Rene Descartes

Suatu ketika, Rene Descartes mengunjungi sahabatnya, orang Inggris, dan diajak makan malam bersama. Sahabatnya bertanya apakah sebelum makan malam dia mau mencicipi hidangan pembuka terlebih dahulu? “No, thank you”, ujar Descartes, “Aku lebih suka kita langsung makan malam saja.” Lalu sahabatnya kembali bertanya, “Apakah Anda mau minum dulu sebelum kita mulai makan malam?” Karena Descartes adalah seorang Katolik saleh yang tidak suka minuman beralkohol, dengan tegas dia berkata “I think not!”, dan WUSSSS! Descartes pun menghilang.

Lelucon di atas memang memparodikan adagium Descartes “cogito ergo sum”. Adagium itu bisa dikatakan menyalakan api pencerahan ke segenap Eropa yang nantinya mengkristal menjadi Renaissance (artinya adalah “kelahiran kembali”). Sebelumnya, filsafat tengah tertidur pulas, dan kedatangan Descartes telah memungkinkan “kelahiran kembali” khazanah pemikiran Yunani. F. Budi Hardiman menyatakan bahwa semenjak Descartes, bisa dikatakan bahwa filsafat Barat seakan menyibukkan diri dengan tema ‘kesadaran’ (sebelum nantinya akan dijungkirbalikkan oleh Sigmund Freud yang ‘menemukan’ terra incognita bernama ketaksadaran). Namun, menariknya, inspirasi pemikiran Descartes, sang rasionalis besar itu, justru lahir dari ketaksadaran, yaitu tiga mimpi beruntun yang dialaminya pada 11 November 1619, saat dia menjadi tentara Bavaria dan sedang berkemah di tengah badai salju.

Mimpi pertamanya memperlihatkan bagaimana Descartes berjuang melawan angin yang sangat kencang ketika hendak menuju gereja yang terdapat di kolesenya di la Flèche, lalu dia berbalik untuk menyapa seseorang, dan dia pun terlempar menjauh dari gereja tersebut dan terjatuh persis di tengah-tengah sekumpulan orang yang sama sekali tak tergerak oleh angin kencang tersebut. Mimpi yang sepertinya mengisyaratkan bagaimana Descartes ‘dicerabut’ dari segenap doktrin gereja Abad Kegelapan agar bisa meragukan segala hal lalu merumuskan pemikirannya. Kemudian mimpi keduanya memperlihatkan bagaimana Descartes tengah mengalami ketakutan, lalu tiba-tiba dia mendengar ‘sebuah suara yang kedengarannya seperti guntur’ dan kamarnya yang gelap pun dipenuhi dengan cahaya yang terang benderang. Suatu mimpi yang mengingatkan pada gambaran tentang orang yang tengah berada dalam gelap gulita, dan tak bisa melihat jalan di depannya, lalu muncul kilat dan guruh yang sesaat menerangi jalan di hadapannya, namun tak jarang itu membuat manusia menutup telinga dengan kedua jarinya serta dilingkupi perasaan takut mati. Kemudian mimpi ketiganya menggambarkan bagaimana Descartes tengah memegang kamus yang masih harus dia lengkapi, lalu dia mendengar kata-kata “Quod vitae sectabor iter?” (Jalan hidup manakah yang seharusnya aku tempuh?). Descartes percaya bahwa melalui berbagai visi dan mimpi yang didapatkannya Tuhan telah mengungkapkan tugas yang diberikan kepadanya sehingga memberinya kepercayaan untuk memenuhi panggilan hidup tersebut, sekaligus kepercayaan terhadap kebenaran penemuan-penemuannya.

Kemudian, inspirasi lainnya Descartes temukan dari Imam Al-Ghazali, sang Hujattul Islam. Pada masa itu, karya-karya Al-Ghazali telah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Dominicus Gundisalvus, dan salah satunya adalah Al-Munqidz min al-Dhalal (Penyelamat dari Kesesatan) yang merupakan buku autobiografi sang Imam. Descartes memiliki terjemahan bahasa Latin buku tersebut, dan mendapati ungkapan “Keraguan adalah peringkat pertama keyakinan” yang kemudian diberi garis merah dan dilengkapi tulisan tangan dari Descartes di sampingnya “Pindahkan ini ke dalam metode kita.” Kata-kata lainnya yang lebih lengkap dari dalam buku itu adalah “Keraguanlah yang mengantarkan pada kebenaran. Barang siapa yang tidak merasa ragu, maka ia tidak memandang. Barang siapa yang tidak pernah memandang, maka ia tidak pernah melihat. Dan barang siapa yang tidak pernah melihat, maka ia akan tetap dalam kebutaan dan kesesatan.” Lalu, Descartes pun membuat parafrase dari ungkapan Al-Ghazali tersebut menjadi “Keraguan adalah jalan pertama menjadi keyakinan” (La doute est le premier pas vers la certitude).

Dari mimpi dan inspirasi Al-Ghazali tersebut, maka Descartes pun merumuskan metodenya yang dikenal sebagai “Dubium Methodicum” (Metode Keraguan). Dalam baris pembuka buku Meditations I, Descartes menuliskan: “Hal itu dimulai ketika aku pertama kalinya menyadari betapa banyaknya opini keliru yang aku terima sebagai kebenaran dari masa kecilku, dan betapa meragukannya keseluruhan struktur pemikiran yang aku bangun di atas landasan yang salah itu. Karena itu, aku mengerti bahwa aku harus—kalau aku berkeinginan untuk berbuat sesuatu di dalam ilmu pengetahuan yang kokoh dan bisa diandalkan hingga detik terakhir—memperketat diriku sendiri dalam memperlakukan semua opini yang aku terapkan, serta memulainya dari landasan yang baru.”

Sebenarnya, karya awal yang dituliskan oleh Descartes adalah Traité du Monde (Makalah tentang Dunia), namun, karena pada tahun 1633 Gereja telah menghukum dan memaksa Galileo untuk meralat teori heliosentris, sementara makalah yang ditulis oleh Descartes itu justru malah mendukung pemikiran Galileo, maka dia pun memilih tidak jadi menerbitkan makalah tersebut. Lalu dia pun memilih mengkaji dan memaparkan tentang metode, sebab itu lebih aman dan lebih abstrak, dengan menggunakan penalaran yang jelas dan cermat melalui pembuktian matematika. Selain sebagai filsuf, Descartes juga seorang pakar matematika (dan menciptakan sistem koordinat Cartesian, yang kini dikenal sebagai geometri analitis) serta menerapkan ilmu itu pada filsafat. Bahwa pengetahuan yang baik adalah pengetahuan yang memiliki kepastian, namun untuk memperoleh kepastian maka kita harus meragukannya dulu. Jangan takut. Ragukan semuanya, hingga yang tersisa adalah sesuatu yang pasti, yaitu keraguan itu sendiri. Bahwasanya ada satu yang tak bisa diragukan, yaitu ‘aku yang meragukan semuanya’, karena untuk meragukan harus ada yang ‘berpikir’, dan untuk berpikir harus ada aku yang berpikir, sehingga dengan demikian, aku ada. Maka lahirlah adagium ‘cogito ergo sum’, ‘aku berpikir maka aku ada’. Dengan itu, maka Descartes menjadikan subjek yang berpikir (yang di kemudian hari nanti dikenal sebagai ‘subjek cogito’) sebagai pijakan atau titik tolak bagi filsafatnya. Hal ini mungkin tampak sederhana, namun justru filsafat yang menjadikan diri sendiri sebagai titik pangkal adalah sesuatu yang revolusioner pada masa tersebut. Sebelum kemunculan Descartes, kebenaran selalu berdasarkan pada kekuasaan yang justru berada di luar diri manusia, yaitu Gereja, Alkitab, tradisi atau negara. Lalu, oleh Descartes, pusat dunia di Abad kegelapan tersebut dia jungkir balikkan, dan menempatkan subjek cogito sebagai pusatnya, sehingga dengan demikian Descartes telah menyalakan api Pencerahan di Eropa.

Terkait adagium ‘cogito ergo sum’, dalam kata-katanya sendiri, Descartes menuliskan sebagai berikut: “Karena panca indera kadang menipu kita, aku mengandalkan bahwa tak ada hal yang menampakkan diri sebagaimana adanya, dan karena dalam pembuktian bahkan pernyataan-pernyataan geometri sederhana sekali pun sering terjadi kekeliruan dan kesimpulan salah,…aku menolak segala alasan. Akhirnya aku mengenali bahwa pikiran yang sama baik di saat berjaga mau pun dalam mimpi dapat muncul dalam diri kita tanpa memberi alasan kepada kita; karena itu aku sengaja membayangkan bahwa segala yang kutemui di dalam pikiranku tidak lebih benar daripada tipu muslihat mimpi-mimpi. Namun, di sini aku segera menyadari bahwa sementara aku mau menilai segalanya sebagai keliru, aku sendiri yang sedang memikirkan hal itu secara niscaya pasti ada, dan aku menemukan bahwa kebenaran ‘aku berpikir, maka aku ada’ sedemikian kokoh dan pasti, sehingga pandangan seorang skeptikus yang paling sengit tidak akan dapat menggoyahkan kebenaran tersebut. Demikianlah aku meyakini dapat mengambil tesis ini tanpa ragu untuk prinsip pertama filsafat yang kucari.”

Seperti halnya Platon yang meragukan kebenaran inderawi dalam mencari kebenaran dan menyodorkan alegori gua sebagai penggambarannya, dan terkait juga dengan metode keraguannya, maka Descartes mengajukan teka-teki tentang malignus genius (iblis yang sangat cerdik) yang telah menipunya dengan tipuan realitas. Descartes menjelaskannya sebagai berikut: “Oleh karena itu aku menganggap bahwa bukanlah Tuhan, yang Maha Pemurah dan sumber kebenaran, tetapi justru sejumlah setan jahat yang benar-benar kuat lagi licik telah memanfaatkan seluruh energinya untuk menipuku. Aku akan berpikir bahwasanya angkasa, udara, bumi, warna, bentuk, suara dan segala perkara eksternal semata hanyalah delusi mimpi, yang telah ia rancang untuk memerangkap penilaianku.” Untuk penggambaran visual yang canggih dari kisah malignus genius ini bisa kita nikmati dalam film box office garapan Wachowski Bersaudara, yaitu The Matrix, yang menceritakan tentang bagaimana sekian banyak manusia dimanfaatkan menjadi sumber energi bagi Artificial Intelligence sembari dicekoki mimpi kehidupan yang seolah tengah dijalani padahal hanya simulasi yang diciptakan oleh suatu sistem komputer yang sangat canggih.

Descartes juga meluncurkan pertanyaan tentang mimpi. Bagaimana kita yakin bahwa saat ini kita tidak sedang bermimpi, bahwa makalah ini, kertas yang sedang dipegang ini, bukanlah kejadian di dalam mimpi yang terasa sangat nyata dan koheren? Descartes mengemukakan argumen semacam itu untuk melemahkan keyakinan kita bahwa kita mengetahui sebanyak yang kita kira kita tahu, bahwa kita tahu banyak. Jika kita tidak bisa yakin bahwa kita sedang bermimpi sekarang ini, maka bagaimana dengan kejadian beberapa jam yang lalu? Beberapa hari yang lalu? Misalkanlah kita memang tengah bermimpi, lalu dari dalam mimpi itu, apakah ada cara untuk mengetahui atau memastikan bahwa kita tengah bermimpi? Di sini Descartes ingin menyatakan bahwa mungkin apa yang kita sebut sebagai sebagai realitas, sebagai dunia ini tidak benar-benar ada, bahwa semua ini hanyalah mimpi. Kita bisa saja percaya bahwa realitas dan dunia ini memang nyata dan ada, bahkan sangat mempercayainya, tetapi kita tidak dapat mengetahuinya.

Demikianlah, Descartes menjelaskan Dubium Methodicum melalui dua gambaran rekaan tentang malignus genius dan mimpi, bahwasanya segala yang nyata ini mungkin hanyalah mimpi, dan bahwasanya ada iblis yang sangat cerdas menipu pikiran kita dengan gambar-gambar palsu tentang realitas. Akibatnya, kita tidak bisa begitu saja berasumsi bahwa tubuh mau pun pengalaman kita itu ada dan bisa dipercaya sebagai realitas sebenarnya. Pada masanya, gambaran rekaan Descartes ini mengundang banyak tuduhan bid’ah, misalnya oleh Voetius, Jacques Triglandius, Jacobus Revius.

Dubium Methodicum dilandaskan pada dua pertanyaan fundamental, yaitu, pertama, apa yang benar-benar aku ketahui dengan jelas dan terang sehingga demikian mutlak kepastiannya dan berada di luar keraguan apa pun?; kedua, pengetahuan lanjutan manakah yang mungkin diturunkan dari kepastian ini? Dubium Methodicum dilakukan dengan cara meragukan segala sesuatu hingga sampailah pada sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi oleh wujud rasional mana pun; suatu gagasan yang pasti, tidak akan diragukan dan benar secara universal. Dari gagasan yang mutlak pasti dan benar ini, orang kemudian dapat menurunkan kepastian dan kebenaran lainnya secara logis. Sebuah sistem yang dibangun dengan cara seperti itu akan menjadi sekelompok gagasan teratur yang saling bebas, masing-masing konsisten dengan yang lainnya dan masing-masing mengimplikasikan yang lainnya, sehingga sistem tersebut akan menjadi komprehensif dan tanpa cacat.

Descartes tidak pernah ragu tentang adanya prosedur tertentu untuk mencapai pengetahuan deduktif lengkap berdasarkan kebenaran tak terbantah ini. Dia percaya akan kemungkinan untuk mengatasi keraguan atau sikap skeptis itu dan menemukan pengetahuan yang absolut, pasti, wajib, dan terbukti dengan sendirinya, pengetahuan yang menjadi dasar bagi seluruh pengetahuan lain dan bagi pengetahuan tentang seluruh realitas. Dan untuk itu, dia meragukan segala sesuatu, menyangkal eksistensi dunia eksternal, pikiran eksternal, dan lain sebagainya. Karena itulah dia menyatakan barangkali realitas yang kita jalani sekarang hanyalah mimpi, hanya sebentuk tipuan dari malignus genius. Namun, ada satu hal fundamental yang tidak dapat diragukan, yaitu, bahwa dia ada untuk diragukan, untuk di tipu, untuk bermimpi, bahwa dia ada untuk penyangkalan itu sendiri. Siapa pun tidak bisa meragukan bahwasanya dia sedang meragukan, karena dia harus eksis agar bisa meragukan. Dan, seperti sudah dikemukakan sebelumnya, itulah cogito ergo sum.

Descartes memberikan empat kaidah Dubium Methodicum yang bisa memberi kita pengetahuan serta merupakan dasar-dasar dari seluruh pencarian filosofis yang dikemukakannya sebagai berikut: “Berjubel-jubelnya hukum seringkali menghalangi keadilan, sehingga pemerintahan yang terbaik bagi suatu negara berjalan ketika di dalamnya terdapat sedikit hukum yang diselenggarakan dengan ketat; serupa dengan itu, bukan besarnya jumlah hukum yang membuat logika itu baik, dan aku mempunyai opini bahwa empat hukum sudah mencukupi untukku, kalau saja aku mempunyai resolusi yang kokoh dan tak tergoyahkan untuk melaksanakannya dengan jelas setiap saat. Yang pertama adalah sama sekali tidak menerima apa pun sebagai kebenaran kalau aku tidak jelas-jelas mengetahuinya sebagai kebenaran; yakni, dengan hati-hati menghindari pengambilan kesimpulan dan dugaan, lalu, dalam keputusannya tidak menyajikan lebih banyak dibandingkan dengan apa yang tersaji secara jelas dan nyata di pikiranku, sehingga tak ada alasan untuk meragukannya. Yang kedua, memilah-milah masing-masing kesukaran yang aku temui menjadi sebanyak mungkin bagian, karena mungkin diperlukan untuk suatu solusi yang setepat-tepatnya. Yang ketiga, membenahi pemikiranku secara teratur, dengan memulai dari objek yang paling sederhana dan paling mudah diketahui, sehingga aku bisa mendaki, sedikit demi sedikit, langkah demi langkah, untuk menuju ke pengetahuan yang lebih kompleks; dan dengan menyusun sejumlah penataan, termasuk pada objek-objek yang tampaknya tidak memiliki keteraturan. Dan akhirnya, yang keempat, selalu melakukan penghitungan yang selengkap-lengkapnya, serta melakukan peninjauan yang begitu komprehensif, sehingga aku bisa memastikan tak ada yang tertinggal.”

Jadi, melalui Dubium Methodicum, kita bisa dengan jelas dan tajam menangkap kebenaran yang tak terbantahkan. Bagi Descartes, pengetahuan itu harus pasti, harus nyata secara objektif, dan harus teguh lagi musthail untuk diragukan. Jika tidak demikian, maka akan muncul berbagai kontradiksi. Pengetahuan hanya dimungkinkan dengan syarat ada sesuatu atau beberapa hal yang kita tidak pernah salah mengenainya. Seluruh pengetahuan diturunkan oleh proses deduktif seperti proses dalam geometri aksiomatik. Karena itu, seluruh gagasan yang benar harus diketahui dengan cara yang jelas dan tajam, sehingga dengan demikian gagasan itu bisa diketahui dengan benar. Gagasan-gagasan tersebut antara lain: eksistensi suatu dunia eksternal dan pikiran-pikiran lainnya, eksistensi Tuhan dan karakteristik-Nya, bahwa Tuhan tidak pernah menipu (bisa dipersepsi dengan jelas dan tajam bahwa Tuhan tidak mungkin berbuat salah atau cacat karena jika Tuhan seperti itu, maka Tuhan tidak akan menjadi Tuhan, dan kecurangan pastilah bersumber dari kekurangan), bahwasanya Tuhan mendukung prinsip bahwa seluruh gagasan yang dipersepsi secara jelas dan tajam adalah benar (karena Tuhan itu Maha Penyayang dan Tuhan tidak akan membawa manusia pada kesalahan).

Lebih jauh, Descartes menjelaskan rumusan bahwa sebuah ide itu jelas jika ide tersebut dapat dipahami sebagai suatu keseluruhan dan konsisten, misalnya, konsepsi tentang sebuah lingkaran. Sebuah ide dikatakan tajam jika ide itu tidak pernah bercampur baur dengan ide lainya, misalnya, lingkaran tidak pernah dicampurbaurkan dengan persegi empat. Descartes percaya bahwa ide-ide itu memang harus demikian dan hanya ide yang seperti itulah yang dapat diterima sebagai ide yang benar. Selain itu, sebuah ide mungkin jelas tapi tidak tajam, tapi tidak mungkin bahwa ide itu tajam tapi tidak jelas. Menurut Descartes, ada tiga ide yang jelas dan tajam serta terbukti dengan sendirinya tentang realitas yang memberi dasar bagi filsafat yang dirumuskannya, yaitu, pertama, keluasan (materi menempati ruang); kedua, figur (bentuk, ukuran, dimensi spasial); ketiga, perpindahan (gerak).

Descartes pun kemudian menjabarkan tiga jenis ide, yaitu, pertama, ide-ide bawaan (innate ideas) yang muncul dari struktur, aktivitas, atau potensi pemikiran itu sendiri. Ada tiga ide bawaan utama, yaitu, ide tentang Tuhan, ide tentang jiwa (pikiran, ego, substansi pikiran), dan ide tentang materi (benda, objek-objek fisik eksternal, substansi material). Kedua, ide-ide buatan (factitious ideas), yang dibangun oleh pikiran untuk memahami seperti apakah sesuatu itu (seperti seorang ilmuwan fisika atau kimia memodelkan sebuah objek material). Ketiga, ide-ide yang tidak disengaja (adventitious ideas) yang datang sebagai rangsangan dari dunia eksternal seperti bunyi not musik, sinar rembulan, panasnya api. Ide-ide kebetulan tidak datang dari luar ke dalam pikiran seperti halnya berbagai kualitas atau entitas, tetapi dibentuk oleh pikiran dari gerak-gerak fisik yang mempengaruhi otak.

Sejalan dengan paparannya tentang ide bawaan, Descartes menjelaskan bahwasanya ada tiga substansi dalam sistem filsafatnya, yaitu Tuhan, jiwa yang pada hakikatnya adalah pemikiran (cogitatio) dan materi yang pada hakikatnya adalah keluasan (extensio). Namun, sebelum masuk pada penjelasan lebih jauh mengenai tiga substansi tersebut, ada beberapa asumsi yang harus dipahami terlebih dahulu terkait konsepsi Descartes mengenai substansi. Menurut Descartes, substansi adalah sesuatu yang dapat diketahui hanya oleh dirinya sendiri tanpa membutuhkan sesuatu yang lain dan tanpa ketergantungan pada sesuatu yang lain untuk eksistensinya (dan hanya ada satu eksistensi sejati yang memenuhi syarat ini, yaitu Tuhan). Mengenai substansi Tuhan, Descartes menjelaskan bahwa itu adalah sesuatu yang tak terhingga, wujud yang tak diciptakan, yang tidak tergantung pada apa pun selain Diri-Nya untuk eksis. Ini merupakan eksistensi wajib yang sempurna sepenuhnya, yang kepada-Nya segala sesuatu tergantung demi keterciptaannya dan keberlanjutan eksistensinya. Substansi ini bersifat abadi, spiritual, imaterial, tak berubah, tak bisa di bagi, tidak spasial, tidak temporal, selalu ada, serba bisa, Maha Pengasih, Pencipta alam semesta, Pencipta seluruh jenis substansi lainnya, dan eksistensinya kita ketahui secara bawaan.

Asumsi lainnya mengenai substansi selain Tuhan adalah setiap substansi memiliki esensi yang jelas dan tak pernah terlepas darinya. Jika substansi kehilangan esensi, maka esensi tersebut tidak lagi bisa eksis, tidak lagi berfungsi, serta tidak lagi diketahui atau dapat diketahui. Misalnya, esensi substansi spiritual adalah berpikir, dan esensi substansi material adalah keluasan. Sifat-sifat lain yang dimiliki oleh substansi disebut sebagai mode esensi atau atribut esensi. Misalnya, seluruh substansi spiritual seperti berimajinasi, meragukan dan berkehendak merupakan mode, ekspresi, eksemplifikasi, juga manifestasi dari esensinya, yaitu berpikir. Substansi-substansi itu saling berinteraksi, namun juga saling bertentangan; secara logis dan ontologis saling meniadakan serta dapat dipahami dan eksis tanpa yang lain. Substansi-substansi tersebut harus eksis, karena kalau tidak, atribut (yaitu sifat, kualitas dan lain sebagainya) tidak akan memiliki sesuatu yang dikandung di dalamnya, misalnya, atribut berpikir tidak akan menjadi atribut dari sesuatu. Adalah kontradiktif apabila dikatakan bahwa aktus berpikir terjadi tapi tak ada subjek yang melakukan tindakan berpikir tersebut; atau apabila dikatakan bahwa sebuah dimensi spasial itu eksis tetapi tidak ada yang meluas atau memiliki dimensi spasial tersebut. Dengan demikian, maka konsep berpikir dan berkeluasan akan menjadi tak bermakna.

Mengenai dua substansi selain Tuhan, Descartes mengungkapkannya sebagai berikut: “Terdapat perbedaan yang sangat besar antara pikiran dan tubuh, dalam hal bahwa tubuh secara kodrati selalu bisa di bagi-bagi, sedangkan pikiran secara utuh tidak terpisahkan. Sebab, ketika aku memikirkan tentang pikiran, atau lebih tepatnya memikirkan diriku sendiri sebagai sesuatu yang berpikir, maka aku tak dapat membeda-bedakan bagian di dalam diriku, dan aku dengan jernih melihat melihat bahwa aku adalah sesuatu yang benar-benar satu dan utuh. Meski pun keseluruhan pikiranku tampaknya menyatu dengan keseluruhan tubuhku ketika salah satu kaki, atau salah satu tangan, atau bagian tubuh mana pun terkelupas, tetapi aku tidak menyadari adanya apa pun yang disingkirkan dari pikiranku. Akan halnya kehendak, persepsi, konseptualisasi dan sebagainya, dengan berbagai cara bisa disebut sebagai bagian dari pikiran, karena memang pikiran itulah yang selalu melakukan kehendak, persepsi, konseptualisasi dan sebagainya. Sementara itu, hal yang sebaliknya, benar-benar berlaku untuk benda-benda fisik. Sebab, aku tak dapat memikirkan bahwa salah satu di antaranya yang tak bisa dipisah-pisahkan di pikiranku, karenanya aku memahaminya sebagai sesuatu yang dipecah-pecah.”

Dua substansi inilah yang nantinya akan menjadi landasan dualisme manusia dalam filsafat Descartes. Dia membagi manusia menjadi kesatuan dari dua substansi terpisah dan berbeda, yaitu, res cogitans dan res extensa. Res cogitans (dari bahasa Latin yang artinya ‘sesuatu yang berpikir’) merujuk pada suatu frase yang secara prinsip digunakan oleh Descartes untuk menyebut substansi berpikir, yang tidak lain mengacu pada pikiran individual atau diri yang berpikir, juga mengacu pada benda atau jiwa spiritual yang berfungsi sebagai landasan yang mendasari pikiran semua manusia atau diri-diri yang berpikir. Res cogitans merupakan substansi spiritual yang diciptakan, yang esensinya adalah berpikir dan memiliki pemikiran, tidak meluas karena tidak terukur, tidak dapat dilihat, nonspasial dan nontemporal. Ia memuat dan dan menggunakan benda-benda material tetapi tidak terbatas pada benda-benda, karena ia dapat memasuki alam tanpa benda. Jiwa—sebagai res cogitans—dikaitkan dengan seluruh bagian tubuh, tetapi melakukan sebagian besar fungsinya dengan menggunakan kelenjar pineal di dasar otak—argumen yang nantinya juga tidak akan Descartes yakini lagi—yang digunakan untuk berinteraksi dengan tubuh agar menghasilkan berbagai peristiwa mental seperti kesadaran, pikiran, ide-ide, kehendak, imajinasi, dan lain sebagainya.

Sedangkan res extensa (dari bahasa Latin yang artinya ‘sesuatu yang meluas’) merupakan suatu frase yang secara prinsip digunakan oleh Descartes untuk menyebut substansi material (fisikal). Substansi material ini bagi Descartes mengacu pada landasan yang mendasari seluruh perubahan material (mekanis) di alam semesta dan tidak memiliki karakteristik atau kehidupan. Res extensa merupakan substansi material terbatas yang diciptakan, seperti tubuh, objek-objek material, materi, dan alam semesta; singkatnya, esensi substansi benda fisik adalah keluasan. Ia menempati ruang, eksis dalam waktu, terukur, dapat dilihat, dapat dilokasikan, berubah, dapat dibagi, dan memiliki ukuran serta dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Tubuh, sebagai res extensa, dalam hal ini merupakan bagian dari alam fisik dan mekanis dalam kerjanya, sebagaimana segala sesuatu di alam fisik. Tubuh dengan sendirinya dapat—dan memang—menjalankan kehidupannya sendiri, dan sebagian besar aktivitasnya tidak disebabkan oleh jiwa, namun tubuh juga bisa menjadi tak ubahnya mesin yang dijalankan oleh jiwa.

Demikianlah gambaran global dari beberapa pokok pemikiran Rene Descartes terkait dengan cogito ergo sum, dubium methodicum, res cogitans dan res extensa.[]

Ilustrasi: http://aestela.deviantart.com/favourites/38684556/Descartes

Referensi:

Bertens, K., Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta: Kanisius, 2011.

Descartes, Rene, Risalah Tentang Metode, Jakarta: Gramedia, 1995.

Descartes, Rene, Meditations, Objections, and Replies, edited and translated by Roger Ariew and Donald Cress, Indianapolis: Hackett Publishing Company Inc., 2006.

Gombay, André, Descartes, USA: Blackwell, 2007.

Hamersma, Harry, Tokoh-tokoh Filsafat Barat Modern, Jakarta: Gramedia, 1983.

Hardiman, F. Budi, Filsafat Modern: Dari Machiavelli Sampai Nietzsche, Jakarta: Gramedia, 2004.

Rowlands, Mark, Menikmati Filsafat Melalui Film Science-Fiction, Bandung: Mizan, 2004.

Strathern, Paul, 90 Menit Bersama Descartes, Jakarta: Erlangga, 2006.

Van Peursen, C. A., Tubuh-Jiwa-Roh: Sebuah Pengantar dalam Filsafat Manusia, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1988.

Zaqzuq, Mahmud Hamdi, Al-Ghazali: Sang Sufi, Sang Filosof, Bandung: Pustaka, 1987.

The following two tabs change content below.

Alfathri Adlin

Lahir di Padang Panjang, 4 Oktober 1973. Sekarang bekerja sebagai Manajer Redaksi Pustaka Matahari. Pernah menjadi Editor Pelaksana Penerbit Jalasutra. Telah menerbitkan beberapa buku di antaranya: Antologi FSK ITB “Menggeledah Hasrat: Sebuah Pendekatan Multiperspektif”, penerbit Jalasutra 2006. Antologi FSK “Resistensi Gaya Hidup: Teori dan Realitas”, penerbit Jalasutra, 2007. Antologi FSK “Spiritualitas dan Realitas Kebudayaan Kontemporer”, penerbit Jalasutra, 2007.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *