Sexy Killer Akan Berakhir Biasa-Biasa Saja

Seperti pemilu tahun ini, boleh dicatat dalam sejarah sebagai pemilu paling meriah dengan politik identitas dan polarisasi yang brutal. Sebuah film di bulan April tahun 2019, juga mungkin bisa kita catat dalam sejarah berbangsa dan bermasyarakat kita, sebagai sebuah film dokumenter dengan penonton terbanyak di Indonesia.

Film dokumenter ini bukan mengusung sebuah tema yang populis di kalangan masyarakat, seperti layaknya dokumentasi-dokumentasi kemiskinan warga kota, yang alih-alih menampilkan sisi sosial, malah dipaksakan dengan berbagai rekayasa adegan untuk mendramatisir keadaan. Sexy Killer bergerak pada isu lingkungan, yang selama ini mungkin hanya dikenal pada komunitas terbatas, atau pada seminar dan diskusi-diskusi kampus. Isu ini dianggap kurang sexy, terlebih bila dibawakan pada mereka yang bukan merupakan bagian dari dampak kerusakan lingkungan, atau tambang seperti yang dibahas didalam Sexy Killer ini.

Sexy Killer boleh dibilang mencuri perhatian sluruh kalangan, mulai dari para elit hingga kalangan akar rumput. Tercatat hingga saat ini sudah ada 15 juta viewers film dokumenter ini. Namun, pada tulisan kali ini kita tidak akan membahas terkait cover both sides dari film ini, karena memang terkesan absurd membicarakan sisi objektifitas sebuah film dokumenter, apalagi berbicara soalan cover both sides, yang memang bukanlah domain dari sebuah film dokumenter, karena film dokumenter memang wajib menampilkan isu secara subjektif dan telanjang tanpa melihat sisi yang lain.

Namun perlu kita cermati, pada sisi yang lain, boleh jadi film Sexy Killer tidak akan berdampak luar biasa, pada tataran elit atau minimal pada pergerakan kolektif dari masyarakat. Elit kita sudah jelas akan menutup mata dan telinga untuk urusan ini, karena ini semua terkait finansial mereka. Semantara dampaknya bagi masyarakat kita, apalagi memimpikan terciptannya pergerakan kolektif yang terstruktur dan masif, sepertinya masih akan sangat sulit direalisasikan.

Yang membuat Sexy Killer akan berakhir biasa-biasa saja, adalah karena sampai saat ini Sexy Killer masih berhenti sebagai sebuah trend dan viral, yang kebetulan didukunng oleh kondisi politik identitas kita, yang terpolarisasi dalam dua kubu yang sangat besar dan brutal, sehingga bagi beberapa pihak, Sexy Killer tak lebih dilihat sebagai sebuah komodias politik yang memang cukup sexy untuk dijual.

Data dan angka yang ditampilkan di dalamnya, hanya akan berhenti sebagai sebuah angka elektoral, yang panas di masa pemilu ini, dan akan melempem beberapa bulan ke depan. Di masyarakat kita, Sexy Killer masih menjadi serupa gaya keren-kerenan, terutama bagi banyak orang yang hanya ingin show off kepeduliannya tentang lingkungan. Mereka turut menonton dan mengecam, namun lupa bahwa mereka sendirilah pelaku utama, yang menghidupkan skema supply and demand dari bisnis energi yang semakin sexy.

Sexy Killer sayangnya muncul, di tengah bangsa yang masih terbiasa dengan budaya latah dan mental kerumunan. Kita perlu sedikit flashback ke kasus Audrey. Sebuah postingan dari satu akun yang mengatakan Audrey disiksa, dan organ intimnya dicolok membuat jutaan masyarakat kita mengamuk. Budaya latah dan kaget kita menjadikan kita tidak adil dan buru-buru menjustifikasi para pelaku. Setelah hasil visum membuktikan, bahwa tidak ada pencolokan kelamin, dan pada sisi yang lain diitemukan juga bahwa Audrey ternyata tidak lugu-lugu amat, barulah kita menyadari betapa latah dan kagetannya kita. Toh kalaupun kasus Audrey memang terjadi seperti itu, apa yang berubah dari bangsa ini? Tidak ada. Isi-isi buku pelajaran sekolah masih dihiasi dengan kata-kata klise tolong menolong dan saling menghormati, bukannya oleh kata-kata bullying, perundungan, body shaming atau hate speech.

Seperti Audrey dan kedua belas pelaku, Sexy Killer hanya akan menjadi isu hangat dalam beberapa minggu atau bulan kedepan, selebihnya skema pasar dan suasana kejiwaan masyarakat kita, yang memang kagetan dan latah, hanya akan mempertahankannya pada beberapa ruang sempit, yang memang sedari dulu berkutat pada isu yang sama.

Maka mungkin, Sexy Killer hanya akan mencapai momentum pada urusan viewers, karena ibarat hendak menghancurkan sebuah karang besar, ia serupa ombak besar yang bergerak sendiri. Tidak ada ombak lain yang lebih besar di belakangnya. Mungkin akan beda jika perusahaan tertuduh juga melawan dengan membuat dokumentasi terkait sisi positif dari keberadaan mereka, atau pihak pemerintah juga turun tangan dan menampilakan karya serupa sesuai subjektifitas mereka.

Yang dibutuhkan adalah perang karya dari masing-masing penuduh dan tertuduh. Perang karya inilah, yang akan mereset masyarakat kita ke alam mode kritis, dan membandingkan berbagai sudut pandang subjektif yang ditawarkan pada mereka. Namun bila Sexy Killer hanya menjadi lone wolf, maka mugkin seperti yang kita duga, Sexy Killer hanya akan berakhir pada jumlah viewers, bukan pada keberlanjutan dan pergerakan kolektif.

The following two tabs change content below.

Ade Sulmi Indrajat

Pria kelahiran Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan ini adalah alumnus dari UIN Alauddin Makassar jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Saat ini salah satu kesibukan utamanya adalah sebagai ASN di Kantor Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Bantaeng. Juga sebagai Direktur Ranu Prima College cabang Bantaeng dan inisiator Ikatan Guru Indonesia ( IGI ).Bantaeng. Dan, bergiat di komunitas Boetta Ilmoe-Rumah Pengetahuan Bantaeng. Telah menerbitkan buku Sawah dan Kebun Kurma di Tengah Laut (2019) dan Mengikat Rindu di Ranting Rapuh (2019).

Latest posts by Ade Sulmi Indrajat (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *