Sepotong Kisah Tentang Saya, Aslam, dan Kota Makassar

Pernah satu waktu saya bersua dengan seorang kawan bernama Aslam Nanda Rizal, kenalan saya di Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah se-Indonesia (IKAHIMSI). Beliau adalah seorang alumni dari Ilmu Sejarah UGM.

Kala itu, Aslam menghubungi saya melalui chat media sosial. Beliau meminta kesediaan saya untuk membunuh waktu suntuknya—maklum saat itu kawanku suntuk, pesawat yang ditumpanginya transit selama empat jam di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. Maka sebagai kawan yang baik, maka kuiyakan pintanya, jadilah saya menjadi pemandu wisata dadakan—berpusing-pusing ria di Kota Makassar.

Dengan menggunakan motor matic saya mengajak Aslam tuk melihat-lihat Kota Makassar, terutama ke tempat-tempat yang bersejarah. Tempat pertama yang kutuju adalah Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang—sebuah benteng pertahanan yang dibangun pada masa Raja Gowa X, I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng sekitar tahun 1545.[1] Kulihat kawan saya Aslam begitu terkesima dengan pemandangan yang ada di depannya. Sembari mengajak beliau berkeliling-keliling kompleks benteng, saya menjelaskan tentang perjalanan singkat Kota Makassar.

“Jadi Bung Aslam, Makassar itu memiliki sejarah yang panjang. Jika merujuk pada kitab karya Mpu Prapanca, Kakawin Nagarakertagama –nama Makassar telah disebutkan sebagai salah satu daerah taklukkan Majapahit.”[2] Aslam kala itu hanya manut-manut saja, saya pun melanjutkan penjelasanku dengan mengajak lelaki dari Provinsi Banten ini tuk ngaso di salah satu bastion Fort Rotterdam.

“Lalu kapan terbentuk kota ini?” tanyaku pada Aslam yang pada akhirnya kujawan sendiri, “Jadi kota ini sudah terbentuk sejak kisaran abad ke XVI dengan ditandai pemindahan ibu kota Kerajaan Gowa dari Tamalate ke Somba Opu[3] lalu pada perkembangan selanjutnya di sekitaran muara Sungai Jeneberang terbentuk pelabuhan atau Bandar Niaga Somba Opu[4] dari bandar niaga inilah menjadi cikal bakal terbentuknya Kota Makassar.”

Saya kemudian melanjutkan penjelasan tentang “apa yang saya sebut dengan Pemerintahan Daerah Kota Makassar”. Terbentuknya suatu tatanan pemerintahan di Kota Makassar bermula pada tahun 1906 dengan suatu peraturan yang disebut sebagai staatsblad No. 171 Tahun 1906 dimana aturan tersebut merubah status Makassar menjadi Gemeente Makassar terhitung sejak 1 April 1906. Adapun walikotanya baru diangkat di tahun 1918.[5]

“Kalau tidak salah yah Aslam, walikota pertamanya itu bernama J.E. Dambrink, adapun wilayahnya kala itu terdiri dari enam distrik yaitu: Distrik Makassar; Distrik Wajo; Distrik Melayu; Distrik Ende; Distrik Ujung Tanah; dan Distrik Mariso. Distrik Makassar, Wajo, Melayu, dan Ende masing-masing diperintah oleh seorang kapitein. Sedangkan Ujung Tanah dan Mariso masing-masing dikepalai oleh seorang gallarang. Lalu Aslam, di tahun 1921 Distrik Melayu digabungkan ke dalam Distrik Wajo dan wilayah Distrik Ende dibagi atau dimasukkan ke dalam wilayah Distrik Makassar dan Distrik Wajo. Jadi di tahun 1921 hanya ada empat distrik.[6] Jadi dahulu Makassar itu sempit, hanya sekitar 21 kilometer persegi. Yah, lalu waktu terus berputar, matahari dan bulan silih berganti, perkembangan politik dan sosial semakin dinamis hingga pada satu masa pemerintah Kota Makassar di tahun 1971 melakukan upaya perluasan kota dengan mengambil beberapa wilayah tetangga, seperti Kabupaten Gowa, Kabupaten Maros, dan Kabupaten Pangkep.[7]

Sesungguhnya, saya masih ingin menjelaskan lebih jauh tentang perkembangan Kota Makassar, tentang perubahan nama dari Makassar menjadi Ujung Pandang kemudian kembali lagi menjadi Makassar, tentang bangunan-bangunan tuanya, tentang kuliner khasnya, hingga segala tetek-bengeknya kota Makassar, kota yang dijuluki Kota Anging Mammiri, Kotanya Para Daeng. Namun sayang, waktu telah di penghujung, tanpa terasa sudah waktunya berpamitan dengan Aslam.

“Wah sepertinya Bung Ilyas, kita harus ke bandara lagi deh, kurang lebih setengah jam lagi pesawat yang membawa saya ke Yogyakarta akan takeoff.

“Sayang sekali yah Bung Aslam, baru juga mau ngajak makan Coto Makassar,” sahutku kemudian kawanku ini terkekeh sedang saya hanya tersenyum sembari beranjak dari tempat, kemudian bersama-sama meninggalkan Fort Rotterdam menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin….

 

 

[1] Darwas Rasyid, Beberapa Catatan Tentang Benteng-Benteng Pertahanan Kerajaan Gowa. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Ujung Pandang

[2] Info Makassar Edisi: 04, Tahun I / Oktober-Desember 2007 lihat pula Mattulada, Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah, (Ujung Pandang: Bhakti Baru, cetakan pertama 1982)

[3] Mattulada, Ibid. Hlm 14-15

[4] Mengenai Somba Opu lihat Umar, Yuliani Umar. Bandar Somba Opu Sebagai Sumber Penghasilan Kerajaan Gowa Sampai Tahun 1667, Skripsi. (Jakarta: Fakults Sastra Universitas Indonesia, 1990) dan Muhammad Vibrant Anwar. Terbentuknya Kota Pelabuhan Makassar Studi kasus Tonggak Awal Pembentukan Kota Makassar Pada Masa Kerajaan Gowa Tahun 1510-1653. Skripsi. (Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1996)

[5] Yudistira Sukatanya, Dari Makassar ke Makassar. Dalam Udhin Palisuri, dkk., Makassar Doeloe, Makassar Kini, Makassar Nanti. (Makassar: Yayasan Losari Makassar, 2000)

[6] Asmunandar, Kota Makassar dalam Empat Abad. Dalam Anwar Jimpe Rahman (peny.) Makassar Nol Kilometer (Dotcom) Jurnalisme Plat Kuning : menceritakan wajah Makassar yang lain-dari meja warkop sampai riuh festival rock. (Makassar : Tanah Indie, 2014) lihat pula Majalah Imaginedhistoria edisi Agustus – Desember.

[7] Lihat PP. No. 51 Tahun 1971.

 


sumber gambar: situsbudaya.id

 

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *