung. Bolak balik dari kerabat satu ke yang lainnya. Perubahan dan goresan kecil sesuai saran dan masukan dari keluarga.

Aku menyampir lukisan potret ayahku di ruang tengah agar aku dapat memandangnya lebih mudah dan leluasa. Sebab, ruang tengah di rumahku ini selain tempat ngasoh bila suntuk dan lelah dalam bekerja, juga di salahsatu pojoknya adalah ruang tempatku bekerja dan memungut serta menenun inspirasi.

Di suatu malam, setelah suntuk dan lelah seharian mengurus pernikahanku yang kedua, setelah aku ditinggal mati istriku beberapa tahun silam. Aku tertidur lelap di sofa ruang tengah pas di atas potret lukisan ayah tersampir. Lagi-lagi ayah datang menyambangiku. Kali ini ia datang tidak sendiri, tapi menggandeng almarhum istriku dengan senyum semringah dan keduanya mengangkat jempolnya.

Tidurku bahagia, tidurku riang, keduanya kupeluk erat dengan rindu yang buncah.

Itulah ayah, sejak mangkat lebih dari sepuluh tahun silam tetap selalu datang menyambangiku dalam beragam rupa dan ekspresi. Bila aku bermasalah dan berlaku buruk, maka ayahku datang dengan rupa dan wajah ringis dan sedih. Bila aku secara intens melakukan kebajikan membahagiakan orang-orang di sekitarku maka ayahku akan datang dengan wajah berseri dan berbagi senyum semringah dalam waktu panjang.

Pernah suatu malam jelang subuh, ayahku datang menyambangiku, dengan telanjang dada tak mengenakan baju dengan ekspresi gigil kedinginan dan sepertinya ia meminta tolong padaku untuk mengenakan bajunya atawa pakaian karena kedinginan. Aku terbangun kaget dan berpikir cepat dan jauh. Apa gerangan yang telah kulakukan atau kulalai melakunya sehingga ayahku datang dengan rupa dan eskpresi seperti itu. Setelah sejenak berpikir dan berwudu. Barulah kusadari, bila hampir sebulan ini karena sangat sibuk aku selalu lalai mengirimkannya shalawat dan al fatihah untuk setiap kali usai menunai salat lima waktu.

Makassar, September 2017.

Daeng : panggilan untuk orang yang dituakan pada suku Bugis dan Makassar.

 

Sumber gambar: http://paharulgol.com/deviantart-abstract-art/deviantart-abstract-art-non-parlarne-mai-agnes-cecile-on-deviantart/

 

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), Dari Langit dan Bumi (2017). Celoteh Pagi (2018), Di Pojok Sebuah Kelenteng (2018), dan Perjalanan Cinta (2019).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *