Sedekah Ilmu

 

Pagi bergegas nampakkan mentari menyinari semesta. burung-burung terbang ke sana ke mari berpindah dari dahan ke dahan yang merimbuni jalan-jalan menuju sebuah kampung. Bersama beberapa rekan kerja kami beramai-ramai menuju sebuah sekolah dasar di sebuah kampung di kaki gunung. Semesta kampung di kaki gunung itu seolah menyambut kami dengan riang gembira dan suka cita. bersama tim dari perusahaan tempat kami mengais nafkah akan mengajar di sekolah tersebut dengan program CSR (Corporate Social Responsibility) yang telah disepakati oleh semua unsur sekolah, dari kepala sekolah hingga para siswa, dan perangkat pemerintahan desa hingga kecamatan. Kawan-kawan membilangkannya program “sedekah ilmu”.

Tim kami bagi menjadi tiga kelompok, saya berdua dengan kawan yang lain akan mengajar di kelas lima dan enam dengan materi ajar bekerja sama dalam sebuah kelompok. Kelompok yang kedua akan mengajar di kelas empat dan tiga dengan materi belajar dengan gembira. Sedangkan tim kelompok tiga akan mengajar di kelas satu dan dua. Tiga kelompok ini akan menggabungkan kelas yang diajarnya. Misalnya kelompok satu akan menggabungkan kelas lima dan enam.

Sesungguhnya program ini sudah berjalan beberapa bulan lalu dengan jangkauan sementara SD (sekolah dasar) dan SMP (sekolah menengah pertama). Rencananya tim dari perusahaan akan mengunjungi dan mengajar di sekolah-sekolah yang sudah disepakati sekali dalam sebulan dengan konsep pengajaran partisipatif dengan materi tematik, semacam kuliah umum. Bahkan teman-teman dari ekplorasi dan mining, pun mempunyai agenda kuliah umum di perguruan tinggi di ibu kota provinsi.

Secara teknis proses pengajaran, kami gunakan metode partisipatif di mana peserta ajar dan pengajar harus sama-sama aktif berinteraksi dalam sesi-sesi pembelajaran dengan bermain. Dalam dunia pendidikan, proses belajar mengajar model partisipatif ini kerap juga dibilangkan metode pembalajaran dua arah atawa interaktif. Karena secara substansial peserta ajar bukanlah obyek semata tapi mereka juga subyek yang diasumsikan memiliki pengalaman dan pengetahuan bawaan. Sekolah-sekolah kita selama ini hanya menerjemahkan pendidikan sebagai “transfer of knowledge” yang dimiliki guru kepada siswanya, sehingga siswa terbebani dengan teori-teori hanya untuk menjawab soal-soal ujian, tapi tak mampu menerjemahkannya ke dalam realitas social. akhirnya pendidikan tercerabut dari persoalan-persoalan riil yang seharusnya mereka jawab.

Paulo Freire, mengatakan bahwa pendidikan adalah nilai yang paling vital bagi proses pembebasan manusia. Dalam beberapa tulisan, Freire, telah memberikan gambaran tentang bagaimana metode pendidikan dijalankan, bahwa humanisme menjadi titik tolak dari semua metode pendidikan atawa pembelajaran diterapkan.

Sembari mengajar aku terkenang Toto-Chan yang dikeluarkan dari sekolahnya yang masih duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Toto-Chan seorang anak yang gerak-geriknya hiperaktif , tidak bisa diam berlama-lama dalam suatu kondisi. Kerap membuat ulah di kelasnya. Membuat gaduh dan mengganggu seluruh murid yang ada di kelasnya. Melakukan sesuatu semaunya berdasarkan keinginnya sendiri. Karena sikapnya itu Ia pun dikeluarkan dari sekolahnya.

Hingga suatu waktu yang tidak terlalu lama jedanya, orang tuanya membawanya ke sebuah sekolah di pinggiran kota. Sekolah yang ruang belajarnya terbuat dari gerbong kereta api bekas. Dari lima puluh orang siswa-siswi belajar di enam gerbong kereta api.

Titik balik dari proses pencarian Toto-Chan kala sua dengan Sosaku Kobayashi. Seorang lelaki parubaya yang rambutnya mulai menepis. Seorang kepala sekolah “alternatif” yang mengajar siswa-siswanya untuk menjadi manusia. Sekolah yang menghargai potensi semua siswa tanpa ada pemilahan pintar dan tidak pintar, tidak ada strata rangking, dan lain sebagainya yang bisa menstratafikasi siswa-siswa yang belajar di sekolah itu.

Pertemuan pertama antara, Toto-Chan dan Sasoku Kobayasi membuat, Toto-Chan langsung jatuh cinta pada pertemuan pertama itu. Toto-Chan, yang periang dan hiperaktif, disuruhnya bercerita apa saja dan tidak dibatasi waktu. Maka berceritalah apa saja tanpa dibatasi tema dan waktunya. Hingga betul-betul, Toto-Chan kehabisan bahan cerita di hadapan kepala sekolah hari itu. padahal di sekolahnya yang dulu, Toto-Chan dikeluarkan, salah satu penyebabnya karena kesukaannya bercerita apa saja hingga dianggap mengganggu kawan-kawannya yang lain.

Sosaku Kobayashi, lelaki inspiratif mendedikasikan dirinya membangun sebuah sekolah yang tidak berorientasi ijazah, tetapi memotivasikan sekolahnya sebagai sekolah memanusiakan manusia sejak dini. Lalu, Kobayashi membawa Toto-Chan ke sebuah gedung pada siang harinya. Di gedung ini lagi-lagi Toto-Chan menemukan dirinya. Setiap anak yang membawa makanan dari rumah harus bisa menjelaskannya pada yang hadir dalam dua kategori. Makanan berbahan dari laut dan gunung. Toto-Chan terperangah melihat kawan-kawan barunya menjelaskan setiap makanan yang dibawa dari rumah masing-masing. Betapa merdeka dan dihargainya anak-anak di sini, gumamnya.

Sekolah gerbong kereta api ini menginspirasi banyak manusia di dunia pada metode pembelajaran, termasuk sekolah-sekolah alternatif di Indonesia, sekolah-sekolah plus, dll. Walaupun metodenya tidak persis sama. Program-program pemberdayaan sekolah yang disponsori oleh lembaga-lembaga donor juga melakukan hal yang sama. Pelatihan-pelatihan dan pendampingan guru dan sekolah untuk membangun pembelajaran partisipatif. Pelibatan orang tua siswa dalam menejemen dan pembelajaran. Membangun kelembagaan komite sekolah yang diharapkan dapat membantu sekolah semaksimal mungkin dalam proses pembelajaran dengan harapan sekolah menghasilkan luaran yang bekualitas dan manusiawi.

Tapi dalam prosesnya setelah bertahun-tahun dikembangkan tentu tidak serta-merta berjalan baik. di sana-sini masih terdapat kekurangan yang sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya manusia (guru) dan pengelola sekolah. Juga dipengaruhi staf kurikulum yang tentu membatasi para tenaga pegajar untuk berkreasi. Apatahlagi bagi guru-guru yang malas belajar dan meningkatkan kapasitas untuk mengembangkan dan mensiasati kekakuan kurikulum yang tersedia. Namun dalam realitasnya ada juga sekolah yang dikategorikan sebagai sekolah unggulan entah apa sebab dan indikator-indikatornya. Sehingga luaran dari sekolah unggulan itu sangat berbeda dengan sekolah-sekolah biasa. Mestinya secara bertahap sekolah-sekolah lainnya dari kota hingga pelosok desa menjadikan sekolah unggulan itu sebagai rujukan dan berproses sampai ke sana sebagai wujud pemerataan kualitas pendidikan. Jangan berhenti dan stagnan pada dikotomi unggul dan tidak unggul.

Di sekolah-sekolah swasta dikembangkan juga sekolah plus dimana sebuah sekolah yang dikategorikan plus, disamping pembelajarannya tetap merujuk pada kurikulum nasional juga memberi pelajaran tambahan di luar mata pelajaran berdasarkan kurukulum yang telah diatur pemerintah. Pun pada metode, mereka lebih kreatif dan menyenangkan. Sehingga para siswa yang belajar di sana lebih betah dan senang dengan opembelajaran yang partisipatif. Di sekolah tersebut relative tidak ada hukuman, tapi yang ada adalah pujian dan reward. Di sana dikembangkan proses belajar interaktif dan menyenangkan.

Sesi pembelajaran yang kami berikan pada anak-anak kala momentum sedekah ilmu di beberpa sekolah di atas adalah model pembelajaran bermain sambil belajar dan menyenangkan. Apatah lagi bila merujuk pada perkembangan psikologi anak bahwa, pada umumnya anak-anak di usia dini adalah fase usia bermain. Jadi, permainan yang kami berikan sesuai dengan perkembangan psikologi mereka. Diskusi kelompok dengan pola bermain. Setiap kelompok membuat pertanyaan sendiri yang berkenaan materi “kerjasama” kemudian kelompok lainnya yang harus menjawab. Begitu seterusnya, setiap kelompok membuat pertanyaan untuk dijawab oleh kelompok lainnya. Dan metode-metode pembelajaran lainnya yang partisipatif dan menyenangkan.

Usai pembelajaran yang kami lakukan dan jelang meninggalkan sekolah tersebut, mereka bergerombol mendatangi kami dan memberi apresiasi yang cukup bagus dengan ucapan terima kasih berkali-kali diucapkan anak-anak tersebut sembari meminta ke kami untuk datang lagi mengajar. Di mata dan wajahnya memancarkan keceriahan. Kami sangat senang bila bapak ingin mengajar kami sekali dalam sebulan. Kala kami menanyainya apakah mereka suka kami ajar dengan metode seperti tadi, mereka hampir serempak bersorak  suka, Pak. Sangat senang serunya.

 

Sumber gambar: http://rofalina.com/2013/03/masalah-pendidikan-di-indonesia.html

The following two tabs change content below.

Abdul Rasyid Idris

Penulis. Telah menerbitkan beberapa buku kumpulan esai dan puisi di antaranya Jejak Air mata (2009), Melati untuk Kekasih (2013), Dari Pojok Facebook untuk Indonesia (2014), Tu(h)an di Panti Pijat (2015). Telah menerbitkan buku terbarunya, Anging Mammiri (2017), Menafsir Kembali Indonesia (2017), dan Dari Langit dan Bumi (2017).

Latest posts by Abdul Rasyid Idris (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *