Si Bahlul dan Pesan Sang Guru

Pukul 07.01 WITA 14 menit sebelum upacara mestinya dimulai, Bahlul menyempatkan diri berkeliling di area sekolah. Dalam rencananya, 5 menit mendatang Ia harus kembali ke kamar, minum kopi lalu hibernasi panjang macam beruang. Tapi langkahnya terhenti ketika seorang siswi menghampirinya. Gadis anggun dengan seragam hijau, tampak cantik dengan balutan jilbabnya yang putih. Siswi itu tetiba mengulurkan tangan kanannya pada Bahlul. Kepalanya agak menunduk tapi senyumnya tetap merekah. Tanpa aba-aba penghormatan Bahlul menyambut tangan mungil itu, senyumnya pun tak kalah lebar.

“Selamat hari guru kak,” tukas Siswi itu sembari mencium punggung tangan Bahlul. Bahlul memang bukan orang yang sudi dipanggil pak, dan lebih memilih dipanggil kakak agar jurang pemisah antara dia dengan para murid tidak terlalu lebar. Beberapa siswi lain pun tanpa komando, turut menyerbunya. Bahlul mendapati dirinya kikuk karena dikerumuni siswa dengan seragam sekolah, sedang dirinya masih mengenakan bida’ yang amburadul. Pecinya miring, bajunya kusut, dan Ia pun belum mandi.

Setelah selesai menyalami satu persatu siswa di lapangan, Bahlul mengunjungi sekumpulan siswa yang asyik bercengkrama, beberapa sibuk membaca di balai-balai literasi. Sambutan hangat sehangat mentari pagi didapatkannya. “Selamat hari guru kak,” kata mereka sembari berebut salam. “Saya bukan guru nak,” jawab Bahlul, spontan.

Seorang siswa lantas menanggapi dengan menukil sabda Roem Topatimasang dalam bukunya Sekolah Itu Candu. “Bukankah ada yang pernah bilang, setiap tempat adalah sekolah. Setiap orang adalah guru. Pembina juga adalah guru pak, eh.. kak,” katanya sambil tersenyum bangga. Ditikam dengan kalimat bernas, Bahlul tak dapat mengelek. Tapi senyum-senyum merekah anak-anak itu membuat keping hati Bahlul yang tersisa terenyuh. Ia ingat masa-masa menjadi murid yang sama persisis dengan jalan-jalan di beberapa daerah sulawesi selatan, penuh lubang, batu cadas, dan berdebu. Bahlul lalu mengambil secarik kertas usang di dalam kardus, dibacanya penuh penghayatan.

***

Untuk muridku Bahlul, berbesar hatilah dan lapangkalah dadamu nak. Kau bisa jadi murid yang dicap bodoh dan nakal oleh beberapa orang hanya karena tak pandai matematika. Meski dalam bidang olahraga dan seni, kau lumayan sering mendulang piala untuk sekolah kita. Tak sedikit di negeri ini murid yang mengalami nasib sama. Memandang kita hanya dari kecerdasan kognitif dan mengabaikan keterampilan kita di bidang lainnya.

Menyakitkan memang, tapi itulah kenyataan pahit dunia pendidikan kita. Bodoh merupakan label yang disematkan sistem pendidikan kepada mereka yang tak pintar secara kognitif. Sedang kata nakal, jubah yang dikenakan buat murid yang kurang dalam adab dan kerap melanggar aturan sekolah.

Walaupun terkadang sekolah dan seperangkat aturannya memang tampak tak berguna dengan punishment yang tak pandang bulu. Apatah lagi ketika tak dibubuhi dengan nilai-nilai moral. Kesenangan kita seolah direnggut. Kebebasan kita merasa dikhianati. Dilarang ini dan itu. Maka melanggar menjadi jalan terbaik agar dapat melakukan hal yang kita anggap benar. Atau sekadar mencari perhatian guru kita.

Problemnya ketika kita ketahuan, kita kerap marah dihukum oleh guru. Ego kita menanjak dan kadang ngegas, membentak, membantah, bahkan melawan. Amarah dan ego itulah yang menjadikan kita tak mampu melihat maksud dan tujuan dari sang guru. Tak ada pelajaran yang dapat kita petik dengan meninggikan ego sebagai murid di hadapan guru, nak. Murid laiknya gelas yang hendak diisi air pengetahuan. Tak boleh sama sekali kau menempatkan diri lebih tinggi dari sumber mata air atau menunggu air sumur  mendatangimu. Merendahlah dan hiasilah dirimu dengan adab yang mulia.

Ketahuiah, laiknya bisul yang memilih tumbuh di tempat-tempat tersembunyi, masalah akhlak menjadi masalah yang kerap diabaikan di dunia pendidikan kita. Perubahan dan kemajuan teknologi yang tidak ditopang dengan pondasi religius dan nilai-nilai moral sejak dini, harus dibayar mahal dengan kaburnya nilai-nilai etika dalam kesaharian. Karakter sebagai bangsa yang santun pelan tapi pasti mulai terkikis.

Orientasi pendidikan bangsa kita sejak dulu selalu diupayakan ke arah yang benar. Sayangnya tak ditopang integritas, integrasi, relasi, konsistensi dari semua elemen pendidikan, sehingga apa yang diharapkan belum tercapai sepenuhnya. Akhirnya sekolah yang sesarinya menjadi arsenal melahirkan generasi bangsa yang bermartabat dan berkarakter, ternyata belum cukup mapan mengatasi degradasi moral peserta didik.

Kiranya Ki Hajar Dewantara bangun dari kuburnya dan melihat bagaimana perilaku segelintir murid hari ini, makan berdiri, hilang budaya tabe’ pada yang lebih tua, tidak santun pada gurunya, anti sosial, dan sebagainya. Ki Hajar bisa jadi akan mengamuk sejadi-jadinya dan meminta kepada Tuhan dihidupkan kembali. Agar bisa membangun sekolah rakyat yang melahirkan kaum terdidik yang memiliki daya cipta, rasa, dan karsa.

Oleh karenanya, dibutuhkan komitmen dan kerjasama semua pihak agar cita-cita sejati pendidikan dapat diraih. Guru khususnya, memegang peranan penting dalam memberikan pendidikan dan pangajaran kepada siswa di sekolah. Tapi menjadi guru bukan perkara mudah, dibutuhkan bukan sekadar kompetensi pada pelajaran yang diampu. Tetapi seorang guru mesti menyiapkan kesabaran yang tak terhingga, jiwa besar dan sehat. Empati dan simpati. Keikhlasan dan penerimaan.  Hal terpenting dari semuanya adalah cinta dan kasih sayang.

Mungkin dulu kita pernah mengeluh dan menanyakan, mengapa guru kita mencampuri segala macam urusan kita. Mengatur dan memarahi kita di luar ataupun di dalam kelas. Ya, tanggung jawab moral. Itulah yang mengikat seorang guru, sehingga menjadi orang kepo dan tukang ikut campur. Larang ini, tidak boleh itu. Mereka berusaha mendidik kita melalui pelbagai macam pendekatan, agar kita menjadi manusia berakhlak baik, disiplin, dan santun. Kelak kau akan tahu semua itu, nak. Sekarang jadilah murid yang baik. Patuh tapi tetap kritis. Mengkritik boleh tapi tidak dengan cara-cara yang biadab.

***

Suara ketukan di pintu kamar terpaksa membuat Bahlul berhenti mengeja surat dari gurunya, Panrita. Segera diraihnya gagang pintu lalu membukanya. Di depannya kini berdiri seorang siswa yang mengaku hendak minta izin, Bahlul seperti biasa berbasa basi sambil mencandai muridnya. Lalu beberapa orang siswa dan calon guru menghambur ke arahnya. Mereka menyodorkan bunga dan coklat, disertai petikan gitar dan sebuah lagu yan entah apa judulnya. “Selamat hari guru kak,” kata mereka. Bahlul kembali salah tingkah, pasalnya kostumnya masih sama. Bida’ yang tak rapi, muka kusut, rambut acak-acakan. “Iye.. selamat hari guru buat kita semua, heheh..” ujar Bahlul dengan tampangnya yang lugu.

The following two tabs change content below.

Aedil Akmal

Lahir di Bantaeng, 24 oktober 1994. Pelajar di Jurusan Pendidikan Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar. Aktivis MEC RAKUS Makassar, dan Peserta Kelas Literasi Paradigma yang mencintai kopi dan buku terutama novel sejarah.

Latest posts by Aedil Akmal (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *