Sepucuk Surat Cinta untuk Bapak Rektor

Assalamu’alaikum Pak Rektor, Prof Hamdan Juhannis. Semoga sehat dan berbahagia selalu.

Ribuan ucapan selamat mungkin sudah berdatangan semenjak terpilih hingga dilantiknya bapak menjadi pimpinan tertinggi di UIN Alauddin Makassar (UINAM). Maaf karena terlambat mengucapkannya pada Bapak.

Sekali lagi, selamat atas terpilihnya Bapak sebagai Rektor UINAM untuk periode 2019-2023. Semoga amanah dan bertanggungjawab dalam memimpin pelaksanaan tridharma perguruan tinggi di UINAM. Mudah-mudahan jabatan itu bisa menghantarkan Bapak untuk semakin menjadi pribadi yang sederhana, bijaksana, humanis dan tidak arogan apalagi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Semoga Bapak bisa menjadi tauladan bagi kami para masyarakat kampus peradaban, UINAM.

Bapak Rektor yang mulia, mungkin Bapak tidak mengenal siapa dan apa tujuan saya menulis surat ini. Bagi saya itu wajar, mahasiswa UINAM sangatlah banyak, pastilah sangat susah untuk bisa mengenali satu persatu, apalagi saya adalah mahasiswa yang sungguh sangat biasa-biasa saja, bukan aktivis, anak pejabat-konglomerat, prestasi juga biasa-biasa saja, sebijipun tak ada.

Itulah sebabnya saya perlu memperkenalkan diri, saya memperkenalkan dengan dengan sedikit bercerita saja. Bapak Rektor cukup duduk dengan santai, lalu membacanya dengar khidmat, tak perlu mengerutkan dahi, apalagi sampai merasa dumba’-dumba’. Pak Rektor, saya ini tak jauh beda dengan mahasiswa kebanyakan, yang setiap hari berseliweran di kampus.

Saya berasal dari barat pulau Sulawesi, tepatnya di Kabupaten termuda, yaitu Mamuju Tengah. Lahir dari rahim orang tua yang berkekurangan dalam banyak hal (terutama pendidikan dan ekonomi), kemudian tumbuh dan besar di kampung, seperti masa kecil bapak. Lalu dengan modal mimpi yang menggebu-gebu saya memberanikan diri merantau ke Makassar, kemudian menjatuhkan pilihan pada kampus peradaban ini.

Bapak Rektor yang terhormat, seperti mahasiswa pada umumnya, sayapun memiliki setumpuk harapan dan juga segudang keresahan yang setahun ini cukup mengganjal bagi saya, yang parahnya itu susah untuk tersampaikan seperti kebanyakan mahasiswa lainnya. Barangkali karena sungkan untuk bersuara atau memang karena tidak adanya ruang untuk bertukar pikiran dan kegelisahan, sehingga keresahan itu tidak pernah terdengar. Maka dengan surat ini saya ingin menyampaikannya kepada bapak. Semoga bapak berkenan membacanya dan sudi merealisasikannya.

Bapak Rektor yang mulia, kami sadar bahwa mengemban amanah bukanlah hal yang mudah, itu sebabnya kita semua dianjurkan untuk menggunakan telinga, hati nurani dan pikiran sebanyak mungkin. Bapak telah diamanahkan untuk bertanggung jawab terhadap universitas, menjadi penerus Kemenag, dan menjadi pemimpin tertinggi di kampus, sungguh beban yang berat.

Ada banyak yang harus bapak benahi dan yang harus bapak selesaikan, terutama problem-problem warisan rektor sebelumnya. Keikhlasan untuk bekerja keras lahir dan batin perlu bapak persiapkan, namun kerja keras saja tak cukup untuk mengatasi masalah-masalah yang terbengkalai. Hati nurani yang harus bapak persiapkan dan bapak libatkan untuk bekerja sebagai rektor di UINAM.

Euforia dalam tampuk kekuasaan memang menghanyutkan, jangan karena kenyamanan itu membuat Bapak melenceng dalam menahkodai kampus peradaban ini. Beradab, itulah slogan kampus UINAM, jangan biarkan kata beradab berubah menjadi kata biadab. Kampus yang berlabel negeri yang juga merupakan kampus dengan ciri keagamaan Islam di dalamnya. Sungguh tak elok apabila hanya label yang terpampang jelas namun penerapannya malah sebaliknya.

Biaya kuliah yang kian mahal, transparansi kebijakan dan anggaran kampus, praktek nepotisme, fasilitas yang tidak memadai, kebijakan yang tidak demokratis, dan masih banyak lagi problem yang kami harapkan dapat terselesaikan dengan khidmat dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Besar harapan kami kepada bapak karena peran bapak sangat menentukan arah kampus ke depannya.

Kita semua pasti tahu kalau pendidikan di Indonesia tidak lepas dari persoalan biaya. Dan kita semua menyadari bahwa semua orang berhak atas pendidikan, tetapi sayangnya tidak semua orang memiliki biaya dan akses untuk duduk di bangku pendidikan tinggi. Dari beribu-ribu mahasiswa di UINAM, pasti latar belakang kemampuan ekonominya beragam.

Barangkali ada yang berasal dari ekonomi menengah ke atas, seperti anak seorang pejabat dan konglomerat. Tetapi bisa jadi banyak pula di antaranya berasal dari ekonomi lemah, berasal dari anak seorang petani, nelayan, pedagang, pengayuh becak, dan buruh kasar. Berbagai cara dilakukan untuk bisa menapaki dunia pendidikan, ada orang tua yang rela banting tulang siang dan malam demi membiayai pendidikan anaknya, ada pula yang berhutang kesana kemari agar dapat menutupi kekurangan biaya pendidikan anaknya.

Bahkan ada yang terpaksa harus berhenti ditengah jalan dikarenakan tidak ada lagi biaya untuk bayar UKT/SPP yang tidak mengenal rasa kasihan, tidak berperikeadilan dan berperikemanusiaan. Itulah sebabnya tolong bapak jangan menyamaratakan antara kami ekonomi bawah dan mereka yang ekonomi atas. Perlakukanlah kami dengan prinsip keadilan proporsional. Jangan ada diskriminasi antara keduanya dalam persoalan pelayanan, semua berhak untuk memproleh pelayanan dan pendidikan yang layak.

Bapak Rektor yang budiman, ke depan bapaklah pemegang kendali kebijakan di kampus peradaban ini. Keputusan yang bersifat bijak dan bajik tentunya sangat kami tunggu. Kami bangga bisa mengenyam pendidikan di UINAM ini, kampus yang berlabelkan islam, tentu dengan cita-cita membawa keselamatan, sebuah kampus dengan tagline “kampus peradaban”.

Tentu kami sangat ingin kampus ini menjadi kampus yang benar-benar berperadaban, mencerminkan kampus islam yang sesungguhnya, memperlihatkan eksistensi sebagai Perguruan Tinggi Agama Negeri, dan menjadi Universitas Kelas Dunia tetapi tetap dengan pengelolaan yang demokratis, bervisi humanis dan biaya murah.

Dengan dilantiknya bapak sebagai Rektor, jujur saya dan teman-teman mahasiswa UINAM yang lain sangat berbahagia, terusterang bapak adalah rule model yang paling representatif di kampus hijau ini, seorang tokoh dengan jejak-jejak melawan takdir, itu sebabnya saya dan teman-teman mahasiswa UINAM yang lain menaruh harapan banyak kepada Bapak, banyak hal yang ingin kami titipkan, yang ingin kami pesankan kepada Bapak.

Kami mengharapkan bapak untuk menjadi seorang rektor yang bisa mendengarkan aspirasi mahasiswanya, rektor yang mau menerima dengan baik kritikan-kritikan, rektor yang mau bersahabat dengan semua masyarakat UINAM. Bukan rektor yang hanya duduk gagah di ruangan ber-AC, yang mengendarai mobil mewah dengan kaca tertutup, yang hanya memikirkan jabatan dan kantong, yang berpikir hanya untuk mengokohkan jabatan sebagai seorang petinggi yang anti kritik tanpa menengok apa saja yang terjadi di sekitarnya. Bukankah pemimpin yang baik adalah pemimpin yang demokratis, bukan yang otoritarian ?

Kiranya jika ingin menata kampus ini menjadi lebih baik, saya rasa alangkah lebih baiknya bapak sebagai orang nomor satu di UINAM, mari memulai dari pembenahan sistem akademik saja dulu, seperti penghapusan pungli-pungli utamanya pada proses penyelesaian studi, penelitian, penerimaan mahasiswa baru dan kegiatan akademik lainnya, infrastruktur atau sarana prasarana yang kurang memadai, tenaga pendidik yang kurang profesional, transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan (terkhusus dalam hal penerapan sistem UKT).

Yang terakhir, surat ini kubuat bukan untuk sekadar bapak baca lalu mengabaikannya bagai angin lalu. Tapi disinilah harapan saya dan teman-teman mahasiswa lainnya dititipkan untuk bapak timbang-timbang lalu realisasikan. Kami harap visi misi dan rencana strategis serta rancangan program kerja bapak pada pemaparan kemarin bukan hanya janji-janji manis belaka. Salam hangat dari kami pak, sekali lagi selamat bertugas sebagai rektor baru UINAM.

Salam hormat dan cinta dari kami, anak ta’, mahasiswa UINAM. Tularkan ke kami spirit melawan takdir.

Sumber gambar: Instagram @UINAM

The following two tabs change content below.

Lismardiana Reski

Penulis adalah mahasiswa on going semester II Aqidah dan Filsafat Islam UIN Alauddin Makassar. Memilih menjadi pemburu berita di pers kampus Washilah. Selain itu juga numpang nongkrong dan makan di PMII Rayon UINAM.

Latest posts by Lismardiana Reski (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *