Sepucuk Surat dari Orang yang Merindu

Rappang, 05 September 2015

Teriring sepucuk surat untukmu Nona. Di ujung sana, di Tana Toraja. Sebelumnya, sahaya ingin menanyakan kabarmu, Nona. Apakah kamu baik-baik saja? Ataukah kamu lagi nelangsa? Sahaya harap kabarmu baik-baik saja.

Oh, iya! Hampir lupa, apakah engkau masih mengingatku? Sahaya harap kamu masih mengingatku. Seorang pria yang pernah menyatakan rasa kepadamu. Nona, apakah kamu memikirkan mengapa sahaya mengirimkan surat kepadamu? Ataukah mengapa sepucuk surat —jikalau sampai—terkirim ke padamu? Ataukah mengapa surat ini jauh-jauh dari selatan menempuh jarak berkilo-kilometer bahkan beratus-ratus kilometer hanya untuk menyambangi kotak pos rumahmu? Mungkin pertanyaan-pertanyaan itu akan berkelebat di pikiranmu, mungkin juga tidak.

Nona, ketahuilah bahwa sahaya membuat surat ini hanya karena rindu kepadamu, hanya itu saja, tak lebih dan tak kurang, walaupun dalam benakmu berkata, “Ah, kamu kirim surat kepadaku karena belum bisa move on dari cinta yang bertepuk sebelah tangan!” Jikalau dalam pikiranmu berkelebat demikian, maka sahaya akan menerima apa adanya. Toh sahaya tidak punya kuasa atas isi pikiranmu.

Sebelumnya, sahaya ingin menanyakan ikhbar kampung halamanmu Tana Toraja. Apakah masih sesejuk dahulu? Sahaya harap Tana Toraja masih seperti dahulu; sejuk, indah dan nyaman.

Nona, jikalau surat ini mengganggumu maka kembali sahaya menghaturkan maaf, bukan bermaksud mengganggumu, melainkan hanya merindu kepadamu. Lantas, mengapa bisa sahaya merindu? Oh, Nona ketahuilah sahaya merindu karena tetiba saja mengingat peristiwa di jaman bahuela—di saat kita masih berstatus mahasiswa baru.

Masih ingatkah kau peristiwa perjalanan dari Kota Makassar menuju Bumi Latemmamala—yang sejuk itu? Sahaya harap Nona masih mengingatnya. Jikalaupun Nona tak mengingatnya, ijinkanlah sahaya membangkitkan momen itu.

Saat itu, ketika bus melaju dengan penuh khidmatnya membelah dan menyusuri jalan Camba. Sahaya mencuri-curi pandang ke arahmu, sepasang bola mata ini hanya tertuju padamu, tidak memfokuskan pandangan pada hamparan sengkedan yang begitu indah. Pun tak kuhiraukan lebatnya hutan lindung Kabupaten Maros. Juga tak kuhiraukan kelokan nan terjal jalur Camba. Semua manifestasi keindahan di mataku tak kuhiraukan. Karena bagiku, yang indah saat itu hanyalah aura dan pesonamu dan tentunya, mata sendumu.

Nona, sahaya masih mengingat kejadian itu, engkau duduk di kursi bagian tengah dekat jendela bus. Sedangkan sahaya hanya berdiri di bagian depan dekat pintu bus belakang. Saat itu, kawan kita, lelaki berperawakan tinggi—yang mengingatkanku pada salah satu personelnya Super Junior Kyuhyun—memberikan satu kode kepadaku, sahaya paham kode itu, suatu lambaian tangan yang menyiratkan kata, “Bro, kamu duduk di sampingnya! Mumpung kursinya kosong, ajak ia bicara.”

Sahaya mengerti maksud dari kode itu, pun kuikuti kata hati dan memberanikan diri untuk duduk di sampingmu. Dan… dag…dig…dug…dag…dig…dug… jantungku berdetak. Mengapa demikian?! Karena engkau tertidur lelap, mungkin kecapaian. Nona, saat engkau terlelap maka sungguh! Engkau begitu cantik saat itu. Maka benarlah kata nenek sahaya, bahwa kecantikan alami dari seorang gadis celebes dapat dilihat ketika ia terlelap.

Namun sahayang,  itu hanya berlangsung sepuluh menit, karena engkau terjaga lalu tetiba saja berpindah tempat. Ah…, Nona! Perlakuanmu padaku saat itu kuartikan sebagai, “Maaf  yah?! Kamu tidak usah dekat-dekat padaku,”

Sekejap saja, sahaya memilih untuk memandang keluar jendela. Menunggu temaram dan senja berlalu.

***

Nona, masih ingatkah kau ketika malam menyambangi Kabupaten Soppeng. Di beranda rumah Pak Ketua Panitia—yang sama-sama kita kenal sebagai pria parlente, flamboyan, dan don juan. Mungkin yang Nona ingat hanyalah hal-hal formatif saja, suasana desa yang sejuk, keramahan warga dan bahasa bugis yang indah. Namun, sahaya berbeda Nona, yang kuingat adalah perbuatanku yang keseringan mencuri-curi pandang, tepat di beranda rumah—yang timpaq laja’ nya tersusun tiga. Wih…, hatiku berdesir saat itu, memandangi ciptaan tuhan, gadis dari Tana Toraja. Ahh…, sungguh mungkin itulah yang dinamakan lope. Lope pakai logat Makassar. Walaupun sahaya ana’ ogiq kasiasi.

            Nona, tahukah kau? Semenjak malam hingga siang hari menyambangi Kabupaten Soppeng, ada satu kebulatan tekad saat itu. Menyatakan perasaan, mengutarakan isi hati.

Mungkin kamu masih mengingat waktu itu, kala cahaya matahari yang terik menembusi dedaunan yang merimbungi Sewo. Engkau berjalan di hadapanku, sahaya membuntutimu dari belakang. Pada satu waktu yang tepat, tetiba saja sahaya mencegatmu. Matamu menuding tajam kepadaku, seolah ada siratan makna dalam pikiranmu, “Ini si botak-cupu bin aneh mau ngapain lagi?!”

Nona, sahaya tak menghiraukan sorotan mata itu, yang kupedulikan saat itu hanya satu! Mengutarakan perasaan. “Nona, tahukah kau bagaimana perasaanku kepadamu? Sesungguhnya ada satu desiran ketika menatap wajahmu. Serasa hati ini berdebar. Nona, apakah kamu memiliki satu perasaan yang sama denganku? Perasaan berdebar-debar ketika menatapku?”

Seketika saja sahaya harap-harap cemas, apakah kamu menerima utaran maksud atau tidak? Namun sayang, engkau hanya menyeringai dan melambaikan tangan. Sebuah pertanda yang cukup untukku. Engkau berlalu, sejenak kemudian berbalik. Dari bibirmu yang ranum berujar kata, “Maaf, saya sudah ada yang petik.”

Sahaya hanya menghela nafas yang panjang, sejenak terpekur.  Rupanya, Nona cantik dari Tana Toraja menolakku.

***

Nona, sahaya harap kamu jangan tersinggung dengan isi surat ini, ataukah membenciku karena mengungkit peristiwa itu. Nona, sekali lagi dan mungkin telah kuulang berkali-kali. Bahwa surat ini kubuat lantaran merindu kepadamu.

Nona, walaupun sudah bertahun-tahun telah berlalu, pertemuan pertama kita di hari senin pertama di bulan september tahun 2011. Dan semenjak sahaya telah merasakan desiran hati kepadamu. Dan sejak engkau menolakku di Sewo. Sahaya harap engkau tak pernah lupa dengan peristiwa itu.

Nona, tahukah kau?! Setelah penolakan itu, sahaya menjadi bahan perundungan teman-teman, tak terkecuali beberapa ayahanda di jurusan. Sahaya tak usah menyebutkan namanya, tak eloklah. Toh itu sudah menjadi rahasia umum, bahwa sahaya telah menyatakan satu perasaan di tempat cukup aneh, hutan belantara di dekat situs megalitik. Yang mungkin terdapat kuburan di dekatnya.

Bahkan setelah setahun sejak kunyatakan perasaanku, sahaya masih saja diperhadapkan pada perundungan. Kawan kita dari Butta Toa itu pernah berujar kepadaku, saat kita bersama-sama menuju kampung halamanmu—dalam rangka lawatan sejarah dan budaya. Dengan logat Makassarnya yang khas, “Pantasko ditolak sama cewe! Ka kau iyya nutembaki di dekat kuburan! Tena romantis-romantisna.

Nona, setidaknya melalui surat ini sahaya ingin menyampaikan satu hal. Sahaya bersyukur pernah memiliki rasa terhadapmu. Walaupun pada akhirnya perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan. Toh itu sudah berlalu dan telah manjadi bagian dari kisah sejarah—walaupun kisah itu hanya untukku. Nona, sahaya akan mengakhiri surat ini dengan satu pertanyaan, “Apakah Nona bersedia membalas surat ini? Surat dari seorang yang merindu.”

Terkirim dari Sungguminasa 29 Juni 2016, dan mungkin tak pernah sampai…

 

Sumber gambar: mailboxhappiness.blogspot.co.id

The following two tabs change content below.

Ilyas Ibrahim Husain

Ilyas Ibrahim Husain, adalah nama pena dari Adil Akbar. Alumni Pendidikan Sejarah UNM ini lahir di Sungguminasa, Kabupaten Gowa pada 06 April 1993. Pegiat literasi di Paradigma Institute, Ruang Abstrak Literasi, dan Guru Tidak Tetap di SMAN 1 Sungguminasa (Gowa). Sementara melanjutkan studinya di Program Pascasarjana UNM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *